Stasiun Jatinegara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Stasiun Jatinegara
Kereta Api Indonesia KAI Commuter
B11L01

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun JNG.png
Stasiun Jatinegara JNG fasad depan 2020-12-14.jpg
Tampak depan perspektif dari Stasiun Jatinegara setelah menambahkan bangunan baru, 2020. Bangunan asli stasiun dipertahankan.
LokasiJalan Raya Bekasi Barat
Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, 13110
Indonesia
Koordinat6°12′54″S 106°52′05″E / 6.2150968°S 106.8681869°E / -6.2150968; 106.8681869Koordinat: 6°12′54″S 106°52′05″E / 6.2150968°S 106.8681869°E / -6.2150968; 106.8681869
Ketinggian+16 m
PengelolaKereta Api Indonesia
Daerah Operasi I Jakarta
KAI Commuter
Letak dari pangkal
Jumlah peronSatu peron sisi bertangga dan tiga peron pulau yang sama-sama tinggi
Jumlah jalur7
  • Jalur 1: jalur sepur lurus arah Cikarang
  • Jalur 2: jalur sepur lurus arah Jakarta Kota
  • Jalur 3: jalur sepur lurus lintas langsung kereta api antarkota dari stasiun Gambir
  • Jalur 4: jalur sepur lurus lintas langsung kereta api antarkota arah stasiun Gambir dan penurunan penumpang dari arah timur
  • Jalur 5: jalur sepur ujung lin Lingkar
  • Jalur 6: jalur sepur lurus lintas langsung kereta api antarkota dari stasiun Pasar Senen
  • Jalur 7: jalur sepur lurus lintas langsung kereta api antarkota arah stasiun Pasar Senen dan penurunan penumpang dari arah timur
Konstruksi
ArsitekIr. S. Snuyf
Gaya arsitekturPerpaduan antara Indische Empire dan kolonial modern
Informasi lain
Kode stasiun
  • JNG
  • 0450
[2]
KlasifikasiBesar tipe A[2]
Sejarah
Dibuka15 Oktober 1909 (15 Oktober 1909)
Dibangun kembali2018–2020
Nama sebelumnyaStation Meester Cornelis S.S.
Operasi layanan
Semua perjalanan KA penumpang antarkota yang datang dari timur Jakarta dan hanya menurunkan penumpang (kecuali kereta api Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu, Argo Dwipangga, sebagian kecil Argo Parahyangan dan kereta api rangkaian panjang seperti Jayakarta, Kertajaya, Tawang Jaya dan Gumarang yang tidak bisa dilayani stasiun ini) berserta dengan KAI Commuter Jabodetabek.
Stasiun sebelumnya Logo KAI Commuter.svg Stasiun berikutnya
Terminus Lin Lingkar Pondok Jati
ke arah Bogor
Manggarai
ke arah Jakarta Kota
Lin Cikarang Klender
ke arah Cikarang
Pondok Jati
ke arah Jakarta Kota
Lin Cikarang
Layanan penghubung
Stasiun sebelumnya Transjakarta Stasiun berikutnya
Ahmad Yani Bea Cukai Koridor 4
transfer di Stasiun Jatinegara
Pedati Prumpung
ke arah Blok M
Ahmad Yani Bea Cukai
ke arah Ancol
Koridor 5
transfer di Stasiun Jatinegara
Pedati Prumpung
Pedati Prumpung Koridor 7
transfer di Stasiun Jatinegara
Ahmad Yani Bea Cukai
Koridor 7
transfer di Stasiun Jatinegara
Ahmad Yani Bea Cukai
Ahmad Yani Bea Cukai Koridor 10
transfer di Stasiun Jatinegara
Pedati Prumpung
ke arah PGC 2
Pasar Enjo
ke arah Pulo Gebang
Koridor 11
transfer di Flyover Jatinegara
Stasiun Jatinegara 2
Koridor 11
transfer di Flyover Jatinegara
Stasiun Jatinegara 2
ke arah Pasar Baru
Kebon Pala
Perjalanan satu arah
Koridor 5
transfer di Pasar Jatinegara
Jatinegara RS Premier
Koridor 5
transfer di Pasar Jatinegara
Jatinegara RS Premier
ke arah PGC 1
Koridor 5
transfer di Pasar Jatinegara
Koridor 5
transfer di Pasar Jatinegara
Jatinegara RS Premier
Fasilitas dan teknis
FasilitasMusala Toilet Eskalator Lift Tangga naik/turun Pemesanan langsung di loket Mesin tiket Pos kesehatan Musala Toilet Pertokoan/area komersial 
Tipe persinyalanElektrik tipe Kyosan K5B[3]
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
Stasiun Kereta Api Jatinegara
KategoriBangunan
No. RegnasRNCB.19990112.02.000503
Tanggal SK1999
PemilikPT Kereta Api Indonesia
PengelolaPT Kereta Api Indonesia
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Lokasi pada peta

Stasiun Jatinegara (JNG) adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Jatinegara dan Matraman, tepatnya di Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Kota Jakarta Timur. Stasiun yang terletak pada ketinggian +16 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun ini merupakan stasiun tempat bertemunya tiga jalur yang setiap harinya dilewati ratusan kereta api, yaitu jalur ke Pasar Senen, Manggarai, dan Bekasi.

