Divisi Regional III Palembang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Divisi Regional III Palembang
Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg
PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Divisi Regional III Palembang
Kantor Daop/Divre
Provinsi Sumatera Selatan
Kota Palembang
Kecamatan Seberang Ulu II
Kelurahan 13 Ulu
Alamat Jalan Jenderal Achmad Yani No. 541
Kode pos 30263
Informasi lain
Singkatan Daop/Divre PG
Stasiun tertinggi +129 m (Lubuklinggau)
Karakteristik jalur Mayoritas lintas datar,
emplasemen stasiun kecil dapat mencapai kurang lebih 1 kilometer,
KA batubara lebih sering diproritaskan dibandingkan KA penumpang.
Batas kecepatan tertinggi yang diizinkan 70 s.d. 90 km/jam

Divisi Regional III Palembang (Divre III PG), yang kadang-kadang disebut Divisi Regional III Kertapati atau Divisi Regional III Sumatera Selatan adalah Divre KAI dengan wilayah kerja sebagian Provinsi Sumatera Selatan yang dipimpin oleh seorang Kepala Divisi Regional (Kadivre) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direksi PT Kereta Api Indonesia.

Gambaran Umum[sunting | sunting sumber]

Perhitungan jarak rel kereta api di Sumatera bagian selatan dimulai dari stasiun Panjang, Lampung (KM 0), dari pelabuhan tersebut ruas jalur kereta api berakhir di Stasiun Prabumulih (Sumatera Selatan) km 332+705. Setelah itu jalur kereta api di Stasiun Prabumulih bercabang dua ke barat dan timur. Ke arah barat, jalur kereta berakhir di Lubuklinggau (Sumatera Selatan) di Km 549+448, sedangkan ke arah timur kereta berakhir di Kertapati (Palembang, Sumatera Selatan) di km 400+102.

Salah satu keunikan di Divre III ini ialah stasiun pada kota besar satu-satunya di wilayah kerjanya yaitu Palembang tidak terletak di pusat kota seperti halnya di wilayah lain yang biasanya tepat berada di pusat kota. Kertapati yang tepat berada di tepian sungai Musi menjadi stasiun ujung (rel spoor badug) , dimana jalurnya tak terhubung ke pusat kota sebab kemungkinan Belanda kesulitan untuk membangun jembatan KA melintasi sungai Musi pada masa lalu. [1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1911, transmigran pulau Jawa yang didatangkan Hindia Belanda ke Lampung pada 1905 berhasil membangun perkebunan kaitsyuk, tembakau, kopi, karet, kelapa dalam, dan kelapa sawit. Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia lalu menganggap sarana angkutan hasil-hasil bumi dari Sumatera Selatan ke pulau Jawa jika terlalu mengandalkan pelayaran laut terlalu banyak memakan biaya dan waktu serta sulit memasuki pelabuhan di Palembang, Krui, dan Menggala. Maka diputuskan reduksi biaya transportasi dan waktu pengiriman hasil bumi dengan membangun rel kereta api dari Palembang ke Tanjungkarang.

Adapun rel KA pertama di Pulau Sumatera dibangun di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), kemudian Sumatera Selatan (1911). Tahun 1911, pembangunan rel KA dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda dengan mengerahkan ribuan orang di Palembang dan di Tanjungkarang.

Rel KA antara Tanjungkarang dan Palembang banyak melintasi hutan, perkebunan karet, perkebunan sawit, dan rawa-rawa. Jalur KA ini berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa, di mana rel KA dibangun melintasi perkampungan-perkampungan. Penyebabnya, rel KA di Pulau Jawa disiapkan untuk angkutan manusia, sedangkan rel KA ini disiapkan Belanda untuk mengangkut hasil bumi, hasil hutan, dan perkebunan dari negeri jajahan di Sumatera.

Lintasan kereta di Sumatera bagian selatan pertama kali dibangun sepanjang 12 kilometer dari Panjang menuju Tanjungkarang, Lampung. Jalur rel ini mulai dilalui kereta pada tanggal 3 Agustus 1914. Pada waktu bersamaan dilaksanakan juga pemasangan dan pembangunan lintasan rel dari Kertapati, menuju Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Sampai 1914, jalur rel lintas Prabumulih hingga Prabumulih mencapai jarak 78 kilometer.

