GPIB Immanuel Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
GPIB "Immanuel" DKI Jakarta
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat
Immanuel Church Jakarta.JPG
Gedung Gereja Immanuel, Jakarta
LokasiJakarta, Indonesia
DenominasiCalvinis
Arsitektur
Status fungsionalAktif
Penetapan warisanA
ArsitekJ.H. Horst
Tipe arsitekturGereja
Administrasi
KeuskupanMupel Jakarta Pusat
Klerus
PastorPdt. Abraham Ruben Persang
Logo GPIB.png
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
Gereja Immanuel
PeringkatNasional
KategoriBangunan
No. RegnasRNCB.19880227.02.000623
Lokasi
keberadaan
Jakarta Pusat, Jakarta
Tanggal SK1999, 1993 & 2017
PemilikGereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB)
PengelolaGereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel DKI Jakarta
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Gereja Immanuel (ca.1875-85)

Gereja Immanuel awalnya adalah gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan umat Lutheran di Batavia.

Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.

Bersamaan dengan itu gedung ini diresmikan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840. Pada gedung gereja dicantumkan nama Willemskerk.

Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi setinggi 3 meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.

Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah. Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun.

Orgel yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.

Gereja Immanuel saat ini adalah bagian dari Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang menganut sistem presbiterian sinodal. Kini, bangunan gereja berstatus sebagai cagar budaya Indonesia.

Gereja ini adalah satu-satunya gereja di Jakarta yang menjalankan ibadah dengan bahasa Belanda.[1] Ibadah juga dilakukan dengan bahasa Indonesia dan Inggris.[2]

Gereja Immanuel dipimpin oleh seorang Ketua Majelis Jemaat dan dibantu oleh anggota Pelaksana Majelis Harian Jemaat (PHMJ),

Pimpinan[sunting | sunting sumber]

Pelaksana Majelis Harian Jemaat[sunting | sunting sumber]

  • Ketua Majelis Jemaat: Pdt. Abraham Ruben Persang, M.Th
  • Ketua I: Pnt. Daniel S. Laotongan
  • Ketua II: Pnt. R. Parulian Samosir
  • Ketua III: Pnt. Leonard R. Mailopuw
  • Ketua IV: Pnt. Rico J.P.H. Sihombing
  • Ketua V: Pnt. Stefanus Loupatty
  • Sekretaris: Dkn Kamelia Sitaniapessy
  • Sekretaris I: Dkn. Liannie M. Raintung
  • Sekretaris II: Pnt. Nurpaidah Muskita
  • Bendahara: Dkn. Nengah W. Rondonuwu
  • Bendahara I: Dkn. Henky W. Suryaprawira

Orgel Pipa Immanuel - Simbol Musik Gereja Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kokoh berdiri sejak 1841 hingga kini, Orgel Immanuel telah setia menjadi saksi peradaban musik, gereja dan kekristenan, bahkan masyarakat Indonesia. Genap 180 tahun (2021) melintasi zaman, Orgel Immanuel bersama Gedung Gereja Immanuel telah melintasi banyak generasi, sejak Willemskerk menjadi gereja pusat di Indonesia hingga pada saat ini gedungnya tetap kokoh berdiri dan menjadi simbol kekristenan Indonesia. Usianya menjadikan Orgel Immanuel sebagai organ pipa sekaligus alat musik tertua di Indonesia yang saat ini masih dapat dioperasikan. Kesetiaan umat Gereja GPIB Immanuel Jakarta sejak dulu hingga kini dalam memakai dan merawat organ membuat Orgel Immanuel menjadi satu-satunya organ di Indonesia yang masih rutin dipakai untuk peribadahan setiap minggu.

