Kereta api Bima

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Untuk nama sebuah lokomotif Indonesia, lihat Bima Kunthing. Untuk Bima sebagai tokoh Mahabharata, lihat Bima (Mahabharata). Untuk kegunaan lainnya, lihat Bima (disambiguasi).
Kereta api Bima
Plat nama KA Bima.PNG
Sunset KA Bima.jpg
KA Bima melaju kencang di stasiun Tambun.
Info
Kelas Eksekutif satwa
Sistem Kereta api cepat
Status Beroperasi
Lokal Daop 1 Jakarta
Stasiun terminus Jakarta Gambir
Surabaya Gubeng
Malang Kota Baru
Jumlah stasiun 14
Rute pelayanan 2
Nomor KA 43-46
Operasional
Dibuka 1 Juni 1967; 48 tahun lalu (1967-06-01) (rute Jakarta-Surabaya)
6 Februari 2014 (perpanjangan ke Malang)
Pemilik PT Kereta Api Indonesia
Operator Daerah Operasi I Jakarta
Depot Kereta: Jakarta Kota (JAKK)
Lokomotif: Jatinegara (JNG), Sidotopo (SDT) dan Yogyakarta (YK)
Lokomotif CC206
Teknis
Jarak tempuh 907 km
Lebar sepur 1.067 mm
Kecepatan operasi 60 s.d. 100 km/jam
Peta Rute
Peta rute KA Bima
Jakarta Kota
Head station
ke Ancol/Mangga Dua
Junction to left Continuation to right
Unknown route-map component "BRÜCKEa"
Jakarta Gambir
Unknown route-map component "hBHF"
Unknown route-map component "BRÜCKEe"
ke
Continuation to left Junction from right
Jakarta Manggarai
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Tebet
Continuation to left Junction to right
ke
Unknown route-map component "KRWg+l" Continuation to right
Unknown route-map component "xpBHF"
Jalan Tol Ir.Wiyoto Wiyono
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Kraji Flyover
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Bekasi
Unknown route-map component "xpBHF"
Kali Cikarang, Bekasi
Transverse water Bridge over water Transverse water
Cikarang
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Cikarang Pelabuhan
Junction to left Continuation to right
ke Purwakarta
Continuation to left Junction to right
Cirebon
Station on track
ke Brebes/Semarang
Junction to left Continuation to right
Jalan Tol Palimanan-Kanci
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Ketanggungan
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Tegal lewat Lebaksiu
Continuation to left Junction to right
Purwokerto
Station on track
ke Wonosobo
Junction to left Continuation to right
ke Bandung / Cilacap
Continuation to left Junction from right
Karanganyar
Station on track
Kebumen
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Palbapang
Continuation to left Junction from right
Yogyakarta Tugu
Station on track
ke Magelang
Junction to left Continuation to right
Kali Code, Yogya
Transverse water Bridge over water Transverse water
Lempuyangan
Unknown route-map component "xpBHF"
Flyover Dr.Soetomo, Yogya
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Solo Balapan
Station on track
ke Sumber Lawang
Junction both to and from left Continuation to right
Sragen
Unknown route-map component "xpBHF"
Madiun
Station on track
Nganjuk
Unknown route-map component "xpBHF"
Kertosono
Station on track
ke Blitar
Continuation to left Junction to right
Jombang
Station on track
Mojokerto
Station on track
Kali Porong
Transverse water Bridge over water Transverse water
Tarik
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Sidoarjo
Continuation to left Junction to right
Jalan Surabaya-Mojokerto
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Jalan Tol Surabaya-Gempol
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Layang Mayangkara
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
ke Sidoarjo / Malang
Continuation to left Junction from right
Wonokromo
Unknown route-map component "xpBHF"
Surabaya Gubeng
Station on track
Wonokromo
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Mojokerto
Continuation to left Junction to right
Waru
Unknown route-map component "xpBHF"
Gedangan
Unknown route-map component "xpBHF"
Jalan Surabaya-Sidoarjo
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Sidoarjo
Station on track
Tanggulangin
Unknown route-map component "xpBHF"
Porong
Unknown route-map component "xpBHF"
Kali Porong
Transverse water Bridge over water Transverse water
Bangil
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Pasuruan/Banyuwangi
Junction to left Continuation to right
Wonokerto
Unknown route-map component "xpBHF"
Sukorejo
Unknown route-map component "xpBHF"
Sengon
Unknown route-map component "xpBHF"
Lawang
Station on track
Singosari
Unknown route-map component "xpBHF"
Blimbing
Unknown route-map component "xpBHF"
Malang
Station on track
ke Blitar
Continuation forward