Sebagai stasiun penghubung ke luar Jakarta, stasiun ini dilalui oleh semua KA ke berbagai kota di Pulau Jawa (kecuali tentu saja ke arah Banten dan Bogor yang dilayani KRL). Saat ini hampir semua KA jarak jauh dan menengah yang datang menuju Jakarta berhenti untuk menurunkan penumpang di stasiun ini, kecuali KA dengan rangkaian panjang (KA Gumarang, KA Jayakarta, KA Kertajaya, KA Tawang Jaya) karena rangkaiannya tidak tercukupi peron stasiun ini, ditambah KA Argo Bromo Anggrek, KA Argo Lawu, KA Argo Dwipangga, dan sebagian KA Argo Parahyangan. Sementara itu, untuk arah sebaliknya tidak ada KA jarak jauh dan menengah yang berhenti untuk menaikkan penumpang di stasiun ini, kecuali jika akses jalan penumpang menuju Stasiun Gambir dan/atau Stasiun Pasar Senen terganggu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pemutar rel dan gardu listrik aliran atas Stasiun Jatinegara tahun 1924

Pada awalnya Jatinegara bernama Meester Cornelis. Nama itu diangkat dari panggilan murid-murid kepada seorang guru yang mengajar, mendirikan sekolah, dan berkhotbah di kawasan tersebut, yakni Cornelis Senen.[4] Nama itu kemudian diubah menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang karena Jepang tidak mau ada istilah Belanda. Nama Jatinegara berarti "Negara Sejati", sebutan dari Pangeran Jayakarta yang terlebih dahulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum. Kampung ini didirikan setelah Belanda menghancurkan Keraton Sunda Kelapa dan berada di antara Rawamangun dan Pasar Klender.[5]

Tampak depan Stasiun Jatinegara, sekitar tahun 1925. Saat itu masih menggunakan nama "Meester Cornelis".

Bangunan eksisting Stasiun Jatinegara mulai beroperasi pada tanggal 15 Oktober 1909[6] dan diperkirakan dirancang oleh arsitek Ir. S. Snuyf, kepala sementara Biro Perancang Departemen Pekerjaan Umum. Kota Meester Cornelis yang terletak di kedua sisi Sungai Ciliwung, merupakan kotapraja yang mandiri, sejak tahun 1935. Pada mulanya stasiun ini dinamakan Rawa Bangke, sebutan untuk rawa-rawa yang terletak di dekatnya, yang tampaknya juga memisahkan stasiun NIS Meester Cornelis dan seberang sungai. Stasiun Meester Cornelis BOS, yang beroperasi sejak hari-hari pertama jalur kereta api Batavia–Bekasi pada 1887, terletak lebih ke arah barat dan masih sempat berfungsi sebagai kantor dinas selama beberapa waktu.[5]

Sang arsitek S. Snuyf mulanya bermaksud untuk membangun stasiun yang besar untuk persinggahan kereta api menuju Bandung. Harapannya adalah bahwa penumpang dari Weltevreden akan memilih stasiun ini daripada Stasiun Kemayoran, yang ketika itu adalah stasiun SS yang paling utama, tetapi tidak bersifat permanen. Pengambilalihan jalur NIS ke Bogor, yang sedianya dibatalkan, tetapi masih memungkinkan perbaikan struktural dan tetap dipertahankan, sehingga rencana tersebut tidak dipertimbangkan lebih lanjut. Walau begitu, kebutuhan akan suatu stasiun yang luas masih dirasakan karena Meester akan menjadi stasiun penghubung yang penting sebagai rangkaian yang baru ke stasiun Weltevreden dan jalur yang ada ke Tanjung Priok melalui Pasar Senen.[7] Perluasan kota Batavia tetap mengarah terus ke Meester Cornelis. Stasiun baru ini dalam perencanaan diusahakan memiliki ciri pedesaan Belanda, namun juga disesuaikan untuk daerah tropis. Tampaknya usaha itu membuahkan hasil.

