Makam Ratu Mas Malang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kompleks Makam Gunung Kelir
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Makam Ratu Mas Malang (1).jpg
Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png Cagar budaya Indonesia
KategoriSitus
No. regnasBelum ada
(Pengajuan 4 Oktober 2015)
Lokasi
keberadaan
Gunung Sentana, Dusun Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Tahun
penetapan
Menunggu ketetapan
PemilikKesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
PengelolaBalai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta

Makam Ratu Mas Malang, Makam Gunung Kelir, atau Makam Antakapura (bahasa Kawi: "istana kematian" atau "istana tempat menguburkan jenazah") adalah situs cagar budaya peninggalan dari Hamangkurat I atau Hamangkurat Agung yang terletak di Gunung Sentana, Dusun Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berada di puncak bukit Gunung Sentana, dengan ketinggian + 99 meter di atas permukaan laut.

Keberadaan kompleks makam tersebut berkaitan erat dengan tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut, yaitu Ratu Mas Malang dan Ki Panjang Mas atau Ki Dalem. Mas Malang adalah putri dari Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog, serta salah satu selir Hamangkurat I. Sebelum menjadi selir, dia adalah istri dari dalang Panjang, salah satu dalang terkenal di daerah Kesultanan Mataram.

Makam ini dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu sejak Mas Malang meninggal tahun 1665 hingga selesai pada 11 Juni 1668. Adapun konstruksi bangunannya berasal dari dari balok-balok batu putih untuk dindingnya dan batu andesit untuk nisannya. Secara keseluruhan, kondisi fisik kompleks permakaman ini sudah rusak, terutama disebabkan oleh faktor alam.

Lokasi dan kondisi[sunting | sunting sumber]

Nisan yang berada di halaman inti makam.

Kompleks makam ini berada di sebelah timur Desa Kedaton, tepatnya di Dusun Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul[1] dan berada di puncak bukit Gunung Sentana,[a][2][3] dengan ketinggian + 99 meter di atas permukaan laut.[4] Nisan yang berada di kompleks makam ini berjumlah 28 buah[5] dan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu 19 nisan berada di halaman depan, satu nisan di halaman belakang (nisan dalang Panjang), dan delapan nisan di halaman inti, yang salah satunya adalah nisan dari Mas Malang.[3][6] Menurut Himawan Prasetyo (staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta), jirat makam dibuat dari batu andesit dengan rincian satu buah berbentuk jajaran genjang dan 14 buah berbentuk kurung kurawal. Namun, nisan yang berupa tumpukan batu putih tidak mempunyai jirat.[7]

Sendang Moyo.

Bangunan lain yang berada satu kompleks dengan situs ini adalah Sendang Moyo, yaitu dua kolam untuk menampung air hujan, yang letaknya di sebelah timur laut makam.[8] Kolam yang berada di luar dinding keliling berukuran 6 meter x 6 meter, sedangkan yang berada di dalam dinding keliling berukuran 3,5 meter x 5 meter. Sendang tersebut dikelilingi dinding setinggi 3 meter dengan ketebalan 2,1 meter.[6] Berdasarkan catatan Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, terdapat sebuah balok batu andesit yang ditemukan di kompleks permakaman ini. Menurut penduduk setempat, batu yang dinamakan dengan watu jonggol dan mempunyai dua tonjolan di kedua ujungnya itu adalah kotak wayang milik dalang Panjang.[8]

Secara keseluruhan, kondisi fisik kompleks permakaman ini sudah rusak, terutama disebabkan oleh faktor alam, seperti banyaknya akar-akar tanaman keras serta tumbuhnya mikroorganisme yang merusak dinding makam, seperti alga, lumut daun, dan lumut kerak.[b][4] Pun demikian, Prasetyo menjelaskan bahwa masyarakat sekitar masih mengeramatkan makam tersebut.[6][7]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Keberadaan situs ini berkaitan erat dengan tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut, yaitu Mas Malang dan dalang Panjang. Mas Malang adalah putri dari dalang Wayah, seorang dalang wayang gedog, serta salah satu selir Hamangkurat I.[6][7] Sebelum menjadi selir, dia adalah istri dari dalang Panjang,[9] salah satu dalang terkenal di daerah Kesultanan Mataram yang hidup sejak masa Panembahan Hanyakrawati atau Panembahan Seda Krapyak.[1][4][10] Sampai saat ini, dalang Panjang dijadikan sebagai rujukan genealogis atau sanad spiritual dan keilmuan bagi para maestro pedalangan.[11]

