Lompat ke isi

Bahasa Sunda Karawang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Sunda Karawang
Basa Sunda Karawang
ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮊᮛᮝᮀ
Sampul buku Geografi Dialek Sunda di Kabupaten Karawang, terbitan 1990.
Pengucapanbasa sʊnda karawaŋ
Dituturkan diIndonesia
WilayahKab. Karawang
Penutur
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Melayu-Sumbawa atau Kalimantan Utara Raya (diperdebatkan)
    • Sunda Karawang
    Posisi bahasa Sunda Karawang dalam harap diisi Sunting klasifikasi ini 

    Catatan:

    Simbol "" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    Latin, Sunda
    Kode bahasa
    ISO 639-3
    Glottologkara1518
    Lokasi penuturan
    Peta distribusi bahasa Sunda Karawang per-kecamatan di wilayah Kabupaten Karawang dengan legenda:
    Dialek Karawang sebagai mayoritas
    Dialek Karawang sebagai minoritas
    Wilayah tutur bahasa lainnya
    Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
     Portal Bahasa
    L B PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

    Bahasa Sunda Karawang adalah dialek bahasa Sunda yang dituturkan di daerah Kabupaten Karawang. Dialek ini merupakan bagian dari kelompok variasi regional bahasa Sunda Pesisir Utara.[1] Aksen dan kosakata yang terdapat dalam bahasa Sunda Karawang cukup khas sehingga dapat dengan mudah dibedakan dengan aksen atau kosakata dalam bahasa Sunda dialek lainnya.[2]

    Penggunaan bahasa Sunda Karawang sebagai alat komunikasi masyarakat setempat umumnya terkonsentrasi atau dapat dijumpai hampir di sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang, terutama di bagian tengah dan selatan. Bahasa Sunda Karawang juga dipergunakan bersama dengan bahasa daerah lain di wilayah Kabupaten Karawang bagian utara.[3][4]

    Situasi penggunaan

    [sunting | sunting sumber]

    Wilayah Kabupaten Karawang yang merupakan salah satu kabupaten di Indonesia adalah kabupaten dengan jumlah kecamatan sebanyak 30 buah. Di beberapa kecamatan, terjadi sentuh bahasa antara bahasa Sunda Karawang dengan bahasa Sunda dialek lain, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah lain, terkadang dijumpai dua penggunaan bahasa secara sekaligus yang memunculkan kemampuan dwibahasa (bilingual) yang membuat seorang penutur dapat berbicara dengan lebih dari satu bahasa.[5]

    Penggunaan kosakata khas dialek Karawang, kosakata bahasa Sunda baku, dan kosakata bahasa lain dapat dilihat dengan lebih jelas pemetaannya pada galeri di bawah ini.

    Peta-peta penggunaan kosakata khas dialek Karawang, bahasa Sunda baku, dan bahasa lain.

    Fonologi bahasa Sunda Karawang dapat dilihat pada bagian ini.

    Dalam bahasa Sunda Karawang dapat dijumpai 7 fonem vokal, yang ditunjukkan oleh bagan di bawah ini.

    Vokal[9]
    Depan Tengah Belakang
    Tinggi i u
    ɤ
    Sedang ə
    Agak Rendah ɛ ɔ
    Rendah a

    Fonem vokal

    [sunting | sunting sumber]

    Distribusi vokal dalam kosakata bahasa Sunda Karawang dapat dilihat pada bagan di bawah ini.

    IPA contoh Glos Ref.
    a aki, baladoan, buka kakek, petak sawah kecil, buka [10]
    i iridan, widé, uli sair besar, sejenis alat penangkap ikan, ulen [10]
    u uing, julig, kembu aku, jahil, sejenis alat pembawa ikan kecil [11]
    ɛ élodan, cécémpéh, lebé mudah tergoda, niru, amil [10]
    o osol, bodog, anco sejenis alat penangkap ikan, golok, sejenis alat penangkap ikan [11]
    ə elang, pager kerinjang, gedeg [10]
    ɤ eureun, keuyeup gedé, ceuceu istirahat, rajungan, sebutan untuk kakak perempuan [10]

    Sama seperti beberapa dialek bahasa Sunda yang lainnya, bahasa Sunda Karawang juga memiliki 18 fonem konsonan, yang dijabarkan secara lengkap pada bagan di bawah ini.

    Konsonan[12]
    Cara Ucapan Dasar Ucapan
    Bibir Ujung Lidah Daun Lidah Punggung Lidah Anak Tekak
    Letus Tak bersuara p t c k
    Bersuara b d j ɡ
    Geser Tak bersuara s h
    Bersuara
    Nasal m n ɳ ŋ
    Sampingan l
    Getar r
    Luncuran w y

    Fonem konsonan

    [sunting | sunting sumber]

    Distribusi konsonan dalam kosakata bahasa Sunda Karawang dijabarkan seperti di bawah ini.

