Bursa Efek Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bursa Efek Indonesia
Bursa saham
DidirikanDesember 1912; 107 tahun yang lalu
Kantor
pusat
Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 1, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan 12190, Indonesia
Tokoh
kunci
Inarno Djajadi (Direktur Utama)
John Aristianto Prasetio (Komisioner Utama)
Situs webwww.idx.co.id

Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem juga sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli Efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek di antara mereka.[1]

Bursa Efek Indonesia merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas operasional dan transaksi, Pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif menjadi BEI.[2] Bursa hasil penggabungan ini mulai beroperasi pada 1 Desember 2007.[3][4]

Sistem BEI[sunting | sunting sumber]

BEI menggunakan sistem perdagangan bernama Jakarta Automated Trading System (JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan sistem manual yang digunakan sebelumnya.[5] Sejak 2 Maret 2009 sistem JATS ini sendiri telah digantikan dengan sistem baru bernama JATS-NextG.[butuh rujukan]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Kolonial Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-19  Indonesia dikenal dengan nama Hindia Belanda atau Hindia belakang. Sejak era baru pemerintahan Hindia Belanda mereka mulai membangun perkebunan secara besar-besaran di Hindia Belanda. Sumber dana dalam membangun perkebunan itu didapatkan dari orang belanda dan eropa lainnya.  Transaksi saham pada perdagangan efek pertama kali tercatat pada tahun 1892, yang dilakukan oleh Perusahaan Perkebunan di Batavia yaitu Cultuur Maatschappij Goalpara dituliskan bahwa perusahaan tersebut menjual 400 saham dengan harga 500 gulden per saham yang beredar. Empat tahun kemudian, Het Centrum juga merilis prospektus penjualan saham yang memiliki nilai hingga 105 ribu gulden dengan harga per lembar sahamnya sebesar 100 gulden. Setelah mengadakan persiapan yang matang, maka akhirnya didirikan pasar modal yang pertama di Indonesia tepatnya di Batavia (Jakarta) pada tanggal 14 Desember 1912 yang bernama Vereniging voor de Effectenhandel atau Bursa efek dan langsung memulai aktivitas perdagangannya.[6] Saham yang diperjual-belikan adalah saham atau obligasi perusahaan/perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia dimana obligasi yang diterbitkan Pemerintah propinsi dan kota praja memiliki sertifikat saham perusahaan-perusahaan yang diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda kemudian efek perusahaan Belanda lainnya. Perkembangan pasar modal di Batavia begitu pesat sehingga menarik masyarakat kota lainnya.[6]

Hampir setengah abad berjalan sejak lembaga bursa efek dibentuk pertama kali di Batavia dengan nama Vereniging voor de Effectenhandel atau Asosiasi Perdagangan Efek. Pembentukan ini dilakukan setelah pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan 'Politik Etis' pada tahun 1901.[7] Pemerintah Hindia Belanda meyakini dengan adanya asosiasi tersebut, proses pembangunan bisa berjalan dengan baik. Mayoritas investor berasal dari orang-orang Belanda dan Eropa yang memiliki penghasilan di atas rata-rata. Namun, pecahnya Perang Dunia ke-I membuat aktivitas perdagangan saham dihentikan pada tahun 1914-1918.[8]

Pada tahun 1925 Bursa Efek kembali dibuka sekaligus membentuk dua bursa efek baru di Indonesia, yaitu Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Semarang. Sayangnya kabar menggembirakan ini tidak berlangsung lama karena BEI dihadapkan pada Resesi Ekonomi tahun 1929 dan pecahnya Perang Dunia II. Keadaan yang semakin memburuk membuat Bursa Efek Surabaya dan Semarang ditutup, yang diikuti juga oleh Bursa Efek Jakarta pada tanggal 10 Mei 1940.[9]

Orde Lama[sunting | sunting sumber]

