Stasiun Tanjung Priuk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Stasiun Tanjung Priuk
Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg
PapanNamaStasiun TPK.png
  • Singkatan: TPK
  • Nomor: 0480
Stasiun Tanjung Priuk dengan Papan Nama Terbaru versi 2017.jpg
Stasiun Tanjung Priuk dengan Papan Nama Terbaru versi 2017
Lokasi
ProvinsiDKI Jakarta
KotaJakarta Utara
KecamatanTanjung Priok
KelurahanTanjung Priok
AlamatJalan Taman Stasiun Tanjung Priuk
Kode pos14130
Koordinat6°06′40″S 106°52′51″E / 6.1112083°S 106.8808472°E / -6.1112083; 106.8808472Koordinat: 6°06′40″S 106°52′51″E / 6.1112083°S 106.8808472°E / -6.1112083; 106.8808472
Sejarah
Dibuka6 April 1925
Dibuka kembali28 April 2009
Nama sebelumnyaTandjongpriok
Informasi lain
Operator
Kelas stasiun[1]II
Ketinggian+4 m
Letak[2]km 8+115 lintas JakartaAncolTanjung Priuk
LayananCilamaya Ekspres/Lokal PWK (dari Purwakarta), Walahar Ekspres/Lokal PWK (arah Purwakarta), Jatiluhur/Lokal CKP, KRL Commuter Line, dan angkutan peti kemas
Pemesanan tiketSistem tiket online, melayani penjualan langsung dan pemesanan di loket serta kartu single trip/multi trip Commuter Line.
Operasi
Stasiun sebelumnya   Logo kcj baru.png   Stasiun berikutnya
Terminus Tanjung Priuk–Jakarta Kota
  Layanan penghubung  
Stasiun sebelumnya   Transjakarta   Stasiun berikutnya
Terminus Koridor 10
Bersambung di: Tanjung Priok
Konstruksi dan fasilitas
Jumlah jalur8:
  • jalur 2: sepur lurus ke arah Jakarta Kota
  • jalur 3: sepur lurus dari arah Jakarta Kota
  • jalur 6: sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara
  • jalur 7: sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali
Jumlah peronEmpat peron teluk yang terdiri atas satu peron sisi dan tiga peron pulau
Gaya arsitekturArt deco
ArsitekIr. C.W. Koch
Tipe persinyalanElektrik tipe Sinyal Interlocking Len-02
Fasilitas yang tersedia di stasiun ini:
LiveryPapanStasiun 2017.svg
Fasilitas parkir: Ya Area merokok: Ya
Fasilitas difabel: Tidak ada Toilet: Ya
Boarding pass: Ya, tiket thermal KA lokal dan tiket elektronik KRL
Layanan pelanggan: Ya Galeri ATM: Tidak ada
Parkir sepeda: Tidak ada Tempat ibadah: Ya


Lokasi pada peta
Tanjung Priuk berlokasi di Jakarta
Tanjung Priuk
Tanjung Priuk
Tanjung Priuk (Jakarta)
Tanjung Priuk berlokasi di Jawa
Tanjung Priuk
Tanjung Priuk
Tanjung Priuk (Jawa)

Stasiun Tanjung Priuk atau awam menyebutnya sebagai Stasiun Tanjung Priok (TPK) merupakan stasiun kereta api kelas II yang terletak di seberang Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta. Memiliki langgam bangunan art deco, stasiun ini termasuk salah satu bangunan tua yang dijadikan cagar budaya DKI Jakarta.

Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ke arah Jakarta Kota, jalur 3 sebagai sepur lurus dari arah Jakarta Kota, jalur 6 sebagai sepur lurus ke arah Rajawali-Pasar Senen-Jatinegara, dan jalur 7 sebagai sepur lurus dari arah Jatinegara-Pasar Senen-Rajawali. Di sayap barat laut emplasemen stasiun ini terdapat percabangan jalur menuju pelabuhan tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Keberadaan Stasiun Tanjung Priuk tidak dapat dipisahkan dengan ramainya Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan kebanggaan masa Hindia Belanda itu, dan bahkan berperan sebagai pintu gerbang kota Batavia serta Hindia Belanda. Stasiun ini pada dasarnya terbagi atas dua periode.

