Kali Buaran
| Kali Buaran Kali Boearan | |
|---|---|
Kali Buaran ("K. Buaran") sebelah kanan tengah pada Peta Tata Air Jakarta (2012) | |
| Lokasi | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Jakarta dan Jawa Barat[1] |
| Ciri-ciri fisik | |
| Hulu sungai | |
| - lokasi | Jatiraden[1] |
| - koordinat | 6°20′46″S 106°55′19″E / 6.346°S 106.922°E[1] |
| - elevasi | 66 mdpl[1] |
| Muara sungai | Banjir Kanal Timur |
| - koordinat | 6°11′01″S 106°55′44″E / 6.183590°S 106.928874°E |
| Panjang | 1.887 km (1.173 mi) |
| Daerah Aliran Sungai | |
| Sistem sungai | DAS Buaran[1] |
| Luas DAS | 79 km2 (31 sq mi)[1] |
| Otoritas DAS | BPDAS Citarum-Ciliwung[1] |
| Informasi lokal | |
| Zona waktu | WIB (UTC+7) |
| GeoNames | 1647990 |
| KML Peta DAS Buaran | |
Kali Buaran adalah sungai yang mengalir di Kota Bekasi, Jawa Barat, dan bagian timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia.[2] Bagian hilir sungai ditampung di Banjir Kanal Timur yang meneruskan hingga bermuara di kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.[3] Sungai dengan panjang 18,87 kilometer (11,73 mi) ini sering menyebabkan banjir di Kota Bekasi[4] dan Jakarta.[5]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Kali Buaran terkait erat dengan Kali Cakung dan Kali Jatikramat. Ketiganya berkelok-kelok datang dari Bekasi dan saling terhubung hingga muara di Teluk Jakarta di kawasan Marunda melalui Cakung Drain. Dulu, ketiga sungai itu sumber air untuk persawahan, bahkan bisa diminum.[6]
Sejak tahun 1966, berdasarkan informasi di situs resmi Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (www.bbwscitarum.com), Kali Buaran termasuk empat sungai yang dilintasi oleh Saluran Irigasi Tarum Barat atau yang lebih dikenal dengan nama Kali Malang. Kali Buaran dan Jati Kramat berada sekitar 5 meter di bawah saluran Kalimalang. Kalimalang melintang timur-barat melalui saluran yang dibangun khusus di atas alur Kali Buaran dan Jati Kramat.[7]
Hingga sebelum tahun 1990 warga dapat mandi dan berenang di Kali Buaran. Memasuki tahun 1993 areal persawahan di sekitar rumah penduduk mulai hilang, berganti dengan permukiman, terutama sejak dibangun jalan layang yang menghubungkan Jalan Radjiman dengan Jalan Radin Inten II. Pembangunan jalan itu menghubungkan area Duren Sawit dan Pulogadung. Karena dekat dengan area industri Pulogadung, hunian di Kampung Warudoyong kini makin padat. Rumah semipermanen pun tumbuh di bantaran Kali Buaran. Sejak itu pula, wajah sungai itu menjadi kotor dan berwarna gelap.[8]
Kali Buaran dan Kali Jati Kramat sering meluap dan menyebabkan banjir. Pada tahun 2007 luapan Kali Buaran nyaris merendam rel kereta di Stasiun Buaran yang berada 5 meter di atas sungai.[6] Penelitian evolusi lahan di DKI Jakarta oleh Pieter J Kunu dan H Lelolterry, dosen pertanian Universitas Pattimura, Ambon, menunjukkan bahwa hal ini disebabkan karena pembangunan kota yang membuat 85 persen lahan di Jakarta kedap air, sehingga air permukaan tak lagi dapat diserap tanah dan akibatnya terjadi banjir. Jalan keluarnya ialah menambah badan air buatan untuk menampung air permukaan, yaitu Banjir Kanal Timur.[6] Kanal ini memotong Kali Cakung, Buaran, Jati Kramat, Sunter, dan Cipinang, merupakan upaya teknologi mengatasi banjir, memberikan ruang bagi air di timur dan utara Jakarta. Sejak terpotong kanal, aliran air kelima sungai yang datang dari hulu kini bermuara di Kanal Timur. Sementara alur kelima sungai setelah terpotong kanal digunakan sebagai drainase pembuangan dari saluran-saluran permukiman dan industri. Dengan adanya Kanal Timur, ada banyak permukiman terselamatkan dari banjir.[6] Kanal Timur mengubah bentuk Kali Jati Kramat, karena alur sungai ini tidak tampak lagi setelah terpotong Kanal Timur,[6] meskipun pada peta lama tampak tersambung ke Kali Buaran sepanjang hampir 50 meter.[7] Hanya alur Kali Buaran yang tampak tak mengalami perubahan. Lebar alur sungai itu nyaris sama, sebelum ataupun sesudah terpotong Kanal Timur, hingga alur itu bermuara di Cakung Drain.[7]
Hidrologi DAS
[sunting | sunting sumber]Kali Buaran adalah aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai (DAS) Buaran yang memiliki luas daerah tangkapan air mencapai 79 km2 (31 sq mi) yang mencakup beberapa wilayah kecamatan di Kota Bekasi dan bagian timur Jakarta. DAS Buaran sendiri termasuk DAS lintas provinsi dimana bagian hulunya berada di wilayah Jatiraden dan bermuara di Teluk Jakarta.[1] Aliran Kali Buaran dari kawasan hulunya teralihkan di wilayah Pondok Kelapa dekat Universitas Darma Persada sejak Kanal Banjir Timur dibuka.
