Tedjowulan
| Tedjowulan ꦠꦺꦗꦺꦴꦮꦸꦭꦤ꧀ | |
|---|---|
![]() Tedjowulan, 2026 | |
| Mahamenteri Kasunanan Surakarta ke-1 | |
| Mulai menjabat 16 Mei 2012 (13 tahun, 341 hari lalu) | |
| Penguasa monarki | Pakubuwana XIII (2012–2025) |
| Presiden | |
Pendahulu Jabatan baru Pengganti Petahana | |
| Kelahiran | Gusti Raden Mas Soerjo Soetedjo 3 Agustus 1954 |
| Permaisuri | G.K.R. Mas |
| Keturunan | 5 |
| Dinasti | Mataram |
| Ayah | Pakubuwana XII |
| Ibu | K.R.Ay. Retnodiningrum |
| Karier militer | |
| Dinas/cabang | |
| Pangkat | |
| Kesatuan | Infanteri |
Kolonel Inf (Purn.) Kangjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung Tedjowulan (bahasa Jawa: ꦠꦺꦗꦺꦴꦮꦸꦭꦤ꧀; lahir 3 Agustus 1954) adalah mahamenteri Kasunanan Surakarta sejak 2012.[1]
Pengukuhannya sebagai mahamenteri merupakan bagian dari upaya rekonsiliasi untuk mengakhiri konflik keraton Surakarta sepeninggal Pakubuwana XII pada 2004.[2][3][4]
Pada 5 November 2025, setelah meninggalnya Pakubuwana XIII, Tedjowulan mengumumkan diri sebagai raja ad interim hingga pihak kerabat istana dapat bermufakat terkait Susuhunan Surakarta selanjutnya.[5]
Kehidupan pribadi
[sunting | sunting sumber]Lahir sebagai Gusti Raden Mas Soerjo Soetedjo, Tedjowulan merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Pakubuwana XII dan istri keduanya, K.R.Ay. Retnodiningrum.[6]
Saat bersekolah di SMAN 1 Surakarta, Tedjowulan terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Nasional tahun 1972, mewakili Jawa Tengah.[7]
Tedjowulan menamatkan pendidikan militer di Akademi Militer Magelang pada 1981. Setelahnya ia berkarir di Angkatan Darat hingga mencapai pangkat terakhir Kolonel.[8]
Sejak 1982, ia membina rumah tangga dengan Rr. Nanik Indiastuti, kelak bergelar G.K.R. Mas.[9] Pasangan ini memiliki 2 anak, yakni G.R.Ay. Putri Woelan Sari Dewi dan G.R.Aj. Dewi Wulandari Srirahadiastuti.
Selain itu, Tedjowulan juga sempat menikahi 2 perempuan lain dan dengan mereka memiliki 3 orang anak. Dengan Vidia Iswari (menikah 2004) terlahir Ratu Dyahwulan Nariswari. Sementara dengan Sri Wulan Madiyo Wati (menikah 2009) terlahir G.B.R.M. Mario Wulan Soedibjo Rojo Putro dan G.B.R.Aj. Maharani Wulan Yesia Tejaningsih.
Kehidupan sebagai pangeran
[sunting | sunting sumber]Dinobatkan sebagai Susuhunan
[sunting | sunting sumber]Setelah Pakubuwana XII meninggal pada 11 Juni 2004, proses suksesi berjalan alot. Meski sudah beberapa kali diadakan rembuk keluarga, namun belum ada kata sepakat. Di tengah kebuntuan tersebut, pada 24 Juni 2004 K.G.P.H. Hangabehi, anak lelaki tertua, secara sepihak diumumkan akan bertakhta. Sebagian besar penyokong langkah ini adalah saudara-saudara seibu Hangabehi.
