Kota Bekasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bekasi)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kota Bekasi
Jawa 1rightarrow blue.svg Jawa Barat
dari kiri ke kanan: Lalu lintas Jl. Ahmad Yani, Jembatan Jl. Cut Meutia, Kota Harapan Indah, Mall Metropolitan
dari kiri ke kanan: Lalu lintas Jl. Ahmad Yani, Jembatan Jl. Cut Meutia, Kota Harapan Indah, Mall Metropolitan
Lambang resmi Kota Bekasi
Lambang
Motto: 
Bekasi Maju, Sejahtera dan Ihsan
Map of West Java highlighting Bekasi City.svg
Kota Bekasi berlokasi di Indonesia
Kota Bekasi
Kota Bekasi
Koordinat: 6°14′0″S 106°0′0″E / 6.23333°S 106.00000°E / -6.23333; 106.00000
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
Tanggal peresmian10 Maret 1997; 23 tahun lalu (1997-03-10)
Pemerintahan
 • Wali KotaRahmat Effendi
 • Wakil Wali KotaTri Adhianto
Luas
 • Total210,49 km2 (81,27 sq mi)
 • Darat204,6 km2 (79,0 sq mi)
 • Air3,8 km2 (1,5 sq mi)
Peringkat luas wilayah31
Populasi
 (2020)[1]
 • Total3.431.480 jiwa
 • Peringkat6
 • Peringkat10
Demografi
 • Suku bangsaSunda, Jawa, Betawi, Batak, Minangkabau, Tionghoa, dll
 • AgamaIslam 87,71%
Kristen 10,97%
- Protestan 8,03%
- Katolik 2,94%
Buddha 0,92%
Hindu 0,33%
Lainnya 0,07%[2]
 • BahasaIndonesia, Betawi, Jawa, Sunda
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode area021
Plat kendaraanB
Kode Kemendagri32.75 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan12
Jumlah kelurahan56
Situs webwww.bekasikota.go.id

Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat. Nama Bekasi berasal dari kata bagasasi yang artinya sama dengan candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini.

Kota ini merupakan bagian dari Metropolitan Jabodetabek dan menjadi kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.[3]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km², dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:

Utara Kabupaten Bekasi
Timur Kabupaten Bekasi
Selatan Kabupaten Bogor dan Kota Depok
Barat Provinsi DKI Jakarta

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kondisi Topografi Kota Bekasi dengan kemiringan antara 0 - 2 % dan terletak pada ketinggian antara 11 – 81 m diatas permukaan air laut.

Ketinggian ≥ 25 m: Kecamatan Medan Satria, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Timur dan Kecamatan Pondok Gede.

Ketinggian 25 – 100 m: Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Pondok Melati, dan Kecamatan Jati Asih.

Wilayah dengan ketinggian dan kemiringan rendah yang menyebabkan daerah tersebut banyak genangan, terutama pada saat musim hujan yaitu: Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Rawalumbu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat, dan Kecamatan Pondok Melati.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Kondisi hidrologi Kota Bekasi dibedakan menjadi dua:

1. Air permukaan, mencakup kondisi air hujan yang mengalir ke sungai-sungai.

Wilayah Kota Bekasi dialiri 3 sungai utama yaitu Sungai Cakung, Sungai Bekasi dan Sungai Sunter, beserta anak-anak sungainya. Sungai Bekasi mempunyai hulu di Sungai Cikeas yang berasal dari gunung pada ketinggian kurang lebih 1.500 meter dari permukaan air.

Air permukaan yang terdapat di wilayah Kota Bekasi meliputi sungai atau kali Bekasi dan beberapa sungai atau kali kecil serta saluran irigasi Tarum Barat yang selain digunakan untuk mengairi sawah juga merupakan sumber air baku bagi kebutuhan air minum wilayah Bekasi (Kota dan Kabupaten) dan wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kondisi air permukaan kali Bekasi saat ini tercemar oleh limbah industri yang terdapat di bagian selatan wilayah Kota Bekasi (industri di wilayah Kabupaten Bogor).