Tersusun atas 1114 pipa, kualitas suara dari Orgel Immanuel telah diakui oleh berbagai pihak, mulai dari umat, masyarakat, dan media nasional, hingga organis mancanegara bereputasi. Hampir keseluruhan komponen dari Orgel Immanuel masih asli sebagaimana ketika awal dibangun, termasuk tuts-tuts pada kedua keyboard/manual yang terbuat dari gading gajah. Akustik Gedung Immanuel yang sangat mendukung dan menyatu dengan Orgel Immanuel (yang diperkirakan sebagai salah satu atau bahkan yang terbaik di Indonesia, khususnya pada gedung tua) membuat suara Orgel Immanuel menjadi semakin indah, dengan dukungan reverb (gema) alami dari akustik gedung mencapai 3-4 detik. Hal ini dimungkinkan karena organ yang didesain bersama dan untuk Gedung Gereja Immanuel.

Kesetiaan warga dan majelis jemaat GPIB Immanuel Jakarta menjadi pendukung penting dari konservasi dan pelestarian Orgel Immanuel hingga tetap kokoh berdiri hingga saat ini. Hingga saat ini, keseluruhan ibadah hari Minggu yang diselenggarakan di gedung Gereja Immanuel wajib diselenggarakan dengan organ pipa. Begitu juga pada ibadah-ibadah lain seperti ibadah persekutuan tengah minggu hingga ibadah pernikahan. Pengecualian diberikan pada beberapa ibadah atau acara untuk merayakan potensi musik lain dari Gereja Immanuel, seperti perayaan hari besar jemaat misal natal jemaat, dan ibadah nuansa muda.

Orgel Immanuel juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat umum, media, hingga pemimpin Indonesia bahkan dunia. Orgel Immanuel menjadi simbol tersendiri dari Gereja Immanuel yang membuatnya menjadi daya tarik pariwisata di daerah Jakarta. Berbagai media juga telah secara khusus meliput Orgel Immanuel karena kesejarahan, keunikan, dan keindahannya. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Direktur Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Faried pernah mendatangi Gereja Immanuel ketika perayaan HUT 180 Gedung Immanuel pada Sabtu, 24 Agustus 2019, di mana organis Nico Gamalliel secara khusus memainkan karya-karya Improvisasi pada ‘Ode to Joy’ – Beethoven dan Improvisasi untuk Kedatangan Gubernur DKI Jakarta atas permintaan spontan dari Gubernur Anies kepada Pdt. Michiko Pinaria Saren, Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Jakarta saat itu. Secara khusus, Gubernur Anies menitipkan pesan kepada jemaat GPIB Immanuel Jakarta dan organis untuk terus merawat dan melestarikan Orgel Immanuel. Kunjungan itu juga menjadi salah satu awal Restorasi Gedung dan Kawasan Gereja Immanuel 2021. Kanselir Jerman Angela Merkel dalam kedatangannya ke Indonesia juga mengunjungi Gereja Immanuel pada Selasa, 10 Juli 2012, di mana Ia disambut dengan himne “Pujilah Tuhan Sang Raja” yang diiringi organis Calvin Eko Saputro. Kunjungan tokoh lain yang pernah tercatat dalam sejarah GPIB Immanuel Jakarta adalah kedatangan Ratu Belanda Juliana pada 1971, di mana Ia turut beribadah di gereja ini.

Sejarah Singkat[sunting | sunting sumber]

Walaupun memiliki sejarah sangat panjang dan menjadi organ tertua di Indonesia, catatan mengenai sejarah Orgel Immanuel relatif terbatas. Catatan yang dimiliki dan dihimpun oleh organis Nico Gamalliel dan Calvin Eko Saputro, serta Rudi van Straten dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda menjadi dokumen terlengkap mengenai Orgel Immanuel sejauh ini.[3][4][5]

Orgel Immanuel dibuat oleh perusahaan organ builder Jonathan Bätz & Comp dari Utrecht, Belanda sebagaimana tertulis pada plakat kecil yang ada di dekat keyboard. Komponennya telah selesai dibuat pada 10 Oktober 1841 untuk kemudian menjalani pengujian dan penilaian di Gereja Jacobikerk di Utrecht, Belanda. Setelahnya, Orgel Immanuel dikirim dan dibangun ke Hindia Belanda, dan diinaugurasi pada 16 Juli 1843 (walaupun kebiasaan penghitungan umur secara lokal dihitung sejak 1841).