Kereta api Bima adalah kereta api kelas eksekutif satwa yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Pulau Jawa dengan jurusan Stasiun Gambir (GMR) - Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) dan Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) - Stasiun Malang (ML) dan sebaliknya. Uniknya, kereta api ini tidak melalui jalur utara, tetapi melalui jalur selatan, karena untuk meningkatkan okupansi penumpang yang naik kereta api rute Jakarta-Surabaya yang melalui jalur selatan. Lain halnya dengan Kereta api Sembrani dan Argo Bromo Anggrek yang juga berangkat dari Gambir, namun melewati Cikampek, Semarang Tawang, dan tiba di Pasar Turi. Meskipun kelas satwa, KA Bima adalah KA Eksekutif sekelas Argo dan menggunakan kereta Argo, dalam hal ini adalah KA eks-Argo Bromo (K1 0 95 xx JAKK). Kereta ini merupakan kereta api eksekutif AC Central pertama dan tertua yang sampai saat ini masih beroperasi di Indonesia.

Kereta api Bima pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Juni 1967[1]; mengawali sejarah pengoperasian kereta api berpengatur suhu ruangan/ Air Conditioner bersistem Modern di Indonesia. KA ini melayani perjalanan koridor Jakarta - Surabaya lewat Purwokerto, Yogyakarta, Solo, dan Madiun.

Asal-usul nama[sunting | sunting sumber]

Nama Bima merupakan singkatan dari Biru Malam, karena, pada awal peluncurannya, rangkaian kereta api ini bercat biru dan beroperasi pada malam hari. Selain itu, kata Bima dianalogikan pula dengan nama dari salah satu tokoh Mahabharata, Bima yang memang digambarkan memiliki karakter tubuh tinggi besar, kukuh, kekar, kuat, dan pemberani. Karakter itu dilekatkan pada KA Bima untuk menggambarkan keandalan perjalanan dan kualitas pelayanannya yang selalu siap dalam berbagai keadaan.

Sejarah[1][sunting | sunting sumber]

Kereta tidur[sunting | sunting sumber]

KA Bima ini diresmikan pada tanggal 1 Juni 1967 dengan menggunakan kereta tidur berwarna biru buatan pabrik Waggonbau Görlitz, Jerman Timur dan menjadi KA pertama yang menggunakan kereta pembangkit (DPPW). Awalnya peta rute KA ini mengikuti arah pendahulunya, Bintang Sendja. Yaitu, setelah dari Jakarta Gambir melewati Cirebon, kemudian melewati Semarang, kemudian menuju Kedungjati dan Solo Jebres serta Madiun dan Jombang, hingga akhirnya tiba di Surabaya. Tetapi, beberapa minggu berikutnya, rute KA diubah hingga melewati Purwokerto dan Yogyakarta, hingga sekarang.

Selama dekade 1960-an hingga awal 1980-an, KA Bima beroperasi dengan stamformasi (urutan rangkaian): satu buah lokomotif (berstriping/livery hijau-kuning PNKA/PJKA), dua kereta SAGW (eksekutif kelas I), dua kereta SBGW (eksekutif kelas II), satu kereta FW (makan), dan satu kereta DPPW (pembangkit) plus satu kereta bagasi; semua gerbong berwarna biru tua. KA ini menjadi KA eksekutif AC pertama di Indonesia dan menjadi KA yang populer. Ada kebanggan tersendiri (prestise) bagi siapa pun yang pernah menaiki KA Bima. Apalagi pada masa itu, kenyamanan moda transportasi lain tidak mampu menyamai kenyamanan yang ditawarkan KA Bima. Kualitas pelayanan KA Bima sekelas dengan hotel berbintang, sehingga menghemat biaya akomodasi dan transportasi sekaligus. KA Bima juga menghiasi berbagai media.

KA Eksekutif[sunting | sunting sumber]

Tahun 1967-1984 menjadi masa-masa indah KA Bima sebagai KA tidur. Akan tetapi, dengan alasan sosial daripada alasan finansial, kereta SAGW akhirnya dihapus. Sebagai persiapan, PJKA akhirnya mengimpor dua rangkaian kereta eksekutif buatan pabrik Arad, Rumania, bernomor seri K1-847xx (dibuat tahun 1984, nomor baru: K1 0 84 xx[catatan 1], yang kini dipakai oleh Argo Dwipangga dan Sembrani). Rangkaian kereta ini difungsikan untuk mengganti kereta SAGW yang berhenti beroperasi. Kereta ini adalah kereta dengan tempat duduk, tidak seperti SAGW-nya Görlitz yang merupakan kereta tidur.

