Karedok, Jatigede, Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Karedok
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Sumedang
Kecamatan Jatigede
Pemerintahan
 • Kepala desa -
Luas ... km²
Jumlah penduduk ... jiwa
Kepadatan ... jiwa/km²

Karedok adalah desa di kecamatan Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Desa Karedok berada di Kecamatan Jati Gede, Kabupaten Sumedang. Luas wilayah Desa Karedok seluas 926 ha, terdiri atas berbagai jenis lahan, yang peruntukannya meliputi permukiman umum 11 ha, bangunan sekolah 0,10 ha, tempat peribadatan (masjid) 0,020 ha, sawah pengairan setengah teknis 145 ha, sawah tadah hujan 70 ha, ladang atau tanah darat 39,35 ha, hutan asli 305,5 ha, sarana olah raga meliputi lapangan bola volley/basket 0,20 ha, taman rekreasi 1,42 ha; serta perikanan air tawar atau kolam 0,50 ha.

Orbitrasi waktu tempuh dan letak Desa Karedok dari Bandung yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat berjarak lebih kurang 90 kilometer, yang jika ditempuh dengan kendaraan roda empat memerlukan waktu 3 jam, dari ibu-kota Kabupaten Sumedang 75 kilometer, yang jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat memerlukan waktu 2 jam. Dan, apabila ditempuh dari kota Kecamatan Jati Gede lebih kurang 6 kilometer, memerlukan waktu sekitar 20 menit, selanjutnya dari Desa Karedok ke pusat fasilitas terdekat memerlukan waktu lebih kurang 15 menit.

Secara administratif Desa Karedok berada di wilayah Kecamatan Jati Gede Kabupaten Sumedang, dengan batas-batas wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Desa Cipeles; sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kadujaya; sebelah barat berbatasan dengan Desa Pajagan; dan sebelah timur berbatasan dengan Kadujaya.

Pemerintahan desa Karedok dipimpin oleh seorang Kuwu atau Kepala Desa dengan 6 Rukun Warga (RW) dan 24 Rukun tetangga (RT), serta terbagi menjadi 2 dusun, yak-ni Dusun Karedok 1 dan Dusun Karedok 2.

Asal Usul Desa Karedok[sunting | sunting sumber]

Asal usul Desa Karedok konon berawal dari sebuah perkampungan yang terletak di seberang Sungai Cimanuk. Daerah ini dulunya merupakan wilayah Sumedang Larang atau Negara Mayeuti (sebutan orang pada saat itu). Ketika itu terjadi musibah tanah longsor di sawah lamping dan menimpa sebuah kampung, menyebabkan penduduk kampung tersebut harus pindah ke Kampung Rancakeong atau Babakan Dobol. Tersebutlah dua keluarga yang ada di tempat itu yang kemudian berkembang menjadi 710 jiwa. Perkembangan yang dimikian pesatnya itu dimungkinkan karena daerah ini merupakan daerah yang subur, sehingga banyak pendatang yang akhirnya menetap di sana.

Saat itu Sumedang dipimpin oleh seorang bupati bernama Pangeran Aria Suria Atmadja yang senang “ngalintar” (menangkap ikan di sungai dengan menggunakan jala atau kecrik). Ketika ia ngalintar lagi di Leuwi Kiara yang merupakan aliran Sungai Cimanuk, ia merasa lelah kemudian beristirahat di sebuah kampung yang disebut Kampung Dobol. Pada saat ia beristirahat, masyarakat setempat mengetahui bahwa yang sedang beristirahat itu adalah dalem atau bupati, dan dengan rasa hormat warga kampung itu menyuguhkan hidangan berupa karedok terong, yakni jenis makanan khas Sunda untuk teman nasi (saat makan). Ada tiga macam karedok, yaitu karedok leunca, karedok terong, dan karedok kacang panjang. Karedok leunca bahannya hanya dari buah leunca yang masih hijau atau tidak terlalu tua. Bumbunya terdiri atas garam, terasi, cikur (kencur), gula, bawang putih, serta surawung (kemangi). Bumbunya dihaluskan terlebih dahulu dalam coet dengan mutu (ulekan) disusul leunca dan surawung diaduk dengan bumbu hingga padu dan siap dihidangkan. Karedok terong bahannya terutama buah terong (terung) berwarna hijau keputih-putihan. Bumbunya terdiri atas garam, terasi, gula merah, kencur, asam, dan oncom. Biasanya keredok terong ini juga bisa dicampur atau ditambah lalap lain seperti kacang panjang, bonteng (mentimun), toge atau kubis, dan surawung (kemangi). Terung, kacang panjang, mentimun, kol diiris, kecuali kemangi dan toge. Kemudian dimasukkan ke dalam coet atau ulekan untuk diaduk dengan bumbu yang sudah disiapkan dan dihaluskan hingga padu. Sedangkan ka-redok kacang panjang prosesnya sama dengan karedok terong, namun ditambahkan cabe.

