Festival Pertengahan Musim Gugur
| Festival Pertengahan Musim Gugur | |
|---|---|
Hiasan festival di Beijing | |
| Nama lain | Festival Bulan, Festival Kue Bulan, Festival Tiong Ciu |
| Dirayakan oleh | Orang Tionghoa |
| Jenis | Kebudayaan, keagamaan |
| Makna | Memperingati dan merayakan selesainya panen musim gugur |
| Perayaan | Menyalakan lampion, membuat dan berbagi kue bulan, perjodohan, kembang api, perkumpulan keluarga, liang liong, makan bersama keluarga, mengunjungi sahabat dan kerabat, memberi hadiah |
| Kegiatan | Memakan kue bulan dan arak cassia |
| Tanggal | Hari ke-15 bulan ke-8 penanggalan Imlek |
| Tahun 2025 | 6 Oktober |
| Tahun 2026 | 25 September |
| Frekuensi | Setiap tahun |
| Terkait dengan | Chuseok (Korea), Tsukimi (Jepang), Tết Trung Thu (Vietnam), Uposatha Ashvini atau Krittika (Kamboja, Laos, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand) |
| Festival Pertengahan Musim Gugur | |||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| "Festival Pertengahan Musim Gugur" dalam aksara Tionghoa tradisional (atas) dan sederhana (bawah) | |||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 中秋節 | ||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 中秋节 | ||||||||||||||||||||||||||
| Makna harfiah: | "Festival Pertengahan Musim Gugur" | ||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||
| Nama penanggalan kalender | |||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi: | 八月十五/八月半 | ||||||||||||||||||||||||||
| Makna literal: | "Hari Kelimabelas/Setengah dari Bulan Delapan" | ||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||
| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa 华人民间信仰 |
|---|
Festival Pertengahan Musim Gugur (juga dikenal dengan nama Festival Tiong Ciu, Festival Bulan, atau Festival Kue Bulan) merupakan festival panen yang dirayakan dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini dirayakan pada hari ke-15 bulan ke-8 kalender Imlek dengan bulan purnama pada malam hari, bertepatan dengan pertengahan bulan September hingga awal bulan Oktober dalam kalender Gregorian.[1] Pada hari ini, orang Tionghoa meyakini bahwa bulan berada pada fase purnama paling penuh dan paling terang, bertepatan dengan waktu panen di pertengahan musim gugur.[2]
Festival Pertengahan Musim Gugur adalah salah satu hari raya dan perayaan yang paling penting dalam kebudayaan Tionghoa. Kepopulerannya menyamai Tahun Baru Imlek. Sejarah festival ini dapat ditelusuri hingga lebih dari 3.000 tahun yang lalu.[3][4] Festival-festival serupa juga dirayakan oleh kebudayaan lainnya di Asia Timur dan Tenggara.
Selama perayaan festival, lampion-lampion dengan berbagai bentuk dan ukuran – melambangkan cahaya yang menerangi jalan menuju kemakmuran dan nasib baik bagi manusia – dibawa dan dipertunjukkan. Kue bulan, kue tradisional yang kaya rasa yang umumnya diisi dengan pasta kacang manis atau biji teratai, dimakan selama perayaan festival ini.[5][6][7] Festival Pertengahan Musim Gugur didasarkan pada legenda Chang'e, dewi bulan dalam mitologi Tionghoa.[8]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Festival ini dinamai demikian karena dirayakan sekitar ekuinoks musim gugur pada hari ke-15 bulan ke-8 dalam kalender Imlek.[4] Namanya beragam dalam rumpun bahasa Sinitik:
- Festival Pertengahan Musim Gugur (中秋节), nama yang paling umum
- Hari Kelimabelas Bulan Delapan atau Setengah dari Bulan Delapan, nama berdasarkan tanggalnya dalam kalender Imlek
- Festival Bulan Delapan, digunakan di tempat-tempat seperti Tiongkok Timur Laut, Fujian Selatan, dan Jianghuai
- Festival Reuni (Hanzi sederhana: 团圆节; Hanzi tradisional: 團圓節; Wugniu: doe2-yoe2-ciq7; Nanjing: tuang2 üän2 zie5), digunakan di Shanghai dan Nanjing
- Festival Kue Bulan (Hanzi sederhana: 月饼节; Hanzi tradisional: 月餅節; Jyutping: jyut6 beng2 zit3), digunakan di Guangdong dan Hong Kong.[9]
Di luar Tiongkok, ada beberapa nama lain yang digunakan untuk festival ini:
- Chuseok (추석; 秋夕; lit. 'malam musim gugur'), festival Korea yang dirayakan pada hari yang sama dalam kalender lunisolar Tionghoa dan Asia Timur lainnya.[10]
- Tsukimi (月見, terj. har. 'melihat bulan'), variasi Jepang dari Festival Pertengahan Musim Gugur yang dirayakan pada hari yang sama dalam kalender Imlek.
