Kabupaten Majalengka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Majalengka)
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Majalengka
Lambang Kabupaten Majalengka
Lambang Kabupaten Majalengka


Locator kabupaten majalengka.png
Peta lokasi Kabupaten Majalengka
Koordinat: 6°50′0″S 108°10′0″E / 6.833333°S 108.166667°E
Provinsi Jawa Barat
Ibu kota Majalengka
Pemerintahan
 - Bupati H. Sutrisno, SE., M.Si
 - Wakil Bupati Dr. H. Karna Sobahi, M.M.Pd.
 - DAU Rp. 995.993.633.000.-(2013)[1]
Luas 1.204,24 km2
Populasi
 - Total 1.204.379 jiwa (2007)[2]
 - Kepadatan 1.000,12 jiwa/km2
Demografi
 - Bahasa Sunda, Indonesia
 - Kode area telepon 0233
Pembagian administratif
 - Kecamatan 26
 - Kelurahan 319 desa, 13 kelurahan
 - Situs web www.majalengkakab.go.id
Alun-alun Majalengka di masa Hindia Belanda

Kabupaten Majalengka, adalah sebuah kabupaten di Tatar Pasundan Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Majalengka.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman Kerajaan Budha di Talaga[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Batara Gunung Picung[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Hindu di Talaga berdiri pada abad XIII Masehi, Raja tersebut masih keturunan Ratu Galuh bertahta di Ciamis, dia adalah putera V, juga ada hubungan darah dengan raja-raja di Pajajaran atau dikenal dengan Raja Siliwangi. Daerah kekuasaannya meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Maja dan sebagian Selatan Majalengka.Pemerintahan Batara Gunung Picung sangat baik, agam yang dipeluk rakyat kerajaan ini adalah agama Hindu.Pada masa pemerintahaannya pembangunan prasarana jalan perekonomian telah dibuat sepanjang lebih 25 Km tepatnya Talaga - Salawangi di daerah Cakrabuana.Bidang Pembangunan lainnya, perbaikan pengairan di Cigowong yang meliputi saluran-saluran pengairan semuanya di daerah Cikijing.Tampuk pemerintahan Batara Gunung Picung berlangsung 2 windu.Raja berputera 6 orang yaitu :- Sunan Cungkilak - Sunan Benda - Sunan Gombang - Ratu Panggongsong Ramahiyang- Prabu Darma Suci- Ratu Mayang KarunaAkhir pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Prabu Darma Suci.

Pemerintahan Prabu Darma Suci[sunting | sunting sumber]

Disebut juga Pandita Perabu Darma Suci. Dalam pemerintahan raja ini Agama Hindu berkembang dengan pesat (abad ke-XIII), nama dia dikenal di Kerajaan Pajajaran, Jawa Tengah, Jayakarta sampai daerah Sumatera. Dalam seni pantun banyak diceritakan tentang kunjungan tamu-tamu tersebut dari kerajaan tetangga ke Talaga, apakah kunjungan tamu-tamu merupakan hubungan keluarga saja tidak banyak diketahui.Peninggalan yang masih ada dari kerajaan ini antara lain Benda Perunggu, Gong, Harnas atau Baju Besi.Pada abad XIIX Masehi dia wafat dengan meninggalkan 2 orang putera yakni:- Bagawan Garasiang - Sunan Talaga Manggung

Pemerintahan Sunan Talaga Manggung[sunting | sunting sumber]

Tahta untuk sementara dipangku oleh Begawan Garasiang,.namun dia sangat mementingkan Kehidupan Kepercayaan sehingga akhirnya tak lama kemudian tahta diserahkan kepada adiknya Sunan Talaga Manggung.Tak banyak yang diketahui pada masa pemerintahan raja ini selain kepindahan dia dari Talaga ke daerah Cihaur Maja.