Konon, ketika dalem beristirahat di Desa Dobol ini dihidangkan karedok terong. Setelah dalem mencicipi kare-dok tersebut ia merasakan kenikmatan yang luar biasa atas jamuan masyarakat kampung tersebut. Kenikmatan makan karedok terong itu dibicarakannya kepada Sesepuh Sumedang. Setelah mendengar cerita dalem tersebut, Sesepuh Su-medang merasa penasaran, kemudian dia pun mengajak re-kan-rekannya ngalintar ke Leuwi Kiara di aliran Sungai Cimanuk yang berdekatan dengan Kampung Dobol. Begitu pula pada saat Sesepuh Sumedang beristirahat di sana, dia dan rekan-rekannya pun dijamu karedok yang sama dengan perjamuan yang disuguhkan kepada Dalem Aria Suria At-madja. Kenikmatan yang sama dapat dirasakan saat menyan-tap perjamuan tersebut, sehingga mulai saat itu Kampung Dobol berubah namanya menjadi “Kampung Karedok” dan sekaligus sebagi nama desa, yakni “Desa Karedok” hingga sekarang.

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Penduduk Desa Karedok adalah suku bangsa Sunda. Berdasarkan Data Profil Desa Tahun 2001, penduduk Desa Karedok berjumlah 2.226 jiwa, terdiri atas laki-laki 1.062 jiwa dan perempuan 1.164 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 714 Kepala Keluarga (KK).

Jumlah penduduk berdasarkan umur adalah sebagai berikut: usia 0 – 12 bulan sebanyak 60 jiwa, usia 13 bulan – 4 tahun sebanyak 105 jiwa, usia 5 – 6 tahun se-banyak 85 jiwa, usia 7 – 12 tahun sebanyak 187 jiwa, usia 13 – 15 tahun sebanyak 35 jiwa, usia 16 – 18 tahun seba-nyak 190 jiwa, usia 19 – 25 tahun sebanyak 305 jiwa, usia 26 – 35 tahun sebanyak 320 jiwa, usia 36 – 45 tahun seba-nyak 315 jiwa, usia 46 – 50 tahun sebanyak 257 jiwa, usia 51 – 60 tahun sebanyak 257 jiwa, usia 61 – 75 tahun seba-nyak 69 jiwa, dan usia lebih dari 76 tahun sebanyak 73 jiwa.

Jumlah mutasi penduduk Desa Karedok selama tahun 2001, sebanyak 48 jiwa. Dari jumlah tersebut sebanyak 21 jiwa penduduk meninggal dunia, 24 jiwa lahir, dan sebanyak 3 jiwa penduduk pergi. Apabila dibandingkan antara angka kematian dan angka kelahiran, maka penduduk Desa Karedok dapat diklasifikasikan sebagai masyarakat yang telah mengerti akan arti hidup sehat. Ketersediaan sarana kesehatan, diperlihatkan dengan pemanfaatan lembaga dan tenaga medis seperti Puskesmas, mantri kesehatan, bidan, dukun bayi, dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) serta mengaplikasikan pengetahuan obat-obatan, baik obat-obatan secara medis maupun obat-obatan tradisional.

