Kali Serayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sungai Serayu
Kali Serayu, Ci Sarayu, Kali Seraju, Kali Serajoe, Chi Seraju, Serdju, Serajoe River, Serayu River
Serayu 141120-0039 rwg.JPG
Sungai Serayu dekat Kebasen, Banyumas
Kali Serayu berlokasi di Jawa
Kali Serayu
Lokasi mulut sungai
Kali Serayu berlokasi di Indonesia
Kali Serayu
Kali Serayu (Indonesia)
Lokasi
NegaraIndonesia
ProvinsiJawa Tengah
Ciri-ciri fisik
Sumber 
 - lokasiDieng
 - elevasi2,100 m (6,900 ft) dpl
Mulut sungai 
 - lokasiSamudra Hindia
Panjang181 km (112 mi)
Debit air 
 - rata-rata2,866 m3/s (101,200 cu ft/s)
Daerah Aliran Sungai
Ukuran cekungan4,375 km2 (1,689 sq mi)
Informasi lokal
Zona waktuWIB (UTC+7)
GeoNames1627511

Kali Serayu atau Sungai Serayu (dulu juga disebut Ci Sarayu) adalah salah satu sungai di Jawa Tengah, Indonesia, sekitar 300 km di tenggara ibu kota Jakarta.[1][2] Membentang dari timur laut ke barat daya sejauh 181 km, sungai ini melintasi lima kabupaten yakni Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, hingga bermuara di Samudra Hindia di wilayah Kabupaten Cilacap.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Hulu sungai ini berada di lereng Gunung Prahu di wilayah Dieng, Wonosobo. Mata airnya dikenal sebagai Tuk Bima Lukar (mata air Bima Lukar). Memiliki banyak anak sungai, total daerah aliran sungai Serayu mencapai luas 4.375 km². Mengalir kurang lebih ke arah barat-barat daya, di sisi selatan aliran ini dibatasi oleh deretan perbukitan yang dinamai Pegunungan Serayu Selatan.[3]

Selain Kali Serayu yang berhulu di G. Prahu dan G. Sindoro, beberapa anak sungainya di antaranya Kali Begaluh dari lereng G. Sumbing; Kali Tulis dari G. Prahu; Kali Merawu dari G. Prahu; Kali Klawing yang anak-anak sungainya kebanyakan berhulu di G. Slamet, G. Walirang dan G. Jaran; Kali Pekacangan (anak Kali Klawing) dari G. Rogojembangan; Kali Sapi yang berhulu di Pegunungan Serayu Selatan; Kali Banjaran, Kali Logawa, Kali Tenggulun, Kali Kawung, serta Kali Tajum, yang semuanya berhulu di G. Slamet.[3][4]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kemungkinan, nama Serayu diambil dari nama Sungai Sarayu dalam wiracarita Ramayana. Sarayu adalah sungai yang mengalir dekat Ayodya, kota tempat kelahiran Raden Rama Regawa, tokoh utama dalam kisah Ramayana. Adaptasi nama-nama lokasi dalam wiracarita India serta identifikasinya dengan kondisi setempat di Jawa telah diuraikan oleh Raffles,[5] dan belakangan dibahas pula oleh Denys Lombard.[6]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sungai ini mengalir di wilayah tengah selatan pulau Jawa yang beriklim muson tropis (kode: Am menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[7] Suhu rata-rata setahun sekitar 24 °C. Bulan terpanas adalah Maret, dengan suhu rata-rata 25 °C, and terdingin Agustus, sekitar 23 °C.[8] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 3897 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Januari, dengan rata-rata 561 mm, dan yang terendah September, rata-rata 34 mm.[9]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Lingkungan di sekitar hulu Serayu di Dieng (1918).