Pemerintahan Sunan Talaga Manggung[sunting | sunting sumber]

Sunan Talaga Manggung merupakan raja yang terkenal sampai sekarang karena sikap dia yang adil dan bijaksana serta perhatian dia terhadap agama Hindu, pertanian, pengairan, kerajinan serta kesenian rakyat.Hubungan baik terjalin dengan kerajaan-kerajaan tetangga maupun kerajaan yang jauh, seperti misalnya dengan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Cirebon maupun Kerajaan Sriwijaya.Dia berputera dua, yaitu :- Raden Pangrurah - Ratu Simbarkencana Raja wafat akibat penikaman yang dilakukan oleh suruhan Patih Palembang Gunung bernama Centangbarang. Kemudian Palembang Gunung menggantikan Sunan Talaga Manggung dengan beristrikan Ratu Simbarkencana. Tidak beberapa lama kemudian Ratu Simbarkencana membunuh Palembang Gunung atas petunjuk hulubalang Citrasinga dengan tusuk konde sewaktu tidur.Dengan meninggalnya Palembang Gunung, kemudian Ratu Simbarkencana menikah dengan turunan Panjalu bernama Raden Kusumalaya Ajar Kutamanggu dan dianugrahi 8 orang putera diantaranya yang terkenal sekali putera pertama Sunan Parung.

Pemerintahan Ratu Simbarkencana[sunting | sunting sumber]

Sekitar awal abad XIV Masehi, dalam tampuk pemerintahannya Agama Islam menyebar ke daerah-daerah kekuasaannya dibawa oleh para Santri dari Cirebon.juga diketahui bahwa tahta pemerintahan waktu itu dipindahkan ke suatu daerah disebelah Utara Talaga bernama Walangsuji dekat kampung Buniasih (Desa Kagok Banjaran) .Ratu Simbarkencana setelah wafat digantikan oleh puteranya Sunan Parung.

Pemerintahan Sunan Parung[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Sunan Parung tidak lama, hanya beberapa tahun saja.Hal yang penting pada masa pemerintahannya adalah sudah adanya Perwakilan Pemerintahan yang disebut Dalem, antara lain ditempatkan di daerah Kulur, Sindangkasih, Jerokaso Maja.Sunan Parung mempunyai puteri tunggal bernama Ratu Sunyalarang atau Ratu Parung.

Zaman Kerajaan Islam di Talaga (Pengaruh Kasultanan Cirebon)[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Ratu Sunyalarang[sunting | sunting sumber]

Sebagai puteri tunggal dia naik tahta menggantikan ayahandanya Sunan Parung dan menikah dengan turunan putera Prabu Siliwangi bernama Raden Rangga Mantri atau lebih dikenal dengan Prabu Pucuk Umum.Pada masa pemerintahannya Agama Islam sudah berkembang dengan pesat. Banyak rakyatnya yang memeluk agama tersebut hingga akhirnya baik Ratu Sunyalarang maupun Prabu Pucuk Umum memeluk Agama Islam. Agama Islam berpengaruh besar ke daerah-daerah kekuasaannya antara lain Maja, Rajagaluh dan Majalengka.Prabu Pucuk Umum adalah Raja Talaga ke-2 yang memeluk Agama Islam. Hubungan pemerintahan Talaga dengan Cirebon maupun Kerajaan Pajajaran baik sekali. Sebagaimana diketahui Prabu Pucuk Umum adalah keturunan dari prabu Siliwangi karena dalam hal ini ayah dia yang bernama Raden Munding Sari Ageung merupakan putera dari Prabu Siliwangi. Jadi pernikahan Prabu Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang merupakan perkawinan keluarga dalam derajat ke-IV.Hal terpenting pada masa pemerintahan Ratu Sunyalarang adalah Talaga menjadi pusat perdagangan di sebelah Selatan.

Pemerintahan Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umum[sunting | sunting sumber]

Dari pernikahan Raden Rangga Mantri dengan Ratu Parung (Ratu Sunyalarang putri Sunan Parung, saudara sebapak Ratu Pucuk Umun suami Pangeran Santri ) melahirkan 6 orang putera yaitu :- Prabu Haurkuning - Sunan Wanaperih - Dalem Lumaju Agung- Dalem Panuntun - Dalem Panaekan Akhir abad XV Masehi, penduduk Majalengka telah beragama Islam.Dia sebelum wafat telah menunjuk putera-puteranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasaannya, seperti halnya :Sunan Wanaperih memegang tampuk pemerintahan di Walagsuji; Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja; Dalem Panuntun di Majalengka sedangkan putera pertamanya, Prabu Haurkuning, di Talaga yang selang kemudian di Ciamis. Kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati.Sedangkan dalem Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulur.Prabu Pucuk Umum dimakamkan di dekat Situ Sangiang Kecamatan Talaga.

