Surya Citra Media

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Artikel ini bukan mengenai dan tidak berhubungan dengan Sindo Citra Media.
PT Surya Citra Media Tbk
Sebelumnya
Cipta Aneka Selaras (1999-2001)
Publik
Simbol sahamIDX: SCMA
IndustriMedia
PendahuluIndosiar Karya Media (1991-2013)
Didirikan29 Januari 1999
PendiriAbhimata Mediatama
Mitrasari Persada
Bhakti Investama
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia Bendera Indonesia
Tokoh
kunci
Sutanto Hartono (Direktur utama)
ProdukTelevisi
Rumah produksi
Saluran televisi
Situs online
Layanan video streaming
Layanan jejaring sosial
Distribusi
Perusahaan rekaman
Manajemen artis
Periklanan
Yayasan
Pendapatan4.524 trilyun
2.003 trilyun
Karyawan
2.817 (2016)
IndukElang Mahkota Teknologi (2000-sekarang)
Situs webwww.scm.co.id

PT Surya Citra Media Tbk (IDX: SCMA) (sebelumnya bernama PT Cipta Aneka Selaras) adalah perusahaan yang bergerak dalam industri media berbasis konten. Perusahaan ini memiliki stasiun televisi terestrial swasta nasional SCTV dan Indosiar.

Logo Surya Citra Media (1 Februari 2001-31 Desember 2017)

Profil

Sejarah awal

PT Surya Citra Media Tbk didirikan pada 29 Januari 1999 dengan nama PT Cipta Aneka Selaras dengan fokus bidang usaha meliputi jasa multimedia, hiburan dan komunikasi, terutama di bidang pertelevisian. Bisnis awal dari perusahaan ini adalah menjadi induk dari stasiun televisi swasta kedua di Indonesia, yaitu SCTV (PT Surya Citra Televisi).

Dalam awalnya, SCTV pada 1998 dimiliki oleh PT Mitrasari Persada (milik Henry Pribadi dan Sudwikatmono) dan PT Datakom Asia (Bambang Trihatmodjo, Peter F. Gontha dkk). Seiring dengan kebutuhan modal, pada tahun 2000, masuklah keluarga Sariaatmadja, dari grup Elang Mahkota Teknologi dengan bendera PT Abhimata Mediatama. Sariaatmadja pada saat itu menggandeng Singleton Group Australia dan Bambang Tri untuk menyuntik modal di PT Abhimata.[1][2] Sebagian saham PT Mitrasari kemudian diambilalih oleh PT Abhimata.

PT Abhimata dan PT Mitrasari kemudian mendirikan PT Cipta Aneka Selaras (kemudian berganti nama menjadi PT Surya Citra Media) sebagai induk perusahaan SCTV. Di tahun 2001, Henry dan Sudwikatmono masih memiliki PT Cipta Aneka Selaras lewat sebagian saham di PT Mitrasari. Selain PT Mitrasari Persada dan PT Abhimata Mediatama, awalnya dalam pembentukan PT Cipta Aneka Selaras juga bergabung PT Bhakti Investama Tbk (milik Hary Tanoesoedibjo) dengan saham 33,5%. Masuknya Bhakti seiring dengan keinginan Hary Tanoe untuk menguasai SCTV dengan membeli surat hutang PT Mitrasari di Citibank dan mengambil alih PT Datakom yang pada saat itu terlilit hutang. Namun, pada akhirnya rencana HT gagal karena Henry sebagai pemilik utama PT Cipta Aneka Selaras tidak mau menyerahkan kepemilikannya dan pengendaliannya pada SCTV. HT kemudian memutuskan melepaskan saham PT Bhakti dalam PT Cipta Aneka Selaras seluruhnya dan membatalkan rencana pembelian saham PT Datakom di SCTV, pada 13 November 2001.[3] Saham PT Bhakti dalam PT Cipta Aneka Selaras, kemudian beralih kepada PT Abhimata. Komposisi kepemilikan setelah pelepasan saham Bhakti adalah 50% Mitrasari dan 50% Abhimata.