Sehubungan dengan pembangunan jalur dwiganda Manggarai–Cikarang, stasiun ini menjalani perubahan besar-besaran. Bangunan baru stasiun dengan gaya arsitektur futuristik modern minimalis dibangun menggantikan overcapping stasiun peninggalan Staatsspoorwegen. Bangunan stasiun karya S. Snuyf yang asli tetap dipertahankan karena ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI. Namun untuk alasan kenyamanan penumpang, pihak PT KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyediakan skybridge dan eskalator pada bangunan baru stasiun.[8][9]

Bangunan baru stasiun ini beroperasi penuh pada 17 Desember 2020. Untuk alasan keselamatan, DJKA sedikit merombak stasiun, seperti menghilangkan area penyeberangan antarperon yang sebelumnya dibangun pada saat konstruksi masih berlangsung. Pintu masuk bangunan lama stasiun yang sudah melayani penumpang selama 111 tahun ini telah dipindahkan ke sisi utara bangunan baru tersebut.[10]

Bangunan dan tata letak[sunting | sunting sumber]

Bagian dalam Stasiun Jatinegara yang dipadati pemudik, 2011
Sebuah lokomotif CC203 yang menjalani putar kepala di Depo Jatinegara

Sebelum dibangunnya jalur dwiganda, stasiun ini memiliki tujuh jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus arah Cikampek dan 2 merupakan sepur lurus arah Manggarai ditambah satu jalur yang terhubung dengan depo lokomotif yang terletak di sebelah barat laut stasiun. Ke arah barat laut stasiun terdapat empat jalur kereta api yang berpencar setelah depo, yang satu ke arah Manggarai, yang satunya lagi ke arah Pasar Senen.

Depo lokomotif yang terletak di sebelah barat laut stasiun akhirnya digantikan oleh Depo Lokomotif Cipinang per pertengahan 2020.[11] Bangunan depo lokomotif yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen itu kini dibongkar pada Oktober–November 2020, meski bangunan tersebut berstatus cagar budaya.[12]

Bangunan rancangan S. Snuyf tergolong bergaya peralihan antara Indische Empire dengan gaya Hindia Baru atau kolonial modern (Nieuwe Indische Bouwstijl). Dominasi gaya kolonial modern dapat terlihat dari bentuk atap yang curam tetapi menyesuaikan dengan iklim tropis Hindia Belanda. Penggunaan pintu, jendela, clerestory berfungsi sebagai pencahayaan alami dan pergantian hawa silang yang sesuai dengan iklim tropis yang lembap. Bangunan dibuat tidak simetris, tetapi memiliki titik fokus berupa hall bangunan yang lebih tinggi daripada bangunan di sisi kanan-kirinya.[5] Namun, bangunan itu telah lenyap seiring pembangunan gedung baru stasiun.[8]

Ciri khas[sunting | sunting sumber]

Stasiun ini memiliki ciri khas berupa bel bersuara lagu instrumental berjudul Kicir-Kicir (sering) atau Jali-Jali (jarang) yang diputarkan setiap kali ada kedatangan KA penumpang jarak jauh dan menengah seperti stasiun besar lainnya seperti stasiun Pasar Senen dan stasiun Gambir.

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

KAI Commuter[sunting | sunting sumber]