- Festival Bulan atau Festival Bulan Panen, karena perayaan ini dikaitkan dengan bulan purnama pada malam ini, juga dengan tradisi pemujaan Bulan dan melihat Bulan.
- Tết Trung Thu (節中秋 dalam aksara Chữ Nôm), di Vietnam.
- Juga dikenal sebagai Festival Anak di Vietnam. Sebagian besar lagu-lagu festival dinyanyikan oleh anak-anak.[11]
- Bon Om Touk, atau Festival Air dan Bulan dalam bahasa Kamboja. Festival ini diadakan setiap tahunnya pada bulan November selama 3 hari.[12]
Pemaknaan
[sunting | sunting sumber]Festival ini merayakan tiga konsep mendasar yang saling terkait erat:
- Berkumpul: Seperti keluarga dan sahabat berkumpul bersama, atau memanen hasil bumi untuk festival. Konon bulan paling terang dan bulat pada hari tersebut yang berarti reuni keluarga. Oleh sebab itu, hal ini adalah alasan utama festival tersebut dianggap penting.
- Mengucap syukur: Mengucap syukur atas panen, atau atas perkumpulan yang harmonis melalui berbagai kegiatan seperti memberikan kue bulan satu kepada yang lain.
- Berdoa (memohon kepuasan batiniah atau jasmaniah): Berdoa untuk hal-hal seperti bayi, pasangan, kecantikan, umur panjang, atau hari depan yang baik.
Tradisi-tradisi dan mitos-mitos seputar festival tersebut dibentuk berdasarkan konsep-konsep ini,[13] meskipun tradisi-tradisi telah berubah seiring waktu karena perubahan dalam teknologi, sains, ekonomi, kebudayaan, dan kepercayaan.[13]
Asal-usul dan perkembangan
[sunting | sunting sumber]Orang Tionghoa telah merayakan panen selama bulan purnama musim gugur sejak dinasti Shang (ca 1600–1046 SM).[13][14] Istilah pertengahan musim gugur (中秋) pertama kali muncul dalam Kitab Ritus Zhou, sebuah koleksi tertulis dari ritual-ritual dinasti Zhou Barat (1046–771 SM).[1] Bagi istana kerajaan, perayaan tersebut didedikasikan untuk dewi Taiyinxingjun (太陰星君; Tàiyīn xīng jūn). Hal ini masih berlaku untuk Taoisme dan kepercayaan tradisional Tionghoa.[15][16]
Perayaan ini sebagai sebuah festival baru mulai menjadi populer pada awal dinasti Tang (618–907 M).[1] Salah satu legenda menjelaskan bahwa Kaisar Xuanzong dari Tang mulai mengadakan perayaan formal di istananya setelah mengeksplorasi Istana-Bulan.[13]
Pada masa dinasti Ming dan Qing, Festival Pertengahan Musim Gugur telah menjadi salah satu festival rakyat di Tiongkok. Ibu Suri Cixi (akhir abad ke-19) sangat menikmati perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur sampai-sampai ia akan menghabiskan periode antara hari ke-13 dan hari ke-17 bulan delapan untuk melakukan ritual yang rumit.[4]
Pemujaan bulan
[sunting | sunting sumber]Salah satu bagian penting dari perayaan festival ini adalah pemujaan Bulan. Orang Tionghoa kuno memercayai bahwa peremajaan berkait dengan Bulan dan air, dan mengkaitkan konsep ini dengan menstruasi, menyebutnya sebagai "air bulanan".[17] Orang Zhuang, contohnya, memiliki fabel kuno yang mengatakan Matahari dan Bulan adalah sebuah pasangan dan bintang-bintang adalah anak-anak mereka, dan ketika Bulan hamil, ia menjadi bulat, dan menjadi sabit setelah melahirkan. Kepercayaan-kepercayaan ini membuat para wanita Keyakinan-keyakinan ini membuat ritual pemujaan dan memberikan persembahan kepada Bulan pada malam ini menjadi populer di kalangan wanita.[17] Dalam daerah-daerah tertentu di Tiongkok, masih ada tradisi-tradisi di mana "pria tidak memuja bulan dan wanita tidak mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa dapur."[17]
Di Tiongkok, Festival Pertengahan Musim Gugur melambangkan reuni keluarga dan pada hari ini, semua keluarga akan menikmati Bulan pada malam hari, karena hari itu adalah hari ke-15 dari bulan kedelapan kalender lunisolar Tionghoa, ketika bulan berada pada fase purnama.