Kisah unik menyertai perjalanan pembuatan Orgel Immanuel. Ruang tinggi langit-langit untuk komponen organ yang telah dibuat ternyata terlalu kecil. Sang pembuat organ, Junghuhn dari perusahaan Bätz, akhirnya perlu memotong 6 pipa kayu terbesar dari register Prestant ’16. Orgel Immanuel juga akhirnya menjadi sedikit lebih lebar. Pengerjaan penyusunan komponen Orgel Immanuel memerlukan waktu hingga akhirnya selesai pada 1843.

Picture of Immanuel Church Pipe Organ before Restoration (July 2021)

Pada tahun 1985, restorasi untuk pertamakalinya dilakukan oleh perusahaan Fa. Flentrop Orgelbouw dengan dukungan dari Prince Bernhard Cultural Fund. Saat itu, seluruh pipa dibawa ke Belanda untuk menjalani perbaikan, dan terpasang kembali dua tahun setelahnya pada 1987.

Orgel Immanuel menjadi satu dari sekian sedikit organ di Indonesia yang terus bertahan sejak pembuatannya pada zaman kolonial hingga saat ini. Pada zaman penjajahan Jepang, ketika beberapa organ di Indonesia dihancurkan oleh Jepang antara lain untuk dijadikan bahan peluru, Organ Immanuel tetap bertahan. Pada masa yang sama, Gereja Immanuel dijadikan oleh Jepang sebagai rumah abu untuk tentara Jepang yang meninggal. Jejaknya masih ada pada tampak depan pipa besar Orgel Immanuel yang masih ternodai jelaga permanen yang tidak dapat dibersihkan. Setelah kemerdekaan, ketika banyak organ lain terbengkalai bahkan hilang, Orgel Immanuel tetap bertahan hingga saat ini menjadi simbol musik gereja dan pusat kegiatan organ di Indonesia.

Orgel Immanuel pernah mengalami serangan rayap yang masif. Serangan ini membuat struktur kayu dari Orgel Immanuel menjadi lebih rapuh. Cara yang saat itu digunakan untuk menuntaskan serangan rayap antara lain dengan memberikan umpan agar ratu dari koloni rayap mati.

Mekanik, Rangka, Servis, dan Renovasi[sunting | sunting sumber]

Hampir keseluruhan bagian dari Orgel Immanuel masih sesuai keadaan asli ketika ia dibangun 1841 silam. Orgel Immanuel beroperasi dengan sistem mekanik (tracker-action) dan slider chests. Pada bagian belakang Orgel Immanuel, dapat terlihat bilik udara yang dibuat pada renovasi 1985. Bilik udara yang asli hanya sedikit terlihat jejaknya, dan dahulu dioperasikan dengan cara dipompa dengan kaki. Saat ini, pompa kaki sudah tidak dioperasikan dan diganti dengan blower elektronik.

Sebagian Pipa dan Mekanik Organ Immanuel

Rangka indah dari Orgel Immanuel menjadi salah satu pendukung utama dari keindahan interior Gereja Immanuel. Desain gaya klasik yang sederhana namun cantik menjadi keindahan tersendiri dari Orgel Immanuel yang membuatnya unik. Rangka yang terbuat dari kayu jati dan dicat dengan warna gelap membuat Orgel Immanuel memiliki kesan solid sekaligus kontras dengan warna putih dari interior Orgel Immanuel dan warna abu dari pipa-pipa yang berada di fasad depan. Kesan megah semakin didukung oleh mulut dari pipa-pipa di depan yang diberikan warna keemasan, bentuk kotak organ yang khas, dan ornamen-ornamen keemasan lainnya.

Keunikan dari Orgel Immanuel adalah pipanya yang memiliki frekuensi A = 448 Hz, di mana lazimnya alat musik khususnya pada zaman modern saat ini dirancang dengan frekuensi A = 440 Hz.

