Lompat ke isi

Kesehatan di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Seorang dokter sedang menangani pasien dalam simulasi darurat di RS Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Kesehatan di Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Indonesia memiliki lebih dari 26.000 fasilitas pelayanan kesehatan; terdiri atas 2.000 rumah sakit, 9.000 pusat kesehatan masyarakat dan klinik swasta, 1.100 klinik dokter gigi, serta 1.000 optik.[1] Negara ini masih kekurangan tenaga dokter, dengan rasio hanya 0,4 dokter per 1.000 penduduk.[1] Pada tahun 2018, belanja kesehatan Indonesia mencapai 38,3 miliar dolar AS atau 4,18% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan diperkirakan akan meningkat menjadi 51 miliar dolar AS pada tahun 2020.[2]

Pada tahun 2014, Indonesia memperkenalkan program jaminan kesehatan universal, yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan).[3] Saat ini program tersebut mencakup lebih dari 200 juta penduduk. Sekitar 20 juta penduduk Indonesia juga tercakup oleh asuransi kesehatan swasta.[1]

Human Rights Measurement Initiative (HRMI)[4] menilai bahwa Indonesia telah memenuhi 84,1% dari kewajiban yang seharusnya dipenuhi terkait hak atas kesehatan, berdasarkan tingkat pendapatannya.[5] Jika dilihat dari hak atas kesehatan anak, Indonesia mencapai 93,5% dari capaian yang diharapkan berdasarkan tingkat pendapatan saat ini.[6] Sementara itu, terkait hak atas kesehatan penduduk dewasa, Indonesia hanya mencapai 87,1% dari capaian yang diharapkan berdasarkan tingkat pendapatan nasional.[7] Indonesia masuk ke dalam kategori “sangat buruk” dalam penilaian hak atas kesehatan reproduksi, karena negara ini hanya memenuhi 71,9% dari capaian yang diharapkan berdasarkan sumber daya (pendapatan) yang dimilikinya.[8]

Kondisi kesehatan di Indonesia dipengaruhi oleh banyak hal. Faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan secara umum yaitu gaya hidup, lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan.[9] Sementara menurut penelitian tahun 2009, status kesehatan di Indonesia dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal, perilaku merokok, dan perilaku aktivitas fisik.[10]

Statistik

[sunting | sunting sumber]
Tahun Angka harapan hidup[11]
Laki-Laki Perempuan
2010 67,89 71,83
2011 68,09 72,02
2012 68,29 72,22
2013 68,49 72,41
2014 68,87 72,59
2015 68,93 72,78
2016 69,09 72,80
2017 69,16 73,06
2018 69,30 73,19
2019 69,44 73,33

Pada tahun 2000, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan peringkat sistem kesehatan dunia, dengan Indonesia menempati urutan 92 dari total 190 negara.[12] Dengan populasi penduduk di atas 265 juta,[13] Indonesia memiliki angka harapan hidup sebesar 69,44 tahun untuk laki-laki dan 73,33 tahun untuk perempuan.[11] Rata-rata usia ibu saat pertama kali melahirkan adalah 22,8 tahun, dengan angka kematian bayi sebesar 20,4 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu sebesar 177 per 100.000 kelahiran hidup.[14]

Sebanyak 19,9% anak berusia di bawah lima tahun memiliki berat badan di bawah normal, sedangkan 6,9% orang dewasa mengalami obesitas.[14] Berdasarkan sumber air minum, sebanyak 87,4% penduduk memiliki akses ke sumber air minum yang baik dan 12,6% sisanya tidak.[14] Sumber air minum yang baik meliputi air pipa ke rumah, pekarangan, atau petak tanah; keran air atau pipa air untuk publik; sumur tabung atau lubang bor; galian sumur yang terlindungi; atau wadah air hujan atau mata air.[14]

Peran pemerintah

[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, urusan kesehatan ditangani oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sementara dalam lembaga legislatif, kesehatan merupakan lingkup tugas Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Saat ini, penerapan kesehatan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam UU ini, kesehatan didefinisikan sebagai "keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis".[15]

Pembangunan kesehatan merupakan salah satu aspek pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, sebagaimana dituangkan dalam arah pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025.[16] Pembangunan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.[17]

Per September 2020, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 247 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 151 jiwa per km².[18] Sebanyak 29% penduduk Indonesia berusia di bawah 15 tahun, dan hanya 5% yang berusia di atas 65 tahun.

