Stasiun Kiaracondong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Stasiun Kiaracondong
Kereta Api Indonesia
B18C18

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun KAC.png
Stasiun Kiaracondong Utara.jpg
Bagian depan Stasiun Kiaracondong pintu utara
Nama lainStasiun Kircon
Lokasi
Ketinggian+681 m
OperatorKereta Api Indonesia
Daerah Operasi II Bandung
KAI Commuter
Letak dari pangkalkm 160+124 lintas BogorBandungBanjarKutoarjoYogyakarta[1]
Jumlah peron7
  • Satu peron sisi yang rendah
  • Satu peron sisi yang tinggi
  • Lima peron pulau pulau yang agak rendah
Jumlah jalur7
  • Jalur 2: sepur lurus dari arah Bandung
  • Jalur 3: sepur lurus arah Bandung sekaligus sepur raya jalur tunggal dari dan ke Cicalengka
Informasi lain
Kode stasiun
  • KAC
  • 1601
  • KIRCON
[2]
KlasifikasiBesar tipe B[2]
Sejarah
Dibuka1923
Nama sebelumnyaHalte Kiaratjondong
Operasi layanan
Argo Parahyangan (hanya KA 36 & 49), Mutiara Selatan, Pangandaran, Pasundan (reguler & tambahan), Malabar, Lodaya, Kahuripan, Serayu, Kutojaya Selatan, Cikuray, Cibatuan, Garut Cibatuan, dan Lokal Bandung Raya
Stasiun sebelumnya Logo KAI Commuter.svg Stasiun berikutnya
Cikudapateuh
ke arah Purwakarta
Bandung Raya Ekonomi
Purwakarta-Cicalengka
Cimekar
Perjalanan satu arah
Cikudapateuh
ke arah Padalarang
Bandung Raya Ekonomi
Padalarang-Cicalengka
Cimekar
ke arah Cicalengka
Padalarang-Cibatu
Cimekar
ke arah Cibatu
Cikudapateuh
ke arah Purwakarta
Purwakarta-Garut
Cimekar
ke arah Garut
Fasilitas dan teknis
FasilitasParkir Parkir sepeda Cetak tiket mandiri Ruang/area tunggu Pemesanan langsung di loket Layanan pelanggan Pusat informasi Musala Toilet Jalur difabel Tempat naik/turun Pos kesehatan Tempat bermain anak Galeri ATM Pertokoan/area komersial Ruang menyusui Isi baterai Area merokok Troli 
Tipe persinyalanElektrik tipe Alstom Solid State Interlocking[3]
Lokasi pada peta

Stasiun Kiaracondong (KAC) atau disebut juga dengan Stasiun Kircon adalah stasiun kereta api kelas besar tipe B di Kota Bandung, tepatnya di batas antara Kelurahan Babakansari dan Kelurahan Kebonjayanti. Stasiun yang terletak pada ketinggian +681 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung. Dahulu seluruh kereta api penumpang, mulai dari kelas eksekutif sampai ekonomi, dilayani di Stasiun Bandung. Peningkatan jadwal pemberangkatan di Stasiun Bandung menjadi alasan semua keberangkatan kereta api antarkota kelas ekonomi dipindahkan ke Stasiun Kiaracondong.

Stasiun Kiaracondong saat ini menjadi titik ujung timur jalur rel ganda kawasan Bandung Raya (Padalarang-Cicalengka). Saat ini kereta kelas campuran juga berhenti di stasiun ini untuk menaikturunkan penumpang, baik dalam perjalanan dari maupun ke Stasiun Bandung. Kebijakan ini menjadikan stasiun ini sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang kedua di kawasan tersebut.

Kereta api yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah KA Argo Wilis, Turangga, Pangandaran (arah Banjar), dan angkutan barang.