Sejak 29 Januari 2002, PT Cipta Aneka Selaras mengubah namanya menjadi PT Surya Citra Media. Awalnya, kepemilikan SCM pada anak usaha (satu-satunya) yaitu SCTV hanya berjumlah 73,15%, namun kemudian menjadi 100% seiring PT Datakom Asia yang melepas 26,85% sahamnya pada 30 April 2002.[3] Pada tanggal 16 Juli 2002, Surya Citra Media resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) dengan harga IPO senilai Rp 1.100 dan melepas 20% sahamnya. Kepemilikan menjadi PT Mitrasari dan PT Abhimata masing-masing 40%, sedangkan sisanya oleh publik.[4][5]

Setelah pelepasan saham Bhakti dan Datakom, kini SCM (dan SCTV) dikuasai oleh Henry Pribadi, Sudwikatmono dan Sariaatmadja (mayoritas). Namun, dari sebelumnya dimana saham Henry dan Sudwikatmono ada di satu perusahaan (PT Mitrasari Persada), kemudian mereka berpisah dimana saham Henry kini dibawah PT Citrabumi Sacna dan Sudwikatmono dengan sahamnya dialihkan ke perusahaan anaknya, Agus Lasmono yaitu Indika Group (lewat PT Indika Multimedia), terhitung sejak 7 Agustus 2003.[6] Pada akhirnya kemudian saham PT Citrabumi Sacna sebanyak 25% dan PT Indika Multimedia sebesar 14,42% di SCM dilepas pada 2005.[7][8] Praktis, sejak saat itu PT SCM berada di bawah kendali keluarga Sariaatmadja sampai sekarang.[9][10] Penjualan saham Henry di Surya Citra Media ke keluarga Sariaatmadja ini diduga karena terjadi konflik dalam pengelolaan SCTV antara mereka berdua sehingga akhirnya Henry memaksa Sariaatmadja untuk membeli sahamnya. Awalnya, sempat dirumorkan (yang kemudian tidak terbukti) bahwa saham yang dibeli keluarga Sariaatmadja di SCM itu akan dijual ke Bakrie Group, atau STAR TV pada 2005-2006.[1]

Perkembangan

Sejak 2005 saham PT Surya Citra Media berada di bawah Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) via PT Abhimata Mediatama. Pada 2008, dilakukan restrukturisasi sehingga SCM kini di bawah langsung kendali EMTEK. Tindakan ini dilakukan dengan menjual saham PT Abhimata Mediatama di SCM kepada EMTEK.[11] Dari awalnya hanya memiliki SCTV, kemudian melalui serangkaian akuisisi maka SCM bisa memperluas usahanya, misalnya pada 3 Januari 2011 mengakuisisi 85% saham PT Bangka Television.[12]

Pada 1 Mei 2013, SCM resmi bergabung dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM), yang merupakan induk bagi TV swasta Indosiar. Kebetulan, kedua perusahaan ini dimiliki oleh pemilik yang sama, yaitu EMTEK. Penggabungan ini menyebabkan keduanya yang merupakan stasiun televisi terestrial swasta nasional resmi berada di bawah satu pengendalian/induk. Saat ini, EMTEK masih menguasai SCM dan memiliki Indosiar dan SCTV, walaupun pernah beredar berbagai rumor seperti pada September 2010 bahwa sebagian sahamnya akan dijual pada STAR TV milik Rupert Murdoch,[13][14] ataupun kabar yang pernah menyatakan bahwa mereka akan mengakuisisi antv pada April 2018.[15]

Dengan anak usahanya, PT Surya Citra Televisi (SCTV) dan PT Indosiar Visual Mandiri (Indosiar), SCM telah menerapkan strategi konvergensi untuk pertumbuhan agar konten-konten yang ditayangkan dapat dinikmati anytime anywhere, with any device dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi pemirsanya.

Pada tahun 2014, SCM bekerja sama dengan Trinity Optima Production dan mendirikan PT Surya Trioptima Multikreasi (Stream Entertainment). Pada Oktober tahun yang sama, SCM mendirikan layanan over-the-top dengan merek Vidio.

