Stasiun Tanjung Priuk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Stasiun Tanjung Priuk
  • Singkatan: TPK
  • Nomor: 0480
Stasiun Tj.Priok.jpg
Tampak Depan Stasiun Tanjung Priuk
Lokasi
Provinsi DKI Jakarta
Kota Jakarta Utara
Kecamatan Tanjung Priok
Kelurahan Tanjung Priok
Alamat Jalan Taman Stasiun Tanjung Priok
Kode pos 14130
Sejarah
Dibuka 1914
Nama sebelumnya Stasiun Tandjongpriok
Informasi lain
Operator Daerah Operasi I Jakarta
Kelas stasiun[1] II
Ketinggian +4 m
Letak[2] km 8+115 lintas JakartaAncolTanjung Priok
Layanan Walahar Ekspres/Lokal PWK, Jatiluhur/Lokal CKP, KRL Commuter Line, dan angkutan peti kemas
Pemesanan tiket Sistem tiket online, melayani penjualan langsung dan pemesanan di loket serta kartu single trip/multi trip Commuter Line.
Operasi
Stasiun sebelumnya   Logo kcj baru.png   Stasiun berikutnya
Terminus Tanjung Priok-Jakarta Kota
  Layanan penghubung  
Stasiun sebelumnya   Transjakarta   Stasiun berikutnya
Terminus Koridor 10
Bersambung di: Tanjung Priok
Koridor 12
Bersambung di: Tanjung Priok
Terminus
Konstruksi dan fasilitas
Jumlah jalur

8:

  • jalur 2: sepur lurus ke arah Jakarta Kota
  • jalur 3: sepur lurus dari arah Jakarta Kota
  • jalur 6: sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara
  • jalur 7: sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali
Jumlah peron 4 (satu peron sisi dan tiga peron pulau yang sama-sama agak tinggi)
Gaya arsitektur Art deco
Arsitek Ir. C.W. Koch
Fasilitas yang tersedia di stasiun ini:
LiveryPapanStasiun 2017.svg
Fasilitas parkir: Ya Area merokok: Ya
Fasilitas difabel: Tidak ada Toilet: Ya
Boarding pass: Ya, tiket thermal KA lokal dan tiket elektronik KRL
Layanan pelanggan: Ya Galeri ATM: Ya
Parkir sepeda: Tidak ada Tempat ibadah: Ya


Stasiun Tanjung Priuk atau Stasiun Tanjung Priok (TPK) merupakan stasiun kereta api kelas II yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini termasuk ke dalam Daerah Operasi I Jakarta. Memiliki langgam bangunan art deco, stasiun ini termasuk salah satu bangunan tua yang dijadikan cagar budaya DKI Jakarta.

Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ke arah Jakarta Kota, jalur 3 sebagai sepur lurus dari arah Jakarta Kota, jalur 6 sebagai sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara, dan jalur 7 sebagai sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali. Di sayap barat laut emplasemen stasiun ini terdapat percabangan jalur menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Keberadaan Stasiun Tanjung Priok tidak dapat dipisahkan dengan ramainya Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan kebanggan masa Hindia Belanda itu, dan bahkan berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda. Stasiun ini pada dasarnya terbagi atas dua periode.

Periode pertama[sunting | sunting sumber]

Stasiun Tanjung Priok lama

Periode pertama adalah ketika stasiun ini terletak persis di atas dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun ini selesai dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken pada 1883 dan baru pada tahun 1885 diresmikan pembukaannya bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Tanjung Priok.[3]

Pengelolaan stasiun dan jalur kereta api Sunda Kelapa - Tanjung Priok diserahkan kepada jawatan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS). Sampai dengan tahun 1900, dalam sehari tidak kurang dari 40 perjalanan kereta api rute Tanjung Priok - Batavia SS pp dan NISM serta Tanjung Priok - Kemayoran pp.

Periode kedua[sunting | sunting sumber]

Sejak paruh akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok kian meningkat, sehingga terjadi perluasan area pelabuhannya yang mengakibatkan stasiun Tanjung Priok digusur. Untuk menggantikannya, pada tahun 1914 di sebelah Halte Sungai Lagoa dibangun stasiun baru yang lebih megah. Dalam pembangunan itu, SS menugaskan Ir. C.W. Koch sebagai arsitek utama.[3] Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama kereta listrik rute Priok - Meester Cornelis (Jatinegara).