Kali Serayu mempunyai debit air yang cukup besar. Di bagian hulu di wilayah Banjarnegara, sungai ini memiliki debit 656 m³/detik. Dengan bertambahnya air yang masuk dari anak-anak sungainya, di bagian hilir debit ini meningkat menjadi sebesar 2.866 m³/det dan 2.797 m³/det, berturut-turut di Banyumas dan Rawalo.[4]

Bendungan Panglima Besar Sudirman dibangun di Kali Serayu ini lk. 10 km di barat kota Banjarnegara[10]. Bendungan yang juga dikenal dengan sebutan Waduk Mrica atau Mrican ini memiliki luas genangan lk. 12 km², jika terisi penuh[11]. Selain dimanfaatkan untuk pengairan dan wisata, Waduk Mrica terutama dibangun untuk memasok PLTA Mrica berkapasitas 184,5 MW.[10]

Wisata petualangan arung jeram telah dikembangkan di bagian hulu Kali Serayu. Wisatawan biasanya memulai kegiatan ini dari Desa Tunggara dan Desa Prigi di Banjarnegara.[12]

Ancaman kelestarian[sunting | sunting sumber]

Kelestarian perairan Kali Serayu terutama terancam oleh sedimentasi, dan belakangan juga oleh polusi air. Sedimentasi atau pelumpuran di sungai ini diakibatkan oleh erosi tanah, terutama yang terjadi di wilayah dataran tinggi Dieng[11]. Catatan tahun 2005 menyebutkan bahwa di sepanjang daerah aliran Serayu masih ada 187 industri yang belum memiliki instalasi pengolahan air limbah standar, termasuk 92 rumah sakit, 124 hotel, dan belasan usaha lain. Akan tetapi cukup banyak pula industri lokal dan perusahaan-perusahaan di Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Purwokerto yang telah sadar lingkungan dan mengikuti program kali bersih (Prokasih) untuk menyelamatkan Kali Serayu.[13]

Jalur kereta api[sunting | sunting sumber]

Maskapai Kereta Api Lembah Serayu atau Serajoedal Stoomtram Maatschappij adalah perusahaan kereta api yang pernah beroperasi pada masa Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1891 menyusuri lembah Sungai Serayu. Rute kereta api ini menghubungkan kota-kota Maos - Purwokerto - Sokaraja - Purbalingga - Banjarnegara - Wonosobo. Jalur kereta ini sekarang sudah dinon-aktifkan.

Pada masa sekarang, PT Kereta Api Indonesia mengoperasikan KA Serayu, yakni kereta api kelas Ekonomi AC yang menghubungkan rute Purwokerto - Kroya - Maos - Tasikmalaya - Bandung - Purwakarta, hingga Jakarta Kota.

Musik[sunting | sunting sumber]

Sungai Serayu juga dijadikan tema dalam lagu keroncong Di Tepinya Sungai Serayu.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kali Serayu at Geonames.org (cc-by); Last updated 2013-06-04; Database dump downloaded 2015-11-27
  2. ^ Rand McNally, The New International Atlas, 1993.
  3. ^ a b Munir, A. 2009. Karakteristik daerah aliran sungai (DAS) Serayu Provinsi Jawa Tengah berdasarkan kondisi fisik, sosial, serta ekonomi. Dept. Geografi FMIPA Universitas Indonesia. (paper tidak diterbitkan)
  4. ^ a b Purnama, S. 2010. Potensi sumberdaya air DAS Serayu. JRL 6(3): 291-303. ISSN 2085-3866
  5. ^ Raffles, Th.S. (1830). The History of Java. 2nd Ed. vol. II: 460-1. London:John Murray.
  6. ^ Lombard, D. (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya. vol. III (Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris): 7-9. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
  7. ^ Peel, M C; Finlayson, B L; McMahon, T A (2007). "Updated world map of the Köppen-Geiger climate classification". Hydrology and Earth System Sciences. 11: 1633–1644. doi:10.5194/hess-11-1633-2007. Diakses tanggal 30 January 2016. 
  8. ^ "NASA Earth Observations Data Set Index". NASA. 30 January 2016. 
  9. ^ "NASA Earth Observations: Rainfall (1 month - TRMM)". NASA/Tropical Rainfall Monitoring Mission. 30 January 2016. 
  10. ^ a b Dinas Budpar Banjarnegara: Wisata Waduk Mrica. Diakses 5/XII/2014.
  11. ^ a b Tempo.co: Usia Waduk Mrica Diperkirakan Tinggal 12 Tahun. Diakses 5/XII/2014.
  12. ^ Kab. Banjarnegara: Arung Jeram Kaliserayu. Diakses 5/XII/2014.
  13. ^ Harian Suara Merdeka OL: Serayu, Sungai Dambaan Para Petani. Diakses 5/XII/2014.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]


Koordinat: 7°41′09″S 109°06′31″E / 7.68583°S 109.10861°E / -7.68583; 109.10861