2. Air Tanah

Kondisi air tanah di wilayah Kota Bekasi sebagian cukup potensial untuk digunakan sebagai sumber air bersih terutama di wilayah selatan Kota Bekasi, tetapi untuk daerah yang berada di sekitar TPA Bantar Gebang kondisi air tanahnya kemungkinan besar sudah tercemar.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kota Bekasi secara umum tergolong pada iklim muson tropis (Am) dengan tingkat kelembaban yang tinggi yakni sebesar ±78%. Kondisi lingkungan sehari-hari sangat panas. Hal ini terlebih dipengaruhi oleh tata guna lahan yang meningkat terutama industri atau perdagangan dan permukiman. Suhu udara harian diperkirakan berkisar antara 24 °C–33 °C. Oleh karena wilayahnya yang beriklim muson tropis, Kota Bekasi mengalami dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim kemarau di Kota Bekasi dipengaruhi oleh angin muson timur–tenggara yang bersifat kering berhembus sejak awal bulan Mei hingga bulan September dengan bulan terkering yaitu bulan Agustus. Sementara itu, musim penghujan di kota Bekasi dipengaruhi oleh angin muson barat daya–barat laut yang bersifat basah & lembab dan biasanya bertiup pada bulan November hingga bulan Maret dengan puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari yang curah hujan bulanannya lebih dari 300 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Kota Bekasi berada pada angka 1600–2000 milimeter per tahunnya dengan jumlah hari hujan ≥130 hari hujan.

Data iklim Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.4
(86.7)
30.2
(86.4)
31.9
(89.4)
32.7
(90.9)
33
(91)
32.4
(90.3)
32.8
(91)
33.5
(92.3)
34.9
(94.8)
35
(95)
33.4
(92.1)
31.9
(89.4)
32.67
(90.78)
Rata-rata harian °C (°F) 27
(81)
27.2
(81)
27.9
(82.2)
28.4
(83.1)
28
(82)
27.6
(81.7)
27.2
(81)
27.5
(81.5)
28
(82)
29.4
(84.9)
28.3
(82.9)
27.9
(82.2)
27.87
(82.13)
Rata-rata terendah °C (°F) 23.6
(74.5)
23.7
(74.7)
23.8
(74.8)
24
(75)
24
(75)
23.1
(73.6)
22.7
(72.9)
22.8
(73)
23.1
(73.6)
23.8
(74.8)
24
(75)
23.9
(75)
23.54
(74.33)
Presipitasi mm (inci) 351
(13.82)
275
(10.83)
228
(8.98)
159
(6.26)
131
(5.16)
85
(3.35)
63
(2.48)
42
(1.65)
67
(2.64)
120
(4.72)
156
(6.14)
223
(8.78)
1.900
(74,81)
Rata-rata hari hujan 23 20 18 15 12 9 6 5 7 11 14 17 157
% kelembapan 84 83 82 81 80 78 76 73 74 75 77 80 78.6
Rata-rata sinar matahari bulanan 141 162 201 244 258 250 285 299 264 256 208 182 2.750
Sumber #1: Climate-Data.org[4][5]
Sumber #2: Weatherbase[6]

Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk Kota Bekasi saat ini lebih dari 2,2 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Kecamatan Jatisampurna, Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Rawa Lumbu, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat, Kecamatan Medan Satria, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Mustika Jaya, dan Kecamatan Pondok Melati.

Dari total luas wilayahnya, lebih dari 50% sudah menjadi kawasan efektif perkotaan dengan 90% kawasan perumahan, 4% kawasan industri, 3% kawasan perdagangan, dan sisanya untuk bangunan lainnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanagara. Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu.

Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang. Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M).

Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya 4 prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jaya Dewa) yang ditulis dalam 5 lembar lempeng tembaga.