Stasiun ini memiliki ciri khas yaitu memperdengarkan melodi "Karatagan Pahlawan" setiap kedatangan maupun keberangkatan kereta.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dahulu, pada pembangunan jalur kereta api lintas Jawa yang dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), tidak ada Stasiun Kiaracondong dan Cikudapateuh, apalagi Andir, Ciroyom, maupun Bandung Gudang. Peta tahun 1894 hanya menyebutkan nama Stasiun Bandung dan Gedebage sebagai stasiun di Kota Bandung (Gedebage dahulu berada di pinggiran wilayah Kota Bandung).[4]

Dalam beberapa literatur seperti laporan tahunan SS, stasiun ini dahulu dibangun karena berkembangnya Kota Bandung menjadi kota besar. Karena kebutuhan akan penumpang dan barang semakin meningkat, Pemerintah Kolonial memutuskan untuk membangun jalur ganda di rute Padalarang–Bandung–Kiaracondong, yang sepenuhnya terwujud.[5] Pembangunan ini juga mengharuskan adanya beberapa perhentian dan titik langsir, seperti Halte Gadobangkong, Stasiun Cimindi, stasiun pengontrol wesel di Andir, titik pemberangkatan KA barang di Ciroyom untuk Stasiun Bandung Gudang, Stasiun Cikudapateuh, dan Stasiun Kiaracondong. Steven Anne Reitsma pun membahasnya dengan rinci mengenai jalur ganda ini dan pengaruhnya terhadap perekonomian Kota Bandung.[6] Meski jalur gandanya sendiri dibuka pada tahun 1921, bersamaan dengan pembukaan segmen Bandung–Ciwidey dan Rancaekek–Tanjungsari,[7] untuk stasiun ini baru diselesaikan pada tahun 1923 dengan nama Halte Kiaratjondong.[8]

Sejak 6 April 1999, stasiun ini menggunakan persinyalan elektrik produksi Alstom.[3]

Bangunan dan tata letak[sunting | sunting sumber]

Bagian dalam kompleks Stasiun Kiaracondong, dengan balok penanda lokasi yang mirip antara Daop II dan Daop IX.

Stasiun ini memiliki tujuh jalur kereta api dengan jalur 3 merupakan sepur lurus untuk jalur tunggal dari dan ke arah Cicalengka sekaligus jalur ganda arah hulu (ke arah Bandung/Padalarang), sedangkan jalur 2 merupakan sepur lurus untuk jalur ganda arah hilir (dari arah Bandung/Padalarang).

Terdapat dua pintu masuk Stasiun Kiaracondong. Pintu masuk sayap utara dengan bangunan yang terinspirasi dari arsitektur art deco menghadap Jalan Ibrahim Adjie, sementara bangunan lama stasiun menghadap Jalan Stasiun di sayap selatan. Jalur 1 hingga 5 sudah dipayungi atap overcapping. Sayap utara memiliki area parkir yang cukup luas, sedangkan sayap selatan tidak memiliki area parkir sama sekali karena padatnya permukiman penduduk.

Di dekat stasiun ini terdapat Balai Yasa Kiaracondong, balai yasa yang khusus digunakan untuk perawatan dan perbaikan jembatan; meliputi pengadaan suku cadang untuk jembatan-jembatan kereta api yang masih aktif, perbaikan rangka jembatan, pembuatan jembatan baru, dan pemeliharaan rutin.[9]

Dari stasiun ini dahulu pernah ada jalur cabang menuju Ciwidey yang sudah dinonaktifkan. Percabangannya dimulai di sebelah barat Stasiun Kiaracondong, tepatnya di pertengahan petak jalan antara Cikudapateuh–Kiaracondong. Di pertengahan petak tersebut terdapat pos sinyal Cibangkonglor yang kini hanya menyisakan bekas tiang sinyalnya saja. Di tempat yang sama juga terdapat jalur pendek menuju Karees yang juga sudah dinonaktifkan.

