Rumah W. R. Soepratman
| Rumah Wage Rudolf Supratman | |
|---|---|
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | |
Tampak depan Museum W.R Soepratman | |
![]() Peta interaktif Rumah W. R. Soepratman | |
| Peringkat | Nasional |
| Kategori | Bangunan |
| No. Regnas | CB.1490 |
| Lokasi keberadaan | Kota Surabaya, Jawa Timur |
| No. SK | 370/M/2017 |
| Tanggal SK | 29 Desember 2017 |
| Pemilik | Pemerintah kota Surabaya |
| Pengelola | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya |
| Koordinat | 7°15′02″S 112°45′14″E / 7.2506354°S 112.7537695°E |
Lokasi Rumah W. R. Soepratman di Kota Surabaya, Jawa Timur | |
Rumah W. R. Soepratman adalah rumah tempat wafatnya pencipta lagu Indonesia Raya yang kini menjadi museum sekaligus bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Mangga No. 21, Gedang Sewu, Surabaya, Jawa Timur.[1][2]
Museum ini diresmikan pada 28 Oktober 2003 olah Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika. Renovasi pernah dilakukan dengan izin Sekretaris Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwanda.[3]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Rumah W. R. Soepratman dulunya merupakan rumah dari kakak pertama W. R. Soepratman, Roekiyem Soepratijah. Rumah ini awalnya merupakan bagian dari pembangunan kompleks rumah-rumah negara yang dibangun pada 1930 oleh Gementee van Soerabaia (Pemkot Surabaya). Pada 1932, penyewa rumah ini semula adalah Roekijem Soepratijah, kakak tertua WR Soepratman.[3]
Pada 1937, W. R. Soepratman pindah dari Pemalang ke Surabaya dan tinggal di sana. Ia juga wafat di sana pada 17 Agustus 1938. Kemudian, rumah ini dihuni oleh 4 orang, yaitu W. R. Soepratman dan keluarga kakaknya.[4]
Pada masa revolusi, rumah ini kosong karena keluarga Roekijem mengungsi. Saat pasca kemerdekaan, rumah ini ditempati oleh orang lain secara ilegal. Barulah pada 1975, ahli waris WR Soepratman mengurus lagi hak sewa dan dikabulkan pemkot dan membiarkan rumah tersebut kosong. Hingga pada 2003, atas prakarsa Zaenal A Karim rumah itu ia rawat dengan izin ahli waris.[3]
Rumah ini memiliki luas 5×10 m dengan 2 kamar.[5] Kamar di sebelah kanan merupakan kamar keluarga kakaknya dan disebelah kiri merupakan kamar W. R. Soepratman di mana kasur miliknya dibawa langsung dari Purworejo.
Pada 2016, rumah ini sudah dibeli oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo yang mengeluarkan dana untuk pemugaran seperti mengganti dinding anyaman dengan papan jati dan atapnya dari daun tebu menjadi genting. Tujuan pemugaran rumah ini untuk menjadikannya sebagai lokasi wisata sejarah, untuk tidak melupakan sejarah dan menghargai jasa pahlawannya.[6]
Kunjungan
[sunting | sunting sumber]Rumah ini kadang mendapat pengunjung, biasanya hanya 2–3 orang yang datang dan membuat rumah ini selalu dikunci, tetapi pada hari-hari tertentu pengunjung datang lebih banyak dari biasanya saat hari nasional seperti Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan lain-lain.
Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk dan jam buka museum mulai pukul 08.00-15.00 WIB.[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "e-Katalog Museum - Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya". ka-mus.surabaya.go.id. Diakses tanggal 2025-05-28.
- ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Tambaksari". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Mei 2025.
{{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam:|access-date= - 1 2 3 "Giliran Rumah WR Soepratman Akan Dijual". Kompas.com. 2008-05-22. Diakses tanggal 2026-05-21.
- 1 2 Rizkita, Neshka. "Museum WR Soepratman, Rumah Wafat Tokoh Sumpah Pemuda Pencipta Indonesia Raya". detikjatim. Diakses tanggal 2026-05-21.
- ↑ Hurek, Lambertus (2022-04-22). "Rumah WR Soepratman di Jalan Mangga Jadi Cagar Budaya". radarsurabaya.jawapos.com. Diakses tanggal 2026-05-21.
- ↑ Gunawan, Michelle Alda. "Melihat Rumah Wafat WR Soepratman di Surabaya". detiknews. Diakses tanggal 2022-01-02.
