Sirnarasa, Cikakak, Sukabumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Sirnarasa
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Sukabumi
Kecamatan Cikakak
Luas 4.028 ha
Jumlah penduduk 5.410 jiwa[1]
Kepadatan 455 jiwa/km²[1]
Menurunkan padi dari lumbung (bahasa Sunda leuit)

Sirnarasa adalah desa di kecamatan Cikakak, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Berjarak kurang lebih 30 km dari Kota Palabuhanratu, ibukota Kabupaten Sukabumi. Desa ini berada pada ketinggian antara 700–1.000 mdpl. Jalan menuju Desa Sirnarasa sudah beraspal, akan tetapi jalan di dalam desa menuju lokasi perkampungan penduduk masih berbatu-batu (jalan makadam).

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kecamatan Cisolok
Selatan Desa Margalaksana
Barat Desa Ridogalih
Timur Desa Cileungsing

Pembagian wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Sirnarasa terbagi menjadi 4 kadusunan, 10 RW dan rukun tetangga 40 RT yakni:

  1. Dusun Cihangasa
  2. Dusun Gunung Puntang
  3. Dusun Paguyangan
  4. Dusun Sirnarasa

Geografi[sunting | sunting sumber]

Topografi wilayah Desa Sirnarasa umumnya bergunung-gunung dan berlembah. Desa ini berada pada ketinggian antara 700–1.000 mdpl. Wilayah Desa Sirnarasa tercatat seluas 4.028 hektare, terdiri dari kawasan hutan negara 1.969 ha, hutan rakyat 275 ha, persawahan 636 ha, kebun-kebun campuran 602 ha, lahan perkebunan swasta 1,5 ha, dan tanah darat 952 ha[1].

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk desa Sirnarasa pada 2013 berjumlah 5.410 jiwa (1.702 kk); dengan penduduk laki-laki sebanyak 2.824 jiwa dan perempuan 2.586 jiwa. Berdasarkan mata pencahariannya, di Desa Sirnarasa terdapat petani 476 orang, buruh tani 1.017 orang, pedagang 51 orang, PNS 14 orang dan guru honorer 10 orang. Kemudian selebihnya adalah tukang ojek sebanyak 75 orang, sopir 10 orang, peternak 5 orang, dan pengrajin 25 orang.[1]

Banyak penduduk Desa Sirnarasa yang menggarap lahan kawasan hutan negara; proporsinya mendekati 60% penduduk desa ini atau l.k. 1000 kk. Lahan hutan ini dikelola secara tumpangsari sehingga membentuk wanatani. Kawasan hutan ini semula berada di bawah manajemen Perum Perhutani, akan tetapi semenjak tahun 2003 dialihkan pengelolaannya ke Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak[2].

Di samping itu penduduk Sirnarasa juga banyak membudidayakan ikan di kolam-kolam air tawar karena pasokan air dari pegunungan Halimun cukup melimpah. Demikian pula ternak, seperti kerbau, domba, dan kambing banyak dipelihara warga karena lahan penggembalaan dan pakan ternak tersedia mencukupi. Sirnarasa banyak menghasilkan gula aren dan juga kolang-kaling.

Adat dan budaya[sunting | sunting sumber]

Menumbuk padi bersama-sama

Sirnarasa merupakan salah satu desa tradisional Sunda yang masih memegang adat dengan kuat. Secara budaya, Sirnarasa termasuk ke dalam wilayah Kasepuhan Ciptagelar, wilayah adat Banten Kidul. Di wilayah adat Kasepuhan ini, banyak kegiatan-kegiatan pertanian –terutama yang terkait dengan budidaya padi– yang harus mengikuti ketentuan-ketentuan adat. Salah satu upacara besar yang menarik perhatian publik, bahkan sering dianggap sebagai atraksi wisata kultural yang langka, adalah kegiatan Seren Taun sebagai perwujudan rasa terima kasih petani atas karunia Tuhan berupa keberhasilan panen. Seren Taun biasanya diselenggarakan di sekitar bulan Juli-Agustus.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Profil Desa Sirnarasa, 2006.
  2. ^ Perluasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, artikel pada Koran Bekasi.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

6°52′24,61″LU 106°31′15,26″BT / 6,86667°LS 106,51667°BT / -6.86667; 106.51667