Kota Bekasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bekasi)
Kota Bekasi
Transkripsi bahasa daerah
 • Aksara Sundaᮘᮨᮊᮞᮤ
Dari kiri ke kanan: Stadion Patriot Bekasi, SPBU Jatimelati Pondok Melati, Kawasan Bekasi Barat, dan Stasiun Bekasi
Bendera Kota Bekasi
Julukan: 
Kota Industri
Motto: 
Kota Patriot[a]
Peta
Peta
Kota Bekasi di Jawa Barat
Kota Bekasi
Kota Bekasi
Peta
Kota Bekasi di Indonesia
Kota Bekasi
Kota Bekasi
Kota Bekasi (Indonesia)
Koordinat: 6°14′00″S 107°00′00″E / 6.2333°S 107°E / -6.2333; 107
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
Tanggal berdiri20 April 1982 (sebagai Kota Administratif Bekasi) [1]
Dasar hukumUU Nomor 9 Tahun 1996[1]
Hari jadi10 Maret 1997 (umur 27) (Tanggal resmi dari Pemkot Bekasi)
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
  • Kecamatan: 12
  • Kelurahan: 56
Pemerintahan
 • Wali KotaRaden Gani Muhamad (Pj.)
 • Wakil Wali KotaLowong
 • Sekretaris DaerahJunaedi
Luas
 • Total207,00 km2 (79,92 sq mi)
 • Luas daratan204,6 km2 (79,0 sq mi)
 • Luas perairan2,4 km2 (0,9 sq mi)
Peringkat21
Populasi
 (31 Desember 2023)
 • Total2.513.669
 • Peringkat3
 • Kepadatan12,000/km2 (31,000/sq mi)
Demografi
 • Agama
  • 88,73% Islam
  • 0,88% Buddha
  • 0,16% Hindu
  • 0,03% Lainnya[2]
 • BahasaIndonesia, Sunda, Betawi
 • IPMKenaikan 82,46 (2022)
sangat tinggi[3]
Zona waktuUTC+07:00 (WIB)
Kode BPS
3275
Kode area telepon021
Pelat kendaraanB xxxx K**
Kode Kemendagri32.75
Kode SNI 7657:2023BKS
DAURp 1.282.106.240.000 (2019)
Semboyan daerahMaju, sejahtera, ihsan
Situs webwww.bekasikota.go.id
  1. ^ Juga sebagai julukan daerah.


Kota Bekasi (aksara Sunda: ᮘᮨᮊᮞᮤ; Aksara Pegon: بکاسى) adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berbatasan langsung dengan DKI Jakarta dari arah barat. Pada akhir tahun 2023, jumlah penduduk kota Bekasi berjumlah 2.513.669 jiwa.[2][4]

Kota Bekasi merupakan bagian dari kawasan metropolitan Jakarta Raya[a] dan menjadi Kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia. Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.[5]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dahulu sebagai ibu kota Kerajaan Tarumanagara. Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa (Jakarta), Pasir Awi (Jonggol), Depok, Cibinong, Bogor, hingga ke wilayah Purwalingga.

Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai ibu kota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang. Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669–723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567–1579 M).

Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Di antaranya dengan ditemukannya 4 prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jaya Dewa) yang ditulis dalam 5 lembar lempeng tembaga.

Sejak abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, abad ke-8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

Peta pembagian Kawedanan di Bogor sebelum kemerdekaan, dimana sebagian Wilayah Bekasi (Selatan) masih menjadi bagian dari Bogor.

Sejarah Sebelum Tahun 1949[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari zaman ke zaman, sejak zaman Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan, dan zaman Republik Indonesia. Di zaman Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan masyarakatnya masih dikuasai oleh para tuan tanah keturunan Tionghoa.[butuh rujukan]

Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut mengubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran, dan Gun Matraman.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan, dan Kun menjadi Desa atau Kelurahan. Saat itu ibu kota Kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong (Kedung Gede).

Pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanaatamirharja. Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis menjadi Kewedanaan. Kewedanaan Bekasi masuk ke dalam wilayah Batavia en Omelanden. Sementara, batas Pondok Gede, Kali Bekasi, dan Serangbaroe ke Selatan yaitu wilayah Kranggan (Jatisampurna), Awirangan, Setu, hingga Tjibaroesa masuk negara Pasundan di bawah Kawedanan Jonggol, Kabupaten Bogor. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk wilayah negara Pasundan di bawah Kabupaten Karawang, sedangkan sebelah Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad van Nederlandsch Indie 1948 No.178 Negara Pasundan.[6]

Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi[sunting | sunting sumber]

Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di Alun-alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut:

"Rakyat Bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar Kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan, dan wilayah pelimpahan dari Kawedanan Jonggol (Bogor) yaitu: Kecamatan Cibarusah, Kecamatan Serang Baru, Desa Kranggan (Sekarang Kecamatan Jatisampurna), serta sebagian Kecamatan Setu. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto "SWATANTRA WIBAWA MUKTI".

Kewedanannya sendiri adalah:

  1. Kewedanan Bekasi
    • Kecamatan Bekasi terdiri atas 9 desa
    • Kecamatan Babelan terdiri atas 6 desa
    • Kecamatan Cilincing terdiri atas 3 desa
    • Kecamatan Pondok Gede terdiri atas 7 desa
  2. Kewedanan Tambun
    • Kecamatan Tambun terdiri atas 8 desa
    • Kecamatan Setu terdiri atas 9 desa
    • Kecamatan Cibitung terdiri atas 7 desa
  3. Kewedanan Cikarang
    • Kecamatan Cikarang terdiri atas 7 desa
    • Kecamatan Lemababang terdiri atas 8 desa
    • Kecamatan Cibarusa terdiri atas 11 desa
  4. Kewedanan Serengseng
    • Kecamatan Sukatani terdiri atas 9 desa
    • Kecamatan Pebayuran terdiri atas 6 desa
    • Kecamatan Cabangbungin terdiri atas 5 desa

Pada tahun 1960 Kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke Kota Bekasi (Jalan Ir H. Juanda, Kota Bekasi). Kemudian pada tahun 1982, saat bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jalan Ahmad Yani No.1, Kabupaten Bekasi. Hal ini dilakukan karena perkembangan Bekasi yang sangat pesat sehingga bahkan dibentuk Kota Administratif Bekasi.

Kota Administratif Bekasi sendiri dibentuk pada tahun 1981 dari Kecamatan Bekasi (16 kelurahan dan 8 desa) dan sebagian dari Kecamatan Tambun (2 kelurahan, serta sebagian dari 2 desa) dengan 4 kecamatan yang terbagi ke 18 kelurahan dan 8 desa melalui Peraturan Pemerintah (PP) nomor 48 tahun 1981.

Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan wali kota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono dari tahun 1982 hingga 1988. Tahun 1988 Wali kota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi dari tahun 1988 hingga 1991, kemudian diganti oleh Bapak Drs. H. Khailani AR dari tahun 1991 hingga 1997.

Pada perkembangannya, Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang makin tinggi. Dengan begitu status Kota Administratif Bekasi kembali ditingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang "Kota") melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996 yang menambahkan tiga kecamatan, yakni kecamatan Pondokgede, Jatiasih, dan Bantargebang.[1]

Selanjutnya dengan terjadinya reformasi, penambahan kecamatan dan kelurahan dilakukan melalui peraturan daerah. Yang pertama adalah Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor 03 Tahun 2000 terkait pembentukan Kecamatan Jatisampurna dari Pondokgede, yang dilanjutkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Bekasi Nomor 14 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Wilayah Administrasi Kecamatan Kota Bekasi[7] mengatur pembentukan dua kecamatan baru, yakni: Rawalumbu dari Bekasi Timur; dan Medan Satria dari Bekasi Barat. Dengan demikian, pembagian adminisitratif Kota Bekasi pada tahun 2000 adalah 10 Kecamatan, yang dibagi lagi menjadi 35 Kelurahan dan 17 Desa.

Perda Kota Bekasi Nomor 02 Tahun 2002[8] tentang Penetapan Kelurahan mengatur bahwa seluruh desa yang ada di Kota Bekasi berubah status menjadi kelurahan. Dengan demikian, pembagian adminisitratif Kota Bekasi pada tahun 2002 menjadi 10 Kecamatan dan 52 Kelurahan.