Sejak abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, abad ke-8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke-14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

Sejarah Sebelum Tahun 1949[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari zaman ke zaman, sejak zaman Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan dan zaman Republik Indonesia.

Di zaman Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan masyarakatnya masih dikuasai oleh para tuan tanah keturunan Tionghoa.

Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut mengubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi Desa atau Kelurahan. Saat itu Ibukota Kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong (Kedung Gede).

Pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanaatamirharja. Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis menjadi Kewedanaan.

Kewedanaan Bekasi masuk ke dalam wilayah Batavia en Omelanden. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk wilayah negara Pasundan dibawah Kabupaten Karawang, sedangkan sebelah Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad van Nederlandsch Indie 1948 No.178 Negara Pasundan.

Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi[sunting | sunting sumber]

Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di Alun-Alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut:

"Rakyat bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar Kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Rakyat Bekasi tetap berdiri dibelakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto "SWATANTRA WIBAWA MUKTI".

Pada tahun 1960 Kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke Kota Bekasi (Jl. Ir H. Juanda, Kota Bekasi). Kemudian pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. Ahmad Yani No.1, Kabupaten Bekasi.

Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Barat dan Kecamatan Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa.

Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono (1982-1988). Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991 (1988-1991, kemudian diganti oleh Bapak Drs. H. Khailani AR hingga tahun (1991-1997)

Pada Perkembangannya Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah. Sehingga status Kota Administratif, Bekasi pun kembali di tingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang "Kota") melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1996.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Walikota[sunting | sunting sumber]

No. Wali Kota Administratif Awal Jabatan Akhir Jabatan Prd. Wakil Wali Kota Ket.
1
H.
Soedjono
1982
1988
1
2
Drs.
Andi Sukardi
1988
1991
2
3
Drs. H.
Khailani AR
1991
1997
3
No. Wali Kota Awal Jabatan Akhir Jabatan Prd. Wakil Wali Kota Ket.
Drs. H.
Khailani AR
10 Maret 1997
23 Februari 1998
1
Nonon Sontani
23 Februari 1998
10 Maret 2003
4
2
Akhmad Zurfaih
10 Maret 2003
10 Maret 2008
5
Mochtar Mohamad
3
Walikota Bekasi Moechtar Muhammad.jpg Mochtar Mohamad
10 Maret 2008
3 Mei 2012
6
Rahmat Effendi
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.jpg Rahmat Effendi
3 Mei 2012
10 Maret 2013
4
10 Maret 2013
10 Maret 2018
7
Ahmad Syaikhu
Ruddy Gandakusumah
13 Maret 2018
31 Agustus 2018
Toto Mohamad Toha
31 Agustus 2018
20 September 2018
(4)
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.jpg Rahmat Effendi
20 September 2018
Petahana
8
Tri Adhianto Tjahyono

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Bekasi dalam tiga periode terakhir.[7][8][9]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2009-2014 2014-2019 2019-2024
Logo PKB.svg PKB 1 Steady 1 Steady 1
Logo Gerindra.svg Gerindra 3 6 Steady 6
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 8 12 Steady 12
GolkarLogo.png Golkar 6 8 Steady 8
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 10 7 12
Logo PPP.svg PPP 2 4 2
Logo PAN.svg PAN 3 4 5
Logo Hanura.svg Hanura 1 4 0
Logo of the Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 14 4 Steady 4
Bulan Bintang.jpg PBB 1 0 0
Logo Partai Damai Sejahtera.svg PDS 1
Jumlah Anggota 50 Steady 50 Steady 50
Jumlah Partai 11 9 8