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
JICT (untuk Pelabuhan Tanjung Priok)
Jalan Tol Akses Tanjung Priok
Pasoso
Sungai Lagoa
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
Tanjung Priuk TP 10 10D 10H 12 Terminal Tanjung Priok
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
Ancol
Jakarta Gudang
C B TP 1 4M 5K 9B 12 Jakarta Kota
Kampung Bandan 5 5D 5E 5H 10H
Jayakarta
Rajawali
Mangga Besar
Jembatan Layang Bandengan
Terowongan Kemayoran
Sawah Besar
Kemayoran
2 2A 2D 3 5C 5H 7F 8A 12M Juanda
Jembatan Layang Angke
L Angke
T A Duri
Gambir Kereta Api Indonesia 2 2A 2D 7F
Gondangdia
Jembatan Layang Tanah Abang
R Tanah Abang
Cikini
Karet
Pasar Senen Kereta Api Indonesia 2 2A 2D 5 5D 5K 7F 11V Terminal Pasar Senen
Terowongan Senen
1 4 4C 6B 9B 13C M A CB BK Sudirman
Gang Sentiong
Mampang
Kramat
Terowongan Pramuka
4 4D 4H A Terminal Manggarai Manggarai
Pondok Jati
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
9 9A Grogol
Matraman
2A 2D 3 3F 8 Pesing
Palmerah
Jembatan Layang Pesing
2A 2D 3 3F T Taman Kota
Kebayoran 8 13 13A 13B 13C 13D 13E 13F R
Bojong Indah
ke Serpong
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Rawa Buaya
Jatinegara L Kereta Api Indonesia 4K 5 5C 5D 5E 5K 7F 7M 10 11 11V
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
Kalideres
Cipinang
Jembatan Layang Klender
ke Tangerang
Klender
Depo KRL Bukit Duri
Buaran 11 11V
Jembatan Layang Tebet
Jembatan Layang Penggilingan
Tebet
Klender Baru
CB BK 4K 9 9A 9B 9C 9M 13F Cawang
Cakung B 11T
Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Duren Kalibata
ke Cikarang
Pasar Minggu Baru
Pasar Minggu C L Terminal Pasar Minggu
Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta
Tanjung Barat
Lenteng Agung
Univ. Pancasila
ke Bogor/Nambo
Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
BRT Transjakarta 4K Pulo Gadung 2-Blok M (di halte Stasiun Jatinegara)
5 Ancol–Kampung Melayu (di halte Pasar Jatinegara)
5C Harmoni Sentral-PGC 1 (di halte Pasar Jatinegara)
5D Ancol-PGC 1 (di halte Pasar Jatinegara)
5E Kampung Rambutan-Ancol (di halte Stasiun Jatinegara)
5K Kampung Melayu-Kota (di halte Pasar Jatinegara)
7F Kampung Rambutan-Harmoni Sentral (di halte Stasiun Jatinegara)
7M Kampung Rambutan-Pulo Gadung 2 (di halte Stasiun Jatinegara)
10 Tanjung Priok–PGC 2 (di halte Stasiun Jatinegara)
11 Pulo Gebang–Kampung Melayu (di halte Stasiun Jatinegara 2)
11V Pulo Gebang-Pasar Baru (di halte Stasiun Jatinegara 2)
Bus kota Transjakarta 11M Rusun Rawa Bebek-Bukit Duri
11N Rusun Cipinang Muara-Stasiun Jatinegara 2
11R Rusun Cakung-Bukit Duri
5M Terminal Kampung Melayu-Stasiun Tanah Abang (via Cikini Raya - Medan Merdeka Selatan)
Lintas perbatasan Transjakarta B12 Summarecon Bekasi–Tanjung Priok (di halte Stasiun Jatinegara)
B22 Terminal Bekasi-Juanda (di halte Pasar Jatinegara)
Mikrotrans Transjakarta JAK 42 Terminal Kampung Melayu-Pondok Kelapa
Mikrolet[13] M02 Terminal Kampung Melayu-Terminal Pulo Gadung (via Paus dan Balap Sepeda)
M06A Stasiun Jatinegara-Pekayon
M27 Terminal Kampung Melayu-Terminal Pulo Gadung (via Bekasi Timur Raya)
M31 Terminal Kampung Melayu-Pondok Kelapa
M32 Terminal Kampung Melayu-Terminal Klender
Transjabodetabek Reguler AC100B (MetroMini) Terminal Kampung Melayu–Terminal Cibinong
P9A (Mayasari Bakti) Terminal Senen-Terminal Bekasi (via Bekasi Timur)

Referensi[sunting | sunting sumber]

Kutipan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ antaranews.com. "Sistem persinyalan Manggarai-Jatinegara diperbarui". Antara News. Diakses tanggal 2019-02-27. 
  4. ^ Pratiwi, Soviana & Sudarsih 2014, hlm. 14.
  5. ^ a b c Pratiwi, Soviana & Sudarsih 2014, hlm. 15.
  6. ^ "Een nieuw station". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie. 1909-10-11. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  7. ^ de Jong 1993, hlm. 104.
  8. ^ a b "Nasib Bangunan Cagar Budaya Stasiun Jatinegara". Republika Online. 2019-06-25. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  9. ^ "Renovasi Stasiun Jatinegara tak Hilangkan Status Heritage". Republika Online. 2020-07-13. Diakses tanggal 2020-10-09. 
  10. ^ Media, Kompas Cyber. "Wajah Baru Stasiun Jatinegara, Kini Tidak Ada Lagi Penyeberangan lewat Bawah". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-18. 
  11. ^ Jakartamedia .co.id (2020-07-27). "Depo Cipinang Siap Dioperasikan". Diakses tanggal 2020-10-09. 
  12. ^ Indonesia, C. N. N. "Cagar Budaya Depo Lokomotif Jatinegara Dibongkar". nasional. Diakses tanggal 2020-11-10. 
  13. ^ "Daftar Trayek Angkutan Umum DKI Jakarta". Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Diakses tanggal 30 Desember 2017. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • de Jong, Michiel van Ballegoijen (1993). Spoorwegstations op Java. Amsterdam: de Bataafse Leeuw. ISBN 9789067073189. 
  • Pratiwi, R.; Soviana, N.; Sudarsih, A. (2014). "Jatinegara (JNG): Stasiun Singgah Bergaya Peralihan". Majalah KA. Vol. 97. hlm. 14–15. ISSN 2087-9458. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Pondok Jati
ke arah Rajawali
Rajawali–Cikampek Cipinang
ke arah Cikampek
Matraman
ke arah Manggarai
Lintas Jakarta
Manggarai–Jatinegara
Terminus