Kereta api Turangga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kereta api Turangga
Plat nama KA Turangga.png
Kereta api Turangga stasiun Madiun.JPG
Kereta api Turangga masuk Stasiun Madiun
Info
Kelas Eksekutif satwa
Sistem Kereta api ekspres
Status Beroperasi
Lokal Daop 8 Surabaya
Stasiun terminus Surabaya Gubeng
Bandung Hall
Jumlah stasiun 12-14
Rute pelayanan 1
Nomor KA 49-50
Operasional
Dibuka 2 September 1995 (eksekutif dan bisnis)
11 Oktober 1999 (eksekutif satwa)
Pemilik PT Kereta Api Indonesia
Operator Daerah Operasi VIII Surabaya
Depot Sidotopo (SDT), Untuk Rangkaian Kereta dan Lokomotif
Bandung (BD), Untuk Lokomotif Kereta
Stanformasi CC206
Lebar sepur 1067 mm
Elektrifikasi -
Kecepatan operasi 50 s.d. 100 km/jam
Peta Rute

Peta rute Kereta api Argo Wilis, Mutiara Selatan, Turangga, dan Pasundan

Keterangan:

  • KA Argo Wilis dan Turangga tidak berhenti di Kiaracondong dan Lempuyangan
  • KA Mutiara Selatan tidak berhenti di Lempuyangan
  • KA Pasundan tidak berhenti di Yogyakarta dan Bandung
Surabaya Kota
Head station
Sidotopo
Junction to left Continuation to right
Surabaya Gubeng
Station on track
Wonokromo
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Sidoarjo
Junction to left Continuation to right
Jembatan Mayangkara
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Jalan Tol Surabaya-Gempol
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Jalan Surabaya-Mojokerto
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
ke Sidoarjo
Unknown route-map component "KRWg+l" Continuation to right
Tarik
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Gempol
Unknown route-map component "KRWg+l" Continuation to right
Mojokerto
Unknown route-map component "xpBHF"
Jombang
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Blitar
Unknown route-map component "KRWg+l" Continuation to right
Kertosono
Station on track
Nganjuk
Unknown route-map component "xpBHF"
Madiun
Station on track
Sragen
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Sumber Lawang
Continuation to left Unknown route-map component "KRWgr+r"
Solo Balapan
Station on track
Flyover Dr.Soetomo, Yogya
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Lempuyangan
Station on track
Kali Code, Yogya
Bridge over water
Yogyakarta
Station on track
Kebumen
Unknown route-map component "xpBHF"
Karanganyar
Station on track
Kroya
Unknown route-map component "xpBHF"
ke Purwokerto
Continuation to left Junction to right
Depo Pertamina, Maos
Non-passenger station/depot on track
ke Cilacap
Junction to left Continuation to right
Banjar
Station on track
Tasikmalaya
Station on track
Ciawi
Unknown route-map component "xpBHF"
Jalan Tol Padalarang-Cileunyi
Unknown route-map component "AKRZ-UKu"
Jalan Soekarno-Hatta, Bandung
Unknown route-map component "AKRZ-AUKum"
Kiaracondong
Station on track
Bandung
Station on track
ke Gambir, Jakarta
Continuation forward


Kereta api Turangga adalah kereta api kelas Eksekutif Satwa yang dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Pulau Jawa dengan jurusan Bandung Hall (BD) - Surabaya Gubeng (SGU) dan sebaliknya.

Operasional[sunting | sunting sumber]

KA Turangga pertama kali beroperasi pada tanggal 02 September 1995. Perjalanan sejauh 699 km ditempuh dalam waktu sekitar 12,5-13 jam dan berhenti di Stasiun Bandung, Cipeundeuy, Tasikmalaya, Banjar, Kroya, Sumpiuh(hanya KA49),Kutoarjo, Yogyakarta, Solo Balapan, Madiun, Wilangan(hanya KA49) Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto, dan terakhir Surabaya Gubeng.

Pada awal pengoperasiannya, kereta ini diluncurkan dengan kelas Bisnis dan Eksekutif. Namun, sejak 11 Oktober 1999 semua rangkaiannya diubah menjadi kelas Eksekutif Satwa, seiring dengan datangnya rangkaian baru dari PT Inka. (K1-995xx, nomor baru K1 0 99 XX). Kelas bisnis untuk jalur ini pun dialihkan ke KA Mutiara Selatan, dan rangkaian bisnis Turangga dipakai oleh KA Gajayana yang baru beroperasi.

Kereta api dengan desain layanan kelas Eksekutif Satwa ini menawarkan alternatif perjalanan Bandung-Surabaya dan sebaliknya pada malam hari, oleh karena itu pada pengumuman nama kereta di stasiun pemberhentian, kereta ini sering ditambahkan istilah 'Ekspres Malam'; untuk perjalanan pada siang hari dilayani oleh kereta api Argo Wilis, sebuah kereta api kelas Eksekutif Argo yang beroprasi di jalur luar Jakarta. Kereta Api Ekspres Malam Turangga berangkat dari Stasiun Bandung (BD) pada pukul 19.30 WIB dan dari Stasiun Surabaya Gubeng (SGU) pada pukul 16.30 WIB. Rangkaian KA Turangga terdiri dari 6-8 kereta penumpang kelas Eksekutif, ada yang memiliki kaca (seperti) pesawat dan yang memiliki kaca lebar (K1), 1 kereta makan (KM1/M1), 1 gerbong pembangkit (P), dan 1 gerbong bagasi (B).