Keseluruhan[sunting | sunting sumber]

Stasiun Tanjung Priok pada tahun 1950-an

Bandar pelabuhan yang dibangun pada 1877 pada masa Gubernur Jendral Johan Wilhelm van Lansberge yang berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1875-1881 itu semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu pelabuhan paling ramai di Asia setelah dibukanya Terusan Suez.

Stasiun ini menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan. Alasan pembangunan ini karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priok sebagian besar adalah hutan dan rawa-rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu (kereta api). Pada akhir abad ke-19, pelabuhan Jakarta yang semula berada di daerah sekitar Pasar Ikan tidak lagi memadai, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok.

Stasiun ini dibangun tepatnya pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.

Bahkan sejak diselesaikannya stasiun ini, telah timbul protes mengenai "pemborosan" yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar Stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum. Sementara, kereta api-kereta api kapal yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd langsung menuju ke dermaga pelabuhan dan tidak menggunakan stasiun ini. Stasiun ini terutama hanya digunakan untuk kereta rel listrik yang mulai digunakan di sekitar Batavia pada tahun 1925.[4]

Pada zaman Belanda, di stasiun ini juga tersedia ruang penginapan sementara bagi para penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal laut untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang memang disediakan untuk penumpang.[3]

Stasiun ini, terbilang hanya 16 tahun mengalami kejayaan. Pembukaan Bandara Kemayoran yang melayani penerbangan umum sejak tahun 1940 mulai menjadi saingan berat bagi stasiun ini, karena banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi udara dalam perjalanan mereka, dari dan ke Jawa menuju Batavia.[3] Hal ini juga ditunjang dengan jauhnya letak dari stasiun yang baru dari Pelabuhan Laut Tanjung Priok, walaupun pada masa itu, para penumpang dilayani dengan bus feeder rute pelabuhan - Stasiun Tanjung Priok pp.

Selain itu situasi Perang Dunia II yang meluas ke Hindia Belanda membuat perawatan stasiun menjadi terabaikan. Malah dalam masa pendudukan pemerintah militer Jepang, stasiun ini lebih diutamakan untuk kepentingan perang dan mengirim para romusha keluar Jawa.[3]

Keadaan terkini[sunting | sunting sumber]

Emplasemen Stasiun Tanjung Priok, dengan lokomotif BB 306 08 yang sedang dipanaskan
Lobby dan loket karcis
Sudut kanan depan stasiun

Menjelang awal abad ke-21, kondisinya sempat tidak terawat. Meskipun demikian, stasiun peninggalan pemerintah Hindia Belanda ini tampaknya seakan tidak peduli dengan perubahan suasana di sekitarnya. Seakan tidak peduli dengan teriknya hawa di pinggir pantai Tanjung Priok, kerasnya kehidupan pelabuhan, dan hilir mudiknya kendaraan besar seperti kontainer bahkan semrawutnya terminal bus di depannya.

Tetapi kita masih dapat membayangkan betapa artistiknya seni perpaduan antara gaya neo klasik dengan gaya kontemporer. Tak aneh jika bangunan ini pernah berjaya, sebagai salah satu stasiun kebanggaan warga Batavia di era akhir abad ke-18.

Semakin masuk ke dalam bangunan stasiun itu, kondisi bangunan yang memprihatinkan itu semakin terkuak. Atap bangunan yang menjadi saksi perkembangan Kota Jakarta ini sudah terlepas di sana-sini. Kaca-kaca dan kerangka atap bangunan sudah mulai lekang dimakan usia. Areal peron sebagian sudah tidak terawat bahkan di sisi barat sudah dipenuhi oleh para tunawisma dan tunawicara

Kemunduran fisik stasiun itu bermula ketika stasiun itu tidak berfungsi lagi sebagai stasiun penumpang pada awal Januari 2000. Pengebirian fungsi itu membuat pemasukan dana dari tiket peron semakin berkurang. Inilah yang menyebabkan PT Kereta Api (Persero) menyewakan ruangan yang ada di depan bangunan stasiun. Maka bagian depan stasiun pun terisi pemandangan kantor-kantor jasa seperti penjualan tiket kapal laut, pengiriman barang hingga jasa penukaran uang asing sebelum akhirnya PT Kereta Api Indonesia memutuskan membuka kembali stasiun ini sebagai stasiun penumpang pada tahun 2009.