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Antarkota[sunting | sunting sumber]

Jalur Nama kereta api Kelas Tujuan akhir Keterangan
Lintas selatan Jawa Argo Parahyangan Tambahan Eksekutif Jakarta Gambir Hanya KA 36 & 49

Dijalankan pada hari tertentu

Kiaracondong
Malabar Eksekutif, bisnis, dan ekonomi Malang
Bandung
Mutiara Selatan Eksekutif dan ekonomi premium Surabaya Gubeng
Bandung
Lodaya Solo Balapan
Bandung
Pangandaran Jakarta Gambir Dihentikan sementara
Banjar
Kahuripan Ekonomi Kiaracondong
Blitar
Pasundan (reguler & tambahan) Kiaracondong
Surabaya Gubeng
Kutojaya Selatan Kiaracondong
Kutoarjo
Serayu Jakarta Pasar Senen Via Kiaracondong
Purwokerto
Cikuray Jakarta Pasar Senen
Garut

Lokal[sunting | sunting sumber]

Nama kereta api Tujuan akhir Keterangan
Lokal Bandung Raya (Cicalengka–Padalarang pp) Padalarang
Cicalengka
Lokal Bandung Raya (Padalarang–Kiaracondong pp) Padalarang Hanya jadwal malam
Kiaracondong
Lokal Bandung Raya (Cicalengka–Purwakarta) Purwakarta
Lokal Bandung Raya (Kiaracondong–Cicalengka) Cicalengka Hanya jadwal pagi
Lokal Cibatuan Padalarang
Cibatu
Garut Cibatuan (Garut–Padalarang) Padalarang Hanya jadwal pagi
Garut Cibatuan (Garut–Purwakarta pp) Purwakarta Hanya jadwal siang
Garut Perjalanan pagi dan malam

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Angkutan pendukung yang tersedia di Stasiun Kiaracondong antara lain:[10]

Jenis Angkutan Umum No. Trayek Trayek Tujuan Akhir
Angkot Kota Bandung 1A Abdul Muis–Cicaheum via Binong Terminal Cicaheum
Terminal Abdul Muis
7 Cicaheum–Ciwastra–Derwati Jalan Sentot Alibasyah (Sebelah Timur Lapangan Gasibu)
Pasar Ciwastra
Jalan Raya Derwati (Sekitar Pertigaan Jalan Raya Sapan–Sor GBLA)
8 Cicaheum–Leuwi Panjang Kiaracondong (Sebelah Timur Kiara Artha Park)
Terminal Leuwi Panjang
16 Dago–Riung Bandung Terminal Dago
Terminal Riung Bandung
30 Cicadas–Kebon Kalapa via Binong Jalan Ahmad Yani (Cicadas)
Depan Terminal Abdul Muis (Sekitar Pertigaan Jalan Pungkur–Dewi Sartika)
32 Cicadas–Cibiru–Panyileukan Jalan Ahmad Yani (Cicadas)
Bundaran Cibiru
Jalan Raya Panyileukan (Depan Taman Bangkit)

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ a b Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia" (PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46). 
  4. ^ "Dutch Colonial maps - Leiden University Libraries". maps.library.leiden.edu. Diakses tanggal 2019-02-04. 
  5. ^ Nusantara., Tim Telaga Bakti; Indonesia., Asosiasi Perkeretaapian (1997-). Sejarah perkeretaapian Indonesia (edisi ke-Cet. 1). Bandung: Angkasa. ISBN 9796651688. OCLC 38139980. 
  6. ^ Reitsma, Steven Anne (1925). Indische spoorweg-politiek. Landsdrukkerij. 
  7. ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  8. ^ Jozlas, P.; de Graaf, S.; Stibbe, D.G.; Spaat, C.; Stroomberg, J.; Sandbergen, F.J.W.H. (1927). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië. M. Nijhoff. 
  9. ^ Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur. "Balai Yasa Jembatan Kiaracondong". Diakses tanggal 13 Juni 2015. 
  10. ^ "Angkutan Umum | Angkot Kota Bandung – TRANSPORTASI UMUM". transportasiumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-30. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Indonesia) Situs resmi KAI dan jadwal kereta api

Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Cikudapateuh
ke arah Padalarang
Padalarang–Kasugihan Gedebage
ke arah Kasugihan
Cibangkonglor
ke arah Karees
Percabangan menuju Karees
Jalur cabang menuju eks-depot minyak Pertamina Samoja
serta menuju pergudangan Karees
Terminus