Kereta api Mak Itam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kereta api Mak Itam
DKA E10 (E 10 60 D).jpg
Lokomotif E1060 yang digunakan untuk menarik kereta api Mak Itam, saat dipreservasi di Museum Kereta Api Ambarawa
Informasi umum
Jenis layananKereta api wisata
StatusBeroperasi hanya saat dicarter, rencana operasi reguler tiap Sabtu, Minggu, dan hari besar
Daerah operasiSumatra Barat
Mulai beroperasi21 Februari 2009
Operator saat iniPT Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Kota Sawahlunto
Rute
Stasiun awalSawahlunto
Stasiun akhirMuarakalaban
Jenis relSegmen Muarakalaban–Sawahlunto
Pelayanan
KelasEkonomi
Fasilitas observasiJendela terbuka
Teknis sarana dan prasarana
Bakal pelantingE1060 dan replika diesel E10
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasional30 km/jam
Pemilik jalurDirektorat Jenderal Perkeretaapian

Kereta api Mak Itam adalah kereta api wisata kelas ekonomi yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Kota Sawahlunto di Sumatra Barat yang melayani relasi Sawahlunto–Muarakalaban p.p. Kereta api ini merupakan satu-satunya kereta api uap wisata yang beroperasi di Sumatra, serta merupakan kereta uap wisata ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Jaladara. Frasa mak itam sendiri berasal dari frasa bahasa Minangkabau yang berarti "paman hitam".[1]

Ikon dari kereta api ini adalah lokomotif uap bergigi eks-SSS, E1060, yang dahulunya beroperasi untuk menarik kereta-kereta api batu bara dari Ombilin ke Teluk Bayur.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Operasi dengan lokomotif uap[sunting | sunting sumber]

Untuk mempromosikan Museum Kereta Api Sawahlunto yang sebelumnya dibuka pada tanggal 17 Desember 2005,[2] Pemerintah Kota Sawahlunto mengajukan proposal kepada PT Kereta Api untuk mengembalikan lokomotif E1060 yang dioperasikan untuk KA wisata Ambarawa–Bedono p.p. di Museum Kereta Api Ambarawa kembali ke Sumatra Barat. Pemindahan tersebut sepenuhnya terwujud pada tanggal 3 Desember 2007[3] dan sejak saat itu, Sumatra Barat sudah kembali memiliki lokomotif uap. Saudaranya sendiri, E1016, kini menjadi pajangan di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah.[4]

Rencana pengoperasian kembali lokomotif rel gigi di Sumatra Barat ini sempat mengalami permasalahan terutama pada teknis prasarana dan suku cadang lokomotif yang kini sudah tidak lagi diproduksi. Waktu lokomotif ini lebih banyak dihabiskan di dalam dipo daripada dijalankan di lintas. Lokomotif bergigi lainnya, BB204—yang merupakan lokomotif diesel—saat itu berstatus siap operasi, tetapi terbatas semenjak jalur segmen Kayu Tanam–Padangpanjang terpaksa ditutup.

Pada tanggal 21 Februari 2009, kereta api Mak Itam mulai dioperasikan bersama dengan kereta api wisata Danau Singkarak. Relasi kereta api Mak Itam adalah Sawahlunto–Muarakalaban, sedangkan kereta api wisata Danau Singkarak adalah Sawahlunto–Padangpanjang.[5]

Kereta api ini hanya dapat dijalankan melalui sistem carteran. Lokomotifnya dan keretanya sendiri pernah dicarter untuk menyambut ajang bersepeda tahunan Tour de Singkarak 2012. Terbukti, lokomotif ini pada saat itu masih kuat menarik enam unit kereta penumpang, dengan satu kereta asli Mak Itam (warna krem-hijau) serta lima unit kereta penumpang yang biasanya dipakai untuk KA wisata Danau Singkarak.[6][7][8]

Setelah itu, tidak ada lagi pihak-pihak yang mau mencarter kereta api ini. Jalur Padangpanjang–Sawahlunto semakin dilupakan, dan tidak ada lagi KA yang lewat secara rutin di jalur ini.

Operasi dengan replika diesel[sunting | sunting sumber]

Pada September 2018, Pemerintah Kota Sawahlunto memberdayakan kreator-kreator daerah setempat untuk merakit "replika" lokomotif uap E1060 dengan sasis dan mesin diesel. Replika ini difungsikan untuk "menggantikan fungsi E1060 asli" yang sudah tidak layak jalan karena suku cadangnya langka. Replika tersebut menghabiskan biaya Rp71 juta yang seluruhnya berasal dari APBD. Bahkan dalam roadmap Pemerintah Kota Sawahlunto, pihaknya mengusulkan tarif retribusi seharga Rp10.000,00 untuk operasional.[9] Replika E1060 ini memiliki panjang 4 m, lebar 1,5 m, dan menggunakan mesin yang dicomot dari truk Toyota Dyna.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jb, Syofiardi Bachyul (2016-11-26). "Menelusuri Keunikan Kota Tambang Sawahlunto | Page 3 of 4". Jurnalis Travel. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  2. ^ "Museum Kereta Api Sawahlunto - Heritage KAI". heritage.kai.id. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  3. ^ Poerwanto, Endy. "Jadi Lokomotif Pariwisata, Jalur KA Mak Itam Diaktifkan – Portal Berita Bisnis Wisata". Diakses tanggal 2019-07-23. 
  4. ^ "Lokomotif E10 - Heritage KAI". heritage.kai.id. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  5. ^ Media, Kompas Cyber. "Mak Itam dan KA Wisata Resmi Beroperasi di Sumbar". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  6. ^ BeritaSatu.com. "Peserta Tour de Singkarak akan Naik "Mak Itam" ke Sawahlunto". beritasatu.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  7. ^ Farhan, Afif. "Kereta Mak Itam, Siap Sambut Peserta Tour de Singkarak 2012". detikTravel. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  8. ^ Media, Kompas Cyber. "Mak Itam Tak Lagi Menjerit... Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  9. ^ "Sawahlunto Hadirkan Replika Lokomotif Mak Itam dari Mesin Diesel". kumparan. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  10. ^ "Operasikan Replika 'Mak Itam', Jalur dan Lubang Kalam Direvitalisasi". www.harianhaluan.com. Diakses tanggal 2019-07-23.