Harapan hidup

[sunting | sunting sumber]
Harapan hidup di Indonesia sejak tahun 1927
Harapan hidup di Indonesia sejak tahun 1960 berdasarkan jenis kelamin
Periode Angka harapan hidup Periode Angka harapan hidup
1950–1955 41.75 1985–1990 61.29
1955–1960 45.07 1990–1995 63.32
1960–1965 48.18 1995–2000 65.16
1965–1970 51.05 2000–2005 66.40
1970–1975 54.02 2005–2010 68.31
1975–1980 56.69 2010–2015 70.01
1980–1985 59.21 2015–2020 71.41

Sumber: PBB[19]

Angka kematian

[sunting | sunting sumber]
Jumlah kematian yang tercatat per 1.000 kelahiran hidup 1990 2000 2010 2019
Di bawah 28 hari 30.6 22.8 17.4 12.4
Di bawah 1 tahun 61.8 41 28 20.2
Di bawah 5 tahun 84 52.2 33.9 23.9

Sumber: Bank Dunia[20]

Tingkat kesuburan

[sunting | sunting sumber]
Tahun Jumlah kelahiran per perempuan Angka
2017 2.346 Penurunan sebesar 1,1% sejak tahun 2016
2018 2.320 Penurunan sebesar 1,11% sejak tahun 2017
2019 2.300 Penurunan sebesar 0,86% sejak tahun 2018
2020 2.280 Penurunan sebesar 0,87% sejak tahun 2019

Source: Macrotrends[21]

Pelayanan kesehatan ibu dan anak

[sunting | sunting sumber]
Bidan yang baru disertifikasi di Sulawesi Selatan, Indonesia

Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2010 adalah 240 per 100.000 kelahiran. Angka ini dibandingkan dengan 228,6 pada tahun 2008 dan 252,9 pada tahun 1990. Angka kematian anak di bawah usia 5 tahun per 1.000 kelahiran adalah 41, dan angka kematian neonatal sebagai persentase dari kematian anak di bawah 5 tahun adalah 49. Di Indonesia, jumlah bidan per 1.000 kelahiran hidup tidak tersedia, dan risiko kematian seumur hidup bagi perempuan hamil adalah 1 dari 190.[22]

Angka kematian ibu pada tahun 2012 adalah 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup, meningkat secara signifikan dibandingkan data tahun 2010 yang mencatat 220 kematian, serta masih jauh dari target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), yaitu 102 kematian pada akhir tahun 2015. Penyebab utama kematian adalah perdarahan hebat pascapersalinan akibat kurangnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, meskipun data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional dan Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya perbaikan, dari 93 persen perempuan yang menerima perawatan prenatal pada tahun 2007 meningkat menjadi 96 persen pada tahun 2012.[23]

Kualitas dan gaya hidup

[sunting | sunting sumber]

Perubahan iklim

[sunting | sunting sumber]

Kualitas air

[sunting | sunting sumber]

Air minum yang tidak aman merupakan penyebab utama diare, yang menjadi salah satu penyebab kematian utama pada anak-anak kecil di Indonesia.[24] Menurut UNICEF, diare yang disebabkan oleh air minum yang tidak diolah berkontribusi terhadap kematian 31% anak berusia antara 1 bulan hingga 1 tahun, serta 25% anak berusia antara 1 hingga 4 tahun.[25]

Kualitas udara

[sunting | sunting sumber]

Kabut asap Asia Tenggara tahun 1997, 2006, 2013, dan 2015 — di semua negara yang terdampak kabut asap tersebut, tercatat adanya peningkatan dampak kesehatan akut. Dampak kesehatan tersebut meliputi meningkatnya kunjungan ke unit gawat darurat akibat gejala pernapasan seperti asma, infeksi saluran pernapasan atas, penurunan fungsi paru-paru, serta iritasi pada mata dan kulit, yang terutama disebabkan oleh paparan partikel halus dalam kabut asap tersebut.

Pola makan tidak sehat

[sunting | sunting sumber]

Setidaknya 1 dari 3 anak di bawah usia lima tahun di Indonesia mengalami kekurangan gizi atau kelebihan berat badan.[26] Menurut UNICEF, sebanyak 7 juta anak balita mengalami stunting, 2 juta mengalami wasting (kurus), dan 2 juta mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Selain itu, 1 dari 4 remaja mengalami anemia, yang kemungkinan besar disebabkan oleh kekurangan vitamin dan zat gizi seperti zat besi, asam folat, dan vitamin A.[27]

Penggunaan tembakau dan narkoba

[sunting | sunting sumber]

Indonesia merupakan pasar tembakau terbesar kelima di dunia dan tidak memiliki peraturan yang sangat ketat mengenai merokok. Setiap tahun, lebih dari 200.000 orang meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh penggunaan tembakau. Namun demikian, lebih dari 469.000 anak-anak (usia 10–14 tahun) dan 64 juta orang dewasa (usia 15 tahun ke atas) masih menggunakan produk tembakau setiap hari.[28]

