Stasiun Jakarta Kota

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Stasiun Jakarta Kota
  • Singkatan: JAKK
  • Nomor: 0420
Stasiun Jakarta Kota Pintu Utara.jpg
Stasiun Jakarta Kota
Lokasi
Provinsi DKI Jakarta
Kota Jakarta Barat
Kecamatan Taman Sari
Kelurahan Pinangsia
Alamat Jalan Stasiun Kota No. 1
Kode pos 11110
Koordinat 6°08′15″LS 106°48′53″BT / 6,1375786°LS 106,8146342°BT / -6.1375786; 106.8146342Koordinat: 6°08′15″LS 106°48′53″BT / 6,1375786°LS 106,8146342°BT / -6.1375786; 106.8146342
Sejarah
Dibuka 1870 Bangunan awal
1926 Renovasi lagi kemudian digunakan lagi
Nama sebelumnya Stasiun Batavia-Stad
Informasi lain
Operator Daerah Operasi I Jakarta
Kelas stasiun Besar tipe A
Ketinggian +4 m
Letak[1] km 0+000 Stasiun Jakarta Kota (pusat utama)
Layanan KA Commuter Jabodetabek
Operasi
Stasiun sebelumnya   KRL Jabodetabek   Stasiun berikutnya
menuju Bogor
Bogor-Jakarta Kota Terminus
menuju Depok
Depok-Jakarta Kota
menuju Bekasi
Bekasi-Jakarta Kota
Lewat Manggarai
menuju Bekasi
Bekasi-Jakarta Kota
Tanjung Priok-Jakarta Kota
  Layanan penghubung  
Stasiun sebelumnya   Transjakarta   Stasiun berikutnya
Terminus Koridor 1
Bersambung di: Kota
Koridor 12
Arah Tanjung Priok
Bersambung di: Kota
Koridor 12
Arah Penjaringan
Bersambung di: Kota
Konstruksi dan fasilitas
Jumlah jalur 12
Jumlah peron 13 peron sisi
Arsitek Frans Johan Louwrens Ghijsels
Indonesia New Road Sign Info 5f1.png Fasilitas parkir:
Ya


Lokasi pada peta
Stasiun Jakarta Kota berlokasi di Jakarta
Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota (Jakarta)

Stasiun Jakarta Kota (JAKK) adalah stasiun kereta api kelas besar di Indonesia yang terletak di Kelurahan Pinangsia, kawasan Kota Tua, Jakarta. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini termasuk ke dalam Daerah Operasi I Jakarta dan merupakan satu dari sedikit stasiun di Indonesia yang bertipe terminus (perjalanan awal/akhir), yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Di stasiun ini terdapat dipo kereta.

Stasiun Jakarta Kota dikenal pula dengan sebutan Stasiun Beos. Walaupun stasiun ini dinamakan "Stasiun Jakarta Kota" dari semenjak berdiri, stasiun ini lebih dikenal dengan sebutan "Stasiun Kota". Nama "Stasiun Kota" juga dapat merujuk kepada Stasiun Surabaya Kota.

Keberadaannya pada saat ini diperdebatkan karena hendak direnovasi dengan penambahan ruang komersial. Padahal, stasiun ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, selain bangunannya kuno, stasiun ini merupakan stasiun tujuan terakhir perjalanan. Seperti halnya Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut di Surabaya yang merupakan cagar budaya, namun juga terjadi renovasi yang dinilai kontroversial.

Sejak 9 Februari 2017 Stasiun Jakarta Kota hanya melayani perjalanan KRL dari dan menuju daerah-daerah Jakarta dan sekitarnya, seperti di antaranya Tanjung Priok, Depok, Nambo, Bogor, dan Bekasi.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada masa lalu, karena terkenalnya stasiun ini, nama itu dijadikan sebuah acara oleh stasiun televisi swasta. Hanya saja mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi.

Yang pertama, nama Beos mengacu pada nama stasiun Batavia BOS Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), yang berada pada lokasi yang sama sebelum dibongkar.[2] Perusahaan ini adalah sebuah perusahaan kereta api swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, yang berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.[3]

Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan.[2] Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Stasiun Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia.[3]

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk direnovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.[4]

Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, 8 September 1882, yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels.[3] Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.

Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.[3]

Masa kini[sunting | sunting sumber]

Stasun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Walau masih berfungsi, di sana-sini terlihat sudut-sudut yang kurang terawat. Keberadaannya pun mulai terusik dengan adanya kabar mau dibangun mal di atas bangunan stasiun. Demikian pula kebersihannya yang kurang terawat, sampah beresrakan di rel-rel kereta. Selain itu, banyak orang yang tinggal di samping kiri kanan rel di dekat stasiun mengurangi nilai estetika stasiun kebanggaan ini. Kini Pihak KAI melalui Unit Pelestarian Benda dan bangunan bersejarah telah mulai menata stasiun bersejarah ini

Menyimpan rangkaian KA di dipo kereta[sunting | sunting sumber]

Stasiun ini juga berfungsi sebagai tempat istirahat sementara bagi beberapa kereta api Jarak Jauh sebelum dipersiapkan pemberangkatannya di Gambir.

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Stasiun ini, pada jaman kolonial ada dua, yaitu Batavia NIS (Batavia Noord) dan Batavia BOS (Batavia Zuid)[2]. Setelah kedua stasiun tersebut dibeli oleh pemerintah kolonial, perusahaan kereta api negara Staatsspoor en Tramwegen, berencana untuk membangun stasiun besar baru di atas lahan Stasiun Batavia BOS yang mulai ditutup sejak tahun 1923. Sebagai gantinya, maka stasiun Batavia Noord eks-NISM yang berjarak 200 meter ke arah Utara sebagai stasiun utama untuk melayani penumpang. Tahun 1926, stasiun eks-BOS mulai dibongkar. Pembangunan ini adalah proyek dari pembangunan gedung stasiun milik negara, maka Burgerlijke Openbare Werken, (Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda), terlibat dalam pembangunannya.

Kereta api[sunting | sunting sumber]

Semua kereta api penumpang jarak jauh dan menegah yang dahulu memiliki terminus ke Stasiun Jakarta Kota akhirnya dialihkan ke Stasiun Pasar Senen. Sejak tanggal 9 Februari 2017 semua perjalanan KA Walahar Ekspres/Lokal PWK dan KA Jatiluhur/Lokal CKP dipindahkan ke Stasiun Tanjung Priok. [1] Pada akhirnya, Stasiun Jakarta Kota hanya melayani perjalanan penumpang KRL saja.

KRL yang mengakhiri dan mengawali perjalanan di stasiun ini adalah.

Angkutan umum yang terhubung[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
Tanjung Priok
Ancol
Jakarta Gudang
Jakarta Kota
Kampung Bandan
Jayakarta
Rajawali
Mangga Besar
Sawah Besar
Kemayoran
Juanda
Angke
Duri
Gambir
Gondangdia
Tanah Abang
Cikini
Karet
Pasar Senen
Sudirman
Gang Sentiong
Mampang
Kramat
Manggarai
Pondok Jati
Grogol
Pesing
Palmerah
Taman Kota
Kebayoran
Bojong Indah
ke Serpong/Merak
Rawa Buaya
Jatinegara
Kalideres
Cipinang
ke Tangerang
Klender
Dipo Bukit Duri
Buaran
Tebet
Klender Baru
Cawang
Cakung
Duren Kalibata
ke Bekasi/Cikampek
Pasar Minggu Baru
Pasar Minggu
Tanjung Barat
Lenteng Agung
Univ. Pancasila
ke Depok/Bogor

Insiden[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 26 Desember 2014 pukul 06.30, lokomotif CC201 89 07 menabrak peron di Stasiun Jakarta Kota, pada saat melangsir rangkaian kereta api Argo Parahyangan. Lokomotif tersebut melampaui batas aman berhenti, sehingga meloncat keluar rel kemudian menggerus lantai peron. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.[5]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b c Murti Hariyadi, Ibnu; Ekawati Basir, Mungki Indriati Pratiwi, Ella Ubaidi, Edi Sukmono (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT. Kereta Api Indonesia (Persero). pp. 1 – 14. ISBN 978-602-18839-3-8. 
  3. ^ a b c d Majalah KA Edisi Agustus 2014
  4. ^ Stasiun Batavia Selatan Genap 80 Tahun Kompas.com 23 Oktober 2009, diakses 2 November 2011.
  5. ^ Liputan 6.com: Lokomotif Kereta Tabrak Peron Hancurkan Ruang Tunggu Stasiun Kota
Stasiun sebelumnya   Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Lintas Kereta Api Indonesia   Stasiun berikutnya
Terminus Jakarta Kota-Tanjung Priok
Jakarta Kota-Manggarai
menuju Manggarai