Situs Warungboto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pesanggrahan Warungboto
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Situs Warungboto.jpg
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
KategoriBangunan
No. RegnasBelum ada
(Pengajuan 18 Desember 2013)
Lokasi
keberadaan
Jalan Veteran No.77, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
PemilikKesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
PengelolaBalai Pelestarian Cagar Budaya Kota Yogyakarta
Situs Warungboto, sekitar 1935.

Situs Warungboto atau Pesanggrahan Warungboto adalah situs cagar budaya yang terletak di Jalan Veteran No.77, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada awalnya, situs ini merupakan lokasi sebuah pesanggrahan dan pemandian.[1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11]

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana dijelaskan oleh Merle Calvin Ricklefs, eksistensi pesanggrahan-pesanggrahan yang ada di Yogyakarta (termasuk Pesanggrahan Warungboto) tidak dapat dipisahkan dari pendirian Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai akibat dari penandatanganan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang dilakukan oleh Nicolaas Hartingh (wakil VOC) yang didampingi oleh C. Donkel, J.J. Steenmulder, W. Fockens, dan W. van Ossenberch; Raden Mas Suryadi (wakil Kesultanan Mataram); dan kelompok Raden Mas Sujana, wilayah dari Kesultanan Mataram kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (wilayah Mataram asli) yang diperintah oleh Raden Mas Sujana atau Pangeran Mangkubumi (di kemudian hari bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah) dan Kesunanan Surakarta Hadiningrat (wilayah di sebelah timur Sungai Opak yang saat ini melintasi daerah Prambanan) yang diperintah oleh Raden Mas Suryadi (di kemudian hari bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana III).

Dari penelusuran berbagai literatur yang dilakukan oleh Notosuroto, Hamengkubuwana I diketahui mendirikan keraton dengan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung eksistensi kekuasaan kerajaannya. Terkait kebijakan tersebut, Purwadi menguraikan beberapa pembangunan yang dilakukan atas perintah dari Hamengkubuwana I antara lain cepuri dan baluwarti (benteng keliling yang berada di dalam dan luar keraton), pesanggrahan, jagang, dan permukiman bagi para abdi dalem. Priyono memperjelas bahwa beberapa pesanggrahan di Yogyakarta yang dibangun atas perintah dari Hamengkubuwana I, yaitu Pesanggrahan Ambarketawang, Pesanggrahan Krapyak, dan Pesanggrahan Taman Sari. Lebih lanjut, Priyono mensinyalir alasan dari pembangunan pesanggrahan-pesanggrahan tersebut sebagai salah satu aspek pertahanan karena lokasinya secara tidak langsung akan memberikan pelindungan kepada keraton.

Pembangunan yang dilakukan oleh Hamengkubuwana I itu lantas diteruskan oleh Gusti Raden Mas Sundara (putra kelima Hamengkubuwana I dari permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Hageng atau G.K.R. Kadipaten). Selama menjadi putra mahkota sampai dengan masa pemerintahannya ketika memerintah kesultanan, dia sudah mulai membangun beberapa pesanggrahan, yaitu Pesanggrahan Pelem Sewu, Pesanggrahan Purwareja, Pesanggrahan Rejakusuma, dan Pesanggrahan Warungboto. Hal inilah yang menyebabkan dirinya disebut oleh Ricklefs sebagai “raja pembangunan besar” dalam tradisi seorang raja Jawa.

Beberapa sumber primer seperti Tidjschriff voor Nederlandsch Indie yang ditulis oleh J.F. Walrofen van Nes pada 1884, Serat Rerenggan, dan Babad Momana menyebutkan bahwa Pesanggrahan Warungboto mulai dibangun sejak tahun 1711 Jawa atau 1785 Masehi oleh Gusti Raden Mas Sundara (kelak pada Maret 1792 naik takhta dan memiliki gelar Hamengkubuwana II). Dalam Babad Momana dan Serat Rerenggan berbentuk sekar sinom tertulis bahwa angka tahun pembuatan pesanggrahan ini, yaitu 1711 tahun Dal, Kangjeng Gusti awit yasa ing Rejawinangun. Sebagai salah satu lokasi peristirahatan, pesanggrahan tersebut juga pernah dikunjungi oleh Jan Greeve (Dewan Luar Biasa Hindia Belanda, Gubernur dan Direktur di Pantai Timur Utara Jawa Noord-Oost-Kust) pada 5–15 Agustus 1788. Inspeksi yang dilakukannya bersamaan dengan benteng baluwarti keraton. Selain itu, dia juga mengunjungi reruntuhan batu yang berada di gugusan Candi Prambanan.