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki 12 kecamatan dan 56 kelurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 2.409.083 jiwa dengan luas wilayah 206,61 km² dan sebaran penduduk 4.035 jiwa/km².[10][11]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Bekasi, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Daftar
Kelurahan
32.75.07 Bantar Gebang 4
32.75.02 Bekasi Barat 5
32.75.04 Bekasi Selatan 5
32.75.01 Bekasi Timur 4
32.75.03 Bekasi Utara 6
32.75.09 Jatiasih 6
32.75.10 Jatisampurna 5
32.75.06 Medan Satria 4
32.75.11 Mustika Jaya 4
32.75.08 Pondok Gede 5
32.75.12 Pondok Melati 4
32.75.05 Rawalumbu 4
TOTAL 56


Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan sensus tahun 2010, Kecamatan Bekasi Utara merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan tertinggi di Kota Bekasi, yakni sebesar 12.237 jiwa/km² dan Kecamatan Bantar Gebang dengan kepadatan 4.310 jiwa/km² menjadi yang terendah.[12]

Sementara pencari kerja di kota ini didominasi oleh tamatan SMA atau sederajat, yakni sekitar 65,6% dari total pencari kerja terdaftar. Sebagai kawasan hunian masyarakat urban, Bekasi banyak membangun kota-kota mandiri, diantaranya Kota Harapan Indah, Kemang Pratama, dan Galaxy City.

Selain itu pengembang Summarecon Agung juga sedang membangun kota mandiri Summarecon Bekasi seluas 240 ha di Kecamatan Bekasi Utara. Seiring dengan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah keatas, Bekasi juga gencar melakukan pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan mewah.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Tahun Jumlah penduduk
2006 1.773.470
2010 2.336.489
2020 3.431.480
Sejarah Kependudukan Kota Bekasi

Ekonomi Bekasi ditunjang oleh kegiatan perdagangan, perhotelan, dan restoran. Pada awalnya pusat pertokoan di Bekasi hanya berkembang di sepanjang Jl. Ir H. Juanda yang membujur sepanjang 3 km dari alun-alun kota hingga Terminal Bekasi. Di jalan ini terdapat berbagai pusat pertokoan yang dibangun sejak tahun 1978.

Selanjutnya sejak tahun 1993, kawasan sepanjang Jl. Ahmad Yani berkembang menjadi kawasan perdagangan seiring dengan munculnya beberapa mall serta sentra niaga. Pertumbuhan kawasan perdagangan terus berkembang hingga Jl. K.H. Noer Ali, Kranji, dan Kota Harapan Indah.

Selain itu keberadaan kawasan industri di kota ini, juga menjadi mesin pertumbuhan ekonominya, dengan menempatkan industri pengolahan sebagai yang utama. Lokasi industri di Kota Bekasi terdapat di kawasan Rawa Lumbu dan Medan Satria.

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang dapat menggambarkan kinerja perekonomian di suatu wilayah. Kecuali pada tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi selalu di atas Jawa Barat dan Indonesia. Pada tahun 2004 ekonomi Kota Bekasi tumbuh 5,38% dan pertumbuhan ini lebih tinggi dari Jawa Barat (4,77%) tetapi di bawah LPE Indonesia yang mencapai 5,50%.

Pada tahun 2005 dengan 5,65%, LPE Kota Bekasi sedikit lebih tinggi dari Jawa Barat dan Indonesia dengan 5,62% dan 5,55%. Demikian pula pada tahun 2006, LPE Kota Bekasi yang mencapai 6,07% masih lebih baik dibandingkan Jawa Barat dan Indonesia yang hanya mencapai 6,01% dan 5,48%.[13]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

  • Curug Parigi
  • Grand Wisata Bekasi
  • Columbus Waterpark
  • Snow World International
  • Galaxy Tirtamas Club
  • Gedung Juang 45
  • Danau Cibeureum
  • Danau Marakash
  • Danau Duta Harapan
  • Hok Lay Kiong Temple
  • Venetian Water Carnaval
  • Situ Gede Bekasi
  • Taman Kota Bekasi
  • Kolam Renang Taman Harapan Baru
  • Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi
  • Taman Rusa Kemang Pratama
  • Vihara Dharma Jaya
  • Rainbow Garden
  • Transera Waterpark
  • Sirkus Waterplay
  • Fun Park Waterboom
  • Hutan Kota Patriot Bina Bangsa
  • Rumah Pohon Jati Asih
  • Islamic Center Bekasi
  • Piramida Terbalik Summarecon Bekasi
  • Grand Galaxy Park
  • Lagoon Avenue Bekasi

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki sekitar 3.110 sekolah, 62.852 siswa dan 2.260 guru.

