Hotel Toegoe

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Hotel Toegoe adalah sebuah hotel yang dibangun pada awal abad ke-20 di Jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 2, Yogyakarta, yaitu di sebelah timur Stasiun Yogyakarta.[1][2] Saat ini bangunan Hotel Toegoe masih berdiri kokoh dan dianggap sebagai sebuah warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan dalam SK Menteri NoPM.25/PW.007/MKP/2007 dan SK Menteri No013/M/2014 sebagai cagar budaya peringkat nasional kategori Bangunan Cagar Budaya.[1] Pemilik dan pengelola Hotel Toegoe adalah Probosutedjo, adik Presiden RI kedua Soeharto.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Hotel Toegoe pada tahun 1900

Pada awalnya Hotel Toegoe dinamakan NV Grand Hotel de Djogdja kemudian berubah menjadi NV Narba namun tidak diketahui alasan perubahannya secara pasti. Pada kala awal abad ke-20 tersebut, surat kabar Mooi Jogjakarta mengiklankan hotel tersebut sebagai hotel terbaik untuk tempat beristirahat.[1] Hotel ini sering dipakai sebagai tempat istirahat oleh penumpang kereta api dari Batavia dengan tujuan Solo yang berhenti dulu di Stasiun Tugu (Stasiun Yogyakarta) pada malam hari dan baru melanjutkan perjalanan keesokan paginya.[2] Selain sebagai tempat beristirahat, Hotel Toegoe juga menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1949, Hotel Toegoe dipakai rapat antara Indonesia dengan Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Tiga Negara beranggotakan Australia, Belgia dan Amerika Serikat) sebagai persiapan Konferensi Meja Bundar yang akan dilaksanakan pada tahun yang sama di Den Haag, Belanda.[1] Pada tahun yang sama, Hotel Toegoe pernah menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 karena dipakai sebagai markas tentara Belanda.[1]

Bangunan[sunting | sunting sumber]

Hotel Toegoe dibangun di atas lahan seluas 6.320 m2 dengan luas bangunan 1.527,63 m2. Hotel Toegoe terdiri dari 1 (satu) bangunan induk yang diapit oleh dua bangunan lain yang lebih kecil di samping kanan dan kirinya. Bangunan utama hotel memiliki luas 642,68 m2 dan terdiri dari 2 (dua) lantai. Lantai 1 (satu) memiliki ukuran panjang 31,8 m dan lebar 17,50 m, sedangkan lantai 2 (dua) memiliki panjang 11,46 m, lebar 7,52 m, dengan tinggi seluruh bangunan yaitu 14,40 m. Sayap utara bangunan memiliki luas 553,65 m2 dengan rincian ukuran panjang 63,42 m, lebar 8,73 m, tinggi bangunan depan 8,00 m, dan tinggi bangunan belakangnya yaitu 6,00 m. Sedangkan sayap selatan bangunan memiliki luas 331,30 m2 dengan ukuran panjang 41,31 m, lebar 8,02 m, tinggi bangunan depan 8,20 m, serta bangunan belakangnya memiliki ketinggian 6,90 m.

Bangunan Hotel Toegoe yang bergaya kolonial ini beratap pelana dengan kemiringan tajam, berdenah persegi panjang yang menghadap ke barat, serta memiliki fasade yang sangat menonjol dan tinggi hingga menutupi atapnya. Fasade bangunan pengapit pada bagian atas memiliki ornamen berupa tiang-tiang pendek berjenjang yang tersusun secara simetris memuncak di bagian tengahnya. Sedangkan bangunan induk yang meski memiliki bentuk fasade yang sama dengan bangunan pengapitnya memiliki dua menara yaitu di sisi kanan dan kiri pada bagian atapnya. Berdirinya kedua menara inilah yang membedakan bentuk fasade serta atap antara bangunan induk dan pengapitnya. Bangunan Hotel Toegoe memiliki pintu dan jendela yang berukuran besar dengan plafon yang tinggi sehingga pencahayaan dan sirkulasi udara relatif baik. Jendela bagian atas (bouvenlicht) berbentuk lengkung dengan hiasan kaca patri berwarna-warni. Dinding bagian luar terlihat polos, namun dinding bagian dalam hall dihiasi panil-panil relief dengan motif bunga.

Kondisi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992, Hotel Toegoe ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya yang memiliki luas 2.395 m2.[1] Namun pada tahun 2004 terjadi pembongkaran bagian belakang bangunan induk dan bangunan di sisi selatan untuk bangunan baru sehingga luasnya berkurang menjadi 1.527,63 m2.[1] Hal ini menyebabkan adanya permohonan revisi peraturan terkait luas area Hotel Toegoe yang tercantum dalam surat Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman kepada Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 712/srt/Dir.PCBM/Bud/IV/2013 tgl 1 April 2013 perihal ralat Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007.[1]

Pada awal tahun 2019, sebagian atap Hotel Toegoe dikabarkan roboh.[3] Sebelumnya, kondisi atap banyak yang bocor dan beberapa kayu penyangga telah lapuk. Dalam rangka pembersihan, Hotel Toegoe dikelilingi pagar dengan pintu masuk terkunci.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]