Upaya memperpanjang umur dilakukan dengan cara pola hidup sehat, yakni dengan cara mengkonsumsi makanan yang menyehatkan pula. Selain itu, penggunaan air bersih dan penggunaan kamar mandi terutama rumah-rumah tembok, baik di dalam rumah maupun di luar rumah telah memenuhi sarat-sarat kesehatan, termasuk penggunaan saluran pembuangan air kotor dan penggunaan septic tank.

Kaum tua di kalangan masyarakat Desa Karedok sangat dihormati keberadaannya baik sebagai figur maupun sebagai orang yang dijadikan tempat bertanya dalam berbagai masalah, karena mereka dipandang telah banyak makan asam garam (legok tapak genteng kadek) dalam kehidupan. Demikian juga dalam berbagai hal, orang-orang tua tersebut dijadikan rujukan terutama yang bertalian dengan adat istiadat.

Sebagian besar penduduk Desa Karedok bermatapencaharian sebagai petani, baik petani pemilik, penggarap, maupun buruh tani. Kondisi demikian tidaklah mengherankan karena latar belakang sejarah masyarakat Sunda adalah sebagai petani. Meskipun pertanian menjadi sumber mata pencaharian utama, namun mereka mempunyai pekerjaan tambahan atau sambilan yang dapat memberikan penghasilan, misalnya beternak sapi, kambing, ayam, kerbau, itik, domba dan lain-lain. Adapun mata pencaharian penduduk yang lain adalah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Guru, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian, tukang ojeg, tukang kayu, tukang batu, mantri kesehatan, bidan, tukang jahit, tukang cukur, serta sebagai pedagang.

Kehidupan Sosial Budaya[sunting | sunting sumber]

Seperti telah disebutkan di atas, penduduk Desa Karedok sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika desa ini memiliki upacara tradisional yang berkaitan dengan pertanian, baik yang dilaksanakan menjelang musim tanam padi maupun ketika masa panen tiba, yaitu upacara Tutup Buku Guar Bumi, upacara Ngabeungkat (upacara membersihkan saluran air agar sawah tidak kekurangan air); Mapag Sri atau upacara setelah panen; dan upacara meminta hujan dengan cara memandikan kucing.

Keberadaan upacara-upacara tradisional tersebut turut pula menghidupkan kesenian tradisional yang biasanya diikutsertakan dalam penyelenggaraan upacara, seperti kesenian Bangreng, Tayuban, Terebang, Dogdog, Genjring, kecuali Wayang Golek atau Wayang Kulit serta Tari Topeng yang tidak boleh dipergelarkan atau dipertunjukkan dalam upacara, begitu juga dalam pesta-pesta atau kegiatan lain di luar penyelenggaraan upacara.

Dalam menjalin hubungan sesama penduduk Desa Karedok digunakan bahasa pengantar bahasa Sunda, sedang-kan dalam acara-acara resmi dan bahasa pengantar di seko-lah digunakan bahasa Indonesia.

Upacara ngarot[sunting | sunting sumber]

Asal usul upacara[sunting | sunting sumber]

Asal usul upacara ngarot di Desa Karedok berawal pada sekitar tahun 1900-an, ketika desa itu dilanda wabah penyakit yang banyak memakan korban, baik manusia maupun hewan peliharaan. Melihat warganya mendapat musibah, Erum, Kepala Desa Karedok waktu itu, meminta bantuan seorang Polisi Desa bernama Ki Maryamin untuk bertapa selama 40 hari-40 malam. Tujuannya adalah mencari tahu penyebab terjadinya wabah penyakit di Desa Karedok. Konon, ketika menjelang malam ke-40 tiba-tiba Ki Maryamin mendengar sora tan katingal (suara tanpa wujud) yang memberi ngageuing (tanda) agar mengadakan upacara penguburan kepala kerbau di alun-alun Desa Karedok sebagai kurban untuk keselamatan warganya. Suara gaib itu oleh Ki Maryamin diduga sebagai suara Embah Pada, yaitu leluhur masyarakat Desa Karedok yang dimakamkan di Cisahang. Upacara tersebut kemudian disebut sebagai ngaruat lembur atau ngarot.