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Rumah Sakit[sunting | sunting sumber]

  • RSUD Kota Bekasi
  • RSUD Kota Bekasi II
  • RSUD Pondok Gede
  • RSUD dr. Chasbullah Abdulmajid
  • RSU Juwita
  • RSU Multazam Medika
  • RS Jatisampurna
  • RS Hermina Bekasi
  • RS Hermina Galaxy
  • RS Mitra Keluarga Bekasi Barat
  • RS Mitra Keluarga Bekasi Timur
  • RS Permata Bekasi
  • RS Mekar Sari
  • RS Rawa Lumbu
  • RS Graha Juanda
  • RS Citra Harapan
  • RS Bella Bekasi
  • RS Budi Lestari
  • RS Anna Medika Bekasi
  • RS Bhakti Kartini
  • RS Kartika Husada
  • RS Primaya Bekasi
  • RS Permata Cibubur
  • RS Ananda
  • RS St. Elisabeth
  • RS Siloam Sentosa
  • RS Siloam Sepanjang Jaya
  • RS Bani Saleh Bekasi
  • RS Seto Hasbadi
  • RS Satria Medika
  • RS Cikunir
  • RS Karya Medika
  • RS Awal Bros Bekasi
  • RS Taman Harapan Baru
  • RS Mustika Medika
  • RS Pinna Tambun Bekasi
  • RS Tiara Bekasi
  • RS Helsa Jatirahayu
  • RS Zainuttaqwa
  • RSIA Sayang Bunda
  • RSIA THB
  • RSIA Karunia Kasih
  • RSIA Selasih Medika
  • RSIA Rinova Intan

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)[sunting | sunting sumber]

  • Puskesmas Bantar Gebang
  • Puskesmas Bintara
  • Puskesmas Bojong Rawalumbu
  • Puskesmas Jakamulya
  • Puskesmas Jati Asih
  • Puskesmas Jati Bening
  • Puskesmas Jati Luhur
  • Puskesmas Jati Makmur
  • Puskesmas Jati Rahayu
  • Puskesmas Jati Sampurna
  • Puskesmas Jati Warna
  • Puskesmas Kaliabang Tengah
  • Puskesmas Karang Kitri
  • Puskesmas Kota Baru
  • Puskesmas Margajaya
  • Puskesmas Margamulya
  • Puskesmas Mustika Jaya
  • Puskesmas Pejuang
  • Puskesmas Pekayon Jaya
  • Puskesmas Pengasinan
  • Puskesmas Perumnas II
  • Puskesmas Pondok Gede
  • Puskesmas Rawa Tembaga
  • Puskesmas Seroja

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Trayek Angkutan Kota:[sunting | sunting sumber]