Periode pertama[sunting | sunting sumber]

Stasiun Tanjung Priuk lama

Pada periode ini, stasiun ini terletak persis di atas dermaga Pelabuhan Tanjung Priok. Stasiun ini selesai dibangun oleh Burgerlijke Openbare Werken pada 1883 dan baru pada tahun 2 November 1885 diresmikan pembukaannya bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Tanjung Priok.[3][4]

Pengelolaan stasiun dan jalur kereta api Sunda Kelapa–Tanjung Priuk diserahkan kepada jawatan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS). Sampai dengan tahun 1900, dalam sehari tidak kurang dari 40 perjalanan kereta api rute Tanjung Priuk–Batavia SS/NIS pp serta Tanjung Priuk–Kemayoran pp.

Periode kedua[sunting | sunting sumber]

Sejak paruh akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok kian meningkat, sehingga terjadi perluasan area pelabuhannya yang mengakibatkan stasiun Tanjung Priuk digusur. Untuk menggantikannya, pada tahun 1914 di sebelah gudang Sungai Lagoa dibangun stasiun baru yang lebih megah. Dalam pembangunan itu, SS menugaskan Ir. C.W. Koch sebagai arsitek utama.[3] Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama kereta listrik rute Priok–Meester Cornelis (Jatinegara).

Stasiun ini dibangun pada masa Gubernur Jenderal A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.

Keseluruhan[sunting | sunting sumber]

Stasiun Tanjung Priuk pada tahun 1950-an

Bandar pelabuhan yang dibangun pada 1877 pada masa Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge yang berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1875-1881 itu semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu pelabuhan paling ramai di Asia setelah dibukanya Terusan Suez.

Stasiun ini menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan Batavia yang berada di selatan. Alasan pembangunan ini karena pada masa lalu wilayah Tanjung Priok sebagian besar adalah hutan dan rawa yang berbahaya sehingga dibutuhkan sarana transportasi yang aman pada saat itu (kereta api). Pada akhir abad ke-19, pelabuhan Jakarta yang semula berada di daerah sekitar Pasar Ikan tidak lagi memadai, dan Belanda membangun fasilitas pelabuhan baru di Tanjung Priok.

Sejak selesainya stasiun ini, telah timbul protes mengenai "pemborosan" yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar Stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum. Sementara, kereta api pelabuhan yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal milik Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd langsung menuju ke dermaga dan tidak menggunakan stasiun ini. Stasiun ini terutama hanya digunakan untuk kereta rel listrik yang mulai digunakan di sekitar Batavia pada tahun 1925.[5]

Pada zaman Belanda, di stasiun ini juga tersedia ruang penginapan sementara bagi para penumpang yang akan menunggu kedatangan kapal untuk melanjutkan perjalanan. Kamar-kamar tersebut terletak di sayap kiri bangunan yang memang disediakan untuk penumpang.[3]

Stasiun ini, terbilang hanya 16 tahun mengalami kejayaan. Pembukaan Bandara Kemayoran yang melayani penerbangan umum sejak tahun 1940 mulai menjadi saingan berat bagi stasiun ini, karena banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi udara dalam perjalanan mereka, dari dan ke Jawa menuju Batavia.[3] Hal ini juga ditunjang dengan jauhnya letak dari stasiun yang baru dari Pelabuhan Laut Tanjung Priok, walaupun pada masa itu, para penumpang dilayani dengan bus feeder rute pelabuhan–Stasiun Tanjung Priuk pp.

