Rumpun bahasa Melayu-Sumbawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Rumpun Melayu-Sumbawa
Rumpun bahasa: Austronesia
Pembagian:
Rumpun bahasa Melayu-Sumbawa
Bahasa di Kamboja, Vietnam, pulau Hainan dan ujung utara pulau Sumatera adalah bahasa Chamik (ungu). Kebanyakan bahasa Ibanik (jingga) di pedalaman pulau Borneo bagian barat. Boleh jadi kawasan ini merupakan daerah asal usul rumpun bahasa Melayik. Rumpun bahasa Malayan (merah tua) bertebar dari bagian tengah Sumatera, melalui Semenanjung Melayu, sampai ke pesisir Kalimantan. Bahasa Sunda (merah muda), Madura (warna tanah), dan rumpun bahasa Bali-Sasak-Sumbawa (hijau) ditemukan di bagian barat dan di sebelah timur pulau Jawa.

Rumpun bahasa Melayu-Sumbawa adalah sekelompok bahasa Melayu-Polinesia Inti yang diidentifikasi Adelaar (cit. Adelaar dan Himmelmann 2005). Kelompok ini mempersatukan kelompok Melayik dan Chamik dengan beberapa bahasa di Jawa dan di Nusa Tenggara Barat, kecuali bahasa Jawa sendiri.

Memang terdapat persamaan antara bahasa Jawa dengan bahasa Sunda, Madura, Bali, dan Sasak, yang oleh beberapa klasifikasi sempat dijadikan bukti bahwa pernah terdapat hubungan antara bahasa-bahasa tersebut. Namun persamaan ini hanya terlihat pada tingkat "krama", sedangkan bila yang dipertimbangkan itu tingkat "ngoko", yang muncul lebih banyak justru adalah persamaan bahasa-bahasa yang sekelompok itu sendiri, misalnya antara bahasa Madura dan kelompok bahasa Melayu. Sedangkan persamaan dengan bahasa Jawa pada tingkat "ngoko" ini lebih sedikit daripada persamaan pada tingkat "krama"-nya. Apalagi setelah diketahui bahwa kosakata-kosakata bahasa Sunda-Madura-Bali banyak yang meminjam dari bahasa Jawa.

Persamaan yang dangkal antara bahasa Jawa dengan bahasa Sunda, Madura, Bali, dan Sasak ini dapat dibandingkan dengan keadaan bahasa Inggris, di mana istilah yang "canggih" dapat dikira persamaan dengan bahasa Perancis, sedangkan pada dasarnya bahasa Inggris serumpun dengan bahasa Belanda, Jerman, dan Denmark dalam rumpun bahasa Jermanik, sementara bahasa Prancis serumpun dengan bahasa Italia dan Spanyol dalam rumpun bahasa Italik. Karena bahasa Jawa memiliki aturan bahasa sendiri, serta saking kayanya kosakata yang dimilikinya, maka semua jenis bahasa Jawa dianggap sebagai kelompok tersendiri dalam cabang rumpun bahasa Melayu-Polinesia.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Adelaar (2005)[sunting | sunting sumber]

Menurut Adelaar (2005), rumpun bahasa Melayu-Sumbawa terdiri dari :[1]

Note: BSS = "Bali-Sasak-Sumbawa"

Bahasa Jawa khusus dikecualikan. Persamaan antara bahasa Jawa dengan Sunda-Madura dan Bali-Sasak terbanyak adalah pada tingkat "krama" yang pada awalnya hanya ada dalam bahasa Jawa (pengaruh kosakata "ngoko" juga dapat dilihat dalam bahasa Sunda-Madura serta Bali-Sasak karena pengaruh bahasa Jawa juga). Meskupun pada tingkat "ngoko" juga ada kosakata hasil pengaruh bahasa Jawa, tetapi itu hanya sedikit. Sistem pengucapan serta