Kereta api Gajayana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kereta api Gajayana
New Papan Nama KA Gajayana khas Daop 8.png
KA 41 Gajayana Lepas Stasiun Malang Menuju Ke Stasiun Gambir.jpg
Kereta api Gajayana saat meninggalkan Stasiun Malang
Informasi umum
Jenis layananKereta api jarak jauh
StatusBeroperasi
Daerah operasiDaerah Operasi VIII Surabaya
PendahuluGajayana (kelas eksekutif dan bisnis)
Mulai beroperasi28 Oktober 1999
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Jumlah penumpang2.190 penumpang per hari (rata-rata)
Rute
Stasiun awalMalang
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Stasiun akhirGambir
Jarak tempuh912 km
Frekuensi perjalanansatu kali dalam perjalanan pulang pergi
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasEksekutif dan luxury (reguler)
Eksekutif (fakultatif)
Pengaturan tempat duduk
  • 50 tempat duduk disusun 2-2 (kelas eksekutif)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 26 tempat duduk disusun 1-2 (eksekutif luxury)
    kursi dapat diputar dan dapat direbahkan hingga 180°
Fasilitas kateringAda, dapat memesan sendiri makanan di kereta makan yang tersedia.
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks, dengan tirai, lapisan laminasi isolator panas.
Fasilitas hiburanAda
Fasilitas bagasiAda
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelantingCC206
Lebar sepur1.067 mm
Elektrifikasi-
Kecepatan operasional60 s.d. 100 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal75-76 (reguler)
91F-92F (fakultatif)
Peta rute
Jakarta Gambir - Malang
Untuk KA Gajayana
ke Jakarta Kota
Jakarta Gambir Roundeltjk2.png
ke Bogor
ke Tanah Abang
Jatinegara KRL Icon Blue.svg KRL Icon Yellow.svg Roundeltjk5.png Roundetjk10.png Roundetjk11.png
Jalan Tol Ir.Wiyoto Wiyono
DKI Jakarta
Jawa Barat
Cirebon
ke Semarang
Jawa Barat
Jawa Tengah
ke Tegal
Jembatan Sakalimolas
Purwokerto
Terowongan Notog
Jembatan Kali Serayu
Terowongan Kebasen
Ke Bandung
Gombong
Kebumen
Kutoarjo
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Yogyakarta
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Solo Balapan
Ke Semarang
Jembatan Bengawan Solo
Jawa Tengah
Jawa Timur
Madiun
Kertosono
ke Surabaya
Kediri
Tulungagung
Blitar
Wlingi
Jembatan Lahor
Terowongan Eka Bakti Karya
Terowongan Dwi Bakti Karya
Jembatan Kali Metro
Kepanjen
Malang Kotalama
Malang
ke Bangil

Kereta api Gajayana merupakan kereta api penumpang kelas eksekutif dan luxury (kelas eksekutif untuk kereta fakultatif) yang dioperasikan oleh PT Kereta api Indonesia (Persero) Daerah Operasi VIII Surabaya yang melayani rute Malang-Gambir via Blitar-Yogyakarta-Purwokerto dan sebaliknya. Perjalanan kereta api ini menempuh 912 km dalam waktu sekitar 15 jam

Asal usul nama[sunting | sunting sumber]

Nama Gajayana berasal dari seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan bernama Sang Liswa (anak dari Dewa Shima) yang sangat dicintai oleh para kaum brahmana dan rakyatnya karena membawa ketenteraman di seluruh negeri. Pusat pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan diduga berada di Dinoyo, Lowokwaru, Malang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada awal pengoperasiannya pada tanggal 28 Oktober 1999, kereta api ini beroperasi dengan dua layanan kelas, yaitu kelas eksekutif dan bisnis. Kereta kelas bisnis yang pernah digunakan oleh kereta api ini merupakan limpahan dari kereta api Turangga karena pada tahun yang sama, kereta api Turangga mendapat rangkaian baru dari PT INKA. Pada tahun 2001, kereta api Gajayana mendapat rangkaian baru dari INKA sehingga layanannya berubah menjadi kelas eksekutif secara penuh.