Persembahan juga diberikan kepada dewi bulan yang lebih dikenal, Chang'e, yang dikenal sebagai Dewi Bulan Keabadian. Mitos-mitos seputar Chang'e menjelaskan asal-usul pemujaan Bulan pada hari ini. Salah satu versi dari cerita tersebut adalah sebagai berikut, sebagaimana dijelaskan oleh Buku Pegangan Mitologi Tionghoa karya Lihui Yang:[18]
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar bernama Hou Yi yang sangat mahir dalam memanah. Istrinya bernama Chang'e. Suatu tahun, sepuluh matahari terbit bersamaan di langit, menyebabkan bencana besar terhadap masyarakat. Yi memanah salah sembilan dari matahari-matahari tersebut dan meninggalkan hanya satu untuk memberikan cahaya. Seorang dewa mengagumi Yi dan mengirimkannya ramuan keabadian. Yi tidak mau meninggalkan Chang'e dan menjadi abadi tanpanya, sehingga ia membiarkan Chang'e menyimpan ramuan tersebut. Namun, Peng Meng, salah satu muridnya, mengetahui rahasia ini. Maka, pada tanggal kelimabelas bulan kedelapan dalam kalender lunisolar Tionghoa, ketika Yi pergi berburu, Peng Meng menerobos masuk rumah Yi dan memaksa Chang'e untuk memberikan ramuan tersebut kepadanya. Chang'e menolak melakukan hal itu. Alih-alih, ia menelannya dan terbang ke langit. Karena ia mencintai suaminya dan berharap untuk tinggal di dekatnya, ia memilih bulan sebagai tempat tinggalnya. Ketika Yi kembali dan mengetahui apa yang terjadi, ia sangat sedih sampai-sampai ia memajang buah-buahan dan kue-kue yang disukai Chang'e di halaman rumah dan memberikan sesembahan kepada istrinya. Orang-orang kemudian mengetahui akan kegiatan-kegiatan ini, dan karena simpatis terhadap Chang'e, mereka juga ikut dalam sesembahan ini bersama Yi.
Ketika orang-orang mengetahui kisah ini, mereka membakar dupa di meja sembahyang dan berdoa kepada Chang'e, yang sekarang adalah dewi Bulan, untuk keberuntungan dan keselamatan. Tradisi berdoa kepada Bulan pada Hari Pertengahan Musim Gugur telah diturunkan ribuan tahun sejak saat itu.[19]
Buku Pegangan Mitologi Tionghoa juga memberikan versi alternatif dari mitos tersebut yang juga umum:[18]
Setelah sang pendekar Houyi memanah sembilan dari sepuluh matahari, ia dinyatakan raja oleh masyarakat yang bersyukur. Namun, ia segera menjadi penguasa yang sombong dan tiranis. Agar dapat hidup panjang tanpa kematian, ia meminta ramuan dari Xiwangmu. Namun, istrinya, Chang'e, mencurinya pada tanggal kelimabelas bulan kedelapan karena ia tidak mau raja yang kejam untuk hidup panjang dan menyakiti orang lebih banyak lagi. Ia mengambil ramuan itu untuk mencegah suaminya menjadi abadi. Houyi sangat marah ketika ia mengetahui bahwa Chang'e mengambil ramuan itu. Ia memanah istrinya ketika istrinya terbang ke bulan, tetapi ia meleset. Chang'e melarikan diri ke bulan dan menjadi roh bulan. Houyi meninggal segera setelah itu karena ia diliputi kemarahan yang besar. Setelah itu, orang-orang memberikan sesembahan kepada Chang'e setiap hari kelimabelas bulan kedelapan untuk memperingati tindakan Chang'e.