    IPA contoh Glos Ref.
    p papacangan, upas, empo bertunangan, pesuruh desa, bibi [9]
    b balé, abah, langkeb ambang pintu, bapak, lengke [9]
    m muntu, kemit, mualim alat penumbuk bumbu, piket, pawang [9]
    w wakil, ngawaluy, cingcaw kepala kampung, malas, camcau [13]
    t tarététpan, waton, kemit pelimbahan, ambang pintu, piket [13]
    d daang, adé, melid makan, adik, malas [13]
    s sunduk, singsat, ulis sejenis alat penjepit dinding, anak angsa, sekretaris desa [13]
    l loténg, salang, kampil bagian rumah antara atap dan langit-langit, gantungan, bantal [13]
    r rurah, paranjé, leukeur ketua kampung, kandang kambing, tempat dandang [13]
    c cendeli, kicik pesuruh, anak anjing [13]
    j jejengkok, ijep bangku kecil, bagian dari jala [13]
    n noo, babancik dipegang-pegang, tangga rumah [13]
    y yeh, parukuyan, ngawaluy ini, pedupaan, malas [10]
    k kariaan, sosokan, tolok berhajat/berpesta, besek kecil tempat nasi sederhana, sejenis alat penangkap ikan [10]
    ŋ ngajajal, bangbarung, waring mencoba, kayu bagian bawah dinding, sejenis alat penangkap ikan [10]
    h honjé, néhol, deudeuh bunga boros, penggaris petak sawah, kasihan [10]
    • Konsonan pada posisi final dilepas
    • Konsonan /c/, /j/, nasal /ɳ/, serta vokal /ɤ/ tidak dijumpai pada posisi final
    • Konsonan /k/ pada posisi akhir diucapkan jelas, tidak lepas dan tidak berupa glotal
    • Bunyi hamzah (ʔ) pada awal kata yang diinisialisasi oleh vokal yang sejenis dan pada akhir kata dengan suku terbuka tidak bersifat fonemis

    Gugus konsonan

    [sunting | sunting sumber]

    Pada bagian di bawah ini dipaparkan gugus konsonan yang dimiliki bahasa Sunda Karawang.[11]

    Gugus konsonan Contoh kata Pengertian
    /py/ ampyang, dampyang gula kacang (hidangan)
    /pl/ gegeplak sejenis hidangan
    /tr/ bacétrek sayur sisa
    /bl/ bladeang petak sawah kecil
    /sr/ disiksrik diiris
    /br/ tembrang baki kuningan
    /kr/ kriaan berhajat/berpesta
    /kl/ ooklukeun meningas terisak-isak
    /cr/ kicrik, nicrek anak anjing, musim hujan
    /gl/ glédég guntur
    /cl/ acleng loncat

    Kontras konsonan dan vokal

    [sunting | sunting sumber]

    Beberapa konsonan dan vokal yang terdapat dalam dua leksikon yang dibandingkan terdengar hampir identik, tetapi mempunyai makna yang kontras di antaranya yaitu:[14]

    Konsonan dan vokal Contoh kata Makna : Contoh kata Makna
    /p/ : /t/ lapar lapar latar halaman
    /c/ : /k/ kacang kacang kakang kakak
    /b/ : /d/ bolok kotor deulok besek kecil
    /j/ : /g/ jejet kusut geget kasih
    /s/ : /h/ sayang sarang hayang ingin
    /m/ : /n/ mamah ibu manah hati
    /ɳ/ : /ŋ/ nyolap mengganjal ngelap mengelap
    /l/ : /r/ bobol bobol bobor usai
    /w/ : /y/ éwang masing-masing éyang kakek
    /i/ : /u/ bati hanya/laba batu batu
    /ə/ : /u/ eker sedang/untuk ukur hanya
    /ɛ/ : /ɔ/ sérah butir padi sorah serah
    /a/ : /ɔ/ gada gada gado dagu
    /d͡ʒ/ : /g/ jelas jelas gelas gelas

    Ablung artinya 'meloncat ke dalam air', sepadan dengan ancrub dalam bahasa Sunda standar. Contoh penggunaan kata ini dapat dilihat pada kalimat di bawah ini.[15]

    "Barudak, ngebak téh sing ati-ati, ulah ablung sambarangan beusing kana rungga!"
    "Anak-anak, bila mandi di kolam berhati-hatilah, jangan meloncat sembarangan khawatir jatuh di tepian!"

    Ngebak artinya 'mandi di kolam atau sungai', sedangkan dalam bahasa Sunda standar, ngebak adalah bentuk lemes dari mandi. Berikut ini adalah contoh penggunaan kata tersebut.[15]

    "Dasar barudak, tengah poé éréng-éréngan ngadon ngarebak di walungan."
    "Dasar anak-anak, tengah hari panas malah sengaja mandi di sungai."