Beberapa bagian dari Orgel Immanuel sudah berganti, terutama pada renovasi 1985. Menurut catatan dari van Straten, pipa-pipa bagian bovenwerk (keyboard/manual atas (swell)) pada awal abad 20 ditempatkan di dalam sebuah casework (kotak, kemungkinan swellbox) dengan shutter/penutup yang membuatnya dapat dibuka dan ditutup untuk mengurangi volume suara dari pipa-pipa yang ada di dalamnya. Pada restorasi 1985, terdapat beberapa bagian dalam Orgel Immanuel yang mengalami perubahan, seperti bagian swell box dan bellows tambahan (bilik udara?) yang dihilangkan. Beberapa pipa juga tidak dikembalikan ke posisi semula. Beberapa register mengalami perubahan hingga menjadi bentuk/susunan yang seperti saat ini. Perusahaan Flentrop juga mengganti beberapa pipa register Trumpet ‘8 yang hilang dengan pipa-pipa baru yang disesuaikan dengan gaya Bätz. Bangku Orgel Immanuel juga ditambahkan pelapis sumbangan warga jemaat untuk menambah kenyamanan organis dalam duduk dan bermain. Selain dari bagian-bagian ini, keseluruhan bagian Orgel Immanuel sisanya masih asli seperti awal dibangun.

Hingga saat ini, Orgel Immanuel masih menjalani perawatan rutin dengan baik, memampukannya untuk terus menjadi organ tertua dan terbaik di Indonesia, sekaligus simbol musik gereja Indonesia. Perawatan rutin dijalankan 6-12 bulan sekali oleh orgelbauer Suwandi, dan utamanya dilakukan pada menjelang hari raya.

Revitalisasi 2021[sunting | sunting sumber]

Restorasi Organ Immanuel 2021. Seluruh pipa dan komponen mekanik diturunkan.

Orgel Immanuel kembali menjalani perbaikan besar pada 2021 dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Revitalisasi berlangsung pada Juli-Desember 2021. Pihak yang terlibat antara lain Rudi van Straten, ahli konservasi organ dari Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed (NL) sebagai ahli utama; Nico Gamalliel, organis GPIB Immanuel Jakarta sebagai ahli lokal; dan Suwandi sebagai pelaksana. Revitalisasi ini bersamaan dengan restorasi gedung dan kawasan.

Pengerjaan utama difokuskan pada rekonstruksi bilik udara yang rusak hebat akibat serangan rayap. Pengerjaan kemudian berlanjut pada pembersihan komponen pipa dan mekanik dari debu yang menumpuk selama puluhan tahun. Keseluruhan pipa diturunkan untuk memudahkan proses pembersihan sekaligus inspeksi ulang kondisi pipa secara keseluruhan. Pengerjaan berlanjut pada penyetelan ulang dan pengembalian mekanik dan pipa, sekaligus pengaturan ulang keseluruhan sistem agar lebih nyaman dimainkan oleh organis.

Hasil revitalisasi bangunan cagar budaya Gereja Immanuel dan lingkungannya, serta Orgel Immanuel diresmikan penggunaannya kembali untuk ibadah oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Senin, 20 Desember 2022. Secara khusus, Gubernur Anies naik ke balkon organ, mencoba memainkan Orgel Immanuel dan melihat bagian-bagian Orgel Immanuel yang dipandu dan dijelaskan oleh Nico Gamalliel dan Suwandi.

Konser[sunting | sunting sumber]

Organ Immanuel pada Akhir Restorasi 2021 (Desember 2021)

Tidak terbilang organis bereputasi internasional yang telah mengunjungi Orgel Immanuel, termasuk mengadakan resital. Terakhir adalah Prof. Bernd Scherer dari Jerman pada tahun 2018. Selain itu, Andreas Jetter dari Jerman juga pernah mengadakan konser pada tahun 2003. Beberapa kelompok musik lain yang berasal dari Indonesia dan pernah mengadakan konser di GPIB Immanuel Jakarta antara lain PS Sancta Caecilia Katedral Jakarta dengan iringan organ pipa oleh Calvin Eko Saputro pada 1998, dan PS Eliatha dari Jakarta dengan organis Hansen Wiguna dan Vincent Wiguna.