Nama lain dari upacara ngarot adalah upacara Tutup Buku Guar Bumi. Istilah “tutup buku” dapat diartikan sebagai akhir dari tahapan-tahapan bertani atau bersawah, sedangkan istilah “guar bumi” dapat diartikan sebagai awal dari tahapan tersebut. Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara Ngarot atau Tutup Buku Guar Bumi adalah mengharapkan kesuburan tanah, menyelamati warga desa, menyelamati alat-alat pertanian, serta mengharap kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil produksi pertanian mereka dapat melimpah ruah.

Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara ngarot juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap penyembelihan kurban; (2) tahap penguburan kepala hewan kurban; (3) tahap arak-arakan; (4) tahap saweran; dan (5) tahap selamatan dan prasmanan. Seluruh rentetan upacara ini biasanya dilakukan dari pukul 01.00 dini hari hingga pukul 15.30 dan dilanjutkan kembali pada pukul 20.00 hingga tengah malam. Sebagai catatan, penyelenggaraan upacara ngarot dilakukan setahun sekali pada bulan Oktober, menjelang musim penghujan (rendeng). Pada saat bulan Oktober ini biasanya hujan mulai turun sehingga para petani dapat segera menggarap sawahnya.

Tempat pelaksanaan upacara ngarot bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pemotongan hewan kurban, penguburan kepala hewan kurban, dan hiburan diadakan di alun-alun Desa Karedok. Untuk prosesi selamatan, prasmanan, dan saweran diadakan di ruangan Balai Desa Karedok. Sedangkan, prosesi arak-arakan diawali di alun-alun desa, kemudian dilanjutkan dengan berjalan di sepanjang jalan desa dan kembali lagi ke alun-alun desa.

Pemimpin upacara juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan dalam upacara ngarot. Pada tahap penyembelihan dan penguburan kepala hewan kurban, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah kuncen atau pakuncen. Kemudian, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat pembacaan ijab dalam penguburan kepala kerbau dan selamatan adalah lebe. Seluruh jalannya upacara ini diawasi oleh para sesepuh1 desa yang dianggap mengetahui seluk belum upacara ngarot. Ketiga komponen warga masyarakat ini merupakan keturunan langsung dari pelaksana upacara sebelumnya.

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara ngarot adalah: (1) Kepala Desa Karedok dan isterinya yang nantinya akan diarak dengan jampa untuk berkeliling kampung; (2) isteri-isteri sesepuh desa yang bertugas mempersiapkan bahan-bahan sesajen dan sekaligus mengolahnya; (3) panitia upacara yang bertugas mempersiapkan baladongan, panggung kesenian, penyediaan kursi dan meja; (4) para ketua RT (Rukun Tetangga) yang bertugas mengerahkan warganya untuk membuat gantar yang akan diperlombakan pada saat upacara; (5) kelompok kesenian yang bertugas mengisi acara hiburan malam hari setelah upacara ngarot; dan (6) warga masyarakat Desa Karedok yang ikut membantu mensukseskan upacara ngarot dengan membuat kaca-kaca, jampana, dan menyaksikan jalannya upacara.

Perlengkapan Upacara[sunting | sunting sumber]

Perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara ngarot ini adalah: (1) seekor munding (kerbau) jantan berumur sekitar satu tahun yang tidak dalam keadaan sakit atau cacat. Dalam upacara ini, hewan yang akan dijadikan kurban tidak boleh kerbau betina atau jenis hewan lain. Apabila hal ini dilanggar, maka konon akan terjadi bencana di Desa Karedok, seperti kebakaran, wabah penyakit dan lain sebagainya; (2) sesajen, yang terdiri atas: duwegan (kelapa muda), puncak manik2 (congot yang di atasnya ditaruh telur ayam), roti, bolu, tangkeuh, gula batu, kopi pait (kopi pahit), kopi amis (kopi amis), balagudeg, tektek (sirih, pinang dan perlengkapannya), rokok Gudang Garam Merah, serutu (cerutu) dua batang, endog hayam kawung (telur ayan kampung), roko daun kawung (rokok daun enau), tembakau tampang, rujak cau (rujak pisang), rujak asem (rujak asam), rujak kelapa, sobek belut dan sobek lele; (3) kaca-kaca (gada-gada). Kaca-kaca adalah penganan yang dipajang di depan gang-gang dan halaman rumah-rumah penduduk, terdiri atas: cau (pisang), buah bangga, ranginang, opak, kolontong, duwegan (kelapa muda), gerejeg (gorengen), rempeye, endog asin (telur asin), opak beca, peteuy (petai), limun, kerupuk, dan lain sebagainya; (4) gantar sebanyak 24 buah yang berisi hasil bumi dari masing-masing RT yang ada di Desa Karedok. Gantar-gantar ini nantinya akan diperlombakan setelah prosesi arak-arakan selesai; (5) jampana atau jampa. Jampana adalah tandu berbentuk persegi empat dan beratap yang diusung oleh dua atau empat orang. Jampana terbuat dari kayu, bambu dan atapnya dari anyaman daun kelapa. Jampa yang dibuat untuk upacara ini terdiri dari beberapa macam yaitu: jampa yang digunakan untuk mengusung kuwu/kepala desa pada saat arak-arakan, jampa yang digunakan untuk membawa penganan dan hasil bumi yang dibuat oleh masing-masing RT, jampa yang digunakan untuk mengusung Dewi Sri (Dewi Padi dengan pasangannya Rama) dan jampa suraga, yang digunakan untuk membawa boeh rarang (kain kafan) dan samak (tikar) sebagai simbol bahwa setiap manusia akan diusung dan dibungkus kain kafan dan tikar. Masing-masing jampa memiliki bentuk dan variasi yang berbeda, bergantung pada kreativitas pembuatnya; (3) balandongan. Baladongan adalah bangunan sementara yang dibuat dari bambu dengan atap terbuat dari terpal atau giribig (alat menjemur gabah); (4) tutunggulan. Tutunggulan adalah adalah alat untuk menumbuk padi yang terdiri dari sebuah lisung (lesung) dan delapan buah halu (alu). Fungsi tutunggulan ini adalah sebagai tanggara atau pemberitahuan kepada masyarakat saat arak-arakan akan berangkat dan saat berakhirnya arak-arakan; (5) Parupuyan atau parukuyan. Parupuyan ialah tempat perapian yang dipergunakan untuk membakar kemenyan. Parupuyang ini berfungsi sebagai sarana penghubung dengan roh para leluhur; (6) sepasang boneka Dewi Sri dan pendampingnya Rama (seorang petani). Boneka Dewi Sri mengenakan busana kerudung, kebaya, selendang, dan hiasan leher berupa bunga teratai. Sedangkan boneka pasangannya mengenakan busana iket kepala khas Sunda, baju salontreng dan pangsi berwarna hitam, serta sarung; (7) panggung yang dibuat dari papan kayu dan diatasnya diberi tikar atau karpet. Panggung ini digunakan untuk para nayaga (penabug gamelan), sinden dan penyanyi. Di depan panggung ini disediakan kursi-kursi bagi warga yang ingin menyaksikan hiburan; dan (8) cangkul untuk menggali tanah tempat menampung darah dan menguburkan kepala kerbau. Kedalaman masing-masing tanah yang digali lebih kurang 80 cm dengan diameter sekitar 80 cm. Sebagai catatan, penggalian tanah ini dilakukan pada waktu tengah malam (pukul 00.00), dan dihadiri oleh kepala desa, sesepuh upacara, kuncen dan para tokoh masyarakat.