Selain itu situasi Perang Dunia II yang meluas ke Hindia Belanda membuat perawatan stasiun menjadi terabaikan. Malah dalam masa pendudukan pemerintah militer Jepang, stasiun ini lebih diutamakan untuk kepentingan perang dan mengirim para romusha keluar Jawa.[3]

Keadaan terkini[sunting | sunting sumber]

Emplasemen Stasiun Tanjung Priuk, dengan lokomotif BB 306 08 yang sedang dipanaskan

Menjelang awal abad ke-21, kondisinya sempat tidak terawat. Meskipun demikian, stasiun peninggalan pemerintah Hindia Belanda ini tampaknya seakan tidak peduli dengan perubahan suasana di sekitarnya. Seakan tidak peduli dengan teriknya hawa di pinggir pantai Tanjung Priok, kerasnya kehidupan pelabuhan, dan hilir mudiknya kendaraan besar seperti kontainer bahkan semrawutnya terminal bus di depannya.

Tetapi masih terbayangkan betapa artistiknya seni perpaduan antara gaya neo klasik dengan gaya kontemporer. Tak aneh jika bangunan ini pernah berjaya, sebagai salah satu stasiun kebanggaan warga Batavia di era akhir abad ke-18.

Semakin masuk ke dalam bangunan stasiun itu, kondisi bangunan yang memprihatinkan itu semakin terkuak. Atap bangunan yang menjadi saksi perkembangan Kota Jakarta ini sudah terlepas di sana-sini. Kaca-kaca dan kerangka atap bangunan sudah mulai lekang dimakan usia. Areal peron sebagian sudah tidak terawat, bahkan di sisi barat sudah dipenuhi oleh para tunawisma.

Kemunduran fisik stasiun itu bermula ketika stasiun itu tidak berfungsi lagi sebagai stasiun penumpang pada awal Januari 2000. Pengebirian fungsi itu membuat pemasukan dana dari tiket peron semakin berkurang. Inilah yang menyebabkan PT Kereta Api (Persero) menyewakan ruangan yang ada di depan bangunan stasiun. Maka bagian depan stasiun pun terisi pemandangan kantor-kantor jasa seperti penjualan tiket kapal laut, pengiriman barang hingga jasa penukaran uang asing sebelum akhirnya PT Kereta Api Indonesia memutuskan untuk membuka kembali stasiun ini sebagai stasiun penumpang pada tahun 2009.

Persiapan dilakukan pada bulan November-Desember 2008 dengan dilaksanakannya renovasi besar-besaran terhadap fisik bangunan stasiun. Selanjutnya, proyek diteruskan dengan rehabilitasi fasilitas rel serta pembangunan perangkat sinyal elektrik pada awal tahun 2009. Pada tanggal 28 April 2009, stasiun ini dapat kembali difungsikan dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersamaan dengan peresmian Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.[6][7][8]

Bangunan dan tata letak[sunting | sunting sumber]

Lobby dan loket karcis

Walau bukan stasiun pusat, stasiun ini terbilang modern pada masanya, karena banyak mempergunakan material besi baja yang disusun melengkung melingkupi enam jalur rel di dalamnya. Penggunaan struktur bangunan besi, apalagi besi baja, pada masa awal abad ke-20 membuat stasiun ini tidak ketinggalan tren dengan stasiun-stasiun besar di Eropa pada saat itu.[3]

Jendela di stasiun ini terbentuk atas garis-garis yang terdiri dari lis profil atap yang horizontal serta lubang-lubang pada cornice berupa ballustrade atapnya, garis-garis vertikal kolom-kolom, dan lekukan pada dinding menyerupai jendela selain jendela-jendela sesungguhnya yang berjalusi kayu.[3]

Kaca patri dan ornamen profil keramik, tampak menghiasi dinding stasiun. Dengan hiasan itu, maka stasiun tampak megah dan diperkuat dengan kolom-kolom besar dan kokoh pada beranda utama yang didukung dengan tangga di sepanjang bangunan.[3]

Pada budaya populer[sunting | sunting sumber]

