Mangkunegara IX

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
KGPAA. Mangkunegara IX
Mangkunegara IX
Adipati Mangkunegaran
Petahana
Mulai menjabat
1987
Presiden Soeharto
Bacharuddin Jusuf Habibie
Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Susilo Bambang Yudhoyono
Joko Widodo (2014-Sekarang)
Didahului oleh Mangkunegara VIII
Informasi pribadi
Lahir GPH. Sujiwakusuma
Agama Islam

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX atau sering disebut Mangkunegara IX (Lahir 1951) adalah putra laki laki kedua dari Mangkunegara VIII. Pada masa remajanya ia bernama Pangeran Kusuma. Naiknya GPH. Sujiwakusuma ke tampuk kekuasaan Mangkunegaran membawa suasana yang menebalkan catatan-catatan para sejarahwan dan juga para kuli tinta (wartawan).

Penobatan GPH. Sujiwakusuma di alam Republik Indonesia merupakan suatu penobatan yang kontroversial penuh gejolak, pertentangan, sekaligus juga romantika keluarga besar Mangkunegara I sang pendiri dinasti. Dalam keluarga besar ini tercatat pula kerabat keluarga Presiden Republik Indonesia yang pertama dan kedua.

Dikatakan sebagai kontroversial karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan kerajaan Nusantara di dalam wilayah Republik Indonesia ini, Mangkunegaran telah melakukan suatu terobosan untuk melibatkan di luar kerabat inti untuk campur tangan dalam penentuan takhta. Meski kata sepakat kemudian berpihak pada GPH. Sujiwakusuma akan tetapi penobatannya harus diterima dengan puas tanpa mengenakan keterangan penyerta angka romawi IX, sebagai KGPAA. Mangkunegara.

Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Adipati yang kesembilan pada dinasti Mangkunegara I ini dilahirkan di Surakarta dan sebagai putra Mangkunegara VIII bersaudara dengan; KPA. Prabu Kusumo,B.R.Aj. Retno Satuti Rahadiyan Yamin, B.R.Aj. Retno Rosati Hudiono Kadarisman, B.R.M. Susaktyo, B.R.M. Herwasto, B.R.M. Kumiyakto, B.R.Aj. Retno Astrini.

Putra Mahkota[sunting | sunting sumber]

GPH. Sujiwakusuma menjadi putra mahkota menggantikan K.P.A. Prabu Kusumo-B.R.M. Radityo kakaknya yang wafat dan dilantik menjadi Adipati di Mangkunegaran sebagai Adipati yang ke IX. GPH. Sujiwakusuma sendiri adalah putra Mangkunegara VIII yang kedua.

Dilema Eksistensi[sunting | sunting sumber]

Eksistensi kerajaan di Nusantara seperti halnya Mangkunegaran mengalami situasi yang dilematis, terutama posisi dan keberadaannya dalam lapangan kehidupan di sistem negara modern Republik Indonesia. Kerajaan yang semula memiliki kapasitas seperti halnya sebuah negara dengan kekuatan bersenjata dan wilayah, dalam masa kini sudah bukan lagi pada tempatnya.

Sebagai dinasti yang mempunyai saham terbesar dalam mendirikan negara modern Indonesia, Mangkunegaran yang dari sang cikal bakal Anti Belanda secara turun-temurun, sudah mendapati waktu yang berpihak kepadanya bahwa yang dilawan yaitu Belanda sudah pergi dari Indonesia dan sebagai gantinya Republik Indonesia adalah asli bangunan negara yang didirikan oleh orang asli Indonesia sendiri.

Romantika Padang Kurusetra[sunting | sunting sumber]

Mangkunegara IX.

Padang Kurusetra adalah tempat bertemunya dua kekuatan bersaudara untuk saling beradu strategi dan taktik dalam menempuh penyelesaian yang kemudian ketika waktu sudah sampai pada saatnya mengumpulkan kembali tulang-tulang yang berpisah, dunia baru dalam kebersamaan mengiring langkah langkah para aktor menuju masa mendatang dalam harapan yang sama.

Pengenalan padang kurusetra ke dalam suatu paparan untuk mengilustrasikan adegan-adegan sekitar kejadian istana merupakan suatu wujud ideal bahwa dalam keberbedaan tetap senantiasa terpendam rasa rindu dan teringat persaudaraan.Tugas yang dijalankan para aktor tidak sekadar memenuhi ambisi pribadi semata karena seluruh aktor yang terlibat berbuat untuk kebaikan dan idealisasi warisan para leluhur.

Dalam dunia panggung pertunjukan wayang purwa kisah Mahabarat antara Pandawa dan Kurawa tidak bisa dinilai apalagi dihakimi secara hitam atau putih karena keduanya berasal dari leluhur yang sama, sehingga hitam atau putih yang diacuankan tidak bisa dihindarkan ada pada keduanya.

Seluruh jalinan menjadi suatu romantika yang selalu menanamkan bentuk keindahan yang tidak terhapuskan. GPH.Sujiwakusuma yang naik tahta menjadi Mangkunegara IX tidak lepas juga dari romantika padang kurusetra.

Istana Mangkunegaran Surakarta, pagi itu menampakan situasi gawat dan tegang, beberapa petugas keamanan berjaga-jaga di sekitar istana dan ketegangan itu baru berakhir ketika Sang Adipati tampil dan menyatakan bahwa dirinya tetap memimpin di Pura Mangkunegaran.