Sejak tanggal 19 Januari 2009, rangkaian kereta api Turangga diganti dengan rangkaian kereta (seperti) pesawat yang memiliki interior hijau. Meskipun kereta retrofit, kereta retrofit ini sebagian yang buatan tahun 60-an, tidak seperti rangkaian KA Turangga asli yang dibuat tahun 1999 di INKA. (Meskipun beberapa kereta buatan 1999 juga diretrofit) Namun, dewasa ini, KA Ekspres Malam Turangga tidak sepenuhnya lagi menggunakan kereta (seperti) pesawat. Satu rangkaian kereta retrofit tersebut kini dibawa rangkaian Kereta api Sancaka relasi Surabaya Gubeng-Yogyakarta.

Pada pagi hari di Bandung, rangkaian kereta ini akan digunakan sebagai KA Argo Parahyangan Tambahan relasi bandung-jakarta. Sekarang KA Turangga tidak lagi sepenuhnya menggunakan KA retrofit, kini juga menggunakan rangkaiannya yang lama buatan 1999 dan eks-Gajayana buatan 2001, serta tidak jarang bertukar rangkaian dengan Kereta api Bangunkarta.

Tarif[sunting | sunting sumber]

Interior Kereta Api Turangga

Tarif kereta api ini adalah antara Rp 210.000,00 - Rp 500.000,00, bergantung pada jarak tempuh, subkelas/posisi tempat duduk dalam rangkaian kereta, serta hari-hari tertentu seperti akhir pekan dan libur nasional. Selain itu, berlaku pula tarif khusus yang hanya dapat dipesan di loket stasiun mulai dua jam sebelum keberangkatan kereta api ini pada stasiun yang berada dalam rute berikut.

Jadwal[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah jadwal perjalanan KA Turangga per 1 April 2015 (berdasarkan Gapeka 2015).

Per 1 Desember 2015, KA ini juga berhenti di Kertosono.

Stasiun Kedatangan Keberangkatan
KA 55 Turangga (Surabaya Gubeng-Bandung)
Surabaya Gubeng - 16.30
Wonokromo 17.06 17.08
Mojokerto 17.41 17.45
Jombang 18.08 18.11
Kertosono 18.27 18.30
Nganjuk 18.51 19.01
Madiun 19.42 19.49
Solo Balapan 21.03 21.09
Yogyakarta Tugu 21.56 22.11
Sumpiuh 23.57 23.59
Banjar 01.32 01.38
Tasikmalaya 02.28 02.36
Cipeundeuy 03.24 03.34
Bandung Hall 05.16 -
KA 56 Turangga (Bandung-Surabaya Gubeng)
Bandung Hall - 17.45
Cipeundeuy 19.27 19.37
Tasikmalaya 20.25 20.32
Banjar 21.22 21.28
Notog 23.09 23.17
Kebumen 23.48 23.57
Kutoarjo 00.22 00.37
Yogyakarta Tugu 01.29 01.48
Solo Balapan 02.35 02.42
Madiun 03.56 04.05
Nganjuk 04.46 04.49
Kertosono 05.10 05.13
Jombang 05.29 05.32
Mojokerto 05.55 05.58
Wonokromo 06.31 06.33
Surabaya Gubeng 06.39 -

Keterangan:Pada stasiun bertanda *) akan melakukan persilangan/persusulan normal

Persilangan dan Persusulan[sunting | sunting sumber]

  1. Di Stasiun Mojokerto Kereta Turangga tujuan Surabaya Gubeng (KA50) bersilangan dengan Kereta api Argo Wilis (KA5) tujuan Bandung Hall yang berjalan langsung
  2. Di Stasiun Wilangan Kereta Turangga tujuan Bandung Hall (KA49) bersilangan dengan Kereta api Argo Wilis (KA6) tujuan Surabaya Gubeng yang berjalan langsung
  3. Di Stasiun Sumpiuh Kereta Turangga tujuan Bandung Hall (KA49) bersilangan dengan Kereta api Gajayana (KA42) tujuan Malang Kotabaru yang berjalan langsung.
  4. Di Stasiun Kroya Kereta Turangga tujuan Bandung Hall (KA49) akan disusul oleh Kereta api Bima (KA43/46) tujuan Jakarta Gambir yang berjalan langsung

Menuju Pulau Bali[sunting | sunting sumber]

KA Turangga juga dipakai sebagai moda transportasi dari Bandung ke objek wisata yang ada di Pulau Bali dan sekitarnya. Setiba di Surabaya, penumpang transit ruang VIP Stasiun Surabaya Gubeng untuk kemudian meneruskan perjalalan ke Banyuwangi dengan Mutiara Timur Pagi dan sampai di Banyuwangi pada sore hari. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan bus kerja sama PT Kereta Api Indonesia dengan Damri menuju Denpasar, Bali. Demikian juga sebaliknya, berangkat dari Banyuwangi dengan menggunakan KA Mutiara Timur Pagi untuk sampai di Surabaya Gubeng, kemudian transit di ruang VIP Stasiun Surabaya Gubeng dan meneruskan perjalanan menuju Mojokerto, Jombang, Kertosono, Nganjuk, Madiun, Solo Balapan, Yogyakarta, Kutoarjo, Kroya, Banjar, Tasikmalaya, maupun Bandung dengan menggunakan KA Turangga.

Menuju ke Jakarta[sunting | sunting sumber]

KA Turangga juga dipakai sebagai moda transportasi penghubung dari Surabaya Gubeng ke objek wisata yang ada di Jakarta dan sebaliknya. Untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Gambir dengan Argo Parahyangan pagi dan sampai di gambir pada siang hari.

Asal usul nama[sunting | sunting sumber]

Nama Turangga diambil dari nama lain kuda tunggangan para raja/bangsawan di Jawa yang melambangkan kendaraan yang bisa melaju dengan kencang dalam berbagai keadaan.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]