Gerbong Arad ini dirangkai bersama gerbong SBGW. Sementara itu, sisa gerbong tidur SAGW sempat dipakai sebentar di layanan PJKA lainnya, seperti kereta api Mutiara Utara, Senja, atau Mutiara Selatan sebelum diistirahatkan. Tiga di antaranya menjadi gerbong kenegaraan, kini menjadi gerbong pariwisata, antara lain Nusantara, Bali, dan Toraja.

Gerbong K1-847xx ini diyakini sebagai kereta eksekutif terburuk yang pernah dimiliki oleh PJKA. Akibatnya, pada saat itulah, menurunlah kualitas pelayanan KA Bima. KA Bima tetap menggunakan stamformasi K1 dan SBGW (KT-677xx) hingga akhir dekade 1980-an, dan setelah awal dekade 1990-an, SBGW berhenti beroperasi. Kereta SAGW dan SBGW diubah menjadi gerbong eksekutif duduk dengan menghilangkan tempat tidur dan menggantinya dengan tempat duduk. Sistem penomoran SAGW dan SBGW diubah menjadi K1-67xxx (nomor baru: K1 0 67 xx).[catatan 1]

Peran SBGW kemudian digantikan oleh gerbong kuset (couchette). Kereta ini dimodifikasi dari kereta ekonomi buatan pabrik Nippon Sharyo yang sudah ada sejak 1964 dengan menambahkan AC, sekat ruangan, dan memasang tempat tidur yang paten. Namun, hingga tahun 1995, kebijakan Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) yang lebih mengejar okupansi daripada kualitas layanan membuat era gerbong tidur telah berakhir. Akhirnya, KA Bima berubah menjadi KA eksekutif biasa.

Regenerasi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1995, lahirlah KA Argo, yakni Argo Bromo JS 950 dan Argo Gede. Keberadaan kereta-kereta api ini menggeser layanan KA Bima dari posisi puncak kereta unggulan. Para penumpang lebih memilih KA Argo karena waktunya yang lebih cepat (Argo Bromo 9 jam, Bima 13 jam). Rute Argo Bromo yang melewati lintas utara (Pantura) ini mengikuti pendahulunya, Mutiara Utara dan Suryajaya, dan melewati kota besar seperti Semarang dan Bojonegoro, tidak seperti KA Bima yang melewati Purwokerto dan Yogyakarta yang terkesan lebih jauh.

Faktor lain yang mengakibatkan Argo Bromo lebih cepat adalah penguatan bantalan rel lintas Pantura yang sudah direncanakan sebelumnya (yang dahulu bertekanan gandar rendah karena sebagian merupakan bekas jalur trem). Dengan begitu, KA Argo Anggrek bisa dilalui oleh lokomotif besar (CC203 saat itu) dengan kecepatan penuh 120 km/jam. Selama bertahun-tahun KA Bima sudah makin terlupakan. Pilihan mereka justru tertuju kepada KA semacam Argo Bromo atau Sembrani. Perjalanan KA yang lama dan jauh mengakibatkan orang kurang tertarik naik KA Bima.

Akan tetapi, kemunculan Argo Bromo Anggrek produksi PT Inka tahun 1997 (P/K1/M1 0 97 xx) membuat armada Argo Bromo menjadi surplus. Maka rangkaian Argo Bromo dialihkan kepada KA Bima. Namun, kereta Argo eks-JS 950 ini terkadang bisa dipakai untuk lintas utara lagi jika kereta Anggrek mengalami masalah. Hal ini disebabkan karena jumlah kereta Anggrek sangat terbatas serta kerjanya berlebihan sehingga mudah rusak. Kemunculan kereta Anggrek tambahan tahun 2001 (P/K1/M1 0 01 xx) mengakibatkan JS 950 dihapus mulai tahun 2002 dan rangkaiannya dipakai seterusnya untuk KA Bima, hingga saat ini.

Pada awal tahun 2014, KA Bima kini diperpanjang rutenya hingga stasiun Malang. Pada tanggal 1 Juni 2014 KA Bima diubah nomor gapekanya dari 33-34 menjadi 41-42. Namun ada yang menyebutkan bahwa KA Bima memiliki nomor gapeka 41-42 (Gambir-Surabaya Gubeng pp) dan 43-44 (Surabaya Gubeng-Malang Kota Baru pp).

Lokomotif[sunting | sunting sumber]

KA Bima semasa ditarik CC204.

