Badai petir

Badai petir, juga disebut badai guntur (bahasa Belanda: onweer, bahasa Inggris: thunderstorm) adalah bentuk cuaca yang dikenali dari munculnya di mana pada guntur dan petir ini terdapat suatu muatan muatan elektron yang bersebaran di awan serta pada kecepatan angin tertentu. Kerusakan yang diakibatkan oleh badai petir terutama disebabkan oleh angin kencang, hujan es besar, dan banjir bandang yang disebabkan oleh curah hujan lebat, serta dapat menyebabkan sebuah tornado besar.[1]
Badai petir terjadi akibat pergerakan udara hangat dan lembap yang cepat ke atas. Saat udara hangat dan lembap bergerak ke atas, ia mendingin, mengembun, dan membentuk awan kumulonimbus yang dapat mencapai ketinggian lebih dari 20 kilometer (12 mil). Saat udara yang naik mencapai suhu titik embunnya, uap air mengembun menjadi tetesan air atau es, mengurangi tekanan lokal di dalam sel badai petir. Setiap curah hujan jatuh jauh melalui awan menuju permukaan Bumi. Saat tetesan jatuh, mereka bertabrakan dengan tetesan lain dan menjadi lebih besar. Tetesan yang jatuh menciptakan aliran udara ke bawah karena menarik udara dingin bersamanya, dan udara dingin ini menyebar di permukaan Bumi, kadang-kadang menyebabkan angin kencang yang umumnya terkait dengan badai petir.
Badai petir dapat terbentuk dan berkembang di lokasi geografis mana pun, tetapi paling sering terjadi di lintang tengah, di mana udara hangat dan lembap dari lintang tropis bertabrakan dengan udara yang lebih dingin dari lintang kutub. Badai petir bertanggung jawab atas perkembangan dan pembentukan banyak fenomena cuaca ekstrem, yang berpotensi berbahaya.
Energi
[sunting | sunting sumber]
Jika jumlah air yang terkondensasi dan kemudian diendapkan dari awan diketahui, maka energi total badai petir dapat dihitung. Dalam badai petir tertentu, sekitar 5×108 kg uap air terangkat, dan jumlah energi yang dilepaskan saat mengembun adalah 1015 joule. Setara besarnya dengan energi yang dilepaskan dalam siklon tropis, dan lebih banyak energi daripada yang dilepaskan selama ledakan bom atom di Hiroshima, Jepang pada tahun 1945.[2]
Data dari Fermi Gamma-ray Burst Monitor menunjukkan bahwa sinar gamma dan partikel antimateri (positron) dapat dihasilkan dalam badai petir yang kuat.[3] Positron antimateri kemungkinan terbentuk dalam kilatan sinar gamma terestrial (SGT). SGT adalah semburan singkat yang terjadi di dalam badai petir dan terkait dengan kilat. Aliran positron dan elektron bertabrakan lebih tinggi di atmosfer untuk menghasilkan lebih banyak sinar gamma.[4] Sekitar 500 SGT dapat terjadi setiap hari di seluruh dunia, tetapi sebagian besar tak terdeteksi.
Lokasi
[sunting | sunting sumber]
Badai petir terjadi di seluruh dunia, bahkan di wilayah kutub sekalipun, dengan frekuensi terkuat di daerah hutan hujan tropis, di mana badai petir terjadi setiap hari. Kampala dan Tororo di Uganda telah dianggap sebagai tempat paling banyak petir di Bumi,[5] gelar ini juga diberikan pada Bogor di Jawa, Indonesia atau Singapura.
Beberapa badai petir terkuat dan berbahaya terjadi di Amerika Serikat terutama di Midwest dan negara bagian selatan. Badai tersebut dapat membuat sebuah tornado. Setiap musim semi, pemburu badai pergi ke Great Plains Amerika Serikat dan Canadian Prairies untuk menjelajah aspek visual dan ilmiah badai dan tornado.