Stasiun Tanjung Priuk kerap dijadikan lokasi syuting video musik, film, dan iklan.[9] Contoh lagu yang video musiknya pernah menggunakan lokasi syuting di stasiun ini antara lain, "Menunggumu" yang dinyanyikan oleh Chrisye featuring Peterpan, "Ku Tetap Menanti" ciptaan Eka Gustiwana yang dinyanyikan oleh Nikita Willy, dan "Dengan Nafasmu" karya Ungu.[10]

Larangan fotografi[sunting | sunting sumber]

Sejak banyaknya komersialisasi (baca: syuting iklan, acara televisi, video musik, dan iklan) di Stasiun Tanjung Priuk, stasiun ini kini menjadi tempat yang sangat ketat bagi fotografer pemula maupun yang sudah berpengalaman karena tempat ini "terlarang" sebagai area memotret, padahal sama sekali tidak ada rambu-rambu dilarang memotret di stasiun. Alasan status cagar budaya "tidak pernah diterapkan" di situs lain yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun BPCB.[11] Jangankan kamera SLR (termasuk juga DSLR dan mirrorless), kamera digital saku bahkan dalam kasus tertentu dapat terkena peringatan oleh petugas keamanan. Sejak berlakunya aturan baru memotret di stasiun, hanya kamera ponsel, kamera saku, SLR, dan kamera aksi (GoPro) yang diperbolehkan digunakan untuk memotret stasiun.[12]

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Sejak dibukanya stasiun ini, stasiun ini pada saat itu melayani kereta ekonomi jarak jauh dan lokal Purwakarta. Sebelumnya, KRL Ekonomi AC/Commuter Line rute Tanjung Priuk–Bekasi pp sempat mengawali dan mengakhiri perjalanannya di stasiun ini, sebagai KRL feeder. Per 1 November 2014 semua kereta api yang tadinya berangkat dari stasiun ini dipindahkan ke Stasiun Pasar Senen. Alasannya, Stasiun Tanjung Priuk direncanakan akan dijadikan stasiun barang.[13] Mulai 9 Februari 2016 perjalanan KA Lokal Purwakarta dan KA Lokal Cikampek dari yang sebelumnya beterminus di Stasiun Jakarta Kota dialihkan kembali ke Stasiun Tanjung Priuk.[14]

Selain melayani KRL dan KA barang, Stasiun Tanjung Priuk juga dijadikan tempat parkir untuk kereta api Kertajaya dan Tawang Jaya yang keduanya merupakan KA penumpang rangkaian panjang yang terdiri dari enam belas kereta penumpang.

Penumpang[sunting | sunting sumber]

Lokal ekonomi AC[sunting | sunting sumber]

KRL Commuter Line[sunting | sunting sumber]

Pink Line, dari dan tujuan Jakarta Kota via Kampung Bandan

Barang[sunting | sunting sumber]

Angkutan peti kemas/kontainer, dari dan tujuan Surabaya atau Bandung

Jadwal kereta api[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah jadwal kereta api penumpang yang berhenti di Stasiun Tanjung Priuk per 8 Juni 2019 (revisi Gapeka 2017).

Harap diingat, jadwal ini hanya membahas perjalanan kereta api non-KRL.

No. KA KA Tujuan Kelas Tiba Berangkat
323B Jatiluhur/Lokal CKP Jakarta Tanjung Priuk (TPK) Lokal Ekonomi AC 06.50 -
325B 07.18 -
321B Cilamaya Ekspres/Lokal PWK 08.17 -
324B Walahar Ekspres/Lokal PWK Purwakarta (PWK) - 10.00
326B - 11.05
322B - 16.20
327B Cilamaya Ekspres/Lokal PWK Jakarta Tanjung Priuk (TPK) 16.43 -
328B Jatiluhur/Lokal CKP Cikampek (CKP) - 17.10
329B Cilamaya Ekspres/Lokal PWK Jakarta Tanjung Priuk (TPK) 17.31 -
330B Jatiluhur/Lokal CKP Cikampek (CKP) - 19.05

