Mangkunegara V

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Mangkunegara V
ꦩꦁꦏꦸꦤꦒꦫ꧇꧕꧇
Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya
Portrait of Mangkunegara V.jpg
Potret Mangkunegara V, tanggal tidak diketahui
Adipati Mangkunegaran ke-5
Berkuasa1881–1896
PendahuluMangkunegara IV
PenerusMangkunegara VI
LahirG.R.M. Sunita
(1855-04-16)16 April 1855
Pura Mangkunegaran, Surakarta, Hindia Belanda
Wafat2 Oktober 1896(1896-10-02) (umur 41)
Wonogiri, Hindia Belanda
Nama lengkap
Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Prabu Prangwedana V (5 September 1881–4 Mei 1894)
Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V (4 Mei 1894–2 Oktober 1896)
AyahMangkunegara IV
IbuR.Ay. Dunuk
PermaisuriR.Aj. Kusmardinah
Pasangan17 selir berputra
Anak25 (semuanya dari selir)

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V adalah penguasa kelima Kadipaten Praja Mangkunegaran yang bertakhta relatif singkat (1881-1896). Nama lahirnya adalah Gusti R.M. Sunita, putra kedua dari MN IV dengan permaisuri kedua, R.A. Dunuk (Kg.B.R.Ay. Adipati Arya MN IV)[1] Kakak kandung laki-lakinya, G.R.M. Prabu Sudibya, yang disiapkan oleh MN IV untuk menggantikannya sebagai pemegang takhta ternyata wafat pada usia remaja, sehingga Sunita-lah yang kemudian dipersiapkan sebagai pewaris takhta.

Pemerintahan MN V diwarnai dengan kesulitan keuangan karena suramnya situasi perdagangan gula tebu, komoditas yang menjadi andalan pemasukan ekonomi Praja. Sedemikian parahnya, sehingga Praja harus berhutang kepada pemerintah Hindia Belanda dan hutang ini tidak terbayarkan hingga wafatnya, pada tahun 1896. Meskipun demikian, MN V dikenal menyukai kesenian, sehingga pada masa pemerintahannya tercipta beberapa tarian Jawa klasik gaya Mangkunegaran yang populer dan masih dipergelarkan hingga saat ini.

Mangkunegara V digantikan oleh adik kandungnya, G.R.M. Suyitna, sebagai Mangkunegara VI, mengingat putranya tertua belum mencapai kedewasaan pada saat wafatnya.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pemerintahan Mangkunegara V tergolong relatif singkat dan beberapa catatan yang dapat ditulis mengenai pemerintahannya adalah sekitar masalah meneruskan usaha bisnis Praja yang telah dirintis oleh ayah dan pendahulunya yakni Mangkunegara IV.

Dalam masa pemerintahannya, pabrik-pabrik gula milik Praja (PG Colomadu dan PG Tasikmadu) mengalami defisit anggaran dan keberlangsungan industri gula. Mangkunegara V tahun 1885 berusaha mencari pinjaman kepada Belanda melalui Residen Surakarta tetapi ditolak. Penolakan ini didasarkan karena Mangkunegara V tidak memberi kepastian penghentian model pengurusan keuangan yang salah urus. Belanda mengusulkan soal keuangan diserahkan kepada suatu komisi yang diangkat oleh Residen setelah dirundingkan dengan Mangkunegara V. Dalam komisi ini Belanda juga mengusulkan agar asisten Residen masuk dalam komisi bersama dengan para keturunan Mangkunegara II, III, IV, dan V dalam suatu kepanitiaan[butuh rujukan].

Komisi itu dinamakan Dewan Pengawas yang mengatur urusan keuangan, tanah dan barang barang milik Mangkunegaran. Mangkunegara V menolak adanya komisi tersebut karena pada hakikatnya Belanda mencampuri urusan dan mengawasi Mangkunegaran dalam urusan keuangan. Mangkunegara V didukung oleh patihnya, Raden Tumenggung Jaya Sarosa, yang sudah menjabat patih sejak Mangkunegara IV. Masa pemerintahan Mangkunegara V berakhir 2 Oktober 1896 karena ia meninggal setelah mengalami kecelakaan di Hutan Kethu, Wonogiri, dalam usia 41 tahun.

Dalam berbagai literatur[siapa?] disebutkan bahwa sebelum mangkatnya, Mangkunegara V tidak menunjuk calon penggantinya sehingga ditunjuklah K.P.H. Dayaningrat, adik kandungnya sebagai pengganti atas persetujuan dan arahan dari ibunda, G.R.Ay. Dunuk[butuh rujukan]. Kedua putra laki-lakinya dari permaisuri: BRM. Suryakusuma dan BRM. Suryasuparta pada saat itu belum memasuki masa remaja. KPH. Dayaningrat mengemban tugas menyelamatkan keuangan kerajaan yang terjebak dalam hutang kepada Kerajaan Belanda.