Pada tahun 2015, SCM mendirikan perusahaan subholding di bidang konten, Indonesia Entertainment Group, yang bergerak di bidang rumah produksi, pembuatan dan pemasaran konten, serta infrastruktur. Pada akhir Desember 2016, SCM mengambil alih SinemArt.

Pada 17 Oktober 2019, SCM resmi meluncurkan televisi berlangganan dengan merek Nex Parabola. Nex Parabola sendiri adalah televisi berlangganan yang bisa dipasang dengan satelit.

Anak perusahaan

Berikut ini anak-anak perusahaan SCM, sesuai laporan keuangan 2020.[16][17]

  • PT Surya Citra Televisi (SCTV)
    • PT Surya Citra Dimensi Media
    • PT Surya Citra Visi Media
    • PT Surya Citra Cendrawasih
    • PT Surya Citra Media Kreasi
    • PT Surya Citra Mediatama
    • PT Surya Citra Ceria
    • PT Surya Citra Pesona Media
    • PT Surya Citra Multikreasi
    • PT Surya Citra Kreasitama
    • PT Surya Citra Wisesa
    • PT Surya Citra Pesona Media
    • PT Surya Citra Media Gemilang
    • PT Surya Citra Kirana
    • PT Surya Citra Sentosa
    • PT Surya Citra Nugraha
    • PT Elang Citra Perkasa
  • PT Indosiar Visual Mandiri (Indosiar)
    • PT Indosiar Semarang Televisi
    • PT Indosiar Lontara Televisi
    • PT Indosiar Manado Televisi
    • PT Indosiar Banjarmasin Televisi
    • PT Indosiar Balikpapan Televisi
    • PT Indosiar Bandung Televisi
    • PT Indosiar Surabaya Televisi
    • PT Indosiar Medan Televisi
    • PT Indosiar Padang Televisi
    • PT Indosiar Pekanbaru Televisi
    • PT Indosiar Jambi Televisi
    • PT Indosiar Palembang Televisi
    • PT Indosiar Bengkulu Televisi
    • PT Indosiar Lampung Televisi
    • PT Indosiar Ambon Televisi
    • PT Indosiar Jayapura Televisi
    • PT Indosiar Kupang Televisi
    • PT Indosiar Lintas Yogya Televisi
    • PT Indosiar Pangkalpinang Televisi
    • PT Indosiar Batam Televisi
    • PT Indosiar Pontianak Televisi
    • PT Indosiar Dewata Televisi
  • PT Indonesia Entertainment Group (IEG)
    • PT Indonesia Entertainment Studio (IES)
    • PT Indonesia Entertainment Produksi (IEP)
    • PT Animasi Kartun Indonesia (Dreamtoon)
    • PT Sinemart Indonesia (SinemArt)
    • PT Amanah Surga Produksi (d.h. Amanah Surga Productions)
    • PT Elang Media Karya
    • PT Digital Rantai Maya (Dr. M)
      • PT Digital Rumah Publishindo
    • PT Visual Indomedia Produksi (VIP)
    • PT Screenplay Sinema Film (Screenplay Films)
      • PT Frontera Inter Media
  • PT Kapanlagi Dot Com Networks (KLY)
  • PT Benson Media Kreasi (Samara)
  • PT Screenplay Produksi (Screenplay Productions)
  • PT Mediatama Televisi (Nex Parabola)
  • PT Surya Trioptima Multikreasi (Stream Entertainment)
  • PT Surya Citra Pesona
  • PT Bangka Television
  • PT Surya Citra Gelora
  • PT Binary Ventura Indonesia
    • PT Estha Yudha Ekatama (EYE)
    • PT Kreator Kreatif Indonesia (Famous.id)
      • PT Formasi Agung Selaras (FAS)
        • PT Jenaka Sumber Rejeki
  • PT Vidio Dot Com (Vidio)

Lainnya (tidak tercatat sebagai anak perusahaan):

Referensi

Pranala luar