Semasa PNKA-PJKA, ada beragam lokomotif yang paling sering digunakan, seperti BB200, BB201, atau CC200. Bagi sebagian orang, BB301 lebih identik dengan awal-awal operasi KA Bima. Walaupun pada tahun 1977 muncul lokomotif CC201 buatan General Electric yang juga pernah menarik KA Bima, namun BB301 adalah loko yang paling sering digunakan untuk menarik KA Bima. Namun, seiring menurunnya kemampuan lokomotif BB301, pada tahun 1990, akhirnya CC201 dioperasikan sebagai lokomotif penarik KA Bima.

Mulai pada tahun 1995, lokomotif CC203 didatangkan sebagai penarik KA eksekutif, mengganti CC201 yang saat itu turun pangkat. Akhirnya CC203 menjadi andalan KA Bima. Namun, sejak hadirnya CC204, CC203 dan CC204 menjadi andalan KA Bima. Namun, mulai tahun 2013, lokomotif CC206 telah menggantikan CC203 dan CC204 menjadi andalan KA Bima dan KA eksekutif lainnya juga.

Sebagai KA eksekutif unggulan, KA Bima selalu menggunakan lokomotif yang terbaru, dalam hal ini adalah CC206, meski sesekali menggunakan lokomotif CC203 apabila stok lokomotif CC206 dari dipo terdekat telah habis atau ada gangguan pada lokomotif CC206.

Kelas dan rangkaian[sunting | sunting sumber]

KA Bima tiba di Stasiun Gambir

Kereta api Bima mulanya terbagi menjadi dua kelas kereta tidur eksekutif (SAGW/subkelas I dan SBGW/subkelas II). Gerbong SAGW memiliki jendela lebar dengan lorong yang berlekuk-lekuk dan kompartemen yang luas, serta diperuntukkan bagi penumpang yang membayar tiket paling mahal. Fasilitas yang tersedia seperti lemari pakaian, wastafel, serta tempat tidur yang dapat dilipat menjadi tempat duduk dan menghadap arah perjalanan.[1]

Sementara itu, gerbong SBGW memiliki kaca jendela agak pendek, fasilitas tempat tidur tiga tingkat, dan area merokok di koridor. Bahkan di gerbong pembangkit, pegawainya pun dapat tidur selama bertugas. Pada gerbong makan (FW) tersedia makanan dengan sistem tuslah dan interiornya pun menyerupai restoran.[1]

Pada tahun 1997, KA Bima kemudian menggunakan kereta api sekelas Argo (eks-Argo Bromo JS-950, kode K1 0 95 xx) dengan kapasitas angkut sebanyak 300-400 orang (membawa rangkaian 6-8 kereta kelas eksekutif).

Saat ini, rangkaian KA Bima terdiri dari 6-8 kereta kelas eksekutif argo (K1), 1 gerbong makan (M1), 1 gerbong pembangkit (P), dan 1 gerbong bagasi (B). KA eks-Argo Bromo yang digunakan Bima memiliki ciri khas yaitu AC yang kotak (buatan 1995), berbeda dengan KA Argo setelahnya (buatan 1996 yang AC-nya berbentuk lebih mengikuti lengkung atap tapi agak kotak, dan buatan 1998-2002 yang AC-nya berbentuk melengkung). Meskipun begitu, terkadang KA Bima memakai KA Argo generasi kedua atau KA Retrofit jendela pesawat.

PLB 8001/8002 Trainset KA BIMA Sedang Uji coba Rangkaian K1 0 16 19-27 Set 3 ft CC 203 98 02 SDT dan persiapan masuk MN

Mulai 1 Juni 2016 KA Bima sudah mendapatkan rangkaian kereta eksekutif terbaru produksi PT Inka tahun 2016 yang memiliki penampilan beda dengan bogie K10. Dengan nomor seri Gerbong P 0 16 03, K1 0 16 19, M1 0 16 03, K1 0 16 27 akan dialokasi di Jakarta Kota (JAKK).

Stasiun[sunting | sunting sumber]

Perjalanan Gambir - Surabaya Gubeng - Malang melalui Lintas Selatan ditempuh dalam waktu kurang lebih 13 jam dan berhenti di stasiun Jatinegara (arah ke Jakarta), Cirebon, Purwokerto, Karanganyar, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Jombang, Mojokerto, Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Lawang, Malang. Selain itu, banyak penumpang KA Bima yang melanjutkan perjalanan ke Denpasar, Jember, Pasuruan, Probolinggo dan Banyuwangi dengan menggunakan Kereta api Mutiara Timur.

Pada pagi harinya, rangkaian KA Bima yang berada di Surabaya digunakan untuk trayek Surabaya - Malang. Sedangkan KA Bima yang berada di Jakarta diistirahatkan di Jakarta Kota untuk diberangkatkan kembali pada sore hari.