Pengumuman tersebut menuai pro dan kontra. Penolakan pertama muncul dari sebuah kelompok yang menamakan diri Forum Bela Raos Abdi Dalem. Selanjutnya pada 3 Agustus 2004 giliran rapat kerabat istana di rumah Mooryati Soedibyo di Jakarta yang menyatakan tidak setuju.[10]
Puncaknya, pada 31 Agustus 2004, Tedjowulan dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII melalui surat keputusan yang ditandatangani 3 pejabat tinggi Kesunanan: K.G.P.H. Dipokusumo, K.G.P.H. Hadiprabowo, dan G.K.R. Alit. Di Sasana Purnama, Badran ia diberikan gelar Sahandhap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono XIII Senopati ing Alogo Abdurrachman Sayidin Panotogomo Khalifatullah Tanah Jawi.[11]
Selang 10 hari, giliran Hangabehi yang dinobatkan untuk kedudukan dan gelar yang sama, melahirkan 2 raja di Kesunanan.[12]
Rekonsiliasi
[sunting | sunting sumber]
Meski sebagai susuhunan, Tedjowulan praktis tidak memiliki kewenangan di dalam Keraton, namun keberadaan raja kembar ini tak pelak memicu konflik berkepanjangan. Selain perpecahan di kalangan kerabat, konflik juga menghambat kerja-kerja kebudayaan.[4]
Atas kesulitan-kesulitan tersebut, sejak 2011 mulai diadakan mediasi oleh pemerintah. Puncaknya pada 16 Mei 2012 di Hotel Gran Mahakam Jakarta, Hangabehi dan Tedjowulan sepakat untuk islah. Hangabehi akan terus bertakhta, sementara Tedjowulan diangkat menjadi mahamenteri, semacam wakil raja.[13]
Rekonsiliasi ini bagaimanapun juga sempat ditolak sejumlah kerabat, dimotori oleh G.K.R. Wandansari dan Lembaga Dewan Adat. Proses ini dianggap cacat hukum dan menormalisasi pelanggaran hukum adat yang dilakukan Tedjowulan.[14]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "REKONSILIASI KERATON SOLO: Tedjowulan Kini Jadi Mahapatih". Espos. 20 Mei 2012.
- ↑ "Berakhir Dualisme Kepemimpinan di Keraton Surakarta". Kompas.com. 31 Mei 2012.
- ↑ Prasetyo, Andreas Yoga (15 November 2025). "Jejak Seteru di Singgasana Keraton Surakarta". Kompas.id.
- 1 2 Muharrom, Muhammad Agus Salim (2014). Keraton dan Politik: Konflik Keraton Surakarta Hadiningrat Pasca Wafatnya Paku Buwono XII (S1 thesis). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
- ↑ Ryanthie, Septia (5 November 2025). "Tedjowulan Jalankan Tugas Ad Interim Raja Keraton Surakarta". Tempo (majalah).
- ↑ Puspaningrat, Surjandjari (2006). Putra putri dalem Karaton Surakarta. Cendrawasih.
- ↑ Daftar Nama Purna Paskibraka Tingkat Nasional 1967-2007 (PDF) (Report). Paguyuban Paskibraka 1978.
- ↑ Sodiq, Fajar (15 April 2010). "Raja Solo "Disemprit" Pengawas Pilkada". Viva.co.id.
- ↑ "Menikahkan putranya". Tempo (majalah). 27 Februari 1982.
- ↑ Poespaningrat, Pranoedjoe (2008). Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: Dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru. B.P. Kedaulatan Rakyat.
- ↑ "Kolonel (Inf) Tedjowulan Resmi Dinobatkan Sebagai PB XIII". Detik.com. 31 Agustus 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Februari 2017.
- ↑ "Ontran-ontran Raja Kembar". Gatra. 2004.
- ↑ "Era Baru Keraton Surakarta Dipimpin Dwi-Tunggal Hangabehi-Tedjowulan". Tabloid Nova. 30 Mei 2012.
- ↑ "Adu mulut warnai aksi rekonsiliasi keraton Surakarta". Merdeka.com. 4 Juni 2012.
| Hanya gelar saja | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Susuhunan Pakubuwana XII |
— TITULER — Susuhunan Surakarta 2004–2012 Alasan kegagalan suksesi: Bukan Anak Sulung |
Diteruskan oleh: Susuhunan Pakubuwana XIII |