Kemudian pada tahun 2004, muncul lagi Perda Kota Bekasi Nomor 04 Tahun 2004[9] yang mengubah Perda Nomor 14 Tahun 2000. Perda ini membentuk 2 Kecamatan; Mustika Jaya dari Bantargebang; dan Pondok Melati dari Jatisampurna dan Pondokgede; serta menambah kelurahan baru. Hal ini menyebabkan pembagian adminisitratif Kota Bekasi menjadi seperti sekarang ini, dengan 12 Kecamatan dan 56 Kelurahan.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km², dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:

Utara Kabupaten Bekasi
Timur Kabupaten Bekasi
Selatan Kabupaten Bogor dan Kota Depok
Barat Provinsi DKI Jakarta

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kondisi topografi Kota Bekasi dengan kemiringan antara 0–2 % dan terletak pada ketinggian antara 11–81 m di atas permukaan air laut.

  1. Ketinggian ≥ 25 m: Kecamatan Medan Satria, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Timur, dan Kecamatan Pondok Gede.
  2. Ketinggian 25–100 m: Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Mustika Jaya, Kecamatan Pondok Melati, dan Kecamatan Jati Asih.

Wilayah dengan ketinggian dan kemiringan rendah yang menyebabkan daerah tersebut banyak genangan, terutama pada saat musim hujan yaitu: Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Rawalumbu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat, dan Kecamatan Pondok Melati.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Kondisi hidrologi Kota Bekasi dibedakan menjadi dua:

Air permukaan, mencakup kondisi air hujan yang mengalir ke sungai-sungai[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kota Bekasi dialiri 3 sungai utama yaitu Sungai Cakung, Kali Bekasi, dan Kali Sunter, beserta anak-anak sungainya. Kali Bekasi berhulu di pertemuan dua sungai yaitu Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi yang berasal dari gunung pada ketinggian kurang lebih 1.500 meter dari permukaan air.

Air permukaan yang terdapat di wilayah Kota Bekasi meliputi Kali Bekasi dan beberapa sungai atau kali kecil, serta Saluran Irigasi Tarum Barat yang selain digunakan untuk mengairi sawah juga merupakan sumber air baku bagi kebutuhan air minum wilayah Bekasi (Kota dan Kabupaten) dan wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kondisi air permukaan Kali Bekasi saat ini tercemar oleh limbah industri yang terdapat di bagian selatan wilayah Kota Bekasi (industri di wilayah Kabupaten Bogor).[butuh rujukan]

Air Tanah[sunting | sunting sumber]

Kondisi air tanah di wilayah Kota Bekasi sebagian cukup potensial untuk digunakan sebagai sumber air bersih terutama di wilayah selatan Kota Bekasi, tetapi untuk daerah yang berada di sekitar TPA Bantar Gebang kondisi air tanahnya kemungkinan besar sudah tercemar.[butuh rujukan]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kota Bekasi secara umum tergolong pada iklim muson tropis (Am) dengan tingkat kelembapan yang tinggi yakni sebesar ±78%. Kondisi lingkungan sehari-hari sangat panas. Hal ini terlebih dipengaruhi oleh tata guna lahan yang meningkat terutama industri atau perdagangan dan permukiman. Suhu udara harian diperkirakan berkisar antara 24 °C–33 °C. Oleh karena wilayahnya yang beriklim muson tropis, Kota Bekasi mengalami dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau.

Musim kemarau di Kota Bekasi dipengaruhi oleh angin muson timur–tenggara yang bersifat kering berembus sejak awal bulan Mei hingga bulan September dengan bulan terkering yaitu bulan Agustus. Sementara itu, musim penghujan di kota Bekasi dipengaruhi oleh angin muson barat daya–barat laut yang bersifat basah & lembap dan biasanya bertiup pada bulan November hingga bulan Maret dengan puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari yang curah hujan bulanannya lebih dari 300 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Kota Bekasi berada pada angka 1.600–2.000 milimeter per tahunnya dengan jumlah hari hujan ≥130 hari hujan.