Bursa Efek Jakarta dibuka kembali dibuka oleh Presiden Soekarno pada 3 Juni 1952. Hingga pada akhirnya keberadaan Bursa Efek kembali tidak aktif ketika ada program nasionalisasi perusahaan Belanda pada tahun 1956 sampai 1977. Tujuan dibukanya kembali bursa ini untuk menampung obligasi pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan ke perserikatan perdagangan uang dan efek yang terdiri atas 3 bank dan bank Indonesia sebagai anggota kehormatan. Perkembangan bursa efek ini berkembang dengan baik walaupun surat berharga yang diperdagangkan umumnya adalah obligasi oleh perusahaan Belanda dan obligasi pemerintah Indonesia lewat Bank Pembangunan Indonesia. Melalui Bank Industri Negara  pada tahun 1954, 1955 dan 1958 penjualan obligasi semakin meningkat. Terjadinya sengketa kekuasaan antara pemerintah RI dengan Belanda mengenai Irian Barat maka semua bisnis Belanda di nasionalisasikan melalui Undang-Undang No. 86 tahun 1958. Sengketa ini mengakibatkan sekuritas-sekuritas dari Belanda tidak diperdagangkan lagi di bursa efek Jakarta.[10]

Orde Baru[sunting | sunting sumber]

Investasi Indonesia mulai berkembang pada era orde baru, dimana pada tahun 1966 merupakan masuknya investasi dari luar negeri dan munculnya investasi di dalam negeri. Investasi berperan besar dalam peningkatan pembangunan perekonomian Indonesia. Orang yang melakukan kegiatan investasi dikenal dengan sebutan investor. Iklim investasi yang mulai membaik pada era orde baru tersebut menggerakkan pemerintah Indonesia saat itu untuk membuat produk hukum yang dapat memberikan perlindungan hukum bagi investor yang diundangkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Produk hukum tersebut adalah Undang-Undang No.1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang No.6 Tahun 1968 Tentang Penanaman Modal Dalam Negeri yang pada akhirnya disatukan menjadi Undang- Undang No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. Undang-undang ini secara garis besar memuat segala pengaturan mengenai tata cara, prosedur, dan aspek lain bagi investor asing maupun lokal dalam menanamkan modalnya di Indonesia.[11] Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto pada tanggal 10 Agustus 1977. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.

Pada masa orde baru dikenal dengan keadaan pasar modal memiliki tiga periode diantaranya adalah periode tidur yang panjang dan bangun dari tidur yang panjang serta otomatisasi.[10]

Periode tidur yang panjang[sunting | sunting sumber]

Periode ini pasar modal menjadi lesu peminat karena sampai dengan tahun 1988 hanya sedikit perusahaan yang tercatat di bursa efek Jakarta, yaitu hanya 24 perusahaan selama 4 tahun dan tidak ada perusahaan baru yang melantai di bursa saham. Pada saat itu masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal. Akhirnya pada tahun 1987 diadakan deregulasi Bursa Efek dengan menghadirkan Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia. Aktivitas perdagangan Bursa Efek pun kian meningkat pada tahun 1988-1990 setelah Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing.

Periode bangun dari tidur yang panjang[sunting | sunting sumber]

Pada periode ini pada tahun 1990 jumlah perusahaan yang sudah IPO menjadi 225 Perusahaan. Pada periode ini IPO  menjadi peristiwa nasional dan banyak dikenal sebagai periode lonjakan IPO (IPO boom). Peningkatan ini juga disebabkan oleh banyak hal salah satunya adalah merubah dasar indeks gabungan menjadi nilai dasar 500 sampai dengan kuartal ketiga tahun 1990 dengan jumlah sekuritas yang tercatat meningkat menjadi 166 saham hingga 208 eminem saham.

Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) pada tahun 1988 dengan organisasinya yang terdiri dari broker dan dealer. Selain itu, pada tahun yang sama, Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal. Bursa Efek Surabaya (BES) pada tahun 1989 mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.

Periode otomatisasi[sunting | sunting sumber]

Karena meningkatnya kegiatan transaksi yang dirasakan sudah melebihi kapasitas manual, maka bursa efek Jakarta memutuskan untuk mengotomatisasikan kegiatan transaksi di bursa. Otomatisasi atau yang lebih dikenal dengan teknologi bursa saham tentunya mengandalkan jaringan-jaringan komputer dengan menggunakan broker, Jaringan sistem perdagangan otomatis yang ditetapkan oleh bursa efek Jakarta. Selain itu, gerbang berupa komputer-komputer yang menghubungkan broker dengan mesin perdagangan. Kemudian traders workstations yang terdiri dari sejumlah terminal untuk masing-masing broker. Pada bulan Agustus 1997 krisis keuangan melanda negara-negara Asia termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Singapura. Tidak banyak perusahaan yang melakukan IPO karena krisis keuangan tadi.  Sebab penurunan nilai mata uang disebabkan karena spekulasi pedagang valas.