Sejak Oktober 2008, rangkaian kereta api Gajayana menggunakan kereta eksekutif hasil penyehatan (kaca dengan ukuran lebar) dari PT INKA. Rangkaian kereta api Gajayana lalu diganti dengan kereta yang dilengkapi kaca "seperti pesawat" keluaran tahun 2009 dan rangkaian lamanya kini digunakan untuk kereta api Bangunkarta sejak 5 Desember 2009. Rangkaian kereta baru ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, di Stasiun Jakarta Kota. Akhirnya, rangkaian kereta api Gajayana menggunakan rangkaian terbaru dari PT INKA keluaran tahun 2017.

Rangkaian[sunting | sunting sumber]

Kereta Luxury yang terbaru tahun 2019 dipakai untuk kereta api Taksaka, Argo Dwipangga, Argo Lawu, dan Gajayana.

Rangkaian kereta api ini terdiri dari delapan kereta eksekutif, satu kereta eksekutif luxury, satu kereta makan, satu kereta pembangkit listrik, dan satu kereta bagasi yang dilengkapi fasilitas seperti kursi yang dapat direbahkan, pintu otomatis, televisi, pendingin udara, sandaran kaki, lampu baca, meja makan per kursi, stopkontak per kursi, rak bagasi, dan toilet. Karena merupakan kereta lintas malam, tersedia pula bantal serta selimut di tiap kursi.

Saat ini, kereta api ini menggunakan rangkaian kereta kelas eksekutif tahun 2016 keluaran ketujuh dan tahun 2017 keluaran pertama, sedangkan rangkaian lama (buatan tahun 2009) dimutasi ke dipo kereta lain, yaitu Solo Balapan (SLO) dan Purwokerto (PWT)—kecuali "P 0 09 01", "P 0 09 02", dan "M1 0 09 02".

Data teknis[sunting | sunting sumber]

Lintasan perjalanan Malang - Gambir pp.
Lokomotif CC206
Rangkaian Kereta reguler

1 kereta pembangkit (P 2016/2017 ML atau P ML) + 4 kereta kelas eksekutif (K1 2016/2017 ML) + 1 kereta makan (M1 2016/2017 ML) + 4 kereta kelas eksekutif (K1 2016/2017 ML) + 1 kereta kelas luxury generasi kedua (K1 2019) + satu kereta bagasi (B ML)

Kereta fakultatif

4 kereta eksekutif (K1) + 1 kereta makan (M1) + 4 kereta eksekutif (K1) + 1 kereta pembangkit (P)

Catatan : Susunan rangkaian dapat berubah sewaktu-waktu

Jumlah tempat duduk 426 tempat duduk (untuk reguler)

400 tempat duduk (untuk fakultatif)

Tarif[sunting | sunting sumber]

Tarif kereta api ini adalah antara Rp260.000,00-Rp1.000.000,00, bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang, subkelas/posisi tempat duduk dalam rangkaian kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional. Selain itu, berlaku pula tarif khusus yang hanya dapat dipesan mulai dua jam sebelum keberangkatan pada stasiun-stasiun yang berada dalam rute berikut.

Jadwal perjalanan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah jadwal perjalanan kereta api Gajayana reguler per 1 Desember 2019 (berdasarkan Gapeka 2019).