Data iklim Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.4
(86.7)
30.2
(86.4)
31.9
(89.4)
32.7
(90.9)
33
(91)
32.4
(90.3)
32.8
(91)
33.5
(92.3)
34.9
(94.8)
35
(95)
33.4
(92.1)
31.9
(89.4)
32.67
(90.78)
Rata-rata harian °C (°F) 27
(81)
27.2
(81)
27.9
(82.2)
28.4
(83.1)
28
(82)
27.6
(81.7)
27.2
(81)
27.5
(81.5)
28
(82)
29.4
(84.9)
28.3
(82.9)
27.9
(82.2)
27.87
(82.13)
Rata-rata terendah °C (°F) 23.6
(74.5)
23.7
(74.7)
23.8
(74.8)
24
(75)
24
(75)
23.1
(73.6)
22.7
(72.9)
22.8
(73)
23.1
(73.6)
23.8
(74.8)
24
(75)
23.9
(75)
23.54
(74.33)
Presipitasi mm (inci) 328
(12.91)
345
(13.58)
213
(8.39)
185
(7.28)
118
(4.65)
77
(3.03)
57
(2.24)
37
(1.46)
56
(2.2)
119
(4.69)
192
(7.56)
209
(8.23)
1.936
(76,22)
Rata-rata hari hujan 21 22 19 16 10 6 4 2 4 11 17 18 150
% kelembapan 84 83 82 81 80 78 76 73 74 75 77 80 78.6
Rata-rata sinar matahari bulanan 141 162 201 244 258 250 285 299 264 256 208 182 2.750
Sumber #1: BMKG[10]
Sumber #2: Climate-Data.org[11][12] & Weatherbase[13]

Permukiman[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kota Bekasi saat ini lebih dari 2,4 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Kecamatan Jatisampurna, Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Rawa Lumbu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat, Kecamatan Medan Satria, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Mustika Jaya, dan Kecamatan Pondok Melati.

Dari total luas wilayahnya, lebih dari 50% sudah menjadi kawasan efektif perkotaan dengan 90% kawasan perumahan, 4% kawasan industri, 3% kawasan perdagangan, dan sisanya untuk bangunan lainnya.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Wali kota[sunting | sunting sumber]

No. Potret Wali Kota Administratif
(lahir–wafat)
Mulai menjabat Akhir menjabat Masa Jabatan Partai Prd. Wakil Wali Kota Ket.
1 H.
Soedjono
1982 1988 Non Partisan 1
2 Drs.
Andi Sukardi
1988 1991 Non Partisan 2
3 Drs. H.
Khailani AR
1991 1997 Non Partisan 3
No. Potret Wali Kota
(lahir–wafat)
Mulai menjabat Akhir menjabat Masa Jabatan Partai Prd. Wakil Wali Kota Ket.
Drs. H.
Khailani AR
10 Maret 1997 23 Februari 1998 350 hari Non Partisan
1 Nonon Sontanie
(1943–2006)
23 Februari 1998 10 Maret 2003 5 tahun, 15 hari Non Partisan 4
2 Akhmad Zurfaih
(1952–2011)
10 Maret 2003 10 Maret 2008 5 tahun, 0 hari Partai Golongan Karya 5 Mochtar Mohamad
3 Mochtar Mohamad
(l. 1964)
10 Maret 2008 3 Mei 2012 4 tahun, 54 hari PDIP 6 Rahmat Effendi [Ket. 1]
Rahmat Effendi
(l. 1964)
3 Mei 2012 10 Maret 2013 311 hari Golkar [Ket. 2]
4 10 Maret 2013 10 Maret 2018 5 tahun, 0 hari 7 Ahmad Syaikhu
Ruddy Gandakusumah 13 Maret 2018 31 Agustus 2018 171 hari Non Partisan
Toto Muhamad Toha 31 Agustus 2018 20 September 2018 20 hari Non Partisan
(4) Rahmat Effendi
(l. 1964)
20 September 2018 7 Januari 2022 3 tahun, 109 hari Golkar 8 Tri Adhianto Tjahyono [Ket. 3]
Tri Adhianto Tjahyono
(l. 1970)
7 Januari 2022 21 Agustus 2023 1 tahun, 226 hari PDIP [Ket. 4]
5 21 Agustus 2023 20 September 2023 30 hari
Raden Gani Muhamad 20 September 2023 Sekarang 276 hari Non Partisan
  Independen
  Partai Golongan Karya
  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan


Catatan
  1. ^ Diberhentikan atas dugaan kasus korupsi[14]
  2. ^ Pelaksana tugas
  3. ^ Diberhentikan atas dugaan kasus korupsi[15]
  4. ^ Pelaksana tugas

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Bekasi dalam empat periode terakhir.[16][17][18]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2004-2009 2009-2014 2014-2019 2019-2024
PKB 0 Kenaikan 1 Steady 1 Steady 1
Gerindra (baru) 3 Kenaikan 6 Steady 6
PDI-P 6 Kenaikan 8 Kenaikan 12 Steady 12
Golkar 9 Penurunan 6 Kenaikan 8 Steady 8
PKS 11 Penurunan 10 Penurunan 7 Kenaikan 12
PPP 4 Penurunan 2 Kenaikan 4 Penurunan 2
PAN 6 Penurunan 3 Kenaikan 4 Kenaikan 5
Hanura (baru) 1 Kenaikan 4 Penurunan 0
Demokrat (baru) 7 Kenaikan 14 Penurunan 4 Steady 4
PBB 1 Steady 1 Penurunan 0 Steady 0
PDS (baru) 1 Steady 1
Jumlah Anggota 45 Kenaikan 50 Steady 50 Steady 50
Jumlah Partai 8 Kenaikan 11 Penurunan 9 Penurunan 8


Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki 12 kecamatan dan 56 kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 2.409.083 jiwa dengan luas wilayah 206,61 km² dan sebaran penduduk 4.035 jiwa/km².[19][20]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Bekasi, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
32.75.07 Bantar Gebang 4
32.75.02 Bekasi Barat 5
32.75.04 Bekasi Selatan 5
32.75.01 Bekasi Timur 4
32.75.03 Bekasi Utara 6
32.75.09 Jatiasih 6
32.75.10 Jatisampurna 5
32.75.06 Medan Satria 4
32.75.11 Mustika Jaya 4
32.75.08 Pondok Gede 5
32.75.12 Pondok Melati 4
32.75.05 Rawalumbu 4
TOTAL 56


Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan sensus tahun 2010, Kecamatan Bekasi Utara merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan tertinggi di Kota Bekasi, yakni sebesar 12.237 jiwa/km² dan Kecamatan Bantar Gebang dengan kepadatan 4.310 jiwa/km² menjadi yang terendah.[21]

Sementara pencari kerja di kota ini didominasi oleh tamatan SMA atau sederajat, yakni sekitar 65,6% dari total pencari kerja terdaftar. Sebagai kawasan hunian masyarakat urban, Bekasi banyak membangun kota-kota mandiri, di antaranya Kota Harapan Indah, Kemang Pratama, dan Galaxy City.

Selain itu pengembang Summarecon Agung juga sedang membangun kota mandiri Summarecon Bekasi seluas 240 ha di Kecamatan Bekasi Utara. Seiring dengan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah ke atas, Bekasi juga gencar melakukan pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan mewah.

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kota Bekasi termasuk kota yang beragam suku bangsa. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2000, sebagian besar penduduk Kota Bekasi adalah orang Jawa, Betawi, dan suku aslinya Sunda. Jumlah yang signifikan juga berasal dari suku Batak dan Minangkabau. Suku Jawa menempati urutan pertama sebagai suku terbanyak di kota ini. Keberagaman suku bangsa di Kota Bekasi memengaruhi perbedaan budaya dan adat istiadat masyarakat Kota Bekasi. Berikut adalah besaran penduduk Kota Bekasi berdasarkan suku bangsa pada Sensus Penduduk tahun 2000;[22] Penduduk Kota Bekasi merupakan gambaran dari keragaman suku bangsa yang khas bagi Indonesia. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000, komposisi suku bangsa di Kota Bekasi menunjukkan variasi yang signifikan.