Selain perlengkapan upacara ada pula beberapa kesenian yang biasa ditampilkan dalam penyelenggaraan upacara ngarot yaitu Bangreng, Tayuban, Terebang, dan Dogdog. Bangreng adalah sejenis pertunjukkan berupa tarian yang berasal dari tayub, diiringi oleh terebang, kendang, rebab dan goong. Dalam perkembangannya ditambah dengan saron-1 dan saron-2 serta kecrek. Tidak jauh berbeda dengan kesenian Ketuk Tilu, para penari wanita bangreng juga bersedia menemani penonton laki-laki yang berminat untuk menari di arena. Setelah selesai satu babak, penari laki-laki harus memberi uang kepada si penari wanita. Kadang-kadang uang itu diberikan sambil berjabattangan, diselipkan ke dalam baju si penari wanita, atau menaruh dalam baskom yang telah disediakan. Lagu yang mengiringi tarian bergantung kepada permintaan penari laki-laki, misalnya lagu-lagu: Rincik Rincang, Sulan-jana, Udan Mas, Engko, Geboy dan lain sebagainya.

Terebang ialah waditra perkusi terbuat dari kayu yang ditutupi kulit. Waditra ini selain digunakan dalam kesenian terebang juga digunakan dalam kesenian gembyung, yang terdiri atas 3 buah, yakni yang paling besar disebut terebang indung, berdiameter lebih kurang 60 cm, yang kedua berdiameter 50 sentimeter, dan yang ketiga berdiameter 40 cm. Lagu-lagu yang biasa diiringi terebang ini meliputi: Salawat, Kentrung, Kembang Beureum, Coyor, Kembang Gadung, Titipati, Torondol, Geboy, Kacang Asin, dan lain sebagainya. Tayuban ialah jenis tarian yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang diiringi oleh waditra pengiring, baik dalam pesta-pesta adat, perkawinan maupun pesta-pesta lainnya. Dogdog biasa dipergunakan dalam pertunjukan ogel atau reog. Dogdog dalam penyelenggaraan upacara ngarot terdiri atas empat buah, yang paling kecil disebut tilingtit biasanya digunakan untuk dalang, kedua disebut panempas, ketiga disebut badublag, dan yang keempat disebut gong-gong atau pangrewong.

Sebagai catatan, pengadaan peralatan upacara dan pembiayaan pertunjukan kesenian, seluruhnya berasal dari sumbangan warga masyarakat yang besarnya berkisar antara Rp.10.000-Rp.20.000,-. Penarikan sumbangan tersebut dilakukan setelah ada kesepakatan dalam musyawarah yang dihadiri para ketua RT, RW, sesepuh, tokoh masyarakat, kepala desa dan aparat desa lainnya.

Jalannya Upacara[sunting | sunting sumber]

Upacara Ngarot diawali pada pukul 01.00 dini hari dengan penyembelihan dan penguburan kepala munding atau kerbau, dipimpin oleh Kuncen dan disaksikan oleh Kuwu/Kepala Desa, Lebe, sesepuh desa3 dan warga masyarakat Desa Karedok. Pertama-tama kuncen membacakan mantra-mantra di depan sesajen penyembelihan sambil membakar kemenyan di atas parupuyan. Usai pembacaan mantra kuncen langsung memotong kerbau di atas lubang yang sudah disiapkan sebelumnya, agar darah yang menyembur dari leher kerbau tersebut tidak berhamburan. Ketika kerbau itu sudah dipastikan mati, kepala kerbau langsung diputus dari tubuhnya dan dimasukkan ke dalam lubang berikut sesajen penyembelihan, dan ditutup dengan tanah. Penguburan kepala munding (kerbau) itu merupakan simbol pengorbanan kepada bumi yang akan digarap (sawah dan tegalan), dan juga merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala karunianya.

Usai penguburan, dilanjutkan dengan ijab yang dilaksanakan oleh lebe. Ijab tersebut jelasnya sebagai berikut:[sunting | sunting sumber]

Bapa miwah para wargi sadaya, sim kuring cumarios di ieu patempatan the teu aya sanes kawakilan ku Bapa Kuwu K. Sutisna sareng kawakilan ku masarakat Desa Karedok umumna. Nya eta dina raraga guar bumi guar taneuh antawisna mah anu parantos nyebar bade tatanen dina sasih oktober ieu. Maksadna bade nitipkeun ka bumi kalayan mudah-mudahan ieu masarakat Karedok dina guar bumi guar taneuhna sing mulus berkah rahayu, mulus nu dititipkeunanan, mulus nu nitipkeunana.

