Fort Rotterdam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Benteng Rotterdam
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Fort rotterdam 1.jpg
Kompleks Fort Rotterdam, Juli 2008
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriSitus
No. RegnasCB.18
Lokasi
keberadaan
Bulo Gading, Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan
No. SK
  • SK Menteri No.PM.59/PW.007/MKP/2010
  • SK Menteri No.025/M/2014
Tanggal SK
  • 22 Juni 2010
  • 17 Januari 2014
Pemilik Indonesia
PengelolaBalai Pelestarian Cagar Budaya Makassar
Koordinat5°08′02″S 119°24′11″E / 5.1338578°S 119.4031027°E / -5.1338578; 119.4031027
Fort Rotterdam is located in Kota Makassar
Benteng Rotterdam
Benteng Rotterdam
Lokasi Fort Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung . Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.[1]

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Sekitar 200 tahun Belanda menggunakan benteng ini sebagai pusat pemerintahan, ekonomi dan berbagai macam aktivitas.[2] Pada 1937 kepemilikan Benteng Rotterdam oleh Dutch Indies Goverment diserahkan kepada Fort Rotterdam Foundation.[2] Benteng ini terdaftar sebagai bangunan bersejarah pada 23 Mei 1940.[2]

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Rotterdam, eks – Pangkalan Militer Kerajaan Gowa-Tallo"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-08-17. Diakses tanggal 2018-08-17. 
  2. ^ a b c Kebudayaan., Indonesia. Departemen Pendidikan dan. Forts in Indonesia (edisi ke-First edition). Senayan, Jakarta. ISBN 9789791274616. OCLC 841187637. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]