Perayaan
[sunting | sunting sumber]Festival ini merupakan waktu untuk menikmati panen beras dan gandum yang sukses dengan memberikan sesembahan untuk menghormati bulan. Kini, festival ini masih adalah kesempatan untuk reuni luar ruangan di antara sahabat dan kerabat untuk makan kue bulan dan mengamati Bulan, simbol keselarasan dan kesatuan.[20] Selama tahun gerhana matahari, merupakan hal yang lazim bagi kantor pemerintahan, bank, dan sekolah untuk libur lebih lama demi menikmati fenomena langit yang istimewa seperti gerhana. Festival ini dirayakan dengan banyak tradisi budaya atau regional, beberapa di antaranya:
- Membakar hio untuk menghormati dewa-dewi termasuk Chang'e.
- Pertunjukan liang-liong dan barongsai, yang umumnya dilakukan di Tiongkok selatan.[21]
Lampion
[sunting | sunting sumber]Salah satu tradisi penting dalam merayakan festival ini adalah membawa lampion yang menyala terang, menyalakan lampion pada menara-menara, atau melepas lampion terbang.[21] Tradisi lain yang melibatkan lampion adalah menuliskan teka-teki pada lampion dan membuat orang lain menebak jawabannya (Hanzi sederhana: 灯谜; Hanzi tradisional: 燈謎; Pinyin: dēng mí; harfiah: 'teka-teki lampion').[22]
Sulit untuk mengetahui tujuan asli lampion terkait dengan festival tersebut, tetapi dapat dipastikan bahwa lampion tidak digunakan bersamaan dengan pemujaan Bulan sebelum masa dinasti Tang.[23] Secara tradisional, lampion digunakan untuk melambangkan kesuburan, dan memiliki fungsi utama sebagai mainan dan hiasan. Namun, sekarang lampion telah menjadi simbol dari festival itu sendiri.[23] Di masa lalu, lampion dibuat dengan gambaran dari alam, legenda, dan budaya setempat.[23] Seiring waktu, semakin banyak variasi lentera muncul saat budaya lokal mendapatkan pengaruh dari budaya sekitar.[23]
Dalam proses perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat campuran agraris-komersial, tradisi-tradisi dari festival lainnya mulai masuk ke dalam Festival Pertengahan Musim Gugur, seperti menaruh lampion di sungai untuk menuntun arwah orang yang tenggelam seperti yang dilakukan selama Festival Hantu, yang dirayakan sebulan sebelumnya.[23] Nelayan Hong Kong selama dinasti Qing, contohnya, menaruh lampion pada perahu-perahu mereka untuk Festival Hantu dan tetap memajang lentera tersebut hingga Festival Pertengahan Musim Gugur.[23]
Kue bulan
[sunting | sunting sumber]Membuat dan berbagi kue bulan adalah salah satu tradisi utama dari festival ini. Dalam budaya Tionghoa, bentuk yang bulat melambangkan kesempurnaan dan reuni. Maka, berbagi dan memakan kue bulan yang berbentuk bulat bersama anggota keluarga selama minggu festival melambangkan kesempurnaan dan kesatuan keluarga.[24] Di beberapa wilayah Tiongkok, ada tradisi membuat kue bulan pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur.[25] Orang yang paling senior di keluarga itu akan memotong kue bulan menjadi beberapa bagian dan membagikannya kepada setiap anggota keluarga, melambangkan reuni keluarga.[25] Di zaman sekarang, meskipun kebiasaan membuat kue bulan di rumah telah digantikan oleh kebiasaan yang lebih populer, yaitu memberikan kue bulan kepada anggota keluarga, makna menjaga kesatuan keluarga tetap dipertahankan.[butuh rujukan]