Perlahan, jalur rel kemudian dikembangkan untuk pengangkutan batu bara dari tempat penambangannya di Tanjung Enim. Kemudian dikembangkan juga jalur ke Lahat. Di Lahat ada sebuah bengkel besar kereta (sekarang dinamakan Balai Yasa Lahat) yang berfungsi untuk perbaikan dan perawatan kereta api. [2]

Akhirnya pemerintah Hindia Belanda melalui Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) tuntas membangun rel kereta api di Lampung dan Sumatera Selatan hingga 529 km. Seluruhnya merupakan rel selebar 1.067 mm. Sementara mayoritas negara menggunakan rel selebar 1.435 mm yang menjaga stabilitas kereta lebih baik agar bisa berjalan dengan kecepatan lebih tinggi .

Awalnya, ZSS berencana membangun rel hingga Tapanuli tetapi dihempaskan kebangkrutan perusahaan akibat resesi setelah Perang Dunia I, yaitu Great Depression yang ternyata berdampak ke rel di Sumatera. [3]

Pembangunan Rel KA pada Masa Depan[sunting | sunting sumber]

Sekian lama setelah Indonesia merdeka dan mengelola perkeretaapian di Sumbagsel melalui PT KAI, maka disusunlah rencana pembangunan rel kereta api penghubung Bengkulu dengan Muaraenim yang akan dibangun mulai tahun 2015. Adapun rel kereta api di Bengkulu difokuskan untuk angkutan batu bara seperti umumnya kereta api di Sumbagsel.[4]

Pembagian Wilayah Kerja (Historis)[sunting | sunting sumber]

Masa PJKA

Pada masa PJKA, wilayah Divisi Regional III Palembang merupakan wilayah kerja Inspeksi 13 Kertapati yang merupakan bagian dari Eksploitasi Sumatera Selatan (ESS) bersama dengan Inspeksi 14 Tanjungkarang.[5]

Masa PERUMKA, PT. KA, dan PT. KAI.

Sejak era PERUMKA, Eksploitasi Sumatera Selatan (ESS) berubah nama menjadi Divre III Sumatera Selatan dan Lampung yang dulu cakupannya cukup luas dibandingkan kedua divre lain di Sumatera dan meliputi dua provinsi yaitu Sumatera Selatan dan Lampung, maka dibagilah dua wilayah (subdivre) dengan fungsi operasional yang serupa dengan Daop KAI di pulau Jawa, namun dengan tingkatan administratif dalam lingkup KAI yang lebih rendah daripada Divre maupun Daop. Divre III pernah memiliki dua subdivre sebagai berikut:

  • Sub Divre III.1 Kertapati (KPT), yang merupakan pusat Divre III Sumatera Selatan dan Lampung naik tingkat dan berubah nama menjadi Divre III Palembang (PG) per 1 Mei 2016.
  • Sub Divre III.2 Tanjungkarang (TNK), dimekarkan menjadi Divre IV Tanjungkarang (TNK) per 1 Mei 2016.

Layanan Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Kereta Penumpang[sunting | sunting sumber]

Pengangkutan Barang[6][sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api[sunting | sunting sumber]

