Depok Lama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Depok Lama adalah satu wilayah Kelurahan di Kota Depok yang letaknya berdekatan dengan kantor Wali kota Depok di jalan Margonda. Selain itu, Depok Lama juga merupakan wilayah perbatasan antara Depok dengan Bogor. Menurut Renold Joseph, "di zaman pendudukan Belanda di Depok mayoritas penghuninya merupakan ke-12 marga, penerima hak waris dari Cornelis Chastelein.[1]

Sekarang di kalangan warga depok, Kawasan depok lama sangat terkenal dengan dua peninggalan bersejarah, yakni gedung gereja Immanuel Depok, dan Lonceng Depok. Terbentuk dan bertahannya kedua peninggalan bersejarah ini tidak terlepas dari peranan para penerima hak waris yang diberikan nama-nama marga oleh Cornelis Chastelein yang saat ini dikenal dengan Orang Depok asli.[2]

Sejarah Singkat Depok Lama[sunting | sunting sumber]

Pada akhir abad ke-17, seorang saudagar asal Belanda yang bernama Cornelis Chastelein keluar dari VOC. Bersamaan dengan keluarnya ia dari VOC, maka Cornelis Chastelein langsung membeli enam bidang tanah di wilayah Jatinegara, Kampung Melayu, Karanganyar, Penjambon, Mampang dan Depok. Namun, Depok menjadi wilayah yang lebih dimaksimalkan oleh Cornelis Chastelein, karena Cornelis Chastelein melihat Depok sebagai daerah yang asri.[3]

Wilayah Depok yang menjadi rekaman penting terdapat banyaknya peninggalan sejarah bangsa Belanda dan jalannya pemerintahan pada masa kependudukan Belanda ialah Depok Lama. Salah satu yang familiar adalah pemilihan, pembentukan, dan penempatan ke-12 marga asli Depok oleh Cornelis Chastelein yang dalam perkembangan berikutnya menjadi penerima hak waris atas tanah di Depok Lama.[4]

Cornelis Chastelein kemudian menempatkan ke-12 marga yang merupakan orang-orang pilihan Cornelis Chastelein di wilayah Depok untuk mengelola lahan yang diwariskan kepada mereka. Ke-12 marga ini adalah para mantan budak kepercayaan Cornelis Chastelein yang dikumpulkannya sewaktu ia masih bekerja untuk VOC dan didapatinya dari beberapa pulau di Indonesia. Dalam perjalanan pengelolaan dan pengembangan tanah yang diwariskan, salah satu marga menghilang.[5]

Menurut ketua Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Valentino Jonathans, garis keturunan orang Depok asli ialah patrilineal, dalam artian marga turun dari laki-laki. Oleh karena itu, satu marga yang hilang dikarenakan tidak mendapati kembali keturunan laki-laki. Depok Lama kini dianggap sebagian masyarakat sebagai pusat apabila ingin mengetahui sejarah dari Kota Depok.[6]

12 Marga Depok Asli[sunting | sunting sumber]

12 Marga Depok Asli yang dibentuk oleh Cornelis Chastelein adalah sebagai berikut:

  1. Bacas
  2. Isakh
  3. Jonathans
  4. Jacob
  5. Joseph
  6. Loen
  7. Laurens
  8. Leander
  9. Tholense
  10. Soedira
  11. Samuel
  12. Zadokh

Menurut Dr. van Fraassen, seorang antropolog dan guru besar di Universitas Leiden, terdapat kemungkinan yang besar bahwa nama-nama tersebut adalah nama tambahan baptisan mereka yang baru berdasarkan rekomendasi Cornelis Chastelein, setelah mereka menganut agama Kristen dan dituju sebagai para calon penerima hak waris dari Cornelis Chastelein. Sayangnya, kini hanya tersisa sebelas marga saja karena marga Zadokh telah habis. Hal ini karena keturunan penerusnya kebanyakan adalah perempuan.

Gereja Immanuel Depok[sunting | sunting sumber]

Gereja yang tertua di Depok Lama adalah gereja GPIB Immanuel Depok yang bertempat di Jalan Pemuda. Gereja ini dibangun beberapa tahun setelah kedatangan Cornelis Chastelein dan para pekerjanya di Depok Lama. Pada mulanya, gereja di Depok Lama ini dibangun secara sederhana, terbuat dari kayu dan bambu. Namun, akibat pelapukan yang terjadi pada tahun 1715 dan 1792 gereja ini direnovasi. Pada tahun 1834, sebuah gempa besar terjadi meruntuhkan seluruh bangunan sehingga akhirnya gereja ini didirikan kembali dengan komponen batu-batuan pada tahun 1854. Seiring berjalannya waktu, gereja ini mengalami pemugaran kembali pada tahun 1980 dan 1998 untuk menjadikan bangunan ini lebih luas dan bergaya modern.[7]

Lonceng Depok[sunting | sunting sumber]

Di kalangan marga Depok asli, Lonceng Depok lebih dikenal sebagai bel gereja. Lonceng itu digunakan sebagai tanda dimulainya ibadah di gereja Immanuel Depok, lonceng ini juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mengabarkan berita duka, alias berfungsi sebagai lonceng kematian. Menurut penuturan Bapak Reinhalt Leander, lonceng ini telah berfungsi melampaui empat generasi lebih dan hingga sekarang masih dibunyikan, jika salah satu anggota jemaat dari gereja GPIB Immanuel meninggal dunia. Lonceng ini diindikasi oleh Gerrit Schimel telah ada sejak masa kehidupan Cornelis Chastelein dan para pejabat Belanda lainnya yang menetap di Depok Lama.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Instansi Kelurahan".  depok.go.id
  2. ^ "The History of Depok Lama".  soedira.com
  3. ^ "Sejarah Kota Depok".  depoknews.com
  4. ^ Kawasan Depok Lama Diusulkan Jadi Cagar Budaya depoklik.com
  5. ^ "Dedengkot Belanda Depok Menjaga Warisan".  tokoh-lingkarberita.com
  6. ^ Hari Depok ke-298 Tahun, YLCC Gelar Baksos tnol.co.id, Diakses 28 Juni 2012
  7. ^ GPIB Immanuel Depok gpibimmanueldepok.org