Sejak 2020, Organis Indonesia bekerja sama dengan GPIB Immanuel Jakarta rutin mengadakan Resital Immanuel[6][7], dengan organis terdiri atas anggota dari komunitas Organis Indonesia.

Organis[sunting | sunting sumber]

Kesetiaan GPIB Immanuel Jakarta dalam menggunakan organ pipa sebagai alat musik utama di ibadah-ibadah secara tidak langsung membuat Gereja dan Orgel Immanuel menjadi pusat kegiatan organis di Indonesia.

Konsol Organ Immanuel, terdiri atas manual/keyboard bawah, manual/keyboard atas, dan pedalboard.
Stops (Register) Organ Immanuel

Organis yang saat ini aktif untuk melayani di Gereja Immanuel antara lain Nico Gamalliel, Joshua Pardamean, Vicky Andreani, Dimu Boeky, Arlends Chris, Camelia Pasandaran, Rillo Hans, dan Ike Tambunan. Beberapa dari banyak organis yang pernah melayani di Immanuel, terutama sejak 1990, antara lain Piet Barendregt, Yohana Engelen, Herman Maukar, Meiske Santoso Kainama, Trully Kainama, Shirley Kansil, Shelda Dauhan, Lia Dauhan, Billy Kristanto, Tommy Prabowo, Agung Rahmanto, Calvin Eko Saputro, Yohanes Bintang Prakasa, Wida Phe, Sartje, David Senas, Gideon Limbeng, Jonathan Wibowo, Wim Timmerman, Grace Nainggolan, Melita Sinaga, Lolita Sinaga, Ricky Jap, Henk Vonk, Ari Siagian, George Alain, Trevino Pakasi, Richard Michael, Albert Deil, Sheila Kandou, Michael Suryaprawira, dan Christina Mandang. Pes

ohor musik gereja Indonesia, Pdt. H. A. Pandopo (Harry van Dop) juga pernah sangat aktif untuk melayani di Gereja Immanuel, termasuk dengan Orgel Immanuel. Beberapa muridnya antara lain Christina Mandang, Calvin Eko Saputro, George Alain, Trevino Pakasi, dan Gabriel Rehatta. Pesohor musik gereja Indonesia lainnya, Rm. Antonius Soetanta, SJ, juga pernah melakukan pengajaran organnya dengan Orgel Immanuel.

Spesifikasi[sunting | sunting sumber]

GREAT/MANUAL I

Cornet IV

Prestant 16’ (pedal)

Prestant 8’

Roerfluit 8’

Octaaf 4’

Open Fluit 4’

Quint 3 ’ (1985)

Octaaf 2’

Mixtuur III-IV

Trumpet 8’

Kopelling (Swell to Great Coupler)

SWELL/MANUAL II

Dulciaan 8’

Gemshoorn 2’

Roerfluit 4’

Salicionaal 4’

Holpijp 8’

Viola da Gamba 8’

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sari, Nursita (25 December 2017). Ika, Aprillia, ed. "Ibadah Berbahasa Belanda Hanya Ada di GPIB Immanuel Jakarta". Kompas.com. Diakses tanggal 25 January 2022. 
  2. ^ Liputan6.com (25 December 2019). Ali, Muhammad, ed. "Melihat Gereja 3 Bahasa yang Masuk Cagar Budaya DKI". Liputan6.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 December 2019. Diakses tanggal 25 January 2022. 
  3. ^ "Sounding Heritage Indonesia.pdf". Google Docs. Diakses tanggal 2022-08-28. 
  4. ^ Organ Pipa, Candu yang Membuat Syahdu, diakses tanggal 2022-08-28 
  5. ^ Sang Pengalun Syahdu, diakses tanggal 2022-08-28 
  6. ^ RESITAL IMMANUEL - Natal 2020 "Lahirnya Sang Imanuel" | 24 Desember 2020 | 21:00 WIB, diakses tanggal 2022-08-28 
  7. ^ RESITAL IMMANUEL - Adven 2020 "Menanti-NYA" | 28 November 2020 18:00 WIB (GMT+7), diakses tanggal 2022-08-28 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]