  • G05: Pasar Pondok Gede-Curug PP
  • K01: Perumnas III Bekasi-Terminal Bekasi PP
  • K02: Pondok Gede-Terminal Bekasi PP
  • K02A: Jati Asih-Bumi Mutiara PP
  • K02B: Komsen-Cileungsi PP
  • K03: Perumnas Klender-Kranji PP
  • K04: Perumnas I Bekasi-Terminal Bekasi PP
  • K04B: Gabus-Terminal Bekasi PP
  • K05: Cikunir-Terminal Bekasi PP
  • K05A: Taman Galaxy-Terminal Bekasi PP
  • K05B: Perumnas II Bekasi-Terminal Bekasi PP
  • K06: Kranggan-Terminal Kampung Rambutan PP
  • K07: Perumahan Seroja-Terminal Bekasi PP
  • K08: Sumber Arta-Pondok Gede PP
  • K09: Babelan-Terminal Bekasi PP
  • K09B: Metropolitan Mall-Perumahan Taman Wisma Asri PP
  • K10: Ujung Harapan-Terminal Bekasi PP
  • K10B: Tol Bekasi Timur-Perumahan Alinda PP
  • K11: Bantar Gebang-Terminal Bekasi PP
  • K11A: Setia Kawan-Perumahan Rawa Lumbu PP
  • K11B: Setia Kawan-Perumahan Narogong PP
  • K12: Cerewed-Terminal Bekasi PP
  • K12B: BCP-Cerewed PP
  • K13: Bantar Gebang-Setu PP
  • K14: Kampung Utan–Serang PP
  • K15: Pondok Ungu-Taruma Jaya PP
  • K15A: Pondok Ungu-Terminal Bekasi PP
  • K16: Tambun-Tambelang PP
  • K16A: Tambun-Graha Prima PP
  • K16B: Tambun-Perumahan Villa Bekasi Indah PP
  • K16C: Perumahan Griya Asri-Terminal Bekasi PP
  • K17: Terminal Cikarang-Cibarusah PP
  • K18: Cikarang–Sukatani PP
  • K19: Terminal Bekasi-Mutiara Gading Timur PP
  • K19A: Terminal Bekasi-Pasar Bumyagara PP
  • K20: Sumber Arta-Perumnas Klender PP
  • K22: Pondok Gede-Kalimalang PP
  • K22A: Pondok Gede-Terminal Pulo Gebang PP
  • K25: Rawa Panjang-Stasiun Cakung PP
  • K25B: Stasiun Cakung-Perumnas Klender PP
  • K29B: SGC Cikarang-Karang Bahagia PP
  • K30: Kranji-Perumahan Harapan Indah PP
  • K31: Kranji-Perumahan Taman Harapan Baru PP
  • K31A: Borobudur Plaza-Perumahan Harapan Jaya PP
  • K32: Cikarang-Sukadanau PP
  • K33: Lemah Abang-Lippo Cikarang PP
  • K34: Rawa Kalong-Terminal Bekasi PP
  • K34A: Bumi Sani-Terminal Bekasi PP
  • K35: SGC-Delta Mas PP
  • K36: CBL Regensi-Terminal Bekasi PP
  • K36A: CBL Regensi-SGC PP
  • K37: Pangkalan Jati-Perumnas Klender PP
  • K38: Pule-Terminal Cikarang PP
  • K39: Pasar Tambun-Terminal Bekasi PP
  • K39B: Tridaya Sakti-Kompas-Terminal Bekasi PP
  • K39C: Pasar Induk Cibitung-SGC PP
  • K40: Komsen-Kampung Rambutan PP
  • K42: SGC-Pasir Gombong PP
  • K43: Tol Bekasi Timur-Bantar Gebang PP
  • K44: Taman Jatisari Permai-Terminal Kampung Rambutan PP
  • K45: Rawa Kalong-Pulo Gadung PP
  • K52: SGC-Tegal Danas PP
  • K57: SGC-Tambelang PP
  • K58: Perumnas I Bekasi-PGC PP
  • K59: Jababeka-UKI PP
  • K61: Tol Cibitung-Tegal Danas PP
  • K64: SGC-Bojong PP
  • K99A: Jababeka-Stadion Wibawa Mukti PP
  • K99B: Jababeka-Pasar Bersih Cikarang PP
  • KCA: Pondok Gede-Kecapi PP
  • S02: Pondok Gede-Sumber Arta PP

Trayek Angkutan Kota Elf:[sunting | sunting sumber]