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Stasiun kereta api di DKI Jakarta
Tanjung Priuk KRL Icon Pink.svg Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Roundetjk10.png Bus interchange
Ancol
Jakarta Gudang
KRL Icon Red.svg KRL Icon Blue.svg KRL Icon Pink.svg Roundeltjk1.png Roundeltjk5.png Roundetjk9B.png Roundetjk12.png Jakarta Kota
Kampung Bandan Roundeltjk5.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png Roundetjk10.png
Jayakarta
Rajawali Roundeltjk5.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png Roundetjk10.png Roundetjk12.png
Mangga Besar
Sawah Besar
Kemayoran
Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk3.png Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk7.png Roundetjk8A.png Juanda
KRL Icon Yellow.svg Angke
KRL Icon Brown.svg  ARS  Duri
Gambir Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk7.png
Gondangdia
KRL Icon Green.svg Tanah Abang
Cikini
Karet
Pasar Senen Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Roundeltjk2.png Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk7.png Roundeltjk5.png Roundeltjk5D.png Bus interchange
Roundeltjk1.png Roundeltjk4.png Roundeltjk6.png Roundeltjk6B.png Roundetjk9B.png Roundetjk13.png  M1   ARS  Sudirman
Gang Sentiong
Mampang
Kramat
Roundeltjk4.png Roundeltjk4D.png Bus interchange Manggarai
Pondok Jati Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5D.png
Roundetjk9.png Roundetjk9A.png Grogol
Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk3.png Roundetjk8.png Pesing
Palmerah
Roundeltjk2A.png Roundeltjk2D.png Roundeltjk3.png Taman Kota
Kebayoran Roundetjk8.png Roundetjk13.png
Bojong Indah
ke Serpong/Rangkasbitung/Merak
Rawa Buaya
Jatinegara KRL Icon Yellow.svg Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Roundeltjk5.png Roundeltjk5C.png Roundeltjk5D.png Roundeltjk5E.png Roundeltjk4.png Roundeltjk7.png Roundetjk10.png Roundetjk11.png
Kalideres
Cipinang
ke Tangerang
Klender Roundetjk11.png
Dipo Bukit Duri
Buaran Roundetjk11.png
Tebet
Klender Baru KRL Icon Blue.svg Roundetjk11.png
Roundeltjk4.png Roundetjk9.png Roundetjk9A.png Roundetjk9B.png Roundetjk9C.png Roundetjk13.png Cawang
Cakung
Duren Kalibata
ke Bekasi/Cikarang/Cikampek
Pasar Minggu Baru
Pasar Minggu KRL Icon Red.svg KRL Icon Yellow.svg Bus interchange
Tanjung Barat
Lenteng Agung
Univ. Pancasila
ke Depok/Bogor/Nambo
Jenis angkutan umum Trayek Tujuan
MetroMini[15] 23 Tanjung Priok–Cilincing
24 Tanjung Priok–Senen
41 Tanjung Priok–Pulo Gadung
Mikrolet[16] JU02 Tanjung Priok–Pasar Embrio
JU03 Tanjung Priok–Rawa Badak Utara
JU03 Tanjung Priok–Sunter Agung
M14 Tanjung Priok–Cilincing (via Jampea)
M15 Tanjung Priok–Stasiun Jakarta Kota (via Kampung Bandan Raya)
M15A Tanjung Priok–Stasiun Jakarta Kota (via Gunung Sahari-Mangga Dua Raya)
M30A Tanjung Priok–Terminal Pulo Gadung
M49 Tanjung Priok–Sunter Agung
Koperasi Wahana Kalpika (KWK)[16] U01 Tanjung Priok–Terminal Pulo Gebang (via Cakung-Cilincing)
U01A Tanjung Priok–Terminal Pulo Gebang (via Tipar Cakung)
U05 Tanjung Priok–Cilincing (via Lagoa)
U06 Tanjung Priok–Rawa Badak Selatan
U08 Tanjung Priok–Semper Barat
U09 Tanjung Priok–Lagoa
Transjabodetabek AC25 (Mayasari Bakti) Tanjung Priok-Bekasi
AC42 (Mayasari Bakti) Tanjung Priok-Cileungsi
x1 (Kramat Djati) Tanjung Priok-Bogor