Petir
[sunting | sunting sumber]
Petir adalah sebuah kejutan listrik yang terjadi dalam sebuah badai petir. Dapat terlihat dalam bentuk garis terang dari langit. Temperatur kejutan petir dapat lima kali lebih panas dari permukaan matahari.[6]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Weather Glossary - T". National Weather Service. 21 April 2005. Diakses tanggal 2006-08-23. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- ↑ Gianfranco Vidali (2009). "Rough Values of Various Processes". Syracuse University. Diarsipkan dari asli tanggal 15 March 2010. Diakses tanggal 31 August 2009.
- ↑ Garner, Rob (26 June 2015). "Fermi Catches Antimatter-Hurling Storms". nasa.gov. Diakses tanggal 19 July 2016.
- ↑ Ouellette, Jennifer (13 January 2011). "Fermi Spots Antimatter in Thunderstorms". Discovery News. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-12. Diakses tanggal 16 January 2011.
- ↑ "How many thunderstorms occur each year?". Thunderstorms. Sky Fire Productions. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-07-11. Diakses tanggal 2006-08-23.
- ↑ "Lightning". BBC. Diarsipkan dari asli tanggal 2005-04-07. Diakses tanggal 2008-06-29.
- Burgess, D.W., R. J. Donaldson Jr., and P. R. Desrochers, 1993: Tornado detection and warning by radar. The Tornado: Its Structure, Dynamics, Prediction, and Hazards, Geophys. Monogr., No. 79, American Geophysical Union, 203–221.
- Corfidi, S. F., 1998: Forecasting MCS mode and motion. Preprints 19th Conf. on Severe Local Storms, American Meteorological Society, Minneapolis, Minnesota, pp. 626-629.
- Davies, J.M., 2004: Estimations of CIN and LFC associated with tornadic and nontornadic supercells. Wea. Forecasting, 19, 714-726.
- Davies, J.M., and R. H. Johns, 1993: Some wind and instability parameters associated with strong and violent tornadoes. Part I: Helicity and mean shear magnitudes. The Tornado: Its Structure, Dynamics, Prediction, and Hazards (C. Church et al., Eds.), Geophysical Monograph 79, American Geophysical Union, 573-582.
- David, C.L. 1973: An objective of estimating the probability of severe thunderstorms. Preprint Eight conference of Severe Local Storms. Denver, Colorado, American Meteorological Society, 223-225.
- Doswell, C.A., III, D. V. Baker, and C. A. Liles, 2002: Recognition of negative factors for severe weather potential: A case study. Wea. Forecasting, 17, 937–954.
- Doswell, C.A., III, S.J. Weiss and R.H. Johns (1993): Tornado forecasting: A review. The Tornado: Its Structure, Dynamics, Prediction, and Hazards (C. Church et al., Eds), Geophys. Monogr. No. 79, American Geophysical Union, 557-571.
- Johns, R. H., J. M. Davies, and P. W. Leftwich, 1993: Some wind and instability parameters associated with strong and violent tornadoes. Part II: Variations in the combinations of wind and instability parameters. The Tornado: Its Structure, Dynamics, Prediction and Hazards, Geophys. Mongr., No. 79, American Geophysical Union, 583–590.
Bacaan
[sunting | sunting sumber]- Evans, Jeffry S.: Examination of Derecho Environments Using Proximity Soundings.
- J.V. Iribarne and W.L. Godson, Atmospheric Thermodynamics, published by D. Reidel Publishing Company, Dordrecht, the Netherlands, 1973, 222 pages
- M K Yau and R.R. Rogers, Short Course in Cloud Physics, Third Edition, published by Butterworth-Heinemann, January 1, 1989, 304 pages. EAN 9780750632157 ISBN 0-7506-3215-1
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Anatomy of a thunderstorm Diarsipkan 2006-02-18 di Wayback Machine.
- Electronic Journal of Severe Storms Meteorology
- Social & Economic Costs of Thunderstorms & High Winds[pranala nonaktif permanen] from "NOAA Socioeconomics" website initiative
- Thunderstorm photography in Germany Diarsipkan 2007-07-14 di Wayback Machine.