Dalam pengelolaan daerah aliran sungai terkait konservasi, DAS Buaran masuk dalam wilayah kerja BPDAS Citarum-Ciliwung yang merupakan unit pelaksana teknis pada Ditjen PDASHL di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.[9] Sedangkan dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya air, DAS Buaran (digabung bersama dengan DAS Cakung) merupakan bagian dari satuan wilayah sungai yaitu WS Ciliwung-Cisadane di bawah otoritas BBWS Ciliwung-Cisadane.[10]
Geografi
[sunting | sunting sumber]Sungai ini mengalir di wilayah barat laut pulau Jawa yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[11] Suhu rata-rata setahun sekitar 28 °C. Bulan terpanas adalah September, dengan suhu rata-rata 31 °C, and terdingin Mei, sekitar 26 °C.[12] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 3674 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Desember, dengan rata-rata 456 mm, dan yang terendah September, rata-rata 87 mm.[13]
Normalisasi
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2016 dilakukan normalisasi Kali Buaran yang dimulai dengan meratakan bangunan-bangunan liar di sepanjang bantaran sungai.[14]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 "Peta Interaktif SIGAP Kementerian LHK - Klasifikasi DAS". Geoportal MenLHK. Diakses tanggal 2025-09-17.
- ↑ Kali Buaran - Geonames.org.
- ↑ Wujudkan Wisata Sungai, Kemenpar Dukung Sport Tourism BKT 5K - Nofie Tessar, Liputan6, 13 Sep 2017.
- ↑ Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Masih Rawan Banjir - Alsadad Rudi, Kompas.com - 21 Feb 2017.
- ↑ Kali Buaran Meluap, Permukiman di Taman Malaka Selatan Tergenang, Robertus Belarminus, Kompas.com - 21 Feb 2017.
- 1 2 3 4 5 Tiga Sungai Menghidupkan Timur Jakarta, Kompas.com - 28 Mei 2016.
- 1 2 3 Kanal Timur yang Mengubah Alur Sungai. Kompas.com - 24 Mei 2016.
- ↑ Kesadaran Menjaga Sungai yang Semakin Runtuh. Kompas.com - 08 Jun 2016.
- ↑ "Peraturan Menteri LHK No.14 Tahun 2022" (PDF). JDIH Kehutanan. 2025. Diakses tanggal 2025-09-21.
- ↑ ""PerMenPUPR No.04/PRT/M/2015 - Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai"". PERATURAN.GO.ID.
- ↑ Peel, M C; Finlayson, B L; McMahon, T A (2007). "Updated world map of the Köppen-Geiger climate classification". Hydrology and Earth System Sciences. 11. doi:10.5194/hess-11-1633-2007. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ "NASA Earth Observations Data Set Index". NASA. 30 January 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-06. Diakses tanggal 2017-10-13.
- ↑ "NASA Earth Observations: Rainfall (1 month - TRMM)". NASA/Tropical Rainfall Monitoring Mission. 30 January 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-04-19. Diakses tanggal 2017-10-13.
- ↑ 63 Bangunan di Bantaran Kali Dibongkar, Penghuni Mau Pulang Kampung Diarsipkan 2017-10-14 di Wayback Machine. - PoskotaNews - 30 Agustus 2016.