Pemerintahan Sunan Wanaperih[sunting | sunting sumber]

Terkenal Sunan Wanaperih, di Talaga sebagai seorang Raja yang memeluk Agama Islam pun juga seluruh rakyat di negeri ini semua telah memeluk Agama Islam. Dia berputera 6 orang, yaitu :- Dalem Cageur - Dalem Kulanata - Apun Surawijaya atau Sunan Kidul- Ratu Radeya - Ratu Putri - Dalem Wangsa Goparana. Diceritakan bahwa Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan sedangkan Ratu Putri menikah dengan putra Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan bernama Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenenalSunan Cipager. Dalem Wangsa Goparana pindah ke Sagalaherang Cianjur, kelak keturunan dia ada yang menjabat sebagai bupati seperti Bupati Wiratanudatar I di Cikundul. Sunan Wanaperih memerintah di Walangsuji, tetapi dia digantikan oleh puteranya Apun Surawijaya, maka pusat pemerintahan kembali ke Talaga. Putera Apun Surawijaya bernama Pangeran Ciburuy atau disebut juga Sunan Ciburuy atau dikenal juga dengan sebutan Pangeran Surawijaya menikah dengan putri Cirebon bernma Ratu Raja Kertadiningrat saudara dari Panembahan Sultan Sepuh III Cirebon.Pangeran Surawijaya dianungrahi 6 orang anak yaitu - Dipati Suwarga-Mangunjaya - Jaya Wirya - Dipati Kusumayuda - Mangun Nagara - Ratu Tilarnagara Ratu Tilarnagara menikah dengan Bupati Panjalu (Kerajaan Panjalu Ciamis) yang bernama Pangeran Arya Sacanata yang masih keturunan Prabu Haur Kuning. Pengganti Pangeran Surawijaya ialah Dipati Suwarga menikah dengan Putri Nunuk dan berputera 2 orang, yaitu :- Pangeran Dipati Wiranata- Pangeran Secadilaga atau pangeran RajiPangeran Surawijaya wafat dan digantikan oleh Pangeran Dipati Wiranata dan setelah itu diteruskan oleh puteranya Pangeran Secanata Eyang Raga Sari yang menikah dengan Ratu Cirebon mengantikan Pangeran Secanata. Arya Secanata memerintah ± tahun 1762.

Masa Penjajahan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pembentukan Kabupaten Maja.[sunting | sunting sumber]

Tahun 1819 dibentuk Karesidenan Cirebon yang terdiri atas Keregenaan (Kabupaten) Cirebon, Kuningan, Bengawan Wetan, Galuh (Ciamis Sekarang) dan Maja. Kabupaten Maja adalah cikal bakal Kabupaten Majalengka. Pembentukan Kabupaten Maja berdasarkan Besluit (Surat Keputusan) Komisaris Gubernur Jendral Hindia Belanda No.23 Tanggal 5 Januari 1819. Kabupaten Maja adalah gabungan dari tiga distrik yaitu. Distrik Sindangkasih, Distrik Talaga, dan Distrik Rajagaluh. Kabupaten Maja beribukota di Kota Kecamatan Maja sekarang. Bupati pertama Kabupaten Maja adalah RT Dendranegara. Kabupaten Maja mencakup wilayah Talaga, Maja, Sindangkasih, Rajagaluh, Palimanan dan Kedondong.