Dalam Babad Tanah Jawi: Javanese Rijskroniek, dikisahkan bahwa Hamangkurat I memerintahkan para prajuritnya untuk mencari perempuan cantik yang akan dijadikan selir.[12] Menurut J.J. Meinsma (peneliti sejarah Jawa dari Belanda), Hamangkurat I lalu bertemu dengan dalang Wayah, yang memiliki seorang anak perempuan, tetapi sudah bersuami dan hamil dua bulan.[13] Dia tidak mempedulikan hal tersebut dan memerintahkan para prajuritnya untuk membawa paksa perempuan itu ke istana.[14] Lambat laun, dikarenakan besarnya cinta kepada perempuan itu, dia lantas mengangkatnya menjadi selir kinasih[15] dengan sebutan Ratu Wetan.[5][6] Selir baru ini dianggap telah merusak rumah tangga kerajaan. Namun, H.J. de Graaf (peneliti sejarah Jawa yang juga berasal dari Belanda) dalam buku Runtuhnya Istana Mataram membantah hal tersebut. Menurutnya, Hamangkurat I sebenarnya tidak melupakan permaisuri dan selirnya yang lain, tetapi perhatiannya lebih banyak dialihkan kepada selir barunya ini. Hal inilah yang menyebabkan Mas Malang dijuluki dengan Ratu Malang, yang berarti "yang melintang di jalan”.[16]

Beberapa nisan tanpa nama yang berada di halaman depan permakaman diduga merupakan makam para pengrawit gamelan yang ikut terbunuh bersama Ki Panjang Mas.

Singkat cerita, Mas Malang kemudian melahirkan bayi laki-laki hasil hubungannya dengan suaminya terdahulu sekitar tahun 1649. Anak bawaan itu diberi nama Pangeran Natabrata atau Raden Resika.[13] Hamangkurat I selanjutnya diam-diam memerintahkan prajuritnya agar membunuh dalang Panjang dan memakamkannya di Gunung Sentana[1][10] untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan.[5][6] Menurut Sri Margana (sejarawan Universitas Gadjah Mada), Hamangkurat I mengundang Mas Malang dan dalang Panjang bersama dengan rombongan pengrawit gamelan untuk mengadakan pementasan wayang di istana. Namun di tengah-tengah acara, seluruh pengisi acara dan dalang Panjang dibunuh, hanya Mas Malang yang hidup dan akhirnya menjadi selir raja. Saat itu, posisi Mas Malang terpaksa dinikahi karena dia tidak bisa menolak dan mempunyai pilihan lain.[12]

Berdasarkan teks dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bahwa Hamangkurat I secara paksa merebut Mas Malang dari tangan suaminya saat akan memperistrinya, tidak mengherankan jika dia ingin melenyapkan laki-laki yang sangat dicintai selirnya itu. Namun menurut catatan pemerintah Belanda, Daghregister 1677, yang didapat dari penuturan salah seorang pengawal istana, dalang Panjang tidak meninggal karena dibunuh, melainkan secara wajar. Setelah menjadi janda, Mas Malang dipersunting oleh raja.[13] De Graaf meragukan pernyataan yang kedua ini. Menurutnya, Hamangkurat I telah melakukan dosa yang terlalu banyak, sehingga cara pertama bukanlah sesuatu yang mengherankan. Lebih lanjut, dikarenakan perbuatan jahatnya memang sudah terlalu banyak, tidak ada gunanya lebih mementingkan cerita tutur yang belakangan daripada berita pejabat istana yang lebih dahulu dan selayaknya lebih dapat dipercaya.[17]

Nisan Ki Panjang Mas yang berada di sebelah barat laut makam.