Meskipun kue bulan pada umumnya berdiameter beberapa sentimeter, koki kekaisaran pernah membuat kue bulan yang memiliki diameter hingga 8 meter, dengan permukaannya dihiasi desain Chang'e, pohon cassia, atau Istana Bulan.[20] Salah satu tradisi adalah menumpuk 13 kue bulan untuk membentuk pagoda, dengan angka 13 mewakili 13 bulan dalam satu tahun lunisolar Tionghoa.[20] Pembuatan kue bulan raksasa masih terus berlangsung di Tiongkok masa kini.[26]
Menurut cerita rakyat Tionghoa, seorang saudagar Turpan mempersembahkan kue kepada Kaisar Taizong dari Tang untuk merayakan kemenangannya atas Xiongnu pada tanggal lima belas bulan kedelapan kalender lunisolar Tionghoa. Taizong menerima kue-kue bulat tersebut dan menunjuk ke bulan dengan tersenyum dan berkata, "Saya hendak mengundang kodok untuk menikmati kue hú (胡)." Setelah membagikan kue-kue tersebut kepada para menterinya, kebiasaan makan kue hú ini menyebar ke seluruh negeri.[27] Pada akhirnya, kue-kue ini dikenal sebagai kue bulan. Meskipun legenda menjelaskan tersebut menjelaskan awal mula tradisi memberikan kue bulan, kepopulerannya dan hubungannya dengan festival ini baru dimulai pada masa dinasti Song (906–1279 M).[23]
Legenda terkenal lainnya menceritakan tentang pemberontakan orang Tionghoa Han melawan Mongol pada akhir dinasti Yuan (1280–1368 M). Dalam legenda tersebut, orang Tionghoa Han menggunakan kue bulan tradisional untuk menyembunyikan pesan bahwa mereka akan memberontak pada Hari Pertengahan Musim Gugur.[22] Karena adanya pengawasan ketat terhadap keluarga-keluarga Tionghoa Han yang diberlakukan oleh Mongol, di mana hanya 1 dari setiap 10 rumah tangga yang diizinkan memiliki pisau yang dijaga oleh seorang Mongol, pesan yang terkoordinasi ini menjadi sangat penting untuk mengumpulkan sebanyak mungkin senjata yang tersedia.
Hidangan lainnya
[sunting | sunting sumber]Hidangan-hidangan kekaisaran yang disajikan dalam festival ini meliputi akar teratai sembilan ruas yang melambangkan kedamaian, dan semangka dipotong berbentuk kelopak bunga teratai yang melambangkan reuni.[20] Cangkir teh ditempatkan di atas meja batu di taman, tempat keluarga-keluarga menuang teh dan bercengkerama, menantikan momen ketika pantulan bulan purnama tampak di cangkir mereka.[20] Karena waktu mekar bunganya, arak cassia menjadi pilihan tradisional untuk "arak reuni" pada festival ini. Orang-orang juga merayakan festival ini dengan memakan kue dan permen cassia. Di beberapa tempat, orang akan merayakan festival dengan meminum arak osmanthus dan memakan kue bulan osmanthus.[28][29][30]
Berbagai jenis makanan yang dipersembahkan kepada para dewa diletakkan di atas meja sembahyang yang ada di halaman, termasuk apel, pir, persik, anggur, delima, melon, jeruk, dan jeruk bali.[31] Salah satu hiasan pertama yang dibeli untuk meja perayaan adalah patung Kelinci Giok yang terbuat dari tanah liat. Dalam cerita rakyat Tionghoa, Kelinci Giok adalah seekor hewan yang tinggal di Bulan dan menemani Chang'e. Persembahan kepada Kelinci Giok umumnya berupa kedelai dan bunga boroco.[20]
Sekarang, di Tiongkok selatan, orang-orang juga memakan buah-buah musiman yang mungkin berbeda di wilayah berbeda tetapi membawa makna berkat yang sama.