  • ELF K01: Terminal Bekasi-Terminal Pulo Gadung PP
  • ELF K01A: Stasiun Bekasi-Terminal Cikarang PP
  • ELF K45: Metropolitan Mall-Lippo Cikarang PP
  • ELF K50: Terminal Bekasi-Lippo Cikarang PP
  • ELF K56: UKI-Terminal Cileungsi PP

Akses Jalan Tol Bekasi[sunting | sunting sumber]

Kota Bekasi memiliki beberapa Gerbang Tol, diantaranya:

  • 1. Gerbang Tol Pondok Gede Barat
  • 2. Gerbang Tol Pondok Gede Timur
  • 3. Gerbang Tol Bekasi Barat
  • 4. Gerbang Tol Bekasi Timur
  • 5. Gerbang Tol Tambun
  • 6. Gerbang Tol Jati Asih
  • 7. Gerbang Tol Jati Warna
  • 8. Gerbang Tol Kalimalang
  • 9. Gerbang Tol Bintara
  • 10. Gerbang Tol Jakasampurna

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Untuk melayani warga Bekasi, tersedia bus antarkota dan dalam kota yang mengangkut penumpang ke berbagai jurusan. KRL Commuter Line jurusan Bekasi-Jakarta Kota mengangkut warga Bekasi yang bekerja di Jakarta.

Selain itu tersedia pula bus pengumpan Transjakarta dari Kemang Pratama, Galaxy City, dan Harapan Indah. Saat ini pemerintah juga sedang merencanakan untuk membangun monorel yang menghubungkan Bekasi Timur, Cawang dan Kuningan.

Di Kota Bekasi banyak digunakan angkutan kota berupa minibus, berpenumpang maksimal 12 orang, yang biasa disebut KOASI (Koperasi Angkutan Bekasi). KOASI melayani dari Terminal Bekasi menuju berbagai perumahan di wilayah Kota Bekasi.

Sedangkan becak masih digunakan sebagai sarana angkutan dalam perumahan. Peningkatan jumlah ojek terjadi secara signifikan seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Ojek digunakan untuk transportasi jarak dekat (2 – 5 km) dan juga di dalam perumahan.

Pusat Perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Sulit menetapkan kesenian Kota Bekasi karena warga kota ini adalah percampuran antara budaya Sunda dan budaya Betawi. Berbeda dengan Kabupaten Bekasi yang sebagian besar penduduknya orang Sunda, saat ini kebanyakan warga Kota Bekasi berasal dari Jakarta.

Bahasa Bekasi benar-benar khas apabila diperhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa.

Seringkali orang Bekasi dapat dikenali kesundaannya dari logat dan nada yang digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah percampuran antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan unik.

Dalam kenyataannya kesenian Kota Bekasi lebih dekat dengan kesenian khas Jakarta. Ini disebabkan budaya Betawi warga Kota Bekasi masih sangat dekat dengan budaya Betawi. Sejak masa Kerajaan Pasundan, beberapa kesenian asli daerah muncul seperti kesenian Tari Topeng dan Kesenian Ujungan.

Tarian Topeng yang biasa dikenal dengan Topeng saja merupakan salah satu jenis kesenian khas Bekasi yang relatif masih ada dan banyak penggemarnya, sama halnya dengan musik gambus. Topeng bekasi ini biasanya dimainkan untuk memeriahkan upacara perkawinan, khitanan dan khaulan akan tetapi bisa juga dimainkan dalam acara-acara resmi seperti menyambut tamu, pentas seni dan kampanye pemilu.

Walaupun dinamakan tarian topeng namun kesenian ini tidak didominasi oleh tarian saja tapi juga menampilkan lawakan atau komedi yang biasanya menyangkut kisah kehidupan masyarakat kecil. Tari topeng biasanya diiringi oleh beberapa alat musik tradisional seperti gendang, rebab, gong, kenong tiga dan kecrek.

