Lompat ke isi

Gereja Santo Yoseph, Matraman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gereja Santo Yoseph
Gereja Santo Yoseph, Paroki Matraman
Gereja Santo Yoseph, Matraman pada Maret 2026
PetaKoordinat: 6°12′29.60921″S 106°51′33.78280″E / 6.2082247806°S 106.8593841111°E / -6.2082247806; 106.8593841111
Informasi umum
LokasiJalan Matraman Raya no 127, Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Sejarah
DedikasiSanto Yosef
Arsitektur
StatusGereja paroki
Status fungsionalAktif
Tipe arsitekturGereja
Administrasi
ParokiMatraman
DekenatTimur
Keuskupan AgungJakarta
ProvinsiJakarta
Klerus
Uskup AgungIgnatius Kardinal Suharyo

Gereja Santo Yoseph adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Jalan Matraman Raya No. 127, Jakarta Timur, Jakarta. Gereja ini merupakan salah satu gereja tua di Jakarta. Gereja ini merupakan sebuah gereja peninggalan zaman kolonial di Indonesia.

Gereja Santo Yoseph, Matraman sekitar tahun 1918-1930

Kisah pembangunan Gereja ini berawal dari pembelian sebidang tanah di tepi Matramanweg (Jalan Matraman Raya) pada 13 Desember 1906, yang dipersiapkan untuk pembangunan gereja. Tapi, tanggal 28 Desember 1906, daerah ini terlebih dulu dibentuk sebagai fasilitas pelayanan umat yang dilaksanakan oleh Pastor Katedral PJ Hoevenaars SJ.[1][2]

Tiga tahun kemudian, seperti tercatat dalam Registrum Baptismale I, Ecclesia Catholicae quae est in Meester Cornelis in Insula Java, dilaksanakan permandian atau baptis pertama, 22 Juni 1909. Tanggal permandian ini kemudian ditetapkan Pastor Johanes Djawa SVD (Pastor Kepala periode 1989–1999) sebagai penanda kelahiran Paroki Matraman. Christina Wilhelmina Cornelia, lahir pada 14 Mei 1909, adalah anak pertama—warga pribumi—yang dibaptis di gereja ini.[1]

Sesungguhnya, pembangunan gedung gereja baru direncanakan 8 April 1923, dengan nilai bangunan 70.000 gulden. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 9 September 1923, dan pembangunan fisik memakan waktu selama 7 bulan.[1]

Tender untuk pembangunan gereja awal dimenangkan oleh Algemeen Ingenieurs Architecten Bureau (Biro AIA). Arsitek perencana gedung gereja ini adalah Frans Johan Lauwrens Ghijsels (1882-1947). Pria kelahiran Tulung Agung, 8 September 1882, ini adalah arsitek yang membangun gedung-gedung di Batavia waktu itu, antara lain bangunan Stasiun Kota, Vrijmetselaarslogre (sekarang gedung Bappenas).[1]

Perluasan gereja

[sunting | sunting sumber]
Fasad Gereja Santo Yoseph, Matraman.

Gereja ini bisa menampung 400 umat, dari jumlah umat Katolik di paroki waktu itu sekitar 1.052 orang. Tahun 1970, gedung gereja diperluas ke bagian kiri, dan menyatu dengan rumah Pastor Ordo Soverdi. Perluasan ini diberkati Pastor C Van Iersel SVD. Selanjutnya, area perluasan ini disebut ‘gereja samping’ dan menampung 800 orang.[1]

Bangunan gereja ini terakhir direnovasi pada masa Pastor Kepala, Pastor Johanes Madiaadnyana SVD. Realisasi pembangunan fisik dimulai Maret 2001 setelah peletakan batu pertama oleh R.D. Stephanus Roy Djakarya, ekonom Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Sedangkan, arsitek gereja renovasi adalah Ir Erawan Kartawidjaja. Setelah melalui proses konsultasi dengan Dinas Museum dan Pemugaran DKI, keluarlah IMB kedua, pada 9 Juli 2001. Pemberkatan gereja renovasi dilakukan Bapa Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., pada 26 Mei 2002.[1]

Selama 30 tahun pertama, gereja ini didominasi orang asing, khususnya Belanda. Tahun 1921, umat gereja ini masih berjumlah 1.052 orang, dan sempat berkembang pesat jadi 13.000 orang pada tahun 1985. Karena makin banyaknya Paroki di Jakarta, umat gereja ini pun terpecah, dan tahun 2004 tinggal 5.577 orang.[1]

Pada bagian luar gereja terdapat patung Santo Yosef yang tertidur. Di belakang patung Santo Yosef terdapat Gua Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Sebuah patung Santo Yosef yang lain juga terdapat pada pintu gereja yang terbuat dari pohon tanjung. Patung Santo Yosef yang dilukiskan sebagai Bapa Pemelihara Yesus, dibuat oleh H. Basuki, seorang perajin kayu asal Kudus pada tahun 2002.