Perjodohan
[sunting | sunting sumber]Secara tradisional, bulan Pertengahan Musim Gugur adalah waktu pilihan untuk merayakan pernikahan. Para gadis akan berdoa kepada dewi Bulan Chang'e untuk membantu mewujudkan keinginan romantis mereka.[32]
Di beberapa bagian Tiongkok, tari-tarian diadakan untuk pemuda dan pemudi untuk menemukan pasangan. Contohnya, para pemudi dianjurkan untuk melemparkan sapu tangan mereka kepada kerumunan, dan pemuda yang berhasil menangkap serta mengembalikannya memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta.[21] Di Daguang, Provinsi Guizhou bagian barat daya, pemuda dan pemudi suku Dong biasanya membuat janji akan bertemu di tempat tertentu. Para pemudi biasanya datang lebih awal untuk mendengarkan komentar-komentar yang dibuat oleh pemuda tentang mereka. Para pemuda akan memuji-muji kekasih mereka di depan sahabat-sahabat mereka, yang pada akhirnya, para pemudi yang sedang mendengarkan akan muncul dari balik semak-semak. Pasangan kekasih kemudian akan pergi ke tempat yang tenang untuk berbagi perasaan mereka satu sama lain.[33]
Permainan dan kegiatan
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1920-an dan 1930-an, etnografer Chao Wei-pang melakukan penelitian tentang permainan tradisional di kalangan pria, wanita, dan anak-anak pada atau sekitar Hari Pertengahan Musim Gugur di Provinsi Guangdong. Permainan-permainan ini berkait dengan perjalanan arwah, kerasukan roh, atau ramalan nasib.[20]
- Salah satu jenis kegiatan, "Naik ke Surga" (Hanzi: 上天堂 shàng tiāntáng) melibatkan seorang wanita muda yang dipilih dari sekelompok wanita untuk "naik" ke alam surgawi. Ketika diliputi asap dari hio yang dibakar, ia akan menggambarkan penglihatan indah dan suara merdu yang ia alami.[20]
- Kegiatan lainnya, "Turun ke dalam Taman" (Hanzi: 落花园 luò huāyuán), yang dimainkan oleh gadis-gadis yang lebih muda, menggambarkan kunjungan tiap gadis ke taman surgawi. Menurut legenda, sebuah pohon bunga melambangkan dirinya, dan jumlah serta warna dari bunga-bunganya menunjukkan jenis kelamin dan jumlah anak yang akan dimilikinya sepanjang hidupnya.[20]
- Para pria memainkan permainan yang bernama "Turunnya Delapan Dewa" (Hanzi: 降八仙 jiàng bāxiān), di mana salah satu dari Delapan Dewa akan merasuki seorang pemain, yang kemudian akan berperan sebagai seorang cendekiawan atau pendekar.[20]
- Anak-anak biasanya memainkan permainan yang bernama "Mengelilingi Sang Kodok" (guanxiamo), di mana kelompok yang bermain akan membentuk sebuah lingkaran di sekeliling seorang anak yang dipilih menjadi Raja Kodok dan melantunkan sebuah lagu yang mengubah anak tersebut menjadi kodok. Anak tersebut akan melompat-lompat seperti kodok hingga air dipercikkan ke kepalanya, yang setelah itu ia akan berhenti.[20]
Galeri
[sunting | sunting sumber]- Festival Pertengahan Musim Gugur di Singapura
Lihat juga
[sunting | sunting sumber]Rujukan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Yang, Fang (2011-09-12). "Mid-Autumn Festival and its traditions". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-04-13.
- ↑ Pinky Chng; William Tan (2020-09-19). "Mooncakes, lanterns and legends: Your guide to the Mid-Autumn Festival in Singapore". AsiaOne. Diakses tanggal 2024-10-16.
- ↑ "Moon Festival – The Chinese Mid Autumn Festival". 3 June 2021.
- 1 2 3 Roy, Christian (2005). Traditional Festivals: A Multicultural Encyclopedia, Volume 1. ABC-CLIO. hlm. 282–286. ISBN 978-1576070895.
- ↑ "Mid-Autumn Festival in Other Asian Countries". www.travelchinaguide.com.
- ↑ "A Chinese Symbol of Reunion: Moon Cakes – China culture". kaleidoscope.cultural-china.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 5 May 2017. Diakses tanggal 4 October 2017.
- ↑ "Back to Basics: Baked Traditional Moon Cakes". Guai Shu Shu. 10 August 2014. Diakses tanggal 4 October 2017.