Perubahan Nama Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka.[sunting | sunting sumber]

Tanggal 11 Februari 1840, keluar surat Staatsblad No.7 dan BesluitGubernur Jendral Hindia Belanda No.2 yang menjelasakan perpindahan Ibukota Kabupaten ke Wilayah Sindangkasih yang kemudian diberi nama 'Majalengka', kemudian nama Kabupaten disesuaikan dengan nama ibukota kabupaten yang baru, dari Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka. Pemberian nama Majalengka atau dari mana asal usul Majalengka masih menjadi misteri, Nama Majalengka menurut Legenda adalah ucapan ‘Majane Langka” dari pasukan Cirebon serta Pangeran Muhammad dan Siti Armilah ketika tidak menemukan buah Maja setelah Hutan Pohon Maja dihilangkan oleh Nyi Rambut Kasih, Ratu Kerajaan Sindangkasih. Dalam Buku Sejarah Majalengka Karya N. Kartika yang mewawancarai Budayawan Ayatrohaedi, Nama Majalengka bila diartikan dalam bahasa Jawa Kuno yaitu kata ‘Maja’ merupakan nama buah dan kata ‘Lengka’ yang berati pahit, jadi kata 'Majalengka' adalah nama lain dari kata Majapahit. Majalengka sebagai ibukota kabupaten selanjutnya semakin dikuatkan dengan adanya Surat Staatsblad, 1887 No. 159 mengatur dan menjelaskan tentang batas-batas wilayah dari Kota Majalengka.

Masa Penjajahan Jepang[sunting | sunting sumber]

Masa penjajahan Jepang (1942-1945) di Majalengka ditandai dengan adanya eksploitasi romusha dan pembangunan Lapangan Terbang Militer Jepang di Kawasan Ligung. Lapangan terbang ini diselesaikan pada tahun 1944, dan pasukan Jepang dari sana terbang untuk melakukan operasi militer di Burma (Myanmar) pada tahun 1945

Letak dan Pembagian Administrasi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kabupaten Majalengka terletak di bagian timur Propinsi Jawa Barat. Kabupaten Majalengka terletak pada titik koordinat yaitu Sebelah Barat 108° 03' - 108° 19 Bujur Timur, Sebelah Timur 108° 12' - 108° 25 Bujur Timur, Sebelah Utara 6° 36' - 5°58 Lintang Selatan dan Sebelah Selatan 6° 43' - 7°44.

Bagian Utara wilayah kabupaten ini merupakan dataran rendah, sementara wilayah tengah berbukit-bukit dan wilayah selatan merupakan wilayah pegunungan dengan puncaknya Gunung Ceremai yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan serta Gunung Cakrabuana yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Sumedang. Secara administratif berbatasan dengan:

Pembagian Administrasi.[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Majalengka terdiri dari 26 Kecamatan, yang terbagi atas 330 Desa dan 13 Kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten berada di Kecamatan Majalengka.

Berikut adalah kecamatan-kecamatan dalam wilayah Kabupaten Majalengka:

  1. Kecamatan Argapura
  2. Kecamatan Banjaran
  3. Kecamatan Bantarujeg
  4. Kecamatan Cigasong
  5. Kecamatan Cikijing
  6. Kecamatan Cingambul
  7. Kecamatan Dawuan
  8. Kecamatan Jatitujuh
  9. Kecamatan Jatiwangi
  10. Kecamatan Kadipaten.
  11. Kecamatan Kasokandel
  12. Kecamatan Kertajati
  13. Kecamatan Lemahsugih
  14. Kecamatan Leuwimunding
  15. Kecamatan Ligung
  16. Kecamatan Maja
  17. Kecamatan Majalengka
  18. Kecamatan Malausma
  19. Kecamatan Palasah
  20. Kecamatan Panyingkiran
  21. Kecamatan Rajagaluh
  22. Kecamatan Sindang
  23. Kecamatan Sindangwangi
  24. Kecamatan Sukahaji
  25. Kecamatan Sumberjaya
  26. Kecamatan Talaga

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

  1. RT. Dendranegara 1819 - 1849 (Bupati Kabupaten Maja 1819-1840)
  2. RAA. Kartadiningrat 1849 - 1861
  3. RAA. Kartadiningrat 1861 - 1868
  4. Rd Tumenggung Soera Adhi Ningrat 1868 - 1886
  5. RAA. Salmon Suriadiningrat 1886 - 1896
  6. RMA. Supraadiningrat 1896 - 1902
  7. RA. Sastraningrat 1902 - 1922
  8. RMA. Suriatanudibrata 1922 - 1944
  9. RA. Umar Said 1944 - 1945
  10. R. Enoch 1945 - 1947
  11. R.H. Hamid 1947 - 1948
  12. R. Sulaeman Nata Amijaya 1948 - 1949
  13. M. Chavil 1949
  14. RM. Nuratmadibrata 1949 - 1957
  15. H. Aziz Halim 1957 - 1960
  16. H. RA. Sutisna 1960 - 1966
  17. R. Saleh Sediana 1966 - 1978
  18. H. Moch. Saleh Paindra 1978 - 1983
  19. H. RE. Djaelani, SH. 1983 - 1988
  20. Drs. H. Moch. Djufri Pringadi 1988 - 1993
  21. Drs. H. Adam Hidayat, SH., M.Si 1993 - 1998
  22. Hj. Tutty Hayati Anwar, SH., M.Si 1998 - 2008
  23. H. Sutrisno, SE., M.Si 2008 - 2013

Kondisi Alam[sunting | sunting sumber]

Topografi dan Geografi[sunting | sunting sumber]

Bagian utara wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian selatan berupa pegunungan. Gunung Ciremai (3.076 m) berada di bagian timur, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Kuningan. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat, dan merupakan taman nasional, dengan nama Taman Nasional Gunung Ciremai

Keadaan geografi khususnya morfologi dan fisiografi wilayah Kabupaten Majalengka sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian suatu daerah dengan daerah lainnya, dengan distribusi sebagai berikut :

Morfologi dataran rendah yang meliputi Kecamatan Kadipaten, Kasokandel, Panyingkiran, Dawuan, Jatiwangi, Sumberjaya, Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Cigasong, Majalengka, Leuwimunding dan Palasah. Kemiringan tanah di daerah ini antara 5%-8% dengan ketinggian antara 20-100 m di atas permukaan laut (dpl), kecuali di Kecamatan Majalengka tersebar beberapa perbukitan rendah dengan kemiringan antara 15%-25%.

Morfologi berbukit dan bergelombang meliputi Kecamatan Rajagaluh dan Sukahaji sebelah Selatan, Kecamatan Maja, sebagian Kecamatan Majalengka. Kemiringan tanah di daerah ini berkisar antara 15-40%, dengan ketinggian 300-700 m dpl.

Morfologi perbukitan terjal meliputi daerah sekitar Gunung Ciremai, sebagian kecil Kecamatan Rajagaluh, Argapura, Sindang, Talaga, sebagian Kecamatan Sindangwangi, Cingambul, Banjaran, Bantarujeg, Malausma dan Lemahsugih dan Kecamatan Cikijing bagian Utara. Kemiringan di daerah ini berkisar 25%-40% dengan ketinggian antara 400-2000 m di atas permukaan laut.

Geologi[sunting | sunting sumber]

Menurut keadaan geologi yang meliputi sebaran dan struktur batuan, terdapat beberapa batuan dan formasi batuan yaitu Aluvium seluas 17.162 Ha (14,25%), Pleistocene Sedimentary Facies seluas 13.716 Ha (13,39%), Miocene Sedimentary Facies seluas 23,48 Ha (19,50%), Undiferentionet Vulcanic Product seluas 51.650 Ha (42,89%), Pliocene Sedimentary Facies, seluas 3.870 Ha (3,22%), Liparite Dacite seluas 179 Ha (0,15%), Eosene seluas 78 Ha (0,006%), Old Quartenary Volkanik Product seluas 10.283 Ha (8,54%). Jenis-jenis tanah di Kabupaten Majalengka ada beberapa macam, secara umum jenis tanah terdiri atas Latosol, Podsolik, Grumosol, Aluvial, Regosol, Mediteran, dan asosianya. Jenis-jenis tanah tersebut memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kesuburan tanah dalam menunjang keberhasilan sektor pertanian.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Dari aspek hidrologis di Kabupaten Majalengka mempunyai beberapa jenis potensi sumber daya air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi sumber daya air tersebut meliputi:

Air permukaan, seperti mata air, sungai, danau, waduk lapangan atau rawa, Air tanah, seperti sumur bor dan pompa pantek dan air hujan. Sungai yang besar di antaranya adalah Cilutung, Cijurey, Cideres, Cikeruh, Ciherang, Cikadondong, Ciwaringin, Cilongkrang, Ciawi dan Cimanuk.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Curah hujan tahunan rata-rata di Kabupaten Majalengka berkisar antara 2.400 mm-3.800 mm/tahun dengan rata-rata hari hujan sebanyak 11 hari/bulan. Angin pada umumnya bertiup dari arah Selatan dan tenggara, kecuali pada bulan April sampai dengan Juli bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan antara 3-6 knot (1 knot =1.285 m/jam).

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk Kabupaten Majalengka Berdasarkan BPS Kabupaten Majalengka Tahun 2013 adalah 1.180.774 Jiwa terdiri dari 590.038 jiwa penduduk laki-laki dan 590.736 jiwa penduduk perempuan. Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2013 adalah 981 jiwa/km². Kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Jatiwangi dengan kepadatan 2.087 jiwa/km². Wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak adalah:

  1. Kecamatan Jatiwangi : 83.450 jiwa.
  2. Kecamatan Majalengka : 69.946 jiwa.
  3. Kecamatan Cikijing : 60.581 jiwa.
  4. Kecamatan Lemahsugih : 57.928 jiwa.
  5. Kecamatan Sumberjaya : 57.353 jiwa.

Mayoritas Masyarakat Majalengka berasal dari etnis Sunda. Bahasa yang digunakan Bahasa Sunda, akan tetapi memiliki perbedaan beberapa arti dan kosakata dengan Bahasa Sunda di Kawasan Priangan. Bahasa Sunda di Majalengka merupakan bahasa Sunda dialek Tengah Timur. Dibeberapa wilayah Majalengka masyarakatnya merupakan Etnis Cirebon/Wong Cerbon dan menggunakan bahasa Cirebon, seperti di utara dan Timur Jatitujuh, Kertajati, Ligung, Sumberjaya dan Desa Patuanan di Kecamatan Leuwimunding.

Kesenian Daerah[sunting | sunting sumber]

Sebagai wilayah yang dilalui oleh dua kebudayaan besar yaitu Sunda & Cirebon maka Kabupaten Majalengka memiliki keragaman seni budaya yaitu

Makanan Khas dan Oleh-oleh[sunting | sunting sumber]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]

Angkutan Jalan Raya[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Majalengka merupakan daerah penghubung antara kawasan Priangan dengan Cirebon, dilewati Jalan Negara Bandung - Cirebon dan Cirebon - Ciamis, Selain itu pula dilintasi Jalan Tol Cikampek - Palimanan (Cikapali) dengan dua pintu tol dikawasan Kertajati dan Sumberjaya. Berikut sarana dan prasarana angkutan darat di Majalengka:

Prasarana Angkutan Jalan Raya[sunting | sunting sumber]
  • Terminal Cipaku Kadipaten
  • Terminal Cigasong
  • Terminal Rajagaluh
  • Terminal Maja
  • Terminal Talaga
  • Terminal Cikijing
  • Terminal Bantarujeg
Angkutan Dalam Kota[sunting | sunting sumber]
Angkutan Perkotaan[sunting | sunting sumber]
Angkutan Antar Kota[sunting | sunting sumber]
Elf (Mikro Bus)[sunting | sunting sumber]
Bus[sunting | sunting sumber]

Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Majalengka dahulu memiliki jalur kereta api yang menghubungkan Cirebon-Kadipaten. Dibangun oleh perusahan swasta Belanda Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tahun 1901. Jalur ini kemudian ditutup pada tahun 1978 akibat kalah bersaing dengan moda angkutan darat lainnya. Berikut Daftar Eks Stasiun Kereta Api di wilayah Majalengka:

Transportasi Udara[sunting | sunting sumber]

Sejak Tahun 2013 mulai dibangun Proyek Bandara Internasional Jawa Barat di Kecamatan Kertajati. Ditargetkan Bandara Internasional ini dapat beroperasi tahun 2017. Bandara ini membutuhkan lahan seluas 1.800 hektar dan direncanakan juga terdapat kawasan Aerocity Kertajati untuk mendukung keberadaan Bandara tersebut.

Obyek Wisata[sunting | sunting sumber]

A. Wisata Air Terjun[sunting | sunting sumber]

  1. Curug Muara Jaya : Desa Argamukti Kecamatan Argapura.
  2. Curug Sawer : Desa Argamukti Kecamatan Argapura.
  3. Curug Sempong : Desa Sidamukti Kecamtan Majalengka.
  4. Curug Tonjong : Desa Teja Kecamatan Rajagaluh.
  5. Curug Baligo : Desa Padaherang Kecamatan Sindangwangi
  6. Curug Cipeuteuy : Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi
  7. Curug Leles : Desa Lengkong Kulon Sindangwangi
  8. Curug Emas/Cilutung : Desa Campaga Kecamatan Talaga.

B. Wisata Danau[sunting | sunting sumber]

  1. Situ Sangiang : Desa Sangiang Kecamatan Banjaran.
  2. Situ Cipadung : Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh.
  3. Situ Cipanten : Desa Gunungkuning Kecamatan Sindang.
  4. Situ Cikuda : Desa Padaherang Kecamatan Sindangwangi.
  5. Situ Cibulakan : Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi
  6. Talaga Herang : Desa Jerukleueut Kecamatan Sindangwangi.
  7. Talaga Nila : Desa Jerukleueut Kecamatan Sindangwangi.

C. Wisata Panorama Alam[sunting | sunting sumber]

  1. Taman Buana Marga : Desa Lemahsugih Kecamatan Lemahsugih.
  2. Perkebunan Teh Cipasung : Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih.
  3. Panorama Cikebo : Desa Anggrawati Kecamatan Maja dan Desa Sagara Kecamata Argapura.
  4. Panorama Panyaweuyan : Desa Tejamulya Kecamatan Argapura.
  5. Panorama Ciinjuk : Desa Cipulus Kecamatan Cikijing.
  6. Panorama Jahim : Desa Cintaasih Kecamatan Cingambul.
  7. Bendungan Rentang : Desa Randegan Kulon Kecamatan Jatitujuh.
  8. Wana Wisata Gunung Panten : Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka

D. Wisata Sejarah dan Budaya[sunting | sunting sumber]

  1. Museum Talaga Manggung : Desa Talaga Wetan Kecamatan Talaga
  2. Rumah Adat Panjalin : Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumberjaya
  3. Patilasan Prabu Siliwangi : Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh.
  4. Situs Sanghyang Lingga : Desa Banjaran Kecamatan Banjaran.
  5. Situs Gunung Ageung : Desa Cipasung Kesamatan Lemahsugih.
  6. Makam Pangeran Muhammad : Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Majalengka.
  7. Patilasan Nyi Rambutkasih : Kelurahan Sindangkasih Kecamatan Majalengka.
  8. Makam Siti Armilah : Kelurahan Majalengka Kulon Kecamatan Majalengka.
  9. Makam Sunan Parung : Desa Sangiang Kecamatan Banjaran.
  10. Makan Sunan Wanaperih: Desa Kagok Kecamatan Banjaran

E. Wisata Minat Khusus.[sunting | sunting sumber]

  1. Wisata Paralayang Gunung Panten: Kelurahan Munjul Kecamatan Majalengka.
  2. Sirkuit Grasstrack Buahlega : Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka.
  3. Sirkuit Motorcross Gagaraji : Desa Pangkalan Pari Kecamatan Jatitujuh.
  4. Pendakian Gunung Ciremai : Desa Argamukti Kecamatan Argapura.
  5. Bumi Perkemahan Cipanten : Desa Argalingga Kecamatan Argapura.
  6. Bumi Perkemahan Awilega : Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi.
  7. Bumi Perkemahan Leles : Desa Lengkong Kulon Kecamatan Sindangwangi.
  8. Kolam Renang Rajawali : Desa Liangjulang Kecamatan Kadipaten.
  9. Kolam Renang Tirta Indah: Desa Lengkong Kulon Kecamatan Sindangwangi.
  10. Kolam Renang Jembar Waterpark : Desa Ranji Wetan Kecamatan Kasokandel.
  11. Jatiwangi Art Factory, Desa Wisata Jatisura : Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi

Putera Daerah[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ Jumlah penduduk Kabupaten Majalengka tahun 2007 menurut BPS Provinsi Jawa Barat

Blogger Majalengka

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Wikidata: Jakarta