Struktur dan fungsi[sunting | sunting sumber]

Pada saat ini, sisa-sisa bangunan pesanggrahan yang lebih dikenal dengan nama Situs Warungboto tersebut hanya tinggal sebagian saja. Situs itu berbatasan langsung dengan permukiman penduduk yang berada di sebelah utara maupun di sebelah selatan, sedangkan sisi sebelah timur bangunan berbatasan dengan Sungai Gajah Wong dan sisi sebelah baratnya berbatasan dengan Jalan Veteran Yogyakarta.

Situs ini memiliki struktur bangunan dengan lorong-lorong pintu dan jendela yang sebagian memiliki aksen lengkung di bagian atasnya. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh BPCB Yogyakarta, situs tersebut dibangun dengan menggunakan batu bata (tanpa struktur kayu), seperti halnya bangunan Taman Sari yang berdinding tebal. Selain itu, kompleks situs ini juga terdiri dari pagar keliling dan bangunan pesanggarahan. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh Sugianti, dapat diketahui jika di dalam situs tersebut terdapat tuk umbul yang berfungsi sebagai tempat mandi keluarga keraton. Namun berdasarkan observasi yang dilakukan pada 2014, bangunan tuk umbul ini hanya berupa reruntuhan dan kondisinya dinilai memprihatinkan.

Situs Warungboto didirikan di sisi barat dan sisi timur Sungai Gajah Wong dengan memanfaatkan undak-undakan sungainya, antara kompleks bangunan yang berada di sisi timur dengan bangunan yang berada di sisi barat sungai memiliki sumbu imajiner yang membujur dari timur ke barat. Menurut data dari BPCB Yogyakarta, situs ini juga dilengkapi dengan kolam, taman, serta kebun layaknya sebuah pesanggrahan secara umum. Hal ini dikarenakan fungsinya berkaitan dengan kenyamanan dan ketenangan.

Bangunan di sebelah barat Sungai Gajah Wong[sunting | sunting sumber]

Kompleks bangunan Pesanggrahan Warungboto di sisi barat Sungai Gajah Wong saat ini masih meninggalkan bukti fisik yang cukup banyak. Sisa bangunan yang berada di sisi barat Sungai Gajah Wong secara administratif berada di Kelurahan Warungboto. Hal inilah yang menyebabkan peninggalan kuno tersebut juga disebut dengan nama Umbul Warungboto. Bangunan yang berada di sisi barat Sungai Gajah Wong terdiri atas bangunan inti yang berada di dalam pagar keliling, serta terdapat ruang utama yang merupakan pusat kesakralan. Bangunan tersebut diindikasikan sebagai ruang pemujaan. Selain itu, bangunan yang berada di sisi sebelah barat Sungai Gajah Wong merupakan kompleks bangunan berkamar dengan halaman berteras dan dua kolam pemandian yang airnya berasal dari umbul (sumber mata air). Kedua kolam berdinding batu bata tersebut berbentuk bundar dan segi empat dengan perekat dan lepa.

Kolam pertama terletak di bagian barat berbentuk lingkaran berdiameter + 4,5 meter dan memiliki sumber pancuran air di bagian tengahnya. Sementara itu, kolam kedua terletak di sebelah timur kolam pertama berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sisi + 10 meter x 4 meter. Sumber air di kolam kedua ini berasal dari kolam pertama yang dialirkan melalui sebuah saluran terbuka yang menghubungkan kolam pertama dan kedua. Kedua kolam tersebut dikelilingi oleh bangunan bertingkat dengan sejumlah ruangan berjendela berbentuk persegi panjang. Selain itu, juga terdapat bangunan sayap utara dan sayap selatan yang dirancang secara simetris, yang terdiri dari beberapa kamar dan juga bangunan pendapa.

Bangunan di sebelah timur Sungai Gajah Wong[sunting | sunting sumber]

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mengenai pemanfataan kompleks bangunan yang berada di sisi timur Sungai Gajah Wong, tetapi hingga tahun 1936 masih terlihat dengan jelas jika kompleks bangunan yang berada di sisi timur sungai terbagi menjadi tiga kompleks yang membujur dari utara hingga selatan dengan pagar keliling, serta dihubungkan oleh jalan berpagar selebar + 30 meter.

Struktur permukaan tanah kompleks bangunan yang berada di sisi sebelah timur Sungai Gajah Wong lebih rendah jika dibandingkan dengan permukaan tanah kompleks bangunan yang berada di sisi sebelah barat. Bagian ini memiliki kolam berbentuk huruf “u”, yang juga berdinding batu bata dengan ukuran panjang + 6 meter, tinggi + 3 meter, dan tebal + 60 sentimeter. Terdapat sisa pot bunga berukuran besar di salah satu sudut kolam bagian ini yang juga terbuat dari batu bata, sedangkan di bagian utara dan selatan bangunan masing-masing terdapat patung burung beri.