Data teknis[sunting | sunting sumber]

Lintasan perjalanan Gambir-Surabaya Gubeng-Malang, pp.
Lokomotif BB301 (1967-1977), CC201 (1977-1997), CC203 (1997-2013), CC204 (2005-2013), CC206 (2013-saat ini)
Rangkaian Dua kereta tidur kelas I (SAGW), dua kereta tidur kelas II (SBGW), satu kereta makan (FW), satu kereta pembangkit (DPPW), dan satu kereta bagasi (B) (1967-1984)

Dua kereta tidur kelas II (SBGW/KT-677xx), dua kereta eksekutif (K1), satu kereta makan (FW), satu kereta pembangkit (DPPW), dan satu kereta bagasi (B) (1984-1991)
Dua kereta kuset (KT), dua kereta eksekutif (K1), satu kereta makan (FW), satu kereta pembangkit (DPPW), dan satu kereta bagasi (B) (1991-1997)
Satu kereta bagasi (B), tujuh atau delapan kereta eksekutif (K1), satu kereta makan (M1/KM1) dan satu kereta pembangkit (P). (sejak 1997-saat ini)

Jumlah tempat duduk 400 tempat duduk

Keterangan:

  • Pada dasawarsa 1970-1980-an, KA Bima mengalami pergantian lokomotif di Stasiun Tugu mengingat perjalanan Gambir-Surabaya Gubeng sangat jauh.

Tarif[sunting | sunting sumber]

Tarif kereta api ini adalah antara Rp 265.000,00 - Rp 570.000,00, bergantung pada jarak yang ditempuh penumpang, subkelas/posisi tempat duduk dalam rangkaian kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional. Selain itu, berlaku pula tarif khusus yang dapat dipesan mulai:

  • Sembilan puluh hari sebelum keberangkatan (H-90):
  • Dua jam sebelum keberangkatan (pemesanan hanya bisa dilakukan di loket stasiun):

Jadwal perjalanan[sunting | sunting sumber]

Jadwal Perjalanan KA Bima Mulai 1 April 2015

Stasiun Kedatangan Keberangkatan
KA 43/46 (Malang-Surabaya Gubeng-Gambir)
Malang - 14.25
Lawang 14.48 14.52
Sidoarjo 15.49 15.56
Surabaya Gubeng 16.19 17.00
Mojokerto 17.36 17.40
Jombang 18.02 18.05
Nganjuk 18.40 18.50
Madiun 19.31 19.38
Solo Balapan 20.52 20.58
Yogyakarta 21.45 22.00
Karanganyar 23.25 23.27
Purwokerto 00.24 00.30
Cirebon 02.27 02.35
Jatibarang 03.05 03.07
Jatinegara 05.16 05.18
Gambir 05.29 -
KA 44/45 (Gambir-Surabaya Gubeng-Malang)
Gambir - 16.45
Jatibarang 19.00 19.02
Cirebon 19.31 19.38
Purwokerto 21.34 21.40
Sumpiuh 22.20 22.28
Kebumen 23.07 23.16
Kutowinangun 23.25 23.40
Yogyakarta 00.46 01.05
Solo Balapan 01.53 02.00
Madiun 03.16 03.25
Nganjuk 04.06 04.08
Jombang 04.43 04.46
Mojokerto 05.09 05.12
Surabaya Gubeng 05.48 06.20
Sidoarjo 06.44 06.46
Lawang 07.43 07.47
Malang 08.10 -

Galeri[sunting | sunting sumber]

Insiden[sunting | sunting sumber]

Interior KA Eksekutif Bima
  1. Pada bulan Oktober 2010, kereta api Bima menyerempet kereta api Gaya Baru Malam Selatan (GBMS), pada kereta paling belakang, di Stasiun Purwosari, Jawa Tengah, karena KA Gaya Baru Malam belum parkir penuh[2]
  2. Pada tanggal 8 September 2015, pukul 05.20 WIB, KA Bima menabrak mobil pickup yang menerobos pintu perlintasan di Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Akibatnya, jadwal kereta api jarak jauh dan KRL pagi itu terganggu.[3]
  3. Seorang ibu beserta anaknya tewas tertabrak KA Bima di perlintasan tanpa palang pintu, di Desa Kramatjegu, Taman, Sidoarjo, pada tanggal 10 November 2015 setelah pulang dari pasar. Karena ada perlintasan tanpa palang pintu itu dijaga secara swadaya oleh masyarakat.[4]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 45 tahun 2010.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]