Sakumaha maksad urang sadayana, dina waktosna tiap taun ngalaksanakeun motong munding, mudah-mudahan dina ngalaksanakeun ali paranti karuhun, urang sadayana kedah neraskeun kalawan aya pangjeujeuh para sepuh. Ku kituna ka para sepuh sareng nu aya di dieu dipundut piduana dina sukuran desa iieu, mudah-mudahan urang sadaya di-na dinten enjing ngalaksanakeun hiburanana sing aya dina kalancaran kalayan ditebih-keun tina halangan itu ieuna.

Atuh dina ngalaksanakeun motong munding ieu, biasana huluna sok dikubur sapertos anu katingali ku para bapa tadi, mudah-mudahan neneda ka Gusti Alloh Subhanahu wataala urang sadayana sing aya dina kasalametan, diantawisna dina guar tani guar taneuhna, nya kitu keneh mudah-mudahan neda tawakupna, hapunten anu ketada.

Selesai ijab dilanjutkan dengan doa yang diikuti dan diamini oleh peserta yang hadir. Sedangkan, para peserta yang mempunyai tugas mengurus kerbau, langsung menguliti dan membagikan dagingnya kepada semua warga masyarakat secara merata. Sedangkan warga yang lainnya yang tidak mendapat tugas saat itu, kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan arak-arakan.

Lebih kurang pukul 08.00 pagi, arak-arakan segera dimulai dengan acara pembukaan. Acara pembukaan ini diawali dengan ijab dan doa bersama para sesepuh upacara, dipimpin oleh lebe. Ijab tersebut menyatakan maksud dan tujuan penyelenggaraan Upacara ngarot, yang intinya bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Selesai ijab ibu-ibu serentak membunyikan tutunggulan yang diikuti oleh kesenian pengiring seperti: dogdog, genjring, kohkol, dan bedug. Bersamaan dengan itu pula, Kuwu/Kepala Desa beserta istri menaiki jampa yang akan ditandu keliling desa. Saat arak-arakan ini busana yang dikenakan oleh Kuwu adalah baju lengan panjang berwarna cerah, dasi, jas berwarna gelap, celana panjang berwarna gelap, sepatu, dan peci atau kopiah berwarna hitam. Sedangkan busana yang dikenakan isteri kuwu ialah baju kebaya berwarna hijau, kain sinjang dilamban, selendang, selop, dan sanggul.

Formasi arak-arakan meliputi:

  1. peserta pembawa bendera dan lambang desa;
  2. pembawa jampa Dewi Sri;
  3. pembawa jampa suraga;
  4. pembawa payung;
  5. pembawa jampa yang menandu Kepala Desa dan Istri;
  6. sesepuh upacara dan tokoh masyarakat;
  7. pembawa jampa dari masing-masing RT, berisi penganan dan hasil bumi;
  8. penabuh dogdog, genjring, kohkol, bedug; serta;
  9. tamu undangan dan warga masyarakat Desa karedok.

Arak-arakan dimulai dengan mengelilingi alun-alun dan kuburan kepala kerbau sebanyak tiga putaran. Selanjutnya, secara beriringan arak-arakan mulai meninggalkan alun-alun desa disertai tetabuhan gamelan dan nyanyian menyusuri jalan yang menuju wilayah Rt 24 yang berada diujung jalan Desa Karedok. Setibanya di tempat ini, mereka beristirahat sejenak dan selanjutnya kembali beriringan melalui jalan yang tadi, melewati alun-alun desa, menuju Rt. 01. Setibanya di wilayah Rt. 01, arak-arakan kembali ke alun-alun dan kembali berputar sebanyak tiga kali putaran mengelilingi alun-alun dan kuburan kepala kerbau. Kemudian, jampa yang berisi Kepala Desa beserta istri diturunkan di depan balai desa untuk selanjutnya diadakan acara saweran. Sesaat sebelum upacara saweran dimulai, formasi jampa kepala desa diatur berdampingan dengan jampa Dewi Sri, dan dibelakngnya pembawa payung yang memayungi kedua jampa tersebut. Sawer atau nyawer secara umum ialah upacara menasihati mempelai dengan cara dinyanyikan sambil menaburkan beras, irisan kunir, uang logam dan sebagainya, di bawah panyaweran (cucuran atap). Adapun yang dimaksud dengan nyawer di sini, fungsinya ialah untuk menyatukan Dewi Sri dengan ibu pertiwi agar memberi kesuburan di bumi yang dibawakan dalam bentuk syair yang dinyanyikan oleh sinden.