Peta Jalur Kereta Api di Divre III Palembang.
  1. Stasiun Prabumulih (PBM)
  2. Stasiun Lembak (LEB)
  3. Stasiun Karangendah (KED)
  4. Stasiun Gelumbang (GLB)
  5. Stasiun Serdang (SDN)
  6. Stasiun Payakabung (PYK)
  7. Stasiun Simpang (SIG)
  8. Stasiun Kertapati (KPT)
  1. Stasiun Simpang (SIG)
  2. Stasiun Indralaya (IDR)
  1. Stasiun Prabumulih (PBM)
  2. Stasiun Prabumulih Baru (PBR)
  3. Stasiun Penimur (PNM)
  4. Stasiun Niru (NRU)
  5. Stasiun Talangpadang (TAP)
  6. Stasiun Belimbingpendopo (BIB)
  7. Stasiun Tanjungterang (TGE)
  8. Stasiun Gunungmegang (GNM)
  9. Stasiun Ujanmas (UJM)
  10. Stasiun Penanggiran (PGR)
  11. Stasiun Muaragula (MRL)
  12. Stasiun Muaraenim (ME)
  13. Stasiun Banjarsari (BJS)
  14. Stasiun Sukacinta (SCT)
  15. Stasiun Lahat (LT)
  16. Stasiun Bungamas (BGM)
  17. Stasiun Sukaraja (SUA)
  18. Stasiun Saungnaga (SNA)
  19. Stasiun Tebingtinggi (TI)
  20. Stasiun Muarasaling (MSL)
  21. Stasiun Kotapadang (KOP)
  22. Stasiun Lubuklinggau (LLG)
  • Jalur Muaragula-Tanjungenim Baru
  1. Stasiun Muaragula (MRL)
  2. Stasiun Tanjungenim Baru (TMB)

Keterangan :

  • Stasiun besar ialah stasiun yang tertulis tebal miring.
  • Stasiun menengah ialah stasiun yang tertulis tebal.
  • Stasiun kecil ialah stasiun yang tertulis normal.
  • Stasiun dan jalur yang tak beroperasi ialah tulisan yang tertulis miring.

Prasarana Perawatan[sunting | sunting sumber]

Dipo Lokomotif Kertapati (KPT)[sunting | sunting sumber]

Di dipo lokomotif inilah terdapat lokomotif CC201 hidung miring,dengan eksterior seperti CC203. Di sini banyak terdapat lokomotif-lokomotif merah dan seluruh lokomotif CC204 generasi kedua untuk dinasan KA Batubara Kertapati, KA Batubara Kontener SCT, KA Pulp PT TEL, serta KA penumpang. Di sini pula terdapat armada KRD dan Railbus, serta memiliki KAIS (Kereta Api Inspeksi). Namun, dipo ini tidak memiliki turn table.

Sub-Dipo Lokomotif[sunting | sunting sumber]

Nama Sub-Dipo Kode Sub-Dipo
Sub-Dipo Lokomotif Lubuklinggau LLG
Sub-Dipo Lokomotif Lahat LT
Sub-Dipo Lokomotif Prabumulih PBM

Dipo Kereta[sunting | sunting sumber]

Dipo gerbong merupakan tempat perawatan harian kereta penumpang (K1, K2, dan K3).

  • Dipo Kereta Kertapati (KPT)

Dipo Gerbong[sunting | sunting sumber]

Dipo gerbong merupakan tempat perawatan harian gerbong barang.

  • Dipo Gerbong Tanjungenim Baru (TMB)[7]

Dipo Mekanik[sunting | sunting sumber]

Dipo mekanik merupakan tempat penyimpanan dan perawatan MPJR (mesin perawat jalan rel) yang berupa MTT, CSM, dan PBR yang melayani perawatan jalan rel di seluruh wilayah kerja Divre III KPT dan Divre IV TNK (untuk sementara).

  • Dipo Mekanik Prabumulih[8][9]

Balai Yasa Lahat[sunting | sunting sumber]

Balai yasa ialah satuan tugas PT. KAI yang berfungsi sebagai "bengkel" komponen kereta api, adapun balai yasa Lahat melayani perawatan kereta api di wilayah Sumbagsel. Balai yasa dibangun bersamaan dengan dibangunnya jalan rel Muara Enim - Lahat pada tanggal 21 April 1924 oleh SS dan baru beroperasi tahun 1931 dengan nama Werkplaats.

Awalnya balai yasa ini hanya untuk perawatan gerbong, kereta kayu, dan lokomotif uap. Tahun 1952 mulai merawat kereta baja buatan Beijnes Beverwijk. Lalu tahun 1957 mulai melaksanakan perawatan lokomotif diesel elektrik BB200. Terakhir, pada tahun 1984 melalui Proyek KP3BAKA, balai yasa Lahat diperbarui untuk mendukung KKBW untuk RCD dan lokomotif CC202 bergandar 18 ton. [10]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Jenis Lokomotif Siap Operasi[sunting | sunting sumber]

Alokasi Dipo Lokomotif Kertapati

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]