Kesenian Ujungan yaitu kesenian dengan memukul betis dan tulang kering, seorang pemain Ujungan langsung meloncat-loncat dengan bergaya lucu. Agar tidak terkena penonton, maka arenanya dipersiapkan terpisah. Sejak tumbuh di jamannya, permainan Ujungan ini sangat digemari warga Kota Bekasi.

Kota Bekasi juga menjadi sumber inspirasi bagi para seniman untuk menuangkan kreasinya, antara lain muncul dalam puisi Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar dan dalam dua novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Kranji-Bekasi Jatuh (1947) serta Di Tepi Kali Bekasi (1951). Karya-karya tersebut lahir pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Kuliner[sunting | sunting sumber]

Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, pada masyarakat Bekasi dikenal beberapa jenis makanan khas yang sering disajikan pada acara-acara tertentu atau hari raya seperti dodol. Makanan ini terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan gula merah dan kelapa.

Kuliner Bekasi yang masih dalam kategori kue basah diantaranya adalah Jalabia, Cucur, Kue Bugis, Bika Ambon, Kue Pepe, Putu Mayang, Talam, Kue Pisang, Lopis, Kue Cincin, Geplak, Onde-Onde, Gemblong, dan Kerak Telor.

Selain jenis kue basah ada beberapa penganan asli Bekasi yang termasuk kategori jenis kue kering, dan biasanya mewarnai kue-kue yang disediakan untuk para tamu yang datang berkunjung ataupun untuk kegiatan besar seperti pernikahan dan sunatan diantaranya adalah Kue Akar Kelapa, Rengginang, Kue Wajik, Sagon, Kue Satu, Parocot, Kue Duit dan Kue Brangas.

Sementara itu, menu makanan atau kuliner yang sangat dikenal di Bekasi adalah sayur asem khas Bekasi, rasanya agak sedikit asem bila dibandingkan dengan jenis sayur asem di daerah lain. Sayur ini terasa nikmat bila disajikan di siang hari. Disamping itu ada satu jenis sayuran yang khas, yaitu sayur ikan gabus atau sayur pucung. Jenis sayur ini tampaknya hanya terdapat di Bekasi saja.

Seperti diketahui Bekasi tempo dulu terdiri dari rawa-rawa yang didalamnya terdapat ikan gabus. Sayur ikan gabus biasanya dimasak dengan menambahkan campuran pucung atau kluwek yang berwarna hitam dan memiliki aroma serta rasa yang khas. Selain kuliner sayur asem dan sayur ikan gabus, masih ada satu lagi kuliner yang cukup terkenal di Bekasi yaitu Soto Betawi Asli Daging Sapi.

Kalau di Jakarta soto betawi dicampur dengan jeroan, maka di Bekasi tidak memakai jeroan, isinya hanya daging sapi, kentang goreng, emping, irisan daun bawang dan diberi kuah santan yang dimasak dengan bumbu-bumbu tradisional seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, sereh dan lada.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Population Census 2010 Province West Java". BPS. Diakses tanggal 2012-02-29. 
  2. ^ "Jumlah Penduduk Menurut Agama Kota Bekasi 2015". www.bekasikota.bps.go.id. Diakses tanggal 27 Januari 2020. 
  3. ^ McGee, T.G. (1996). The mega-urban regions of Southeast Asia. UBC Press. ISBN 0-7748-0548-X. 
  4. ^ "Bekasi, Jawa Barat, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  5. ^ "Bekasi Timur, Jawa Barat, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  6. ^ "Bekasi, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 4 September 2020. 
  7. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bekasi 2009-2014
  8. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bekasi 2014-2019
  9. ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Bekasi 2019-2024
  10. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  11. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  12. ^ poskota.co.id Bekasi Utara Terpadat Penduduknya di Kota Bekasi
  13. ^ Pertumbuhan Eknomi Kota Bekasi 2004-2006 di situs Sistem Investasi Daerah Kota Bekasi

Pranala luar[sunting | sunting sumber]