Usai juru sawer melakukan tugasnya, para sesepuh dan tokoh masyarakat yang berada di teras balai desa, segera menaburkan racikan ke arah Kuwu beserta istri yang masih duduk di atas jampa bersebelahan dengan jampa Dewi Sri. Selanjutnya Kuwu beserta istri turun dari atas jampa yang disambut sesepuh desa, dan tokoh masyarakat. Kemudian duduk di kursi kehormatan di depan panggung hiburan untuk menyaksikan kesenian bangreng. Setelah Kuwu beristirahat beberapa saat, ia didaulat untuk menari bersama oleh penari bangreng dengan menyampirkan selendang di lehernya. Dan selanjutnya, setiap orang yang dikalungi selendang, mereka harus menari bersama-sama penari kesenian tersebut. Dalam pergelaran hiburan kesenian bangreng diawali dengan menyuguhkan lagu wajib upacara, yakni Kembang Gadung, Kembang Beureum, dan Geboy. Setelah ketiga lagu selesai, pengibing (penari pria) boleh memilih lagu-lagu sesuai dengan permintaannya.

Pada saat jam menunjukkan pukul 15.30, ibu-ibu warga Desa Karedok mulai berdatangan lagi dengan membawa boboko yang berisi nasi beserta lauk pauknya untuk selanjutnya diadakan selamatan, yang dipimpin oleh Lebe. Ijab yang disampaikan lebe pada saat selamatan ini berisi harapan kepada Allah Swt agar tanah garapan mereka diberikan kesuburan dan keselamatan bagi yang akan menggarapnya.

Usai ijab, seluruh warga Desa Karedok beramah-tamah dan makan bersama. Dan, apabila ada makanan yang tersisa mereka bawa ke rumahnya masing-masing. Malam harinya acara dilanjutkan dengan acara hiburan bangreng, tayubang, terebang dan dogdog di halaman balai desa.

Nilai Budaya[sunting | sunting sumber]

Upacara ngarot, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah: kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermin dari berkumpulnya sebagian besar anggota masyarakat dalam suatu tempat, makan bersama dan doa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum upacara, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan saksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa bersama yang dipimpin oleh lebe, pada acara selamatan yang merupakan bagian akhir dari serentetan tahapan dalam upacara ngarot. Tujuannya adalah agar mendapatkan perlindungan dari Allah Swt, sebelum menggarap sawah dan atau ladang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Upacara Tutup Buku Guar Bumi di Kabupaten Sumedang. Alamsyah, Suwardi. 2004. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
  2. Alamsyah, Suwardi. 2004. Upacara Tutup Buku Guar Bumi di Kabupaten Sumedang. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
  3. Suyono, Ariyono. 1985. Kamus Antropologi. Jakarta : Akademika Pressindo.
  4. Mustapa, R.H. Hasan. 1985. Adat istiadat Orang Sunda. Bandung: Alumni.
  5. Warnaen, Suwarsih, dkk,. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda Tahap II. Bandung: Depatemen Pendidikan dan Kebudayan.
  6. Rusyana, Yus, dkk,. 1988/1989. Pandangan Hidup Orang Sunda seperti Tercermin dalam Kehidupan Masyarakat Dewasa Ini Tahap III. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Upacara Ngarot pada Masyarakat Sumedang (Jawa Barat) Un Halimah Blog.