Sisi dalam gereja berbentuk serong, pasca perluasan pada sekitar tahun 1970.[1] Pada altar terdapat tulisan dalam bahasa Latin Te Invocamus, Te Laudamus, Te Adoramus, O Beata Trinitas yang berarti "Ya Allah Tritunggal yang Maha Kudus, kami berseru kepadaMu, kami memuji Dikau, kami bersembah sujud di hadirat-Mu".[3] Di altar terdapat dua patung besar, yakni Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria. Selain itu terdapat dua patung yang lebih kecil, yakni patung Santo Antonius Padua dan Santo Yoseph.[4]

Kapel Gembala Baik

[sunting | sunting sumber]
Tampak luar Kapel Gembala Baik pada 2025
Panti imam saat pelaksanaan Kurban Misa Latin Tradisional

Dalam wilayah reksa pastoral Paroki Matraman, terdapat Kapel Gembala Baik yang berlokasi di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Kapel ini merupakan bagian dari kompleks biara Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik, yang juga dikenal sebagai Kongregasi Suster-Suster Gembala Baik (Religious of the Good Shepherd/RGS). Kompleks ini sejak awal dirancang sebagai satu kesatuan antara kapel, biara, dan lembaga pendidikan, serta menjadi pusat kehidupan religius dan karya pelayanan para suster.

Pada awal abad ke-20, rumah karya Kongregasi Suster-Suster Gembala Baik tidak lagi mencukupi kebutuhan pelayanan. Para suster kemudian memperoleh sebidang tanah seluas sekitar 27.000 meter persegi di Kampung Melayu, Jatinegara. Proses pembelian tanah dan perizinan pendirian bangunan selesai pada 25 Februari 1931. Sejak tahun 1931, kawasan ini diperuntukkan sebagai kompleks gereja, biara, dan sekolah, dengan peletakan batu pertama dilakukan oleh Pater Josephus Wilhelmius Maria Wubbe, S.J., pada Hari Raya Santo Yusuf 19 Maret 1931. Pembangunan kompleks tersebut rampung pada 31 Oktober 1931, dan para suster beserta anak-anak asrama mulai menempati rumah karya baru yang diberi nama Mater Dolorosa dan dikelola oleh Yayasan Goede Harder Stichting. Biara dan asrama ini diberkati pada 5 November 1931 oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J.

Selama Perang Dunia II, kompleks ini sempat diambil alih oleh pemerintah Belanda. Dalam situasi tersebut, pada 9 Oktober 1947, para suster dan anak-anak asrama mengadakan doa serta kebaktian khusus kepada Bunda Maria, agar seluruh bangunan dapat dikembalikan. Pada kesempatan itu, para biarawati mengikrarkan nazar untuk mengembangkan devosi kepada Bunda Maria Fatima apabila kompleks tersebut sepenuhnya diperoleh kembali. Setelah pengembalian berlangsung bertahap, sebagai pemenuhan nazar tersebut dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan tempat penghormatan kepada Bunda Maria Fatima pada 7 Maret 1950. Patung Bunda Maria untuk tempat ini dipesan secara khusus dari Portugal. Tempat suci yang awalnya terletak di belakang Kapel Gembala Baik ini diresmikan dan diberkati pada 13 Mei 1950 oleh Delegasi Apostolik Takhta Suci untuk Indonesia Mgr. Georges de Jonghe d'Ardoye.

Seiring bertambahnya jumlah peziarah, tempat ziarah tersebut kemudian dipindahkan pada 1961 ke lokasi yang kini menjadi bagian dari kompleks Sekolah Santa Maria Fatima. Tempat ziarah yang baru ini diberkati pada 13 Oktober 1961 oleh Uskup Agung Jakarta Adrianus Djajasepoetra, S.J. Pada 13 Oktober 2016, Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo, memberkati Taman Doa Gembala Baik yang terletak di sisi kapel.

Foto historis

[sunting | sunting sumber]

Eksterior dan fasad

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Widhartantri, Yustina W (2009-07-03). "Gereja St Yoseph Matraman, Saksi Sejarah Kota Militer (1)". KOMPAS.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-25. Diakses tanggal 2023-05-24.
  2. "Perjalanan Paroki Matraman". Gereja Santo Yoseph Paroki Matraman (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-02. Diakses tanggal 2023-05-24.
  3. Widhartantri, Yustina M (3 Juli 2009). "Gereja St Yoseph Matraman, Saksi Sejarah Kota Militer (2)". KOMPAS.com. Diakses tanggal 25 Juni 2024.
  4. "Sejarah Paroki Matraman". Gereja Santo Yoseph, Paroki Matraman. Diakses tanggal 25 Juni 2024.

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]