Sri Jayawarsa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sri Jayawarsa adalah raja yang memerintah sekitar tahun 1104 saka. Nama gelar abhisekanya ialah Sri Maharaja Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Jayawarsa naik takhta. Peninggalan sejarahnya yang ditemukan adalah Prasasti Sirah Keting di Desa Sirah Keting, Ponorogo tahun 1126 Saka, yang berisi pengesahan Desa Marjaya sebagai tanah perdikan atau sima swatantra; Prasasti Mruwak tahun 1108 Saka di Desa Mruwak Dagangan, Kabupaten Madiun berisi penetapan Desa Mruwak sebagai desa sima dan Prasasti Pamotoh di Desa Sirah Kencong, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar tahun saka 1120 (1198 M).

Dalam Prasasti Sirah Keting lebih berani dalam menyebut gelar rajanya, yaitu dengan nama Sri Jayawarsa Digjaya Sasastraprabhu, Sri jayawarsa juga menyebutkan dirinya sebagai cucu anak dari Sang Apanji Wijayamertawarddhana yang kemudian bergelar abhiseka sebagai Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Prasasti Sirah Keting memuat tanggal di keluarkan Sri Jayawarsa pada 8 November 1204 M di Ponorogo, pada tahun 1205 M Raja Kertajaya yang berkuasa di Panjalu mengularkan prasasti Lawadan. Dari sini mengesankan bahwa Sri Jayawarsa merupakan raja yang bebas dan bukan merupakan daerah vasal dari Panjalu. Dilihat dari identifikasi tempat, diketahui bahwa wilayah kekuasaan Śrī Jaya Prabhu berada di sekitar Madiun dan Ponorogo (berdasarkan Prasasti Mruwak dan Sirah Kĕting), yaitu terletak di sebelah barat Gunung Wilis. Dari keterangan Prasasti Sirah Keting yang menyebut Sri Jayawarsa adalah anak keturunan dari Dharmawangsa Teguh sangat mungkin Sri Jayawarsa adalah keluarga Dharmawangsa Teguh yang lolos dari peristiwa mahapralaya yang mendirikan daerah sendiri dan melepaskan diri dari dinasti Airlangga.

Nama Sri Jayawarsa juga di tulis dalam Kakawin Kresnayana dan Kakawin Sumanasantaaka. Mpu Triguna dalam epilog Kresnayana menjelaskan hubungannya dengan Sri Jayawarsa di umpamakan sebagai Mpu Kanwa dan Airlangga. Sedangkan Mpu Monaguna mempersembahkan Kakawin Sumanasantaka sebagai air suci berwujud puisi di bawah kaki raja.

Dari berita naskah tersebut tampaknya mengatakan bahwa daerah bagian barat Gunung Wilis merupakan daerah yang lepas dari eks kerajaan Kahuripan. Dan Sri Jayawarsa Sastaprabhu adalah kerajaan yang patut untuk di telusuri keberadaannya. Mengingat Prasasti Lawadan adalah prasasti terakhir raja Kertajaya, setelah itu Panjalu/Kadiri runtuh dan kemudian muncul Singhasari dengan Ken Arok sebagai kerajaan berikutnya.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara