Musim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Empat jenis musim: musim semi (pojok kiri atas), musim panas (pojok kanan atas), musim gugur (pojok kiri bawah) dan musim dingin (pojok kanan bawah).

Musim adalah pembagian waktu dalam setahun yang ditentukan oleh adanya perubahan cuaca, ekologi, dan durasi penyinaran Matahari. Penyebab terbentuknya musim adalah karena Bumi mengelilingi Matahari dan melakukan rotasi pada porosnya. Kemiringan rotasi Bumi ini mencapai 23,5 derajat dari sumbu tegak lurusnya. Negara-negara yang terletak jauh dari garis khatulistiwa mempunyai empat musim yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Sedangkan negara-negara yang berada dekat dengan garis khatulistiwa memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.[1]

Ciri khas[sunting | sunting sumber]

Ciri khas dari musim ialah adanya kondisi cuaca yang paling sering terjadi dalam rentang waktu tertentu. Tiap musim dikenali melalui kondisi cuaca yang terjadi. Penamaan musim sesuai keadaannya dapat diamati pada musim hujan, musim kemarau, musim dingin, dan musim panas. Rentang waktu pada musim hujan diisi oleh cuaca hujan. Musim kemarau memiliki rentang waktu yang dilalui dengan kemarau. Musim dingin memiliki rentang waktu dengan suhu udara yang selalu rendah. Sedangkan musim panas memiliki rentang waktu dengan suhu udara yang selalu tinggi.[2]

Pembentukan[sunting | sunting sumber]

Bumi tersusun dari material utama yang meliputi besi, oksigen, dan silikon. Besi menjadi material dengan komposisi yang terbesar bagi pembentukan inti Bumi yaitu sekitar 88%. Pusat Bumi yang mengandung besi dalam jumlah yang besar menimbulkan efek magnet yang sangat besar dengan kutub yang berbeda di utara dan selatan.[3] Letak medan magnet di pusat Bumi berjarak ribuan kilometer dari permukaan Bumi. Jarak medan magnet yang jauh menyebabkan Bumi dapat terhalangi dari angin surya. Medan magnet ini juga melindungi mahluk hidup dari bahaya yang ditimbulkan oleh radiasi Matahari. Keberadaan medan magnet menimbulkan perputaran Bumi pada porosnya sambil mengelilingi Matahari sesuai orbitnya. Lamanya waktu yang diperlukan Bumi untuk sekali mengitari porosnya yaitu 23 jam lebih 56 menit dan 4,09 detik. Nilai ini umumnya dibulatkan menjadi 24 jam untuk memudahkan perhitungan waktu. Periode perputaran Bumi pada porosnya menimbulkan waktu siang dan waktu malam yang dikenal dengan satu hari dan satu malam. Sementara itu, Bumi mengelilingi Matahari pada orbitnya dalam satu putaran dengan waktu tempuh sekitar 365 hari lebih 5 jam, 48 menit, dan 45,51 detik. Perputaran Bumi mengelilingi Matahari dikenal dengan periode waktu satu tahun. Berbagai jenis musim yang berbeda-beda di tiap wilayah dapat terbentuk karena adanya perputaran Bumi yang mengitari Matahari.[4]

Perbedaan musim di Bumi berkaitan dengan kemiringan sumbu rotasi Bumi. Sudut posisi Matahari terhadap ekuator terbentuk selama pengorbitan bumi terhadap matahari. Ini menyebabkan terjadinya pergantian musim pada daerah belahan utara dan selatan. Selain itu, perbedaan sudut posisi Matahari juga membentuk perbedaan terhadap lamanya waktu siang dan malam pada daerah yang menjauhi bidang ekuator.[5]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Wilayah subtropik mengalami empat musim karena adanya kemiringan di perputaran bumi pada porosnya terhadap jalur perpindahan bumi terhadap Matahari. Perputaran bumi yang memiliki sudut miring membuat bagian yang jauh dari khatulistiwa mengalami masa dekat dan masa jauh dari matahari selama ¼ tahun. Musim panas terjadi saat daerah subtropis mengalami masa dekat dengan Matahari. Musim dingin terjadi saat daerah subtropis mengalami masa jauh dari Matahari. Musim semi menjadi transisi dari musim dingin ke musim panas, sedangkan musim gugur menjadi transisi dari musim panas ke musim dingin. Musim yang berbeda terbentuk di wilayah khatulistiwa karena adanya perubahan suhu di wilayah subtropik. Perubahan suhu ini menyebabkan terjadinya perubahan arah angin dan arus laut yang menimbulkan musim baru yang berbeda dari musim-musim di wilayah subtropik.[6] Wilayah khatulistiwa akhirnya hanya mengalami dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.[1]

Penentuan rentang waktu[sunting | sunting sumber]

Model curah hujan[sunting | sunting sumber]

Penentuan awal dan akhir dari suatu musim dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria curah hujan tiap rentang 10 hari. Dalam ilmu meteorologi, klimatologi, dan geofisika kriteria ini dikenal dengan istilah dasarian. Tiap tahun, penetapan dasarian dimulai dari tanggal 1 Januari hingga 31 Desember. Tiap bulan hanya terdapat tiga satuan dasarian. Dasarian pertama dihitung antara tanggal 1–10. Dasarian kedua dihitung mulai tanggal 11–20. Dasarian ketiga memiliki ketentuan khusus karena adanya perbedaan jumlah hari pada beberapa bulan di kalender Masehi. Bulan yang memiliki jumlah hari sebanyak 30, memiliki dasarian ketiga dari tanggal 21–30. Bulan yang memiliki jumlah hari sebanyak 31, dasarian ketiganya ditetapkan dari tanggal 21–31. Khusus untuk bulan Februari, dasarian ketiga dimulai dari tanggal 21 sampai dengan 28 atau 29.[7]

Awal musim dijadikan sebagai penanda dasarian awal suatu musim. Awal musim hujan ditandai dengan dasarian pertama yang curah hujannya 50 mm atau lebih. Awal musim kemarau ditandai dengan dasarian pertama yang curah hujannya kurang dari 50 mm. Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim disebut sebagai panjang musim adalah banyaknya dasarian dari awal musim sampai akhir musim. Penentuan awal musim dan jumlah panjang musim dapat berubah setiap tahunnya karena adanya kondisi dan tatanan cuaca lainnya dalam skala besar. Setiap tempat memiliki panjang musim yang berbeda-beda.[8]

Penentuan awal musim dengan berlandaskan pada dasarian diperkenalkan oleh De Boer pada tahun 1948. Model De Boer masih digunakan oleh sebagian besar negara dalam keperluan meteorologi, klimatologi maupun geofisika. Kelemahan dari model De Boer ialah tidak dapat diterapkan pada wilayah dengan curah hujan yang sangat besar atau sangat kecil. Penggunaan model De Boer pada wilayah ini membuat tidak adanya kategori musim hujan atau musim kemarau.[9]

Model angin permukaan[sunting | sunting sumber]

Awal musim juga dapat ditentukan melalui kecepatan angin permukaan yang melalui suatu wilayah. Model ini dikemukakan oleh Harjawinata dan Muharyoto pada tahun 1980. Kecepatana angin permukaan dibagi hingga mencapai 850 hPa. Jika angin barat telah mencapai kecepatan 425 hPa, maka musim angin barat di suatu tempat telah di mulai. Penentuan awal musim dengan model angin permukaan tidak selalu dapat digunakan untuk mengidentifikasi musim hujan. Penyebabnya adalah keberadaan musim angin barat yang terjadi dengan beragam fenomena sehingga membuatnya tidak selalu menandakan terjadinya musim hujan. Penentuan awal musim juga sulit dilakukan pada luas wilayah dan struktur kepulauan dalam pembentukan cuaca skala meso.[10]

Penanggalan Belahan bumi
Tropis
April hingga September musim kemarau
Oktober hingga Maret musim hujan
Belahan utara Belahan selatan
1 Maret - 31 Mei musim semi musim gugur
1 Juni - 31 Agustus musim panas musim dingin
1 September - 30 Nopember musim gugur musim semi
1 Desember - 28 Februari musim dingin musim panas

Peran[sunting | sunting sumber]

Musim sangat mempengaruhi kehidupan ternak dan tanaman. Pakan ternak menjadi melimpah pada musim hujan karena tanaman tumbuh dengan subur. Sebaliknya, tanaman menjadi tidak subur pada musim kemarau karena kekeringan. Kondisi musim menyebabkan peternak membuat silase pada musim penghujan yang kemudian digunakan untuk musim kemarau. Kesehatan ternak juga sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim hujan dapat terjadi penyebaran penyakit ternak dan parasit.[11] Serangga, hewan pengerat, dan mikroorganisme penyebar penyakit sangat peka terhadap perubahan musim.[12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Aldrian, dkk. 2011, hlm. 22.
  2. ^ Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2007, hlm. 11.
  3. ^ Aldrian, dkk. 2011, hlm. 2-3.
  4. ^ Aldrian, dkk. & 201, hlm. 3.
  5. ^ Winarno, dkk. 2019, hlm. 81.
  6. ^ Winarno, dkk. 2019, hlm. 90.
  7. ^ Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2007, hlm. 11-12.
  8. ^ Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2007, hlm. 12.
  9. ^ Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2010, hlm. 7.
  10. ^ Wirjohamidjojo dan Swarinoto 2010, hlm. 7-8.
  11. ^ Patriani, dkk. 2019, hlm. 34.
  12. ^ Patriani, dkk. 2019, hlm. 104.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Aldrian, dkk. (2011). Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia (PDF). Jakarta: Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Kedeputian Bidang Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 
  2. Patriani, dkk. (2019). Klimatologi dan Lingkungan Ternak (PDF). Medan: USU Press. ISBN 978-602-465-123-7. 
  3. Winarno, dkk. (2019). Klimatologi Pertanian (PDF). Bandar Lampung: Pusaka Media. ISBN 978-602-5947-54-4. 
  4. Wirjohamidjojo, S., dan Swarinoto, Y. (2007). Praktek Meteorologi Pertanian (PDF). Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. ISBN 978-979-1241-05-2. 
  5. Wirjohamidjojo, S., dan Swarinoto, Y. (2010). Iklim Kawasan Indonesia: Dari Aspek Dinamik-Sinoptik (PDF). Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. ISBN 978-979-1241-26-7. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]