Penggunaan dan peredaran narkoba sepenuhnya ilegal dan dapat berujung pada hukuman mati. Pada tahun 2015, sekitar 4,5 juta penduduk Indonesia memerlukan rehabilitasi akibat penggunaan narkoba terlarang atau ilegal, dan sekitar 45 anak muda meninggal setiap hari akibat penggunaan narkoba.[29]

Kesehatan mental dan bunuh diri

[sunting | sunting sumber]

Terdapat stigma yang tinggi terhadap gangguan kesehatan mental di Indonesia. Pemerintah Indonesia saat ini hanya mengalokasikan sekitar 1% dari total anggaran kesehatan untuk kesehatan mental, dengan jumlah fasilitas yang terbatas, yaitu 48 rumah sakit jiwa dan 269 bangsal psikiatri. Kondisi fasilitas-fasilitas tersebut umumnya tidak higienis dan penuh sesak, serta para penghuni kerap dipasung untuk mencegah terjadinya kekerasan.[30]

Bunuh diri merupakan permasalahan di Indonesia dan pada tahun 2018 Indonesia menempati peringkat ke-65 dengan angka 2,9 kasus bunuh diri per 100.000 penduduk. Kasus bunuh diri sering kali tidak dilaporkan karena stigma, dan diperkirakan sekitar 10.000 orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya.[31]

Pada tahun 2005, terdapat 303 kasus polio yang dilaporkan di Indonesia.

Penyakit menular

[sunting | sunting sumber]

HIV/AIDS telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang besar sejak awal tahun 1990-an.[24] Pada tahun 2003, Indonesia menempati peringkat ketiga di antara negara-negara ASEAN di Asia Tenggara, setelah Myanmar dan Thailand, dengan tingkat prevalensi pada orang dewasa sebesar 0,1 persen, sekitar 130.000 kasus HIV/AIDS, dan 2.400 kematian.[24] Di Jakarta diperkirakan sekitar 17 persen pekerja seks telah terinfeksi HIV/AIDS; di beberapa wilayah Papua, tingkat infeksi di kalangan perempuan desa yang bukan pekerja seks diperkirakan dapat mencapai hingga 26 persen.[24]

Tiga ancaman kesehatan lain yang dihadapi Indonesia pada tahun 2004 adalah demam berdarah dengue, demam berdarah dengue berat (DBD/DHF), dan influenza burung.[24] Menurut WHO, seluruh 30 provinsi di Indonesia terdampak oleh demam dengue dan DBD. Wabah influenza burung yang sangat patogen (A/H5N1) pada ayam dan bebek di Indonesia dinilai menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan manusia.[24]

Pada tahun 2010, terdapat tiga wilayah malaria di Indonesia: Nusa Tenggara Barat dengan 20 kasus per 1.000 penduduk, Nusa Tenggara Timur dengan 20–50 kasus per 1.000 penduduk, serta Maluku dan Papua dengan lebih dari 50 kasus per 1.000 penduduk. Tingkat endemisitas sedang terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, sedangkan endemisitas rendah terdapat di Jawa dan Bali, di mana hampir 100 persen kasus malaria telah dikonfirmasi bersih.[32] Pada tahun 1990, angka kejadian rata-rata malaria adalah 4,96 per 1.000 penduduk dan menurun menjadi 1,96 per 1.000 penduduk pada tahun 2010. Pemerintah menargetkan Indonesia bebas malaria pada tahun 2030, di mana eliminasi berarti mencapai kurang dari 1 kasus per 1.000 penduduk.[33]

Penyakit tidak menular

[sunting | sunting sumber]

Penyakit tidak menular diperkirakan menyumbang 73% dari seluruh kematian di Indonesia. Angka penderita diabetes meningkat dengan laju sekitar 6% per tahun.[34]

Penyakit Proporsi kematian
Penyakit kardiovaskular 35%
Penyakit menular serta kondisi maternal, perinatal, dan gizi 21%
Penyakit tidak menular lainnya 12%
Kanker 12%
Penyakit pernapasan kronis 6%
Diabetes 6%
Cedera 6%

Vaksinasi

[sunting | sunting sumber]