- ↑ 中秋传说故事四:嫦娥奔月 [The Mid-Autumn Festival's Fourth Legend: Chang'e Running to the Moon]. China.com. Diakses tanggal 2025-03-31.
- ↑ "2023, 2024與2025年中秋節". PublicHolidays.hk.
- ↑ "Chuseok". Smithsonian National Museum of Asian Art (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Lee, Jonathan H. X.; Nadeau, Kathleen M., ed. (2011). Encyclopedia of Asian American Folklore and Folklife. Santa Barbara, California: ABC-CLIO. hlm. 1180. ISBN 978-0313350665.
- ↑ "Water and Moon Festival (Bon Om Tuk, Bondet Protit, Sam Peah Preah Khae)". intocambodia.org. Diakses tanggal 30 June 2021.
- 1 2 3 4 Siu, K. W. Michael (1999). "Lanterns of the mid-Autumn Festival: A Reflection of Hong Kong Cultural Change". The Journal of Popular Culture. 33 (2): 67–86. doi:10.1111/j.0022-3840.1999.3302_67.x.
- ↑ Yu, Jose Vidamor B. (2000). Inculturation of Filipino-Chinese culture mentality. Roma: Pontificia università gregoriana. hlm. 111–112. ISBN 978-8876528484.
- ↑ Overmyer, Daniel L. (1986). Religions of China: The World as a Living System. New York: Harper & Row. hlm. 51. ISBN 9781478609896.
- ↑ Fan, Lizhu; Chen, Na (2013). "The Revival of Indigenous Religion in China" (PDF). China Watch: 23.
- 1 2 3 Li, Xing (2006). "Chapter VI: Women's Festivals". Festivals of China's Ethnic Minorities. China Intercontinental Press. hlm. 124–127. ISBN 978-7508509990.
- 1 2 Yang, Lihui; Deming An (2005). Handbook of Chinese Mythology (PDF) (dalam bahasa Inggris). Santa Barbara, Calif.: ABC-Clio. hlm. 89–90. ISBN 978-1576078068.
- ↑ Lemei, Yang (2006). "China's Mid-Autumn Day". Journal of Folklore Research. 43 (3): 263–270. doi:10.2979/JFR.2006.43.3.263. ISSN 0737-7037. JSTOR 4640212. S2CID 161494297.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Stepanchuk, Carol; Wong, Charles (1991). Mooncakes and hungry ghosts: festivals of China. San Francisco: China Books & Periodicals. hlm. 51–60. ISBN 978-0835124812.
- 1 2 3 Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaxinhua22 - 1 2 Yang, Lemei (Sep–Dec 2006). "China's Mid-Autumn Day". Journal of Folklore Research. 43 (3): 263–270. doi:10.2979/jfr.2006.43.3.263. JSTOR 4640212. S2CID 161494297.
- 1 2 3 4 5 6 7 Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamasiu2 - ↑ "中秋节传统习俗:吃月饼". www.huaxia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 24 September 2018. Diakses tanggal 24 September 2018.
- 1 2 "中秋食品". Academy of Chinese Studies. Diakses tanggal 16 December 2012.
- ↑ Yan, Alice (4 September 2016). "Chinese city's record 2.4-metre-wide Mid-Autumn Festival mooncake cut down to size for hungry fans". South China Morning Post. Diakses tanggal 25 December 2017.
- ↑ Wei, Liming; Lang, Tao (2011). Chinese festivals (Edisi Updated). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0521186599.
- ↑ Li Zhengping. Chinese Wine, p. 101. Cambridge University Press (Cambridge), 2011. Accessed 8 November 2013.
- ↑ Qiu Yaohong. Origins of Chinese Tea and Wine, p. 121. Asiapac Books (Singapore), 2004. Accessed 7 November 2013.
- ↑ Liu Junru. Chinese Food, p. 136. Cambridge Univ. Press (Cambridge), 2011. Accessed 7 November 2013.
- ↑ Tom, K.S. (1989). Echoes from old China: life, legends, and lore of the Middle Kingdom. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0824812850.
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaroy22 - ↑ Kesalahan pengutipan: Tag
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaminority-li2
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Festival musim gugur Diarsipkan 2023-03-29 di Wayback Machine.