Adipati Ke IX[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 19 Januari 2010, Mangkunegara IX genap 22 tahun bertahta (jumeneng) sebagai Adipati kesembilan di Mangkunegaran

Kebijakan Dan Keberadaan Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia[sunting | sunting sumber]

Lewat Surat Keputusan Presiden RI, 6 Februari 1991, Mangkunegaran menerima kembali sebagian kekayaannya yang selama ini dikelola Pemerintah.Hotel Dana Solo yang bernilai, pabrik obat nyamuk di Tawangmangu, sebidang tanah di barat Solo, villa di Tawangmangu dikembalikan kepada Mangkunegaran (Lihat: Tempo 12 Oktober 1991 )

Haru Biru Dalam Dinasti[sunting | sunting sumber]

Dinasti Mangkunegara I baik yang di dalam jajaran istana maupun di luar istana mencapai haru biru dalam menatap dan perbedaan pendapat untuk menampilkan yang terbaik bagi Mangkunegaran. Dilantiknya GPH.Sujiwakusuma sebagai KGPAA. Mangkunegara IX menandai babakan baru bahwa segala kemelut dan perbedaan pendapat telah selesai. GPH.Sujiwakusuma sah menjadi Adipati ke sembilan pada dinasti Mangkunegaran.

Seni Tari Istana[sunting | sunting sumber]

Sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, istana adalah tempat yang cocok dan lahan yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini bersebab istana merupakan pusat anutan dan style yang kemudian memancar keluar sampai jauh menembus peslosok pelosok. Mangkunegara IX dalam soal kesenian tari sangat mahir dengan peran bambangan yaitu seorang kesatria lemah lembut dan halus yang dalam pertunjukan seni wayang selalu bertempur dengan raksasa yang kasar dan emosional (Tempo,26 Maret 2007).

Peran bambangan ini tidak mudah diperankan berhubung untuk mencapai tingkat kehalusan yang optimal, selain karakter pemeran juga latihan yang terus-menerus untuk mencapai tingkat yang mendekati sempurna layak tampil.

Menatap Hari Esok[sunting | sunting sumber]

Bertakhtanya seorang adipati yang baru memimpin istana di zaman Republik membawa kesempatan pada perkembangan society-state yang mengiringi perjalanan istana dalam mengintegrasikan diri dalam kultur Indonesia Raya.

Pondasi dan Benteng Budaya[sunting | sunting sumber]

Seni pertunjukan semacam seni tari adalah merupakan hasil karya budaya yang sampai sekarang tetap menjadi barang pusaka peninggalan para leluhur.Kebudayaan sebagai benteng dan fondasi identitas merupakan wacana sekaligus instrumen kekuatan untuk melakukan bargaining terhadap tekanan kepentingan dan gerusan politik dialam Republik.

Seni tari ciptaan pendiri dinasti yang selama ini jarang dipentaskan berhubung materinya memiliki ketersinggungan dengan pihak lain mulai degelar dan dapat dinikmati alur alur ceriteranya.Tarian Dirada Meta yang menggambarkan perjuangan Mangkunegara I mau tidak mau harus keluar kandang untuk dipertunjukkan.Tidak ada alasan singgung menyinggung yang jelas bahwa seni tari dalam kejujurannya adalah cermin dan suatu kisah yang diungkapkan dalam seni untuk dikomunikasikan.

Sebagai salah satu elemen pondasi dan benteng budaya bersama dengan elemen lain, seni ini secara bersama sama menjadi kekuatan identitas sekaligus kebanggaan. Terciptanya kebanggaan menandai bahwa jatidiri dalam identitas kekamian dan kekitaan menjadi bukan kebohongan lagi.

Pada zaman Mangkunegara IX ini atensi pada penggalian kebudayaan Indonesia mendapat perhatian dan Mangkunegaran memprakarsai Istananya untuk area bermain anak dari berbagai provinsi.(TEMPO; 31 Juli 1993).

Mangkunegaran, sebagai pusat pengembangan budaya, memberikan kesempatan bagi penggalian budaya Indonesia dalam hal mainan anak tradisional itu (TEMPO; 31 Juli 1993).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Majalah TEMPO, Jakarta: 26 Maret 2007
  2. Majalah TEMPO, Jakarta: 18 Januari 2008
  3. Dwipayana, Ari, AAG., Bangsawan dan Kuasa, kembalinya bangsawan di dua kota, Yogyakarta: IRE PRESS, 2004.
  4. Majalah TEMPO, Jakarta: 31 Juli 1993
  5. Magenda, D, Burhan, Aspek Keadilan Sosial Dalam Kebudayaan Politik Indonesia: Beberapa Pendekatan Teoritis, dalam: Hadad, Ismi (ed): Kebudayaan Politik dan Keadilan sosial, Jakarta: Lembaga Penelitian LP3ES, 1979
  6. Padmodiwirio, Soehario, Pangeran Sambernyowo, Skenario Film Ceritera, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992
  7. Pramutomo, RM., Tari, Seremoni, Dan Politik Kolonial (1), Solo: ISI PRESS, 2009# Cahoon, Ben. Indonesian Traditional States World Statesmen.org. Retrieved 2010-04-28.
  8. Negoro, Suryo. "Sri Mangkoenagoro IX". Joglosemar Online. Retrieved 2010-04-28.
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Mangkunegara VIII
Adipati Mangkunegaran
(1987—sekarang)
Diteruskan oleh:
Sedang menjabat