Masjid Istiqlal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Masjid Istiqlal (bahasa Arab: مسجد الاستقلال) (bahasa Indonesia: Masjid Kemerdekaan) adalah sebuah masjid nasional yang berada di kota Jakarta Pusat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia. Masjid ini menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara dan masjid terbesar keenam di dunia dalam hal kapasitas jamaah.[1] Dibangun untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, masjid nasional Indonesia ini diberi nama "Istiqlal", kata bahasa Arab untuk "kemerdekaan". Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 22 Februari 1978. Di dalam Jakarta, masjid ini terletak di sebelah Istana Merdeka dan Gereja Katedral Jakarta (Katolik) dan juga Gereja Immanuel (Reformed).[2][3][4]

Masjid Istiqlal
مسجد الاستقلال
Collectie NMvWereldculturen, TM-20023589, Dia, 'De Istiqlal moskee', fotograaf Paul Romijn, 02-1993 - 03-1993.jpg
Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Informasi umum
LetakJakarta Pusat
Afiliasi agamaSunni[5][6][6][7][8]
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Negara Indonesia
Deskripsi arsitektur
ArsitekFriedrich Silaban
Jenis arsitekturMasjid
Gaya arsitektur
Didirikan1978[a]
Spesifikasi
Kapasitas200,000 Jemaah
Kubah2
Diameter kubah (luar)45 m (148 ft)
Menara1

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Soekarno dan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid ini juga dilakukan oleh Soekarno–presiden pertama Indonesia–pada tanggal 24 Agustus 1961. Kemudian proyek masjid ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban, anak dari pendeta Lutheran tradisional yang lebih dikenal dengan nama Huria Kristen Batak Protestan. Desain masjid ini mengusungkan tema "Ketuhanan".[10]

Masjid ini memiliki gaya arsitektur formalisme baru dan internasional; dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Minaret tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 Jemaah.[11]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum menjadi masjid[sunting | sunting sumber]

Taman Wilhelmina dan Benteng Prins Frederik pada tahun 1946.

Masjid ini dulunya merupakan lokasi Taman Wilhelmina dan benteng abad ke-19 yaitu Benteng Prins Frederik.

Desain dan kompetisi[sunting | sunting sumber]

Masjid Istiqlal yang sedang dibangun. Di sisi kanan adalah Gereja Katedral Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, gagasan membangun masjid nasional Indonesia dilontarkan oleh Wahid Hasyim, menteri agama pertama Indonesia,[12] dan Anwar Cokroaminoto, yang kemudian diangkat sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Panitia pembangunan Masjid Istiqlal yang dipimpin oleh Cokroaminoto didirikan pada tahun 1953. Dia mengusulkan masjid nasional kepada Presiden Indonesia saat itu–Soekarno–yang menyambut baik gagasan tersebut dan kemudian membantu mengawasi pembangunan masjid tersebut. Pada tahun 1954 panitia mengangkat Soekarno kepala teknis pengawas.[13]:106

Beberapa lokasi diusulkan; Mohammad HattaWakil Presiden Indonesia saat itu–menyarankan agar masjid dibangun di dekat pemukiman penduduk di Jalan Thamrin, di sebidang tanah di mana Hotel Indonesia berdiri saat ini.[14] Namun, Soekarno menegaskan bahwa masjid nasional harus terletak di dekat alun-alun terpenting negara, di dekat Istana Merdeka. Hal ini sesuai dengan tradisi Jawa bahwa Kraton dan Masjid Agung harus terletak di sekitar alun-alun, yang artinya harus dekat dengan Lapangan Merdeka.[15]

Soekarno juga mendesak agar masjid nasional dibangun di dekat Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Immanuel, untuk melambangkan kerukunan dan toleransi beragama seperti yang digalakkan dalam Pancasila.[16] Kemudian diputuskan masjid nasional akan dibangun di area Taman Wijaya Kusuma (sebelumnya Taman Wilhelmina), di depan Gereja Katedral Jakarta. Untuk memberi jalan bagi masjid, Benteng Prins Frederick yang dibangun pada tahun 1837 dihancurkan.[17][18]

Konstruksi[sunting | sunting sumber]

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961;[19][20] pembangunan memakan waktu 17 tahun, dan kemudian diresmikan oleh presiden Soeharto sebagai masjid nasional pada tanggal 22 Februari 1978.[19][21] Hingga tahun 2013 itu adalah masjid terbesar di wilayah Asia Tenggara, dengan kapasitas lebih dari 120.000.[22][23]:65

Peristiwa kontemporer[sunting | sunting sumber]

Pada Jumat malam, tanggal 14 April 1978 sebuah bom berbahan peledak plastik diledakkan di dekat mimbar Masjid Istiqlal. Tidak ada korban yang dilaporkan.[24] Lebih dari 20 tahun kemudian, pada tanggal 19 April 1999 terjadi serangan bom kedua di ruang bawah tanah masjid, memecahkan kaca ruang kantor pengurus masjid.[25]

