Stasiun Sudimara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Stasiun Sudimara
KAI Commuter
R06

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun SDM.png
Sudimara1.jpg
Emplasemen Stasiun Sudimara.
LokasiJalan Jombang Raya
Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 15414
Indonesia
Ketinggian+40 m
OperatorKAI Commuter
Letak dari pangkalkm 24+244 lintas Angke-Tanah Abang-Rangkasbitung-Merak[1]
Jumlah peron3 (dua peron sisi dan satu peron pulau yang sama-sama tinggi)
Jumlah jalur3 (jalur 1 dan 2: sepur lurus)
Informasi lain
Kode stasiun
  • SDM
  • 0213
[2]
KlasifikasiII[2]
Sejarah
Dibuka1921
Elektrifikasi1992-1994
Nama sebelumnyaSoedimara
Perusahaan awalStaatsspoorwegen
Operasi layanan
KRL Commuter Line
Stasiun sebelumnya Logo KAI Commuter.svg Stasiun berikutnya
Jurangmangu
ke arah Tanah Abang
Lin Rangkasbitung Rawa Buntu
Lokasi pada peta

Stasiun Sudimara (SDM) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +40 meter ini hanya melayani KRL Commuter Line saja.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Agar mobilitas penumpang dari Batavia menuju Rangkasbitung hingga kawasan Banten semakin lancar, maka pada tahun 1890-an perusahaan Staatsspoorwegen membangun sebuah jalur kereta api beserta stasiun-stasiunnya (termasuk Stasiun Sudimara pada tahun 1921) yang menghubungkan daerah Duri hingga daerah Rangkasbitung, melewati daerah Tanah Abang. Proyek ini pun selesai pada tahun 1899, dan langsung dijalankan kereta api-kereta api reguler yang melayani rute tersebut.[3][4]

Pada awalnya, terdapat 4 jalur di Stasiun Sudimara, dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Jalur 2 dan 3 biasa digunakan untuk lalu-lalang dan persilangan KA, sedangkan jalur 1 terkadang digunakan untuk menyimpan atau stabling rangkaian gerbong-gerbong barang, yang dimana jalur 1 ini juga memiliki wesel (mengarah ke Rawa Buntu) yang menuju ke sebuah jalur buntu atau sepur badug. Serta terdapat juga sepur badug yang buntu di bangunan stasiun, posisinya ada di sebelah kanan jalur 1 dari arah Stasiun Jurang Mangu. Kedua sepur badug ini pun juga dipakai untuk menyimpan gerbong barang.

Diperkirakan pada awal era 1990-an, rel di Stasiun Sudimara pun diubah hanya menjadi 3 jalur saja. Serta, posisi wesel-weselnya pun diubah dan jalur-jalur lainnya dibongkar.

Pada tahun 1992-1994, jalur lintas Tanah Abang-Serpong pun kemudian dielektrifikasi dengan tiang listrik aliran atas (LAA) model Prancis, salah satunya adalah untuk mendukung perjalanan KRL Serpong Ekspres yang disebut-sebut sebagai cikal bakal dari KRL Green Line. Kala itu pun jalur di Stasiun Sudimara yang dielektrifikasi hanya jalur 1 dan 2 saja, sedangkan untuk jalur 3 baru dielektrifikasi di atas tahun 2005 dengan tiang LAA model Jepang. Serta, diperkirakan pada awal era 1990-an ini peron Stasiun Sudimara juga direnovasi menjadi peron yang lebih tinggi. Bangunan lama stasiun ini yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen masih tetap dipertahankan dan ruangan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang juga merupakan bagian dari bangunan lama stasiun ini pun masih dipakai hingga sekarang.