Pembinaan kesenian[sunting | sunting sumber]

Kesenian, terutama seni tari, di Istana Mangkunegaran pada masa MN V mengalami perkembangan yang pesat, di tengah lesunya perekonomian. MN V sangat menyukai seni pertunjukan, terutama tari, dan didukung oleh para pelatih tari dan koreografer handal sejak masa MN IV. Banyak tari-tarian klasik gaya Surakarta-Mangkunegaran yang populer pada era modern diciptakan pada masa pemerintahan MN V. Beberapa tarian klasik yang diciptakan pada masa pemerintahan MN V adalah Tari Gatutkaca Gandrung, Tari Gatutkaca Dadungawuk, dan Tari Srimpi Mandrarini. Kesenian Langendriyan juga dikembangkan pada masa MN V.

Kesenian Wayang Wong gaya Surakarta yang diciptakan oleh Pangeran Sambernyawa[butuh rujukan] dan memuncak dalam zaman Mangkunegara IV sedikit menggelepar sebelum akhirnya seorang Tionghoa bernama Gam Kang dengan restu Mangkunegara V (1895) mendirikan Grup Wayang Orang profesional di luar Istana yang pertama di Surakarta dengan nama Wayang Wong Sriwedari.[butuh rujukan]

Bintang Jasa Mangkunegara V[sunting | sunting sumber]

Mangkunegara V adalah pemegang bintang Singa Netherlands

Putra-putri Mangkunegara V[sunting | sunting sumber]

  1. B.R.Aj. Sutikah, menikah dengan R.M.P. Gondokusumo
  2. K.P.A. Suryokusumo, menikah dengan B.R.Aj. Catharina Bertha
  3. B.R.Aj. Samekti
  4. B.R.Aj. Marwestri
  5. B.R.Aj. Sutantinah menikah dengan KPA. Kusumodiningrat
  6. B.R.Aj. Sutitah
  7. K.P.A. Suryosutanto
  8. B.R.M. Suryosuparto ( KGPAA Mangkunegara VII)
  9. B.R.M. Suryosukanto
  10. K.P.A. Suryosudarso
  11. B.R.M. Suryosugiyanto
  12. B.R.M. Suryosurarto
  13. B.R.M. Suryosubandriyo
  14. B.R.Aj.Tg.A. Daryosugondo
  15. K.P.A. Suryosumarno
  16. B.R.Aj. PA. Mloyokusumo
  17. B.R.M. Suryosuwito
  18. B.R.M. Suryosumanto
  19. B.R.Aj. Subastutu (wafat muda)
  20. B.R.M. Suryosularjo
  21. B.R.Aj. Sugiyanti (wafat muda)
  22. B.R.M. Sukamto (wafat muda)
  23. B.R.M. Suryosubandoro
  24. B.R.M. Suryosumasto

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Soemahatmaka et al., 1973; hal. 171.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. Soemahatmaka et al. 1973. Pratelan Para Darah Dalem Soewarg Kangdjeng Goesti Pangeran Adipati Arja Mangkoenagara I. hing Soerakarta Hadiningrat: Asalsilah Djilid I. Istana Mangkunegaran. Surakarta.
  2. Suryasuparta. 1916. Cariyos Kêkesahan saking Tanah Jawi dhatêng Nagari Walandi. Seri dari: Serie uitgaven door bemiddeling der Commissie voor de Volkslectuur. Jenis: Cetakan, Bhs. Jawa, Hrf. Jawa, Bentuk: Gancaran, Jml.hal. 234, No.Rec. 530.
  3. Jayang Gêni. 1935. Cariyos Lêlampahanipun Ki Padmasusastra Dhatêng Nagari Nèdêrlan. Jml.hal. 31, No.Rec. 249.
  4. http://www.persee.fr/web/revues/home/prescript/article/arch_0044-8613_1982_num_24_1_1771
  5. https://web.archive.org/web/20180902161054/http://en.rodovid.org/wk/Person:26116
  6. http://gondosuputran.blogspot.com/2007/03/legiun-mangkunegaran.html
  7. Wasino. 2008. Kapitalisme Bumi Putra: Perubahan Masyarakat Mangkunegaran. LKiS.´Jakarta. ISBN 979-1283-11-7. ISBN 13: 978-979-1283-11-3.
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Mangkunegara IV
Adipati Mangkunegara
1881-1896
Diteruskan oleh:
Mangkunegara VI