Antara bulan Mei 2019 hingga Juli 2020 masjid mengalami renovasi besar-besaran dengan biaya US$35 juta (sekitar 544 trilyun rupiah). Pekerjaan termasuk: memoles dan membersihkan eksterior marmer dan ornamen geometris stainless steel; mihrab dan mimbar baru; peningkatan sistem kelistrikan dan pipa ledeng; sistem pencahayaan baru menggunakan lampu LED; renovasi ruang VIP; gerbang baru dan perbaikan taman; pembangunan taman baru dan alun-alun; kios baru untuk pedagang, dan juga ruang parkir basemen dua lantai.[26][9]

Sebuah terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta telah dibangun oleh pihak berwenang Indonesia. Terowongan ini dikenal sebagai "Terowongan Silaturahmi", yang ditargetkan selesai pada bulan April 2020 atau sebelum bulan Ramadan tahun 2020.[27]

Prasasti peresmian Masjid Istiqlal tahun 1978

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Direnovasi pada tahun 2019-2020[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Perlez, Jane (23 August 2002). "Jakarta Journal; A TV Preacher to Satisfy the Taste for Islam Lite". The New York Times. Diakses tanggal 17 December 2007. 
  2. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-01. Diakses tanggal 2016-02-19. 
  3. ^ Perlez, Jane (2002-08-23). "Jakarta Journal; A TV Preacher to Satisfy the Taste for Islam Lite". The New York Times. Diakses tanggal 2007-12-17. 
  4. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-08-14. Diakses tanggal 2018-08-16. 
  5. ^ John L. Esposito, ed. (2014). "Sunni Islam". The Oxford Dictionary of Islam. Oxford: Oxford University Press. 
  6. ^ a b Tayeb El-Hibri, Maysam J. al Faruqi (2004). "Sunni Islam". Dalam Philip Mattar. The Encyclopedia of the Modern Middle East and North Africa (edisi ke-Second). MacMillan Reference. 
  7. ^ Fitzpatrick, Coeli; Walker, Adam Hani (2014). Muhammad in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia of the Prophet of God [2 volumes]. ABC-CLIO. hlm. 3. ISBN 978-1610691789. 
  8. ^ Madelung, Wilferd (1997). The Succession to Muhammad. Cambridge University Press. hlm. xi. ISBN 0521646960. 
  9. ^ a b "Istiqlal Mosque may reopen in July, Jokowi says while inspecting renovations". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal July 20, 2020. 
  10. ^ Sekretariat Negara: Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil[pranala nonaktif permanen]
  11. ^ "Fasilitas Masjid Istiqlal". Situs Resmi Masjid Istiqlal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-25. Diakses tanggal 17 March 2012. 
  12. ^ National Information and Communication Agency 2001, p. 6
  13. ^ Travel Jakarta, Indonesia: illustrated guide, phrasebook and maps. MobileReference. 2010. ISBN 9781607789628. Diakses tanggal 2013-05-13. 
  14. ^ "Hotel Indonesia Kempinski Jakarta (official website)". Diakses tanggal August 30, 2020. 
  15. ^ "Masjid Istiqlal Merupakan Masjid Terbesar Dan Termegah Di Indonesia Yang Dibangun Pada Tahun". 30 September 2021. Diarsipkan dari versi asli tanggal September 30, 2021. 
  16. ^ "Indonesia-Pancasila". U.S. Department of the Army. Diakses tanggal 2013-05-18. 
  17. ^ Dawuh, Guru (2021). "Masjid Istiqlal Merupakan Masjid Terbesar Dan Termegah Di Indonesia Yang Dibangun Pada Tahun". Dawuh Guru. Archived from the original on 2021-09-30. Diakses tanggal 2021-10-01. 
  18. ^ "Citadel Prins Frederick". Special Capital Region of Jakarta. 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-09-27. Diakses tanggal 2013-05-14. 
  19. ^ a b Purba, Kornelius (2010-11-10). "Istiqlal: The work of a Christian architect". The Jakarta Post. Diakses tanggal 14 May 2013. 
  20. ^ Dept of Foreign Affairs (1962), Indonesia 1962, Jakarta, No ISBN
  21. ^ Indonesian State Secretariat (1995), 40 Tahun Indonesia Merdeka, Jilid 3 (40 Years of Indonesian Independence, Volume 3), p1035, ISBN 979-8300-06-8
  22. ^ "President performs Idul Fitri prayers at Istiqlal Mosque". Antara News. 2010-09-10. Diakses tanggal 2013-05-14. 
  23. ^ Phillips, Douglas A. (2005). Southeast Asia. Infobase Publishing. ISBN 9781438104614. Diakses tanggal 2013-05-14. 
  24. ^ Tempomedia (1978-04-22). "Bom di istiqlal". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-07-20. 
  25. ^ "Dalam Sejarah, Masjid Istiqlal Pernah Dua Kali Dibom". Republika Online. 2019-04-13. Diakses tanggal 2020-07-20. 
  26. ^ "Istiqlal Mosque remains popular amid ongoing renovation". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-07-20. 
  27. ^ "Jokowi Bangun 'Terowongan Silaturahmi' Istiqlal-Katedral". nasional. Diakses tanggal 2020-02-07. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]