Pada awal era 2000-an, Stasiun Sudimara memiliki total 3 jalur, dengan jalur 1 (sebagai sepur lurus) dan jalur 2 (sebagai sepur belok) yang digunakan untuk lalu-lalang maupun persilangan, serta jalur 3 digunakan untuk penyusulan KA, meskipun terkadang jalur ini juga digunakan sebagai tempat menyimpan atau stabling unit kereta api maintenance Plasser & Theurer. Sejak pengoperasian jalur ganda di lintas Tanah Abang-Serpong per 4 Juli 2007, tata letak stasiun ini dirombak dengan menambahkan jalur 2 sebagai sepur lurus baru.[5]

Dikarenakan layanan kereta api lokal dan ekspres reguler telah dihapus pada tahun 2017, jalur 3 Stasiun Sudimara pun sudah jarang dipakai dikarenakan tidak adanya lagi aktivitas penyusulan KRL oleh kereta api tersebut. Namun, jalur 3 Stasiun Sudimara masih sesekali digunakan sebagai tempat menyimpan atau stabling Plasser & Theurer, yang dimana unit kereta api maintenance ini biasa digunakan untuk merawat kondisi rel di lintas tersebut. Serta, jalur 3 Stasiun Sudimara juga sesekali masih dipakai untuk penyusulan KRL oleh KA angkutan batu bara, Kereta Luar Biasa (KLB), dan terkadang juga digunakan sebagai tempat menyimpan atau stabling KRL.

Stasiun Sudimara memiliki underpass bersamaan dengan Stasiun Pondok Ranji, sehingga penumpang tidak perlu lagi menyeberangi rel secara langsung demi keselamatan.[6]

Bangunan dan tata letak[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, terdapat 4 jalur di Stasiun Sudimara, dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Jalur 2 dan 3 biasa digunakan untuk lalu-lalang dan persilangan KA, sedangkan jalur 1 terkadang digunakan untuk menyimpan atau stabling rangkaian gerbong-gerbong barang, yang dimana jalur 1 ini juga memiliki wesel (mengarah ke Rawa Buntu) yang menuju ke sebuah jalur buntu atau sepur badug. Serta terdapat juga sepur badug yang buntu di bangunan stasiun, posisinya ada di sebelah kanan jalur 1 dari arah Stasiun Jurang Mangu. Kedua sepur badug ini pun juga dipakai untuk menyimpan gerbong barang.

Diperkirakan pada awal era 1990-an, rel di Stasiun Sudimara pun diubah hanya menjadi 3 jalur saja. Serta, posisi wesel-weselnya pun diubah dan jalur-jalur lainnya dibongkar.

Pada awal era 2000-an, Stasiun Sudimara memiliki total 3 jalur, dengan jalur 1 (sebagai sepur lurus) dan jalur 2 (sebagai sepur belok) yang digunakan untuk lalu-lalang maupun persilangan, serta jalur 3 digunakan untuk penyusulan KA. Sejak pengoperasian jalur ganda di lintas Tanah Abang-Serpong per 4 Juli 2007, tata letak stasiun ini dirombak dengan menambahkan jalur 2 sebagai sepur lurus baru.[5] Bangunan lama stasiun ini yang merupakan peninggalan Staatsspoorwegen masih tetap dipertahankan dan ruangan Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yang juga merupakan bagian dari bangunan lama stasiun ini pun masih dipakai hingga sekarang.

Dikarenakan layanan kereta api lokal dan ekspres reguler telah dihapus pada tahun 2017, jalur 3 Stasiun Sudimara pun sudah jarang dipakai dikarenakan tidak adanya lagi aktivitas penyusulan KRL oleh kereta api tersebut. Namun, jalur 3 Stasiun Sudimara masih sesekali digunakan sebagai tempat menyimpan atau stabling Plasser & Theurer, yang dimana unit kereta api maintenance ini biasa digunakan untuk merawat kondisi rel di lintas tersebut. Serta, jalur 3 Stasiun Sudimara juga sesekali masih dipakai untuk penyusulan KRL oleh KA angkutan batu bara, Kereta Luar Biasa (KLB), dan terkadang juga digunakan sebagai tempat menyimpan atau stabling KRL.

Kereta Luar Biasa (KLB) di jalur 3 Stasiun Sudimara.
Kereta Luar Biasa (KLB) di jalur 3 Stasiun Sudimara.