Kerusakan situs[sunting | sunting sumber]

Menurut sumber-sumber kepustakaan abad 19, kerusakan Situs Warungboto dalam skala besar terjadi ketika Inggris melakukan agresi ke Yogyakarta pada 1812. Beberapa pesanggrahan yang ada di Yogyakarta turut menjadi sasaran, termasuk Taman Sari dan Warungboto. Taman Sari sendiri saat itu dijadikan sebagai gudang persenjataan kesultanan. Setelah mengalami kekalahan yang telak, pesanggrahan-pesanggrahan tersebut sempat terabaikan. Kondisi kesultanan tidak kondusif untuk melakukan rekreasi. Kondisi ini kembali berlanjut karena pada 1825–1830 perang kembali terjadi.

Situs ini mengalami kerusakan kembali pada 10 Juni 1867 akibat gempa bumi. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, gempa tersebut mengakibatkan 372 rumah rusak di Yogyakarta dan Surakarta, serta 500 korban meninggal dunia. Newcomb dan McCann turut mencatat gempa ini telah merusak bangunan vital di Yogyakarta, yaitu Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg, Tugu Golong Gilig, Taman Sari, dan Warungboto sendiri. Gempa itu menyebabkan beberapa pondasi bangunan Warungboto rusak.

Sebagaimana ditunjukkan dalam dokumentasi foto R.M. Gondhojoewono, kolam pemandian Warungboto tetap digunakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi, meskipun beberapa bagian telah rusak. Namun, situs ini seperti terlupakan begitu saja setelah Indonesia merdeka, padahal fungsi tempat ini sama dengan Taman Sari. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lokasinya yang agak jauh dari pusat keraton.

Terakhir, gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 memperparah kerusakan sisa-sisa bangunan Warungboto yang masih ada. Namun, sebagian sisa-sisa bangunan tersebut seperti bangunan pendapa dan kolam bundar secara parsial masih bisa diselamatkan. Hal inilah yang mendorong dilakukannya pemugaran bagian pendapanya pada 2009.

Upaya pelestarian[sunting | sunting sumber]

Penelitian mengenai situs yang mulai dibangun pada 1785 ini telah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda sampai dengan masa pasca kemerdekaan. Pada 1936, Oudheidkundige Dienst (OD) membuat peta gambar rekonstruksi bangunan Warungboto serta mendokumentasikannya ke dalam bentuk foto. Oudheidkundige Dienst atau Jawatan Kepurbakalaan sendiri adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengelola bidang kepurbakalaan. Tugas dari lembaga tersebut antara lain menyusun, membuat daftar, dan mengawasi peninggalan purbakala di seluruh wilayah Hindia Belanda. Kegiatan yang dilakukan oleh OD itu selesai pada 1937. Hasil pemetaan yang dikerjakan oleh OD itu kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan perbaikan darurat yang dilakukan oleh Dienst der Zelbestuurweken te Jogjakarta (Dinas Pekerja Kotapraja) melalui petunjuk dan pengawasan dari OD pada 1936. Setelah dilakukan perbaikan darurat pada 1939 oleh OD, diadakanlah peninjauan kembali terhadap status kekunoan dari situs tersebut pada 1981. Hal ini dilakukan kaitannya dengan usaha pemeliharaan dan pelindungannya sebagai situs purbakala. Kegiatan yang dilakukan oleh OD terhenti ketika pasukan Jepang masuk dan mengusir pemerintah Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, kegiatan penelitian dilakukan oleh pemerintah Indonesia sendiri melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta (sekarang BPCB Yogyakarta). Kegiatan tersebut berupa pendokumentasian foto pada 1981. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta lantas melakukan pemetaan sebagai upaya pemeliharaan pelindungan pada 1982.

Upaya pelestarian Warungboto akibat gempa tahun 2006 diawali dengan penyelamatan sesaat, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai macam studi teknis pada 2007 untuk mengidentifikasi kerusakan serta penanganan pada masa mendatang. Hingga tahun 2008, kegiatan pelestarian mencakup beberapa tindakan sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 tahun 2010 pasal (1) ayat 22, yaitu pelindungan, penyelamatan, dan pengamanan.