Mas Malang akhirnya mengetahui bahwa suaminya dibunuh oleh prajurit istana. Perempuan tersebut selalu mengigau dan sedih setiap mengingatnya. Tak lama kemudian, dia meninggal karena muntaber, tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa dia diracun oleh orang-orang yang tidak menyukainya.[14] Hamangkurat I pun mencurigai bahwa selir kinasih itu diguna-guna oleh orang-orang istana karena sebelum meninggal mengeluarkan banyak cairan dari dalam tubuhnya, seperti gejala keracunan.[13] Dia juga menganggap bahwa igauan Mas Malang yang mengatakan "dalem, dalem, dalem..." adalah para kerabat dan selir yang iri dengannya.[15][18] Sementara Hamangkurat I memerintahkan membangun makam bagi perempuan yang dicintainya itu di Gunung Sentana, dia juga memerintahkan supaya para abdi dalem dan selir yang dicurigainya dibunuh tanpa ampun.[2][19] Mereka dibunuh secara perlahan dengan cara diikat dan dikurung dalam suatu rumah, serta tidak diberi makan dan minum selama berhari-hari hingga mati karena lemas.[12] Semua korban itu lantas dimakamkan di Gunung Sentana.[15]

De Graaf memperjelas bahwa tindakan itu dapat dimengerti karena Hamangkurat I curiga ketika selirnya itu meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh. Dia lantas risau terhadap hal-hal remeh. Andaikata racun yang memang menjadi penyebabnya, pelakunya tentu harus dicari di kalangan terdekat korban, yaitu para selir yang pernah berkomplot dengan putra mahkota pembangkang (Pangeran Dipati) untuk melawannya.[20] Lebih lanjut, de Graaf menambahkan bahwa di kalangan kerabat istana juga timbul kecurigaan bahwa sang raja akan mengalihkan status putra mahkota kepada Natabrata, sekalipun dia bukan darah Mataram. Kecurigaan tersebut semakin menguat ketika terjadi dua kali percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota dengan racun yang dilakukan oleh sang raja sendiri. Percobaan pembunuhan itu menimbulkan perhatian besar sampai ke luar kerajaan. Masuknya Mas Malang ke dalam istana telah menimbulkan intrik politik yang luar biasa, sehingga raja pun menjadi tega untuk melenyapkan putranya sendiri demi kepentingan selir kesayangan dan anak tirinya. Tindakan Hamangkurat I itu sungguh sulit dipercaya oleh akal sehat. Sangat masuk akal bahwa peristiwa percobaan pembunuhan itu dicatat oleh pemerintah Belanda di Batavia dalam laporan umum tertanggal 21 Desember 1663, yang berbunyi bahwa kejahatan yang mengerikan itu "akan melampaui segala kekejaman yang telah dilakukan terdahulu".[21]

Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di wilayah Pleret, Margana menuturkan bahwa Hamangkurat I memang belum menerima kematian Mas Malang. Dia kemudian membawa jasad perempuan itu ke Gunung Sentana, tetapi tidak menguburkannya, melainkan membaringkan dan merawatnya agar tidak membusuk, bahkan sesekali masih bersetubuh dengan jasadnya.[12][22] De Graaf menambahkan bahwa siang dan malam sambil membawa serta putranya, Hamangkurat I menunggu jasad selirnya ini tanpa bersedia kembali ke istana.[23] François Valentijn (menteri negeri Belanda) juga sampai membuat sebuah tulisan dalam Oud en Nieuw Oost-Indien, yang menggambarkan keadaan Hamangkurat I pasca ditinggalkan Mas Malang, sebagai berikut:[13]

Ketika perempuan itu meninggal, sunan menjadi sedemikian sedihnya, sehingga dia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakamannya, diam-diam dia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada perempuan itu, sehingga dia tidak dapat menahan diri dan turut membaringkan dirinya di dalam kuburan.[13]

Setelah beberapa hari berada di makam, Hamangkurat I tidur di bawah jasad Mas Malang dan bermimpi bahwa perempuan itu telah bersatu dengan suaminya. Saat terbangun, dia baru menyadari perbuatannya yang sudah memisahkan Mas Malang dengan suaminya dan menerima kepergian selirnya ini.[4] Hamangkurat I lantas memerintahkan para prajuritnya untuk menguburkan jasad Mas Malang di tempat tersebut dan kembali ke istana.[5][22] Konon, mata air di Sendang Moyo muncul bersamaan ketika jasad Mas Malang hendak dikebumikan di tempat ini. Masyarakat setempat mempercayai bahwa air di sendang tersebut memiliki khasiat yang mujarab.[24]