Persiapan dilakukan pada bulan November-Desember 2008 dengan dilaksanakannya renovasi besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun. Selanjutnya, proyek diteruskan dengan rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik pada awal tahun 2009. Pada tanggal 28 Maret 2009, stasiun ini dapat kembali difungsikan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Stasiun ini pada saat itu melayani kereta ekonomi jarak jauh dan lokal Purwakarta. Sebelumnya, KRL Ekonomi AC/Commuter Line rute Tanjung Priok - Bekasi sempat melintas stasiun ini. Per 1 November 2014 semua kereta api yang tadinya berangkat dari stasiun ini dipindahkan ke Stasiun Pasar Senen. Alasannya, Stasiun Tanjung Priuk direncanakan akan dijadikan stasiun barang.[5] Tetapi, mulai 9 Februari 2016 perjalanan KA Lokal Purwakarta dan KA Lokal Cikampek dari yang sebelumnya pemberangkatan awalnya dari Stasiun Jakarta Kota dipindahkan kembali ke Stasiun Tanjung Priuk. Di Stasiun Jakarta Kota rencananya akan dilakukan persiapan infrastruktur pendukung KRL Bandara Soetta yang akan beroperasi pada pertengahan tahun mendatang.[1]

Sejak 21 Desember 2015 Stasiun Tanjung Priok kembali melayani KRL Jakarta Kota-Tanjungpriok setelah beberapa tahun tidak aktif. Stasiun ini setiap hari melayani enam kali perjalanan dari dan ke Stasiun Jakarta Kota.[6]

Selain melayani KRL dan KA barang, Stasiun Tanjung Priok juga dijadikan tempat parkir untuk KA Kertajaya dan KA Tawang Jaya yang keduanya merupakan KA penumpang rangkaian panjang yang terdiri dari enam belas gerbong kereta serta KA Menoreh.

Bangunan dan tata letak[sunting | sunting sumber]

Walau bukan stasiun pusat, stasiun ini terbilang modern pada masanya, dikarenakan banyak mempergunakan material besi baja yang disusun melengkung melingkupi enam jalur rel di dalamnya. Penggunaan struktur bangunan besi, apalagi besi baja, pada masa awal abad ke-20 membuat stasiun ini tidak ketinggalan tren dengan stasiun-stasiun besar di Eropa pada saat itu.[3]

Jendela di stasiun ini terbentuk atas garis-garus yang terdiri dari lis profil atap yang horizontal serta lubang-lubang pada cornice berupa ballustrade atapnya, garis-garis vertikal kolom-kolom, dan lekukan pada dinding menyerupai jendela selain jendela-jendela sesungguhnya yang berjalusi kayu.[3]

Kaca patri dan ornamen profil keramik, tampak menghiasi dinding stasiun. Dengan hiasan itu, maka stasiun tampak megah dan diperkuat dengan kolom-kolom besar dan kokoh pada beranda utama yang didukung dengan tangga di sepanjang bangunan.[3]

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Penumpang[sunting | sunting sumber]

Lokal/komuter ekonomi AC[sunting | sunting sumber]

KRL Commuter Line[sunting | sunting sumber]

Pink Line, dari dan tujuan Jakarta Kota via Kampung Bandan

Barang[sunting | sunting sumber]

Angkutan peti kemas/kontainer, dari dan tujuan Surabaya atau Bandung

Jadwal kereta api[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah jadwal kereta api penumpang yang berhenti di Stasiun Tanjung Priuk per 1 April 2017 (berdasarkan Gapeka 2017).

Harap diingat, jadwal ini hanya membahas perjalanan kereta api non-KRL.