No Suku Jumlah 2000 %
1 Jawa 523.740 31,60%
2 Betawi 473.309 28,56%
3 Sunda 337.016 20,34%
4 Batak 78.149 4,71%
5 Minangkabau 50.779 3,06%
6 Tionghoa 13.476 0,81%
7 Cirebon 4.622 0,28%
8 Suku lainnya 176.421 10,64%
Kota Bekasi 1.657.512 100%

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Tahun Jumlah penduduk
2006 1.773.470
2010 2.336.489
2020 3.431.480
Sejarah Kependudukan Kota Bekasi

Ekonomi Bekasi ditunjang oleh kegiatan perdagangan, perhotelan, dan restoran. Pada awalnya pusat pertokoan di Bekasi hanya berkembang di sepanjang Jalan Ir H. Juanda yang membujur sepanjang 3 km dari alun-alun kota hingga Terminal Bekasi. Di jalan ini terdapat berbagai pusat pertokoan yang dibangun sejak tahun 1978.

Selanjutnya sejak tahun 1993, kawasan sepanjang Jalan Ahmad Yani berkembang menjadi kawasan perdagangan seiring dengan munculnya beberapa mall serta sentra niaga. Pertumbuhan kawasan perdagangan terus berkembang hingga Jalan K.H. Noer Ali, Kranji, dan Kota Harapan Indah.

Pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang tinggi membuat Kota Bekasi kini memiliki banyak pusat perbelanjaan modern meliputi Grand Mall Bekasi, Grand Galaxy Park, Summarecon Mal Bekasi, Grand Metropolitan Mall

Selain itu keberadaan kawasan industri di kota ini, juga menjadi mesin pertumbuhan ekonominya, dengan menempatkan industri pengolahan sebagai yang utama. Lokasi industri di Kota Bekasi terdapat di kawasan Rawa Lumbu dan Medan Satria.

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang dapat menggambarkan kinerja perekonomian di suatu wilayah. Kecuali pada tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi selalu di atas Jawa Barat dan Indonesia. Pada tahun 2004 ekonomi Kota Bekasi tumbuh 5,38% dan pertumbuhan ini lebih tinggi dari Jawa Barat (4,77%) tetapi di bawah LPE Indonesia yang mencapai 5,50%.

Pada tahun 2005 dengan 5,65%, LPE Kota Bekasi sedikit lebih tinggi dari Jawa Barat dan Indonesia dengan 5,62% dan 5,55%. Demikian pula pada tahun 2006, LPE Kota Bekasi yang mencapai 6,07% masih lebih baik dibandingkan Jawa Barat dan Indonesia yang hanya mencapai 6,01% dan 5,48%.[23]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki sekitar 3.110 sekolah, 62.852 siswa dan 2.260 guru.

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)[sunting | sunting sumber]

  • Puskesmas Aren Jaya
  • Puskesmas Bantar Gebang
  • Puskesmas Bintara
  • Puskesmas Bojong Rawalumbu
  • Puskesmas Jakamulya
  • Puskesmas Jati Asih
  • Puskesmas Jati Bening
  • Puskesmas Jati Luhur
  • Puskesmas Jati Makmur
  • Puskesmas Jati Rahayu
  • Puskesmas Jati Sampurna
  • Puskesmas Jati Warna
  • Puskesmas Kaliabang Tengah
  • Puskesmas Karang Kitri
  • Puskesmas Kota Baru
  • Puskesmas Margajaya
  • Puskesmas Margamulya
  • Puskesmas Mustika Jaya
  • Puskesmas Pejuang
  • Puskesmas Pekayon Jaya
  • Puskesmas Pengasinan
  • Puskesmas Perumnas II
  • Puskesmas Pondok Gede
  • Puskesmas Rawa Tembaga
  • Puskesmas Seroja

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki 1 stasiun utama, 3 stasiun KRL Commuter Line, dan empat stasiun LRT Jabodebek. Stasiun Bekasi adalah stasiun kereta api utama di Kota Bekasi dan sekitarnya terutama bagi layanan kereta api antarkota dan KRL Commuter Line. Stasiun kereta api lainnya di kota tersebut, diantaranya stasiun Kranji dan Bekasi Timur yang melayani KRL Commuter Line Cikarang, sedangkan stasiun angkutan massal yang melayani layanan lintas rel terpadu Lin Bekasi adalah stasiun Jati Bening Baru, Cikunir 1 dan 2, serta Bekasi Barat yang terletak di Jalan Jenderal A. Yani di Kecamatan Bekasi Selatan.