    Rintug / Rentug

    [sunting | sunting sumber]

    Rintug atau rentug dengan bentuk kata kerja aktif ngarintug atau ngarentug artinya 'mengeroyok', sepadan dengan ngahurup dalam bahasa Sunda standar. Di bawah ini adalah bagaimana kata tersebut digunakan.[15]

    "Ari dirintug ku lobaan mah sakumaha jagona ogé tangtu éléh."
    "Jika dikeroyok oleh orang banyak sejago apapun pasti akan kalah."

    Sajélébék

    [sunting | sunting sumber]

    Sajélébék adalah kata pengukur yang digunakan untuk menghitung kayu, sepadan dengan sekeping dalam bahasa Indonesia dan sagebing dalam bahasa Sunda standar. Penerapan kata tersebut dapat dilihat pada contoh di bawah ini.[15]

    "Dasar jelema korét, tibang ménta kayu sajélébék keur nyieun jojodog meuni ngomong waé."
    "Dasar orang pelit, sekadar meminta kayu sekeping untuk membuat kursi jongkok saja banyak mengoceh.

    Silanglang

    [sunting | sunting sumber]

    Silanglang artinya 'berenang dengan telentang'. Penggunaan kata tersebut bisa dilihat pada contoh di bawah ini.[15]

    "Ngeunaheun ngojay di ditu mah, dék silanglang gé bisa."
    "Sungguh nyaman berenang di sana, mau berenang dengan telentang pun bisa."

    Tamblag adalah sejenis makanan dari adonan tepung dicampur kelapa yang dipipihkan dan dimasak di atas wajan tanpa menggunakan minyak. Dalam bahasa Sunda standar, makanan ini disebut sebagai lalayak. Kalimat di bawah ini adalah contoh penggunaan kata tersebut.[15]

    "Lumayan ngopi jeung tamblag ogé, tamba lapar teuing."
    "Lumayan meminum kopi dengan tamblag saja, bisa jadi penunda lapar."

    Perbandingan

    [sunting | sunting sumber]

    Berikut ini adalah perbandingan leksikon antara bahasa Sunda Karawang, bahasa Sunda standar, dan bahasa Indonesia.

    Karawang Standar Indonesia Ref.
    abor-aboran loba kaluar getih banyak keluar darah [16]
    abrag-abragan ulin liar teu puguh main berkeliaran
    algojo logojo algojo
    ambéng, ngambéng dahar ngalas makan beralas
    amat, sabodo amat sabodo teuing masa bodoh
    ambring béak, teu nyésa habis, tak bersisa
    ambuan, ngambuan ambeuan, ngambeuan endus, mengendus
    ambucuy pikabitaeun menggugah selera [17]
    ampél awi haur bambu aur (Bambusa vulgaris)
    angkin jimat jimat
    apék kantong tas
    awi haur haur cucuk bambu duri (Bambusa blumeana)

    "Ari gejebur, ari kucibek téh manéhna ogé robah jadi lauk. Nasib nu kaalaman ku manéhna teu béda jeung nasib adina nu leuwih tiheula salin rupa jadi lauk. Lauk jirimna ki lanceuk téh ku urang lembur tuluy dilandi Jakatua. Salila jadi lauk téh, Budugbasu jeung Jakatua teu weléh gétréng. Bongan geus pada-pada nyieun codéka. Mun geus gétréng kitu téh, laut dumadakan jadi motah. Ombak pagulung-gulung. Angin tinggelebug. Mun geus kitu, teu saeutik pamayang anu jadi korban kagangasanana."

    "Ketika jatuh ke air, ketika bermain air pun ia berubah menjadi ikan. Nasib yang ia alami tidak berbeda dengan nasib adiknya yang telah lebih dulu berubah wujud menjadi ikan. Ikan yang berjiwa sang kakak tersebut oleh orang kampung lantas disebut sebagai Jakatua. Selama menjadi ikan, Budugbasu dan Jakatua tak henti-hentinya bertengkar. Sebab keduanya sudah banyak melakukan keburukan. Jika sudah bertengkar seperti itu, laut mendadak beriak. Ombak silih bergulung. Angin menderu-deru. Jika sudah begitu, tak sedikit nelayan yang menjadi korban keganasan mereka."

    Darpan; Yuhdiatna (2005). Dongéng-Dongéng ti Karawang. Tim Pamulang (Illustrator). Kiblat Buku Utama. hlm. 32. ISBN 978-623-7295-58-7., Paragraf 16-17 dari Budugbasu jeung Jakatua

    Lihat pula

    [sunting | sunting sumber]

    Referensi

    [sunting | sunting sumber]

    Catatan kaki

    [sunting | sunting sumber]

    Daftar pustaka

    [sunting | sunting sumber]

    Pranala luar

    [sunting | sunting sumber]