Situs Warungboto

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Situs Warungboto.

Situs Warungboto atau Pesanggrahan Rejawinangun adalah salah satu bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Veteran No.77, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada awalnya, situs ini merupakan lokasi sebuah pesanggrahan dan pemandian.

Keadaan awal[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, Situs Warungboto adalah sebuah pesanggrahan dan pemandian karena di tempat tersebut terdapat sebuah umbul atau sumber mata air.[1] Menurut salah satu pengageng Keraton Yogyakarta bernama K.R.T. Jatiningrat, Situs Warungboto adalah petilasan yang mulai dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan pembangunannya diteruskan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Sebelum direnovasi, situs ini hanyalah reruntuhan dan puing bangunan yang kurang terawat. Setelah dilakukan pemugaran dan renovasi oleh BPCB DIY (Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta) yang selesai pada tanggal 23 Desember 2016,[2] bangunan Situs Warungboto kini dapat dinikmati oleh masyarakat Yogyakarta ataupun wisatawan yang sedang berlibur di Yogyakarta.[3]

Situs Warungboto mulai populer di kalangan kaum mileneal ketika putri Presiden Joko Widodo bernama Kahiyang Ayu bersama Bobby Nasution melakukan foto pre-wedding di tempat ini. Setelah diketahui bahwa lokasi pemotretan tersebut berada di Situs Warungboto, banyak kaum milenial berdatangan ke lokasi wisata sejarah tersebut untuk mengambil foto.[4]

Sekilas sejarah[sunting | sunting sumber]

Eksistensi atau keberadaan berbagai pesanggrahan yang ada di Yogyakarta (termasuk Pesanggrahan Rejawinangun) tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.[5] Dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755[6] oleh N. Hartingh yang didampingi oleh W. van Ossenberch, J.J. Steenmulder, C. Donkel, dan W. Fockens (sebagai wakil VOC), Sunan Pakubuwono III (sebagai wakil Kasultanan Mataram), dan kelompok Pangeran Mangkubumi, wilayah Kerajaan Mataram lantas dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Surakarta (wilayah di sebelah timur Sungai Opak yang melintasi daerah Prambanan sekarang) diperintah oleh Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Yogyakarta (daerah Mataram yang asli) diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah.[7] Gelar tersebut mencerminkan kerangka konsep tentang raja, kerajaan, panglima perang, dan sifat keilahian dalam pandangan Islam.

Ketika memerintah Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang memiliki nama kecil B.R.M. Sujono[8][9] tersebut lantas membangun keraton dengan berbagai sarana dan prasarana untuk mendukung keberlangsungan eksistensi kekuasaan kerajaannya.[10] Beberapa pembangunan yang dilakukan atas perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono I antara lain pembangunan cepuri (benteng keliling yang berada di dalam keraton) maupun pembangunan baluwarti (benteng keliling yang berada di luar keraton), pembangunan jagang (parit), pembangunan pesanggrahan (taman), serta pembangunan beberapa pemukiman yang diperuntukkan bagi para abdi dalem kasultanan.[11]

Adapun beberapa pesanggrahan di Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I antara lain Pesanggrahan Ambarketawang, Pesanggrahan Taman Sari, dan Pesanggrahan Krapyak (tempat berburu). Pembangunan pesanggrahan tidak terlepas dari aspek pertahanan karena letaknya secara tidak langsung memberikan perlindungan kepada keraton.[12] Pesanggrahan Rejawinangun sendiri dibangun pada tahun 1877 ketika Sri Sultan Hamengku Buwono II masih bergelar "putra mahkota". Sri Sultan Hamengku Buwono II disebut oleh Ricklefs sebagai "raja pembangunan besar" dalam tradisi seorang raja Jawa.[13] Selama periode sebagai putra mahkota (1765-1792), dia sudah mulai membangun beberapa pesanggrahan, yaitu Pesanggrahan Rejawinangun, Pesanggrahan Purworejo, Pesanggrahan Pelem Sewu, dan Pesanggrahan Rejokusumo.[11]

Beberapa sumber seperti Tidjschriff voor Nederlandsch Indie yang ditulis oleh J.F. Walrofen van Nes pada tahun 1884, Serat Rerenggan, dan Babad Momana menjelaskan bahwa Pesanggrahan Rejawinangun mulai dibangun sejak tahun 1785, yang merupakan karya putra mahkota dari Gusti Raden Mas Sundara (kelak pada tahun 1792 naik tahta dan memiliki gelar Sri Sultan Hamengku Buwono II).[14] Dalam Babad Momana sendiri disebutkan bahwa angka tahun pembuatan Pesanggrahan Rejawinangun, yaitu 1711 tahun Dal, Kanjeng Gusti awit yasa ing Rejawinangun.[11]

Di dalam Pesanggrahan Rejawinangun terdapat sumber air, yang kemudian juga dibuat menjadi tempat pemandian bagi raja dan keluarganya. Sebagai tempat peristirahatan, pesanggrahan ini juga pernah dikunjungi dan “diinspeksi” oleh seorang pejabat Belanda bernama Jan Greeve pada tanggal 5-15 Agustus 1788. Inspeksi dan kunjungan terhadap sarana dan prasarana sebagai pertahanan tersebut dilakukan bersamaan dengan inspeksi yang dilakukannya terhadap benteng baluwarti keraton.[11]

Situs Warung Boto, sekitar 1935.

Sampai dengan pertengahan tahun 1935, kolam pemandian Pesanggrahan Rejawinangun masih ramai digunakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pesanggrahan, tetapi pesanggrahan ini seperti terlupakan begitu saja setelah Indonesia merdeka, padahal fungsi tempat ini sama dan tidak kalah cantiknya dengan Taman Sari. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lokasinya yang agak jauh dari pusat Keraton Yogyakarta.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Situs Warungboto". Diakses tanggal 1 Maret 2019. 
  2. ^ "Situs Warung Boto Yogyakarta". Diakses tanggal 1 Maret 2019. 
  3. ^ "Mengenal Situs Warungboto, Pemandian Ratu Keraton Yogyakarta yang Terlupakan". Diakses tanggal 1 Maret 2019. 
  4. ^ "Sejarah Berdirinya Situs Warungboto, Destinasi Wisata Sarat Sejarah di Kota Yogyakarta". Diakses tanggal 1 Maret 2019. 
  5. ^ Ricklefs (2002), hlm. 82.
  6. ^ Surjomihardjo (2000), hlm. 12.
  7. ^ Purwadi (2007), hlm. 43.
  8. ^ "Sri Sultan Hamengku Buwono I". Diakses tanggal 11 Mei 2019. 
  9. ^ Notosuroto (1986), hlm. 18.
  10. ^ Purwadi (2007), hlm. 14.
  11. ^ a b c d "Sekilas Sejarah Tentang Situs Warungboto". Diakses tanggal 1 Maret 2019. 
  12. ^ Priyono (2015), hlm. 48.
  13. ^ Ricklefs (2002), hlm. 129.
  14. ^ "Situs Warungboto, Tempat Mandi Raja yang Jadi Lokasi Foto Prewedding". Diakses tanggal 3 Maret 2019. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

  • Notosuroto (1986). Kasultanan Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta. 
  • Priyono, U. (2015). Yogyakarta City of Philosophy. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  • Purwadi (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu. 
  • Ricklefs, M.C. (2002). Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Mata Bangsa. 
  • Surjomihardjo (2000). Kota Yogyakarta 1880-1930: Sejarah Perkembangan Sosial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia. 

Internet[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]