Ruas jalan tol[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki akses jalan tol menuju ke pusat kota meliputi:

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Untuk melayani warga Bekasi, tersedia bus antarkota dan dalam kota yang mengangkut penumpang ke berbagai jurusan. KRL Commuter Line jurusan Bekasi-Jakarta Kota mengangkut warga Bekasi yang bekerja di Jakarta.

Di Kota Bekasi banyak digunakan angkutan kota berupa minibus, berpenumpang maksimal 12 orang, yang biasa disebut KOASI (Koperasi Angkutan Bekasi). KOASI melayani dari Terminal Bekasi menuju berbagai perumahan di wilayah Kota Bekasi.

Sedangkan becak masih digunakan sebagai sarana angkutan dalam perumahan. Peningkatan jumlah ojek terjadi secara signifikan seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Ojek digunakan untuk transportasi jarak dekat (2 – 5 km) dan juga di dalam perumahan.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ atau diakronimkan menjadi Jabodetabekpunjur,

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Pembentukan Daerah-Daerah Otonom di Indonesia s/d Tahun 2014" (PDF). www.otda.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 12 Juli 2019. Diakses tanggal 14 Februari 2022. 
  2. ^ a b "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2023" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 13 Maret 2024. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diakses tanggal 19 Oktober 2023. 
  4. ^ "Kota Bekasi Dalam Angka 2020". Badan Pusat Statistik Kota Bekasi. 09 Februari 2022. Diakses tanggal 2021-02-05. 
  5. ^ McGee, T.G. (1996). The mega-urban regions of Southeast Asia. UBC Press. ISBN 0-7748-0548-X. 
  6. ^ mediaindonesia.com. "DPR dan Kemendagri Didesak Realisasikan Kabupaten Bogor Timur". mediaindonesia.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-29. Diakses tanggal 2022-07-27. 
  7. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-22. Diakses tanggal 2023-04-22. 
  8. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-26. Diakses tanggal 2023-04-22. 
  9. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-26. Diakses tanggal 2023-04-22. 
  10. ^ "Buku Prakiraan Musim Hujan 2023-2024 – Rerata Curah Hujan Kota Bekasi Zona Musim 183, 205, dan 207 periode 1991-2020" (PDF). BMKG. hlm. 132. Diakses tanggal 14 September 2023. 
  11. ^ "Bekasi, Jawa Barat, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  12. ^ "Bekasi Timur, Jawa Barat, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  13. ^ "Bekasi, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  14. ^ "Kronologi Penangkapan Wali Kota Bekasi Mochtar Muhammad di Bali". detikcom. 21 Maret 2012. Diakses tanggal 21 Maret 2012. 
  15. ^ Aji, M Rosseno (5 Januari 2022). "Breaking News: OTT KPK, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi Ditangkap". Tempo.co. Diakses tanggal 6 Januari 2022. [pranala nonaktif permanen]
  16. ^ "Kota Bekasi Dalam Angka Tahun 2010". Badan Pusat Statistik Kota Bekasi. 03-12-2010. Diakses tanggal 23-02-2023. 
  17. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bekasi 2014-2019
  18. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bekasi 2019-2024
  19. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  20. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  21. ^ poskota.co.id Bekasi Utara Terpadat Penduduknya di Kota Bekasi Diarsipkan 2021-10-23 di Wayback Machine.
  22. ^ "Karakteristik Penduduk Jawa Barat Hasil Sensus Penduduk 2000" (pdf). www.jabar.bps.go.id. 1 November 2001. hlm. 72. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-01-19. Diakses tanggal 10 Mei 2022. 
  23. ^ "Pertumbuhan Eknomi Kota Bekasi 2004-2006 di situs Sistem Investasi Daerah Kota Bekasi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-10-22. Diakses tanggal 2013-10-14. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]