Stasiun Sudimara memiliki underpass bersamaan dengan Stasiun Pondok Ranji, sehingga penumpang tidak perlu lagi menyeberangi rel secara langsung demi keselamatan.[6]

PapanKeretaApi 2020.svg

KRL CL icon.svg R06 PapanNamaStasiunKomuter SDM.svg

G Bangunan utama stasiun
P

Lantai peron

Peron sisi
Jalur 1 ← (Rawa Buntu)      Lin Rangkasbitung menuju Rangkasbitung/Tigaraksa/Serpong
Jalur 2      Lin Rangkasbitung menuju Tanah Abang (Jurangmangu) →
Peron pulau
Jalur 3      Lin Rangkasbitung menuju Tanah Abang (Jurangmangu) →
G Bangunan utama stasiun

Layanan kereta api[sunting | sunting sumber]

Komuter[sunting | sunting sumber]

Nama kereta api Tujuan akhir Keterangan
R Lin Rangkasbitung Tanah Abang -
Rangkasbitung

Antarmoda pendukung[sunting | sunting sumber]

Jenis angkutan Nomor rute Tujuan
Angkot[7] C02 Stasiun Sudimara–CBD Ciledug
D06 Stasiun Sudimara–Terminal Pondok Cabe
D08 Terminal Pondok Cabe-Terminal BSD Sektor I (via Sawah Lama Raya)

Insiden[sunting | sunting sumber]

Pada 19 Oktober 1987, terjadi sebuah peristiwa luar biasa hebat (PLH) tabrakan kereta api antara KA lokal bernomor 225 relasi Rangkasbitung-Jakarta Kota yang ditarik oleh lokomotif BB306 16 dengan KA Patas bernomor 220 relasi Tanah Abang-Merak yang ditarik oleh lokomotif BB303 16, peristiwa ini pun dikenal sebagai tragedi Bintaro. Peristiwa tabrakan yang menewaskan lebih dari 100 korban jiwa ini terjadi di antara Stasiun Kebayoran dan Stasiun Sudimara, PPKA Stasiun Sudimara pun diindikasikan ikut terlibat dalam peristiwa ini.[8]

Pada 5 Desember 2021, sebuah Kereta Luar Biasa (KLB) KRL JR 205-144F yang hendak masuk dan stabling di jalur 3 Stasiun Sudimara (dari arah Stasiun Serpong) tiba-tiba mengalami anjlok setelah melewati wesel dan perlintasan KA Sudimara, kejadian ini terjadi pada pukul 12.30. Akibat hal ini, perjalanan-perjalanan KRL reguler mengalami gangguan, dan jalan di perlintasan KA Sudimara tidak bisa dilewati oleh kendaraan karena terhalang rangkaian KRL yang anjlok.[9]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ a b Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 1 Januari 2020. 
  3. ^ "ZWP - Haltestempels Ned.Indië". studiegroep-zwp.nl. Diakses tanggal 2022-10-22. 
  4. ^ Oegema, J.J.G. (1982). De Stoomtractie op Java en Sumatra. Antwerpen: Kluwer Technische Boeken B.V. 
  5. ^ a b "SBY Resmikan Stasiun Serpong, Lalu Lintas KA Tetap Normal". detikcom. 2007-07-04. Diakses tanggal 2017-10-18. 
  6. ^ a b Nailufar, Nibras Nada (7 Agustus 2017). "'Underpass' di Stasiun Sudimara dan Pondok Ranji Mulai Dioperasikan". Kompas.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2017. 
  7. ^ "Trayek Angkot". About Tangerang. Diakses tanggal 18 Oktober 2017. 
  8. ^ "Peristiwa Luarbiasa Hebat Bintaro (Versi PJKA) – RODA SAYAP". Diakses tanggal 2022-10-26. 
  9. ^ "6 Fakta KRL Anjlok Dekat Stasiun Sudimara". detikcom. 2021-12-05. Diakses tanggal 2022-10-26. 
Stasiun sebelumnya Piktogram dari KA Jarak Jauh Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Rawa Buntu
ke arah Merak
Merak–Tanah Abang Jurangmangu
ke arah Tanah Abang


Koordinat: 6°17′48″S 106°42′46″E / 6.296722°S 106.7128015°E / -6.296722; 106.7128015