Kereta api Sancaka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kereta api Sancaka
PapanKeretaApi 2020.svg
KA SANCAKA
Surabaya Gubeng - Yogyakarta (PP)
Sancaka MN.jpg
Kereta api Sancaka meninggalkan Stasiun Madiun
Informasi umum
Jenis layananKereta api antarkota
StatusBeroperasi
Mulai beroperasi21 Mei 1997
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia
Lintas pelayanan
Stasiun awalSurabaya Gubeng
Jumlah pemberhentianLihatlah di bawah.
Stasiun akhirYogyakarta
Jarak tempuh308 km
Waktu tempuh rerata4 jam
Frekuensi perjalananDua kali pergi pulang sehari
Jenis relRel berat
Pelayanan
KelasEksekutif dan ekonomi premium (reguler)
Pengaturan tempat duduk
  • 50 tempat duduk disusun 2-2 (kelas eksekutif)
    kursi dapat direbahkan dan diputar
  • 80 tempat duduk disusun 2-2. Sebanyak 40 kursi ke arah depan dan 40 ke arah belakang (kelas ekonomi premium)
    kursi dapat direbahkan
Fasilitas restorasiAda
Fasilitas observasiKaca panorama dupleks dengan tirai dan lapisan laminasi isolator panas
Fasilitas hiburanAda
Fasilitas lainLampu baca, toilet, alat pemadam api ringan, rem darurat, penyejuk udara, dan peredam suara
Teknis sarana dan prasarana
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional60 s.d. 100 km/jam
Pemilik jalurDitjen KA, Kemenhub RI
Nomor pada jadwal175-176 (reguler)
177F-178F (fakultatif)

Kereta api Sancaka merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi premium yang dioperasikan oleh Kereta Api Indonesia untuk menghubungkan Kota Surabaya di Jawa Timur dengan Kota Yogyakarta di Jawa bagian tengah.

Per April 2021, kereta api ini berhenti melayani penumpang di Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Solo Balapan, dan Klaten.

Pengoperasian kereta api[sunting | sunting sumber]

Kereta api Sancaka saat masih melayani kelas bisnis—meninggalkan Stasiun Surabaya Gubeng, 2015

Kereta api Sancaka pertama kali beroperasi pada 21 Mei 1997 yang memiliki waktu keberangkatan dari Surabaya pada pagi hari dan dari Yogyakarta pada sore hari. PT Kereta Api kemudian meluncurkan kereta api Sancaka II pada 1 Desember 2002 untuk memberikan pilihan perjalanan dengan waktu keberangkatan berbeda dari sebelumnya.[butuh rujukan]

Pada awalnya, kereta api Sancaka beroperasi melayani kelas eksekutif dan bisnis—sebelum layanan kelas bisnis mengalami perubahan menjadi kelas ekonomi plus pada 16 Oktober 2016.[1][2]

Per 8 April 2019, kereta api Sancaka beroperasi menggunakan rangkaian kereta baja nirkarat buatan Industri Kereta Api dengan layanan kelas eksekutif dan ekonomi premium.[3]

Per 10 Februari 2021, status perjalanan kereta api Sancaka dengan keberangkatan dari Yogyakarta pada pagi hari dan dari Surabaya pada sore hari diubah menjadi kereta api fakultatif yang dijalankan pada saat tertentu.[4] Dengan demikian, kereta api ini hanya beroperasi satu kali perjalanan pulang-pergi secara reguler.

Waktu tempuh[sunting | sunting sumber]

Per Agustus 2020 hingga penerapan Grafik Perjalanan Kereta Api per 10 Februari 2021, kereta api Sancaka mengalami pengurangan stasiun pemberhentian sehingga dapat mempercepat waktu tempuh.[5] Adapun stasiun yang terkena dampak pengurangan stasiun pemberhentian kereta api ini, antara lain Stasiun Kertosono dan Stasiun Ngawi.[5] Stasiun Nganjuk dan Stasiun Klaten sempat tidak melayani pemberhentian kereta api Sancaka, namun kedua stasiun tersebut kini kembali melayani per April 2021.[5] Kereta api ini menempuh perjalanan dari Surabaya Gubeng menuju Yogyakarta selama 4 jam berdasarkan jadwal perjalanan per 10 Februari 2021, satu jam lebih cepat bila dibandingkan dengan perjalanan per 1 Desember 2019 yang ditempuh selama 5 jam.[4]

Insiden[sunting | sunting sumber]

Pada 6 April 2018 sekitar pukul 18.25, terjadi kecelakaan antara kereta api Sancaka tujuan Surabaya (KA 86) dengan sebuah truk pengangkut bantalan rel beserta mobil pada km 215+8 di Sambirejo, Mantingan, Ngawi yang disebabkan karena truk mogok di atas rel saat hendak melewati perlintasan liar tak berpalang dan mengakibatkan seorang masinis dan seorang pekerja pembangunan jalur ganda tewas, asisten masinis mengalami patah tulang, dan sekitar 500 penumpang terlantar. Kecelakaan ini mengakibatkan perjalanan kereta api lintas Madiun–Solo mengalami keterlambatan parah.[6]

Data teknis[sunting | sunting sumber]

Rute Surabaya GubengYogyakarta pp.
Susunan rangkaian kereta
Kereta nomor 1 2 3 4 Kereta makan (M1) 1 2 3 4 5 Kereta pembangkit (P)
Keterangan Kereta penumpang kelas ekonomi premium (K3) Kereta penumpang kelas eksekutif (K1)
Catatan : Susunan rangkaian kereta dapat berubah sewaktu-waktu.

Stasiun pemberhentian[sunting | sunting sumber]

Provinsi Kota/Kabupaten Stasiun Keterangan
Jawa Timur Surabaya Surabaya Gubeng Stasiun ujung, terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal dan KRD
Mojokerto Mojokerto Terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal dan KRD
Jombang Jombang Terletak di tepi jalan raya yang dilalui bus antarkota arah Madiun
Terintegrasi dengan kereta api ekonomi lokal
Nganjuk Nganjuk Nasional 17 di {{Rute/Kode daerah Terletak di tepi Jalan Raya Nasional yang dilalui sebagian bus patas (pada siang hari) dan bus antarkota (pada malam hari)
Madiun Madiun
Jawa Tengah Surakarta Solo Balapan Terintegrasi dengan:
Klaten Klaten Terintegrasi dengan:
Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta Yogyakarta (Tugu) Stasiun ujung, terintegrasi dengan:

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]