Tercatat renovasi secara serius untuk menyelamatkan situs ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di bawah Dinas Kebudayaan sejak 2015. Sasaran utama dari pemugaran adalah bangunan pemujaan yang berada di bagian depan karena kondisinya sangat memprihatinkan. Pada tahun ini pula, diadakan program acara Greget Kampung dan Festival Seni Adiluhung ke-2 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk memperkenalkan situs tersebut kepada masyarakat dan wisatawan. Seperti disebutkan berita harian Tribun Jogja, dalam acara itu ditampilkan keempat tarian yang selama ini hanya bisa disaksikan di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualam, yaitu Beksan Gatotkaca Sutejo dan Srimpi Pandhelori dari Keraton Yogyakarta, serta tari Manggalayudha dan Golek Clunthang dari Pura Pakualaman. Umar Priyono, Kepala Dinas Kebudayaan, menyatakan festival tersebut diadakan untuk lebih mendekatkan kesenian Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman kepada masyarakat. Selain menghadirkan kesenian tersebut, turut ditampilkan potensi kesenian masyarakat di sekitar Umbulharjo, seperti macapat selawat dan guyon maton dagelan mataraman. Lebih lanjut, Priyono menengarai bahwa bersandingnya kebudayaan keraton dan masyarakat adalah wujud dari Manunggaling Kawula Gusti.

Pada 2016, dilakukan kegiatan lanjutan dengan melakukan rehabilitasi bangunan tengah, yaitu kolam, bangunan sayap sisi selatan, bangunan bertingkat sisi selatan, dan pagar. Pemugaran dan renovasi ini selesai pada 23 Desember 2016. Selanjutnya, BPCB Yogyakarta melakukan perawatan di situs tersebut dengan memberikan pagar dan menata halaman bagian depan pada 2019. Pagar sederhana berupa kawat berduri yang berbatasan dengan jalan raya diganti dengan dinding batu bata yang dilapisi batu alam, sedangkan pagar kawat berduri di bagian belakang diganti dengan pagar British Reinforced Concrete (BRC) atau pagar minimalis. Selain itu, juga dilakukan pengerasan sebagian halaman depan dan area parkir dengan paving blok. Dengan kondisi lingkungan yang lebih tertata, diharapkan agar masyarakat mengapresiasi situs-situs bersejarah dan semakin peduli dengan pelestarian cagar budaya.

Salah satu komunitas yang terbentuk dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat adalah Komunitas Kelompok Tuk Umbul Warungboto (Pok Tumbu Warto). Komunitas ini terbentuk pada 2014 dan beranggotakan pemuda berusia 17–25 tahun yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Komunitas tersebut berfokus kepada pelestarian Situs Warungboto, pelestarian seni budaya yang ada di dalamnya, serta pemberdayaan anggota komunitas dan masyarakat Warungboto. Pemberdayaan yang dilakukan bertujuan untuk mengembangkan potensi anggotanya agar memiliki kompetensi dan kreativitas dalam melestarikan situs itu.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Konsolidasi Bangunan Sayap Utara Pesanggrahan Rejawinangun". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 28 Oktober 2021. 
  2. ^ "Penelitian dan Pemugaran Situs Warungboto". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  3. ^ "Pesanggrahan Era Hamengkubuwana II". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  4. ^ "Mengekspos Pesanggrahan Peninggalan Sultan Hamengkubuwana II". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  5. ^ "Pesanggrahan Rejawinangun (Situs Warungboto) Kota Yogyakarta Lokasi Prewedding Kahiyang Ayu dengan Boby Nasution". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  6. ^ "Belajar dan Bermain di Pesanggrahan". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  7. ^ "Sejarah Lembaga Purbakala". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  8. ^ "Pameran Cagar Budaya pada Peringatan HUT Purbakala ke-106". Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  9. ^ "Pemagaran Situs Warungboto". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  10. ^ "10 Tahun Sudah Gempa Yogyakarta, Ini Cagar Budaya yang Sempat Rusak". Okezone. Diakses tanggal 13 November 2021. 
  11. ^ "Dahsyatnya Gempa Yogya, Prambanan Retak Bertahun-Tahun". Liputan 6. Diakses tanggal 13 November 2021. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • D'Almeida, William Barrington (1864). Life in Java: With Sketches of the Javanese (Volume I). London: Hurst and Blacket Publishers. 
  • Notosuroto (1986). Kesultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta. 
  • Priyono, Umar (2015). Yogyakarta City of Philosophy. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  • Purwadi (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu. 
  • Tim Peneliti Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (2020). Toponimi Kecamatan Kotagede: Sejarah dan Asal-Usul Nama-Nama Kampung (PDF). Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. 
  • Ricklefs, Merle Calvin (2002). Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Mata Bangsa. 
  • Surjomihardjo (2000). Kota Yogyakarta 1880–1930: Sejarah Perkembangan Sosial. Yogyakarta: Yayasan untuk Indonesia. 

Jurnal

Arsip

  • Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Rapporten Volume 1913–1915). 

Laporan

Bacaan lanjutan

Pranala luar[sunting | sunting sumber]