Abdullah Syafi'i

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Abdullah Syafi'i
Kyai Haji
Abdullah Syafi'i
K.H. Abdullah Syafi'i.jpg
K.H. Abdullah Syafi'i
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar
(Islam/Sosial)
Kyai Haji
Nama
Nama Abdullah Syafi'i
Nama lainnya
Kiai Dulloh
Kelahirannya
Tanggal lahir (M) 10
Bulan lahir (M) Agustus
Tahun lahir (M) 1910
Tempat lahir Jakarta
Nama ayah K.H Syafi'i bin Haji Sairan
Nama ibu Nona binti Sya‘ari
Agama, Identitas, Kebangsaan
Agama Islam
Etnis (Suku bangsa)
Etnis
(Suku bangsa)
Betawi
Kewarganegaraan
Kewarganegaraan Indonesia Bendera Indonesia
Bantuan kotak info




Kyai Haji Abdullah Syafi'i, lebih dikenal dengan nama Kiai Dulloh (lahir 10 Agustus 1910 di kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan - meninggal 3 September 1985 pada umur 75 tahun) adalah pendiri dan pengasuh pertama Perguruan as-Syafi'iyah di Jakarta.[1][2][3] Ia pernah menjabat sebagai ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode pertama dan Ketua Umum Majelis Ulama DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua.[4] Ia merupakan ayah dari Dra.Hj. Tuti Alawiyah, mantan Menteri Sosial dan Menteri Peranan Wanita pada masa Orde Baru sekaligus yang menjadi pengasuh Perguruan asy-Syafi'iyah saat ini.[1] Kiai Dulloh adalah ulama keturunan Betawi yang terkenal dengan julukan "Macan Betawi Kharismatik."[5] Ia juga dikenal sebagai ulama yang ahli ilmu agama dan mempunyai pandangan luas yang mengacu pada masa depan.[1] Menurut Prof. K.H. Ali Yafie mengatakan bahwa "K.H. Abdullah Syafi’i adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tak jemu dalam berdakwah.[6] Dia sangat tegas dalam menegakkan Amar ma'ruf nahi munkar."[6]

Kehidupan awal dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

K.H. Abdullah Syafi'i adalah anak pertama dari pasangan dari K.H Syafi'i bin Haji Sairan dan Nona binti Sya‘ari.[1][3][7] Ia memiliki dua adik perempuan yang bernama Ruqoyyah dan Aminah.[7] Sejak kanak-kanak ia belajar pendidikan keislaman dari ayahnya dan lingkungan keluarganya.[1] Di samping itu ia juga belajar pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) selama tahun.[7] Ia juga belajar kepada ulama-ulama di kampungnya dan disusul dengan belajar kepada ulama-ulama lain di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.[1] di antara guru-guru Kiai Dulloh adalah Mualim Mushonif, Abdul Majid, Marzuki, Mansur, Habib Ali bin Husein Al-Attas, Habib Alwi Al-Haddad, Habib Salim bin Jindan, Habib Ali Kwitang, dan KH. Ahmad Mukhtar yang kemudian menjadi mertuanya.[1][7] Pada umur 17 tahun, Kiai Dulloh sudah berani mendirikan Madrasah Diniyah (Sekolah Agama Islam) di tanah milik orang tuanya di Bali Matraman dan mengajar di sana.[1] Bermula dari Madrasah Diniyah inilah Kiai Dulloh mengembangkan dakwah keislamannya di bidang pendidikan untuk masa-masa sesudahnya.[1]

Kiai Dulloh menikahi Siti Roqayah, puteri K.H. Ahmad Mukhtar dan dikarunia lima orang anak, yakni: Muhibbah, Tuty Alawiyah, Abdur Rasyid, Abdul Hakim, dan Ida Farida.[7] Pada tahun 1933, Kiai Dulloh didampingi istrinya mulai mendirikan masjid di samping madrasahnya.[1] Masjid ini ia beri nama al-Barkah, yang kemudian masjid ini mampu berkembang dan menjadi pusat keislaman hingga saat ini.[1][8]

Mendirikan lembaga pendidikan[sunting | sunting sumber]

Universitas Islam As-Syafi'iyah, Jakarta. Berdirinya universitas ini merupakan bukti kepedulian K.H. Abdullah Syafi'i dalam bidang pendidikan

Perguruan asy-Syafi'iyah mulai berkembang pada sekitar tahun 1960-an dengan ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan formal di lingkungan asy-Syafi'iyah.[1] Pada tahun 1963 Kiai Dulloh mendirikan AKPI (Akademi Pendidikan Islam) asy-Syafi'iyah dan kemudian pada tahun 1969 AKPI tersebut diperluas menjadi Universitas asy-Syafi'iyah, yang meliputi fakultas: Tarbiyah, Ushuluddin, Syari'ah, Ekonomi, Hukum, Teknik dan Pendidikan.[1] Ia juga sempat membangun stasiun radio asy-Syafi'iyah pada tahun yang sama.[4] Pada tahun tersebut didirikan pula Taman Kanak-kanak (TK) asy-Syafi'iyah dan Madrasah Aliyah (SMA Islam) asy-Syafi'iyah, sedangkan untuk Madrasah Tsanawiyah (SMP Islam) didirikan setelahnya.[1] Pada tahun 1970 berdirilah SD, SMP, dan SMA asy-Syafi'iyah. Dengan demikian menunjukkan bahwa Perguruan asy-Syafi'iyah semakin berkembang, tidak hanya di bidang pendidikan Islam saja, namun juga pada pendidikan umumnya.[1]

Dengan perkembangan yang cukup bagus tersebut, maka kompleks pesantren dan sekolah asy-Syafi'iyah dirasa tidak cukup lagi.[1] Untuk mnegatasi hal tersebut, Kiai Dulloh membuka kampus baru di Manggarai, Jakarta Selatan pada tahun 1969 .[1] Lima tahun kemudian (1974) disusul dengan pembangunan kampus baru di Jalan Bukitduri, Jakarta Selatan.[1] Kemudian pada tahun 1977 dibangun kampus lagi di Cilangkap, Jakarta Timur.[1] Selanjutnya, pada tahun 1984 Perguruan asy-Syafi'iyah mulai merambah ke wilayah Jawa Barat, dengan didirikannya tiga pesantren di sana.[1] Ketiga kompleks pesantren baru yang didirikan di Jawa Barat ini tersebar di wilayah Jakasampurna, Bekasi; Jatiwaringin, Pondok Indah, Bekasi; dan di Payangan yang juga masih daerah Kabupaten Bekasi.[1][4] Selain mendirikan Perguruan as-Syafi'iyah yang berkembang pesat, pada tahun 1978 ia juga mendirikan pesantren khusus untuk anak-anak yatim (yataama) dan orang-orang miskin (masaakin).[4]

Referensi[sunting | sunting sumber]