Kematian Mas Malang menjadi pukulan berat bagi Hamangkurat I. Dalam laporan pejabat Belanda, dia sampai tidak bisa menjalankan pemerintahannya dengan baik hingga 4–5 tahun setelahnya, bahkan saat pejabat tinggi negeri Belanda berkunjung ke Mataram, dia tidak hadir menyambut utusan itu. Sambil menjelaskan keadaannya, para menteri kerajaan sementara menggantikan tugas-tugasnya.[13]

Makam Mas Malang sendiri dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu sejak Mas Malang meninggal tahun 1665 hingga selesai pada 11 Juni 1668.[4][6][25] Bangunan makam tersebut berasal dari dari balok-balok batu putih untuk dindingnya[5] dan batu andesit untuk nisannya.[7][8] Hamangkurat I menamakan tempat tersebut dengan Antakapura yang berarti "istana kematian" atau "istana tempat menguburkan jenazah".[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Gunung Sentana adalah nama dari puncak bukitnya, sedangkan Gunung Kelir adalah nama dusunnya.
  2. ^ Lihat kondisi situs (Priswanto & Alifah 2019, hlm. 25).

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Setiadi & Fransisca (2018), hlm. 11
  2. ^ a b Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (5 Maret 2014). "Permakaman Imogiri". Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  3. ^ a b Pratama & Priswanto (2013), hlm. 240
  4. ^ a b c d e Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta (29 Agustus 2017). "Makam Ratu Mas Malang yang Malang". Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  5. ^ a b c d e Rohman, Taufiqur (tanpa tanggal). "Istana Kematian Gunung Kelir, Lambang Cerita Cinta Memilukan Ratu Kelir". Phinemo. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  6. ^ a b c d e f g h Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (30 Agustus 2018). "Situs Makam Ratu Malang". Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  7. ^ a b c d Prasetyo, Himawan (23 Februari 2015). "Situs Makam Ratu Malang". Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  8. ^ a b c Direktorat Pelindungan Kebudayaan (tanpa tanggal). "Kompleks Makam Gunung Kelir". Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  9. ^ Adrisijanti (2000), hlm. 63
  10. ^ a b Siswanta (2019), hlm. 38
  11. ^ Habibi, Tri Nur (21 Oktober 2018). "Ki Dalang Panjang Mas, Sosok Penting Adanya Pergelaran Wayang Gelar Budaya Mataram". Kedaulatan Rakyat. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  12. ^ a b c d Sabandar, Switzy (2 Agustus 2016). "Kisah Dramatis Sinden Terkasih Raja Jawa". Liputan 6. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  13. ^ a b c d e f g Pamungkas, Muhammad Fazil (tanpa tanggal). "Cinta Amangkurat I". Historia. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  14. ^ a b Olthof & Sumarsono (2009), hlm. 183–184
  15. ^ a b c Dadi, Sabdo (10 November 2018). "Pesareyan Antakapura Gunung Kelir – Selir dan Abdi Tak Bersalah Dibantai". Harian Merapi. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  16. ^ De Graaf (1987), hlm. 18–19
  17. ^ De Graaf (1987), hlm. 25
  18. ^ De Graaf (1987), hlm. 19
  19. ^ Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (5 Maret 2014). "Sejarah Makam Imogiri". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  20. ^ De Graaf (1987), hlm. 19–20
  21. ^ De Graaf (1987), hlm. 21
  22. ^ a b Subhanie, Dzikry (9 April 2016). "Sejarah Makam Ratu Malang di Gunung Kelir". Sindo News. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  23. ^ De Graaf (1987), hlm. 24–25
  24. ^ Widyawan, Andhika (30 April 2017). "Di Balik Daya Sihir Gunung Kelir". Ekspresi Online. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  25. ^ Priswanto & Alifah (2019), hlm. 14

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

Jurnal ilmiah

Bacaan lanjutan

  • H.R., Wahyu (2014). Amangkurat Agung (Prahara Takhta Mataram). Jakarta: Bhuana Sastra. ISBN 978-602-2495-83-3. 
  • Kresna, Ardian (2012). Amangkurat (Mendung Memekat di Langit Mataram). Bantul: Diva Press. ISBN 978-602-2550-06-8. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]