No. KA KA Kelas Tujuan Tiba Berangkat
323A Jatiluhur/Lokal CKP Lokal Ekonomi AC Jakarta Tanjung Priok (TPK) 06.47 -
325A 07.18 -
321A Walahar Ekspres/Lokal PWK 08.16 -
324A Purwakarta (PWK) - 09.55
326A - 11.05
322A - 16.15
327A Jakarta Tanjung Priok (TPK) 16.40 -
328A Jatiluhur/Lokal CKP Cikampek (CKP) - 17.10
329A Walahar Ekspres/Lokal PWK Jakarta Tanjung Priok (TPK) 17.14 -
330A Jatiluhur/Lokal CKP Cikampek (CKP) - 19.05

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
Tanjung Priok
Ancol
Jakarta Gudang
Jakarta Kota
Kampung Bandan
Jayakarta
Rajawali
Mangga Besar
Sawah Besar
Kemayoran
Juanda
Angke
Duri
Gambir
Gondangdia
Tanah Abang
Cikini
Karet
Pasar Senen
Sudirman
Gang Sentiong
Mampang
Kramat
Manggarai
Pondok Jati
Grogol
Pesing
Palmerah
Taman Kota
Kebayoran
Bojong Indah
ke Serpong/Merak
Rawa Buaya
Jatinegara
Kalideres
Cipinang
ke Tangerang
Klender
Dipo Bukit Duri
Buaran
Tebet
Klender Baru
Cawang
Cakung
Duren Kalibata
ke Bekasi/Cikampek
Pasar Minggu Baru
Pasar Minggu
Tanjung Barat
Lenteng Agung
Univ. Pancasila
ke Depok/Bogor
Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
MetroMini[7] 41 Tanjung Priok–Pulo Gadung
23 Tanjung Priok–Marunda
24 Tanjung Priok–Senen
Mikrolet[8] M14 Tanjung Priok–Cilincing
M15 Tanjung Priok–Kampung Bandan–Kota
M15A Tanjung Priok–Mangga Dua–Kota
M30A Tanjung Priok–Pulo Gadung
Koperasi Wahana Kalpika (KWK)[8] U01 Tanjung Priok–Pulo Gebang
U03A Tanjung Priok–Sukapura
U05 Tanjung Priok–Bulak Turi
U06 Tanjung Priok–Walang Baru
U07 Tanjung Priok–IGI
U08 Tanjung Priok–Rorotan
U09 Tanjung Priok–Cilincing
Mayasari Bakti[9] AC25 Bekasi–Tanjung Priok
AC42 Cileungsi–Tanjung Priok
P14 Tanah Abang–Tanjung Priok
Maya Raya Cikarang–Tanjung Priok
PPD[10] 43 Cililitan–Tanjung Priok
Transjakarta Roundetjk10.png Tanjung Priok–PGC 2
Roundetjk12.png Tanjung Priok–Penjaringan
DAMRI Tanjung Priok–Bandara[11]
Jasa Utama[12] P125 Tanjung Priok–Tosari
P159 Tanjung Priok–Grogol

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  2. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  3. ^ a b c d e f g h Murti Hariyadi, Ibnu; Basir, Ekawati; Pratiwi, Mungki Indriati; Ubaidi, Ella; Sukmono, Edi (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT. Kereta Api Indonesia (Persero). hlm. 15 – 24. ISBN 978-602-18839-3-8. 
  4. ^ "Majalah KA", Majalah KA, Agustus 2014 
  5. ^ Rachman, Taufik (13 November 2014), "Stasiun Tanjung Priok Fokus Kereta Barang", Republika 
  6. ^ Agustinus, Michael (21 Desember 2015), "KRL Kota-Tanjung Priok 'Hidup Lagi'", Detik Dot Com 
  7. ^ "Rute Metro Mini dan Kopaja di Jakarta". e-transportasi. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  8. ^ a b "Mikrolet – TransportUmum – Jakarta". www.transportumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-27. 
  9. ^ "Rute dan Tarif Bus Mayasari Bakti". e-transportasi. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  10. ^ "PPD – TransportUmum – Jakarta". www.transportumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-27. 
  11. ^ "Jadwal Bus Damri Dari Dan Ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta". BusBandara.com (dalam bahasa Inggris). 2014-12-13. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  12. ^ "Jasa Utama – TransportUmum – Jakarta". www.transportumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-27. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Indonesia) Situs resmi KCI dan jadwal KRL tahun 2018

Stasiun sebelumnya   Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Lintas Kereta Api Indonesia Logo of the Ministry of Transportation of the Republic of Indonesia.svg   Stasiun berikutnya
Lintas Jakarta
Jakarta Kota–Tanjung Priok
Terminus
Lintas Jakarta
Tanjung Priuk–JICT
menuju JICT

Koordinat: 6°06′40″S 106°52′51″E / 6.1112083°S 106.8808472°E / -6.1112083; 106.8808472