KA 75 (Malang-Gambir) KA 76 (Gambir-Malang)
Stasiun Tiba Berangkat Stasiun Tiba Berangkat
Malang - 13.25 Gambir - 18.00
Malang Kotalama 13.30 13.33 Cirebon 20.54 21.02
Kepanjen 13.55 13.58 Purwokerto 22.56 23.11
Wlingi 14.44 14.48 Kroya 23.39 23.44
Blitar 15.09 15.15 Gombong 00.10 00.14
Tulungagung 15.43 15.46 Kebumen 00.32 00.36
Kediri 16.13 16.18 Kutoarjo 01.03 01.07
Kertosono 16.50 16.53 Yogyakarta 01.59 02.07
Nganjuk 17.13 17.16 Solo Balapan 02.54 02.59
Madiun 17.57 18.10 Madiun 04.15 04.25
Solo Balapan 19.25 19.30 Nganjuk 05.06 05.08
Yogyakarta 20.17 20.22 Kertosono 05.29 05.32
Kutoarjo 21.12 21.15 Kediri 06.03 06.11
Kebumen 21.40 21.43 Tulungagung 06.37 06.41
Purwokerto 22.52 23.05 Blitar 07.11 07.20
Cirebon 01.04 01.11 Wlingi 07.41 07.46
Jatinegara 03.48 03.50 Kepanjen 08.31 08.36
Gambir 04.05 - Malang Kotalama 08.58 09.07
Malang 09.12 -

Insiden[sunting | sunting sumber]

  • Pada tanggal 19 Mei 2010 sekitar pukul 07.15, kereta api Gajayana menabrak kendaraan angkutan rakitan ledok di perlintasan tanpa palang pintu di Kromasan, Ngunut, Tulungagung, dekat Stasiun Ngunut. Tidak ada korban tewas dalam musibah ini. Perlintasan tersebut menjadi andalan bagi para sopir ledok tersebut untuk mengangkut sayuran meskipun tidak berpalang dan tidak dijaga.[1]
  • Pada tanggal 4 Januari 2011, empat rangkaian kereta eksekutif KA Gajayana yang sedang parkir di Stasiun Malang tiba-tiba mundur dan menabrak empat rumah. Satu orang balita tewas dalam kejadian tersebut.[2]
  • Pada 27 Agustus 2011, kereta api Gajayana dengan masinis Yodian Wiliarso dan asisten masinis Bambang Suradi dibajak oleh tiga orang yang memasuki kabin masinis lokomotif. Sebanyak tiga pembajak masuk lokomotif dan mengarahkan kereta api tersebut ke Stasiun Pasar Senen. Mulanya, kereta ini tertahan sinyal masuk di stasiun Jatibarang, kemudian saat di stasiun Telagasari beberapa orang menghadang kereta api dan satu orang masuk lokomotif. Kereta sempat berhenti di Stasiun Haurgeulis untuk menurunkan penumpang gelap di lokomotif. Lalu sang masinis memberitakan kepada pusat kendali (PK) Cirebon agar diberikan sinyal aspek hijau dan melaju tanpa henti di sepanjang jalur rel hingga Gambir. Selama pembajakan berlangsung, masinis sempat kehilangan kontak. Masinis kemudian memberitahu PK baru pada pukul 09.08 bahwa masinis tersebut disandera dan meminta agar PK mengarahkan kereta itu langsung ke Gambir. KA Gajayana lantas mencoba berhenti di Jatinegara namun gagal dan diarahkan ke Stasiun Pasar Senen. Pada pukul 09.35, kereta api Gajayana masuk ke jalur 4, berhenti dengan rem darurat oleh petugas teknisi, kemudian dihadang aparat Brimob yang sudah berjaga di bibir peron.[3]
  • Pada tanggal 18 Maret 2015 sekitar pukul 14.00, kereta api Gajayana berhenti luar biasa karena dihadang oleh dua orang petani yang mengetahui bahwa ada kerusakan rel pada letak km 53 di Malang.[4]
  • Seorang ayah beserta anaknya nekat menabrakkan diri ke kereta api Gajayana di dekat Stasiun Purwosari pada tanggal 20 Maret 2015 malam hari dikarenakan bercerai dengan istrinya.[5][6]
  • Pada tanggal 12 April 2015, dua orang perempuan yang mengendarai sepeda motor tewas ditabrak kereta api Gajayana di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Jambean, Kras, Kediri.[7]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]