x2 (Kosub Bersama) Tanjung Priok-Cibinong
Mayasari Bakti P14 Stasiun Tanah Abang–Tanjung Priok
Transjakarta Roundetjk10.png Tanjung Priok–PGC 2
Roundetjk10.png (10D) Tanjung Priok–Kampung Rambutan
Roundetjk10.png (10H) Tanjung Priok–Blok M
10A (MetroTrans) Tanjung Priok–Rusun Marunda
10C (MetroTrans) Tanjung Priok–Pelabuhan Tanjung Priok
10K (MetroTrans) Tanjung Priok–Senen
JAK 1 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Kebon Bawang
JAK 15 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Segaramakmur
JAK 29 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Rusun Sukapura
JAK 77 (Jak Lingko) Tanjung Priok–Sunter Agung
DAMRI Tanjung Priok–Bandara Soekarno-Hatta[17]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  2. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  3. ^ a b c d e f g h Murti Hariyadi, Ibnu; Basir, Ekawati; Pratiwi, Mungki Indriati; Ubaidi, Ella; Sukmono, Edi (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT. Kereta Api Indonesia (Persero). hlm. 15–24. ISBN 978-602-18839-3-8. 
  4. ^ Perquin, B.L.M.C. (1921). Nederlandsch Indische staatsspooren tramwegen. Bureau Industria. 
  5. ^ "Majalah KA", Majalah KA, Agustus 2014 
  6. ^ "Cita-cita, Bikin Statiun Pintar KA". www.jpnn.com. 2009-04-28. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  7. ^ "Presiden: Tata Lahan Sepanjang Rel KA". Gatra. 28 April 2009. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  8. ^ Mediatama, Grahanusa (2009-04-28). "Presiden Resmikan Terminal Tiga Soekarno Hatta dan Rehabilitasi Stasiun Tanjung Priuk". kontan.co.id. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  9. ^ Media, Kompas Cyber (2013-07-28). "Menanti "Stasiun Eropa" Bantu Atasi Macetnya Tanjung Priok". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2018-12-26. 
  10. ^ Agu 2008, Liputan608; Wib, 12:00. "Ungu Syuting Video Klip Album Religi Ketiga". liputan6.com. Diakses tanggal 2018-12-26. 
  11. ^ Api, Gerakan Muda Penggemar Kereta (2016-09-28). "[Opini] 71 Tahun KAI, Mau Dibawa Ke Mana?". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2019-02-05. 
  12. ^ Adhari, F. (2017-03-31). "Jangan Takut Diciduk, Kini Stasiun Aman Untuk Kegiatan Fotografi!". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-02-05. 
  13. ^ Rachman, Taufik (13 November 2014), "Stasiun Tanjung Priok Fokus Kereta Barang", Republika 
  14. ^ BeritaSatu.com. "KAI Daop 1 Jakarta Ubah Dua Relasi KA Lokal". beritasatu.com. Diakses tanggal 2019-10-07. 
  15. ^ "Rute Metro Mini dan Kopaja di Jakarta". e-transportasi. Diakses tanggal 2018-06-27. 
  16. ^ a b "Mikrolet – TransportUmum – Jakarta". www.transportumum.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-06-27. 
  17. ^ "Jadwal Bus Damri Dari Dan Ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta". BusBandara.com (dalam bahasa Inggris). 2014-12-13. Diakses tanggal 2018-06-27. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

(Indonesia) Situs resmi KCI dan jadwal KRL tahun 2018

Stasiun sebelumnya   Logo PT KAI (Persero) (New version 2016).svg Lintas Kereta Api Indonesia Logo of the Ministry of Transportation of the Republic of Indonesia.svg   Stasiun berikutnya
Lintas Jakarta
Jakarta Kota–Tanjung Priuk
Terminus
Lintas Jakarta
Tanjung Priuk–JICT
menuju JICT