Meskipun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi terhadap 16 jenis penyakit, hanya lima vaksin yang bersifat wajib dan diberikan secara gratis bagi seluruh peserta jaminan kesehatan nasional (BPJS). Vaksinasi wajib tersebut meliputi: tuberkulosis (TB), hepatitis B, polio, DTP (difteri, tetanus, pertusis), dan campak.[35] Hampir 60% penduduk Indonesia merupakan peserta BPJS.[36]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 "Indonesia's Healthcare Industry: Growing Opportunities for Foreign Investors". ASEAN Business News (dalam bahasa Inggris). 2020-07-30. Diakses tanggal 2020-09-30.
  2. "Healthcare Resource Guide: Indonesia". 2016.export.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 8 August 2022. Diakses tanggal 2020-09-30.
  3. Susanto, Gabriel Abdi (31 December 2013). "Pertanyaan-pertanyaan Dasar Seputar JKN dan BPJS". liputan6.com. Diakses tanggal 18 January 2022.
  4. "Human Rights Measurement Initiative – The first global initiative to track the human rights performance of countries". humanrightsmeasurement.org. Diakses tanggal 2022-03-18.
  5. "Indonesia - HRMI Rights Tracker". rightstracker.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2023. Diakses tanggal 2022-03-18.
  6. "Indonesia - HRMI Rights Tracker". rightstracker.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2023. Diakses tanggal 2022-03-18.
  7. "Indonesia - HRMI Rights Tracker". rightstracker.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2023. Diakses tanggal 2022-03-18.
  8. "Indonesia - HRMI Rights Tracker". rightstracker.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 29 March 2023. Diakses tanggal 2022-03-18.
  9. "Bersama Selesaikan Masalah Kesehatan". Kemenkes RI. 25 Januari 2018. Diakses tanggal 2 April 2020.
  10. Hapsari, Dwi; Sari, Puti; Pradono, Julianty (2009). "Pengaruh Lingkungan Sehat, dan Perilaku Hidup Sehat terhadap Status Kesehatan" (PDF). Buletin Penelitian Kesehatan: 41–49.
  11. 1 2 "Angka Harapan Hidup (AHH) menurut Provinsi dan Jenis Kelamin, 2010-2018". BPS. Diakses tanggal 4 April 2020.
  12. "Life expectancy and Healthy life expectancy Data by country". Photius. Diakses tanggal 2 April 2020.
  13. BPS 2019, hlm. 81.
  14. 1 2 3 4 "East Asia/Southeast Asia: Indonesia - The World Factbook". CIA. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-10. Diakses tanggal 4 April 2020.
  15. Pemerintah Indonesia 2009, Pasal 1 angka 1.
  16. Pemerintah Indonesia 2007, Lampiran hlm. 47-48.
  17. Pemerintah Indonesia 2009, Pasal 3.
  18. "Indonesia Population (2020) - Worldometer". www.worldometers.info (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-30.
  19. "World Population Prospects - Population Division - United Nations". Diakses tanggal 2017-07-16.
  20. "Indonesia | Data". data.worldbank.org. Diakses tanggal 2020-09-30.
  21. "Indonesia Fertility Rate 1950-2020". www.macrotrends.net. Diakses tanggal 2020-09-30.
  22. "The State Of The World's Midwifery". United Nations Population Fund. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2019. Diakses tanggal 30 November 2019.
  23. Gokkon, Basten (29 January 2014). "Indonesia Still Haunted by High Number of Maternal and Post-Natal Deaths". Jakarta Globe. Diarsipkan dari asli tanggal 30 January 2014.
  24. 1 2 3 4 5 6 Indonesia country profile. Diarsipkan 26 February 2005 di Wayback Machine.. Library of Congress Federal Research Division (December 2004). This article incorporates text from this source, which is in the public domain.
  25. "IssueBriefs: Water, sanitation & hygiene" (PDF). UNICEF Indonesia. October 2012. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 January 2013. Diakses tanggal 4 February 2017.
  26. "The State of the World's Children 2019". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). 15 October 2019. Diakses tanggal 2020-09-30.
  27. "Poor diets damaging children's health worldwide, warns UNICEF". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-30.
  28. "Indonesia". Tobacco Atlas (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-09-30.
  29. Stoicescu, Claudia (5 February 2015). "Indonesia uses faulty stats on 'drug crisis' to justify death penalty". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-30.
  30. "The future of mental health care in Indonesia". Inside Indonesia (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2020-09-30.
  31. "Some Facts about Suicide in Indonesia". International Policy Digest (dalam bahasa American English). 2018-09-30. Diarsipkan dari asli tanggal 22 January 2021. Diakses tanggal 2020-09-30.
  32. Leksono, Ageng Wibowo (23 April 2011). "Malignant malaria still haunts Indonesia". Antara. Diakses tanggal 4 February 2017.
  33. "Govt to rid RI of malaria by 2030". The Jakarta Post. 26 April 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 27 April 2011.
  34. Britnell, Mark (2015). In Search of the Perfect Health System. London: Palgrave. hlm. 49. ISBN 978-1-137-49661-4.
  35. dafluff (2018-03-12). "Vaccination for Children in Indonesia: Things you need to know!". Expat Indo (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-09-30.
  36. "Q&A: BPJS Kesehatan, health for all Indonesians". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-09-30.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]