Soekemi Sosrodihardjo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Raden Soekemi Sosrodihardjo
Soekeni.jpg
Lahir 15 Juni 1873
Bendera Belanda Wirosari, Grobogan, Hindia Belanda
Meninggal 18 Mei 1945 (umur 71)
Bendera Jepang Jakarta, Masa Pendudukan Jepang
Pekerjaan Guru
Tahun aktif 18981945
Suami/istri Ida Ayu Nyoman Rai (m. 1897; m. 1945)
Anak Soekarmini
Soekarno

Raden Soekemi Sosrodihardjo (lahir di Wirosari, Grobogan, 15 Juni 1873 – meninggal di Jakarta, 18 Mei 1945 pada umur 71 tahun) adalah seorang guru di Surabaya dan ayah dari presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno. Ia diangkat sebagai guru pada bulan Agustus 1898 di Surabaya. Tanggal ini berdasarkan tulisan ia yang bersumber dari buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adam. Soekemi sebagai guru pemerintah Kolonial Belanda tinggal di kampung Pandean, dan sungai Kali Mas masih berfungsi sebagai jalur transportasi.

Pada tanggal 28 Desember 1901, Soekemi menerima besluit untuk di pindah tugas ke kecamatan Ploso di Jombang sebagai Mantri Guru. Lingkungan Ploso pada masa itu masih sangat desa sekali. Selanjutnya pada tanggal 23 November 1907, ia menerima besluit dari Kementrian Pendidikan Kolonial Belanda di Batavia untuk di pindah tugas ke Sidoarjo kota kecil pada waktu itu yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Surabaya.

Pada tanggal 22 Januari 1909, Soekemi menerima besluit lagi untuk di pindah tugas ke Mojokerto, selanjutnya di pindah tugas lagi ke Blitar sebagai guru di Normaalschool berdasarkan besluit tertanggal 2 Februari 1915 dari Batavia.

Pada saat ke Jakarta merupakan perjalanan yang terakhir dari Soekemi, pada saat itu ia diminta datang ke Jakarta oleh putranya Soekarno untuk melihat kelahiran Cucunya yang pertama Guntur, saat berjalan-jalan menghirup hangatnya udara Jakarta, Soekemi terjatuh dan sakit keras sampai meninggal pada tanggal 18 Mei 1945.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Raden Soekeni Sosrodihardjo kelahiran distrik Wirosari Kabupaten Grobogan, pada 15 Juni 1873 (Merenda Terbitnya Matahari; Hery Setiabudi 2017)