Pada tanggal 12 Juli 1992, yang telah ditetapkan sebagai HUT BEJ, BEJ resmi menjadi perusahaan swasta (swastanisasi). BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal (sebelumnya; Badan Pelaksana Pasar Modal). Satu tahun kemudian pada tanggal 21 Desember 1993, PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) didirikan. Pada tahun 22 Mei 1995, Bursa Efek Jakarta meluncurkan Sistem Otomasi perdagangan yang dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems). Pada tahun yang sama pada 10 November, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996. Bursa Paralel Indonesia kemudian merger dengan Bursa Efek Surabaya. Kemudian satu tahun berikutnya, 6 Agustus 1996, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) didirikan. Dilanjutkan dengan pendirian Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) pada tahun berikutnya, 23 Desember 1997.

Reformasi[sunting | sunting sumber]

Perdagangan tanpa warkat sudah tidak dianggap efisien lagi. Banyaknya warkat yang hilang sewaktu disimpan atau sudah banyak juga warkat yang dipalsukan bahkan secara administratif dan penerbitannya akan menghambat proses penyelesaian transaksi. Tahun 2003 dimasuki dengan optimisme. IHSG dibuka pada awal tahun pada tanggal 1 Januari 2003 dengan nilai 4005,44. Tahun 2004 IHSG sudah menembus level 1000 dan diakhir tahun 2004 pada tanggal 30 Desember 2004 IHSG ditutup pada nilai 1000,23. Di tahun 2005, tanggal 3 Januari 2005 IHSG dibuka pada nilai 1038,82 poin dan pada akhir tahun pada tanggal 29 Desember 2005 IHSG ditutup pada nilai 1162,63 poin. Pada tahun 2007 IHSG menembus nilai diatas 2000 poin pada tanggal 26 April 2007 sebesar 2016,033 dan pada tanggal 22 Oktober 2007 sudah mencapai nilai 2446,76. Efektif mulai bulan Novenber 2007 setelah diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diadakan pada 30 Oktober 2007 BEJ dan BES bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia.[10]

Pada tanggal 30 November 2007, Bursa Efek Surabaya (BES) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya digabungkan dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah lahirnya BEI, suspensi perdagangan diberlakukan pada tahun 2008 dan Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) dibentuk pada tahun 2009. Selain itu, pada tahun 2009, PT Bursa Efek Indonesia mengubah sistem perdagangan yang lama (JATS) dan meluncurkan sistem perdagangan terbarunya yang digunakan oleh BEI sampai sekarang, yaitu JATS-NextG. Beberapa badan lain juga didirikan guna untuk meningkatkan aktivitas perdagangan, seperti pendirian PT Indonesian Capital Market Electronic Library (ICaMEL) pada Agustus 2011. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Januari 2012, dan di akhir 2012, Securities Investor Protection Fund (SIPF), dan Prinsip Syariah dan Mekanisme Perdagangan Syariah juga diluncurkan. BEI juga melakukan beberapa pembaharuan, tanggal 2 Januari 2013 jam perdagangan diperbaharui, dan pada tahun berikutnya Lot Size dan Tick Price disesuaikan kembali, dan pada tahun 2015 TICMI bergabung dengan ICaMEL.

Bursa Efek Indonesia juga membuat suatu kampanye yang disebut dengan “Yuk Nabung Saham” yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mau memulai berinvestasi di pasar modal. BEI memperkenalkan kampanye tersebut pertama kali pada tanggal 12 November 2015, dan kampanye ini masih dilaksanakan sampai sekarang, dan pada tahun yang sama LQ-45 Index Futures diresmikan. Pada tahun 2016, Tick Size dan batas Autorejection kembali disesuaikan, IDX Channel diluncurkan, dan BEI pada tahun ini turut ikut serta menyukseskan kegiatan Amnesti Pajak serta meresmikan Go Public Information Center. Pada tahun 2017, IDX Incubator diresmikan, relaksasi marjin, dan peresmian Indonesia Securities Fund. Pada tahun 2018 lalu, Sistem Perdagangan dan New Data Center telah diperbaharui, launching Penyelesaian Transaksi T+2 (T+2 Settlement) dan Penambahan Tampilan Informasi Notasi Khusus pada kode Perusahaan Tercatat.[butuh rujukan]

Kecelakaan & Insiden[sunting | sunting sumber]

Selasar runtuh[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Januari 2018, sebuah selasar mezanin yang tergantung di lantai dua IDX runtuh dan menyebabkan 77 orang terluka. Sebagian besar yang terluka adalah mahasiswa yang mengunjungi gedung tersebut. Insiden terjadi sekitar pukul 12:10 WIB.[12]

Indeks saham[sunting | sunting sumber]

Untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang perkembangan bursa kepada publik, BEI menyebarkan data pergerakan harga saham melalui media cetak dan elektronik. Satu indikator pergerakan harga saham tersebut adalah indeks harga saham. Saat ini, BEI mempunyai beberapa jenis indeks, ditambah dengan indeks sektoral[13] per 09 Mei 2019. Indeks-indeks tersebut adalah

  1. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks yang mengukur pergerakan semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
  2. Indeks LQ45, Indeks yang mengukur performa harga dari 45 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
  3. Indeks IDX30, Indeks yang mengukur performa harga dari 30 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
  4. Indeks IDX80, Indeks yang mengukur performa harga dari 80 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
  5. Indeks Kompas100, Indeks yang mengukur performa harga dari 100 saham-saham yang memiliki likuiditas yang baik dan kapitalisasi pasar yang besar. Indeks KOMPAS100 diluncurkan berkerja sama dengan perusahaan media KOMPAS GRAMEDIA.
  6. Indeks IDX SMC Composite / IDX Small-Mid Cap Composite Index, Indeks yang mengukur performa harga dari saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah.
  7. Indeks IDX SMC Liquid / IDX Small-Mid Cap Liquid Index, Indeks yang mengukur performa harga dari saham-saham dengan likuiditas tinggi yang memiliki kapitalisasi pasar kecil dan menengah. Konstituen Indeks IDX SMC Liquid diambil dari konstituen Indeks IDX SMC Composite.
  8. Indeks IDX High Dividend 20 / IDX High Dividend 20 Index, Indeks harga atas 20 saham yang membagikan dividen tunai selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi.
  9. Indeks IDX BUMN20 / IDX BUMN20 Index, Indeks yang mengukur performa harga harga atas 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan afiliasinya.
  10. Indeks Saham Syariah Indonesia / Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), Indeks yang mengukur performa harga seluruh saham yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  11. Jakarta Islamic Index (JII), Indeks yang mengukur performa harga dari 30 saham-saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.
  12. Jakarta Islamic Index 70 (JII70), Indeks yang mengukur performa harga dari 70 saham-saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi.
  13. Indeks Papan Utama, Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham tercatat di Papan Utama Bursa Efek Indonesia.
  14. Indeks Papan Pengembangan, Indeks yang mengukur kinerja harga seluruh saham tercatat di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia.
  15. Indeks BISNIS-27, Indeks yang mengukur performa harga dari 27 saham-saham yang dipilih oleh Komite Indeks Bisnis Indonesia. Indeks BISNIS-27 diluncurkan berkerja sama dengan perusahaan media PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit surat kabar harian Bisnis Indonesia).
  16. Indeks PEFINDO25, Indeks yang mengukur performa harga saham dari 25 emiten kecil dan menengah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi. Indeks PEFINDO25 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
  17. Indeks SRI-KEHATI, Indeks yang mengukur performa harga saham dari 25 emiten yang memiliki kinerja yang baik dalam mendorong usaha-usaha berkelanjutan, serta memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik atau disebut Sustainable and Responsible Investment (SRI). Indeks SRI-KEHATI diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI).
  18. Indeks Infobank15, Indeks yang terdiri dari 15 saham perbankan yang memiliki faktor fundamental yang baik dan likuiditas perdagangan yang tinggi. Indeks infobank15 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media PT Info Artha Pratama (penerbit Majalah Infobank).
  19. Indeks SMinfra18, Indeks yang terdiri dari 18 saham yang konstituennya dipilih dari sektorsektor infrastruktur, penunjang infrastruktur, dan pembiayaan infrastruktur (dari sektor perbankan) yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Indeks SMinfra18 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI).
  20. Indeks MNC36, Indeks yang terdiri dari 36 saham yang memiliki kinerja positif yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi, dan fundametal serta rasio keuangan. Indeks MNC36 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media Media Nusantara Citra (MNC) Group.
  21. Indeks Investor33, Indeks yang mengukur performa harga 33 saham yang dipilih dari 100 (seratus) Perusahaan Tercatat terbaik versi Majalah Investor yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas transaksi dan fundamental serta rasio keuangan. Indeks Investor33 diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan media PT Media Investor Indonesia (penerbit Majalah Investor).
  22. Indeks PEFINDO i-Grade / PEFINDO Investment Grade Index, Indeks yang mengukur performa harga dari 30 saham emiten-emiten yang memiliki peringkat investment grade dari PEFINDO (idAAA hingga idBBB-) yang berkapitalisasi pasar paling besar. Indeks PEFINDO i-Grade diluncurkan dan dikelola berkerja sama dengan perusahaan pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO).
  23. IDX Quality30, Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang secara historis perusahaan relatif memiliki profitabilitas tinggi, solvabilitas baik, dan pertumbuhan laba stabil dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
  24. IDX Value30, Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
  25. IDX Growth30, Indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki tren harga relatif terhadap pertumbuhan laba bersih dan pendapatan dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
  26. IDX ESG Leaders, Indeks yang mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki penilaian Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang baik dan tidak terlibat pada kontroversi secara signifikan serta memiliki likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. Penilaian ESG dan analisis kontroversi dilakukan oleh Sustainalytics.
  27. IDX-MES BUMN 17, Indeks yang mengukur kinerja harga dari 17 saham syariah yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan afiliasinya yang memiliki likuiditas baik dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik. IDX-MES BUMN 17 merupakan kerja sama antara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Perkumpulan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
  28. Indeks Sektoral, Indeks yang mengukur performa harga seluruh saham dari masing-masing sektor industri yang terdapat pada klasifikasi Jakarta Stock Industrial Classification (JASICA). Indeks Sektoral (IDX-IC) yang terdiri dari 11 Sektor, yaitu: IDX Sektor Energi (IDXENERGY), IDX Sektor Barang Baku (IDXBASIC), IDX Sektor Perindustrian (IDXINDUST), IDX Sektor Barang Konsumen Primer (IDXNONCYC), IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer (IDXCYCLIC), IDX Sektor Kesehatan (IDXHEALTH), IDX Sektor Keuangan (IDXFINANCE), IDX Sektor Properti & Real Estate (IDXPROPERT), IDX Sektor Teknologi (IDXTECHNO), IDX Sektor Infrastruktur (IDXINFRA), IDX Sektor Transportasi&Logistik (IDXTRANS).

Peran Bursa Efek[sunting | sunting sumber]

Bursa Efek berperan signifikan dalam kegiatan pasar modal. Bursa Efek bertangunggung jawab dalam menyediakan semua sarana perdagangan efek dan membuat peraturan yang berkaitan dengan kegiatan bursa.

Bursa efek juga mendorong partisipasi masyarakat serta badan usaha dalam memenuhi pembiayaan nasional. Jika permintaan investasi tinggi, maka perusahaan akan meningkatkan jumlah penawaran saham kepada publik. Ini akan mendorong peningkatan aktivitas transaksi di pasar modal. Ditambah lagi, bursa efek juga bereran dalam menyediakan informasi perdagangan harian yaitu perubahan harga saham yang terjadi setiap harinya serta harga penutupan. [14]

Garis waktu[sunting | sunting sumber]

  • Pada Desember 1912, Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda
  • Pada 1914-1918, Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I
  • Pada 1925-1942, Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya
  • Pada awal 1939, Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup karena isu politik (Perang Dunia II)
  • Pada 1942-1952, Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II Pada 1956, dilaksanakan program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif
  • Pada 1956-1977, perdagangan di Bursa Efek vakum
  • Pada 10 Agustus 1977, Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama
  • Pada 1977-1987, perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24 emiten. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal
  • Pada 1987, diluncurkan Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia
  • Pada 1988-1990, Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat
  • Pada 2 Juni 1988, Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer
  • Pada Desember 1988, Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal
  • Pada 16 Juni 1989, Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya
  • Pada 13 Juli 1992, Bursa Efek Jakarta (BEJ) resmi menjadi perusahaan swasta (swastanisasi). BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ
  • Pada 21 Desember 1993, PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) didirikan
  • Pada 22 Mei 1995, Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems)
  • Pada 10 November 1995, Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996
  • Pada 1995, Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya
  • Pada 6 Agustus 1996, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) didirikan
  • Pada 23 Desember 1997, Kustodian Sentra Efek Indonesia (KSEI) didirikan
  • Pada 21 Juli 2000, Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia
  • Pada 28 Maret 2002, Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading)
  • Pada 9 September 2002, perubahan transaksi T+4 menjadi T+3 selesai
  • Pada 6 Oktober 2004, Stock Option rilis
  • Pada 30 November 2007, Bursa Efek Surabaya (BES) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) digabungkan dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI)
  • Pada 8 Oktober 2008, Suspensi Perdagangan diberlakukan
  • Pada 2 Maret 2009, Peluncuran Sistem Perdagangan Baru PT Bursa Efek Indonesia: JATS-NextG
  • Pada 10 Agustus 2009, Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) didirikan
  • Pada Agustus 2011, PT Indonesian Capital Market Electronic Library (ICaMEL) didirikan
  • Pada Januari 2012, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) didirikan
  • Pada Desember 2012, Securities Investor Protection Fund (SIPF) dibentuk
  • Pada 2012, Prinsip Syariah dan Mekanisme Perdagangan Syariah diluncurkan
  • Pada 2 Januari 2013, jam perdagangan diperbaharui
  • Pada 6 Januari 2014, Lot Size dan Tick Price disesuaikan kembali
  • Pada 10 November 2015, TICMI bergabung dengan ICaMEL
  • Pada 12 November 2015, Kampanye ‘Yuk Nabung Saham’ launching
  • Pada 2015, LQ-45 Index Futures diresmikan
  • Pada 18 April 2016, IDX Channel diluncurkan
  • Pada 2 Mei 2016, Tick Size disesuaikan kembali
  • Pada tahun 2016, batas Autorejection disesuaikan kembali. Selain itu, pada tahun 2016, BEI turut ikut menyukseskan kegiatan Amnesti Pajak serta diresmikannya Go Public Information Center
  • Pada 6 Februari 2017, relaksasi marjin
  • Pada 23 Maret 2017, IDX Incubator diresmikan
  • Pada 2017, Indonesia Securities Fund diresmikan
  • Pada 7 Mei 2018, Sistem Perdagangan dan New Data Center diperbaharui
  • Pada 26 November 2018, launching Penyelesaian Transaksi T+2 (T+2 Settlement)
  • Pada 27 Desember 2018, terdapat penambahan Tampilan Informasi Notasi Khusus pada kode Perusahaan Tercatat
  • Pada April 2019, PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI) mendapatkan izin operasional dari OJK

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ojk.go.id (2010). Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. (online) Available at: https://www.ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/regulasi/undang-undang/Pages/undang-undang-nomor-8-tahun-1995-tentang-pasar-modal.aspx ojk.go.id (Diakses pada 9 May 2019).
  2. ^ (Indonesia) AntaraNews: Menkeu: BEJ dan BES Merger Jadi Bursa Efek Indonesia[pranala nonaktif permanen]
  3. ^ Situs Antara[pranala nonaktif permanen]
  4. ^ detik Finance: BEI Aktif Mulai 1 Desember
  5. ^ Message from Bursa Efek Jakarta, diakses 28 Januari 2008
  6. ^ a b Brantika, H (2006). "Sejarah Pasar Modal Indonesia" (PDF). Diakses tanggal 27/11/2021. 
  7. ^ News, Sindo (10 Agustus 2021). "Sejarah Pasar Modal Indonesia Pernah Vakum Sebab Perang Dunia". SindoNews. Diakses tanggal 27/11/2021. 
  8. ^ Finance, Oke (10 Agustus 2021). "Sejarah Pasar Modal Indonesia dari Zaman Hindia Belanda". okezone. Diakses tanggal 27/11/2021. 
  9. ^ Indonesia, Tap Kapital. "Sejarah Pasar Modal Indonesia Dari Masa ke Masa". www. tapkapital.co.id. Diakses tanggal 27/11/2021. 
  10. ^ a b c Prasetyo, Budi (2012). "Analisis Faktor-faktor Risiko Sistematis terhadap Saham Jakarta Islamic Index (JII)" (PDF). Skripsi: 52–58. 
  11. ^ Pakpahan, Elvira Fitriyani (2017). "REKONSTRUKSI PENGATURAN OBLIGASI DI PASARMODAL INDONESIA BERBASIS NILAI KEADILAN" (PDF). Disertasi: 5. 
  12. ^ Selasar Gedung BEI Roboh, Ratusan Orang Terluka
  13. ^ [1], Bursa Efek Indonesia, diakses 4 Januari 2017
  14. ^ Pradana, Melvern (10/09/2022). "Bursa Efek: Cara Kerja, Peran, Jenis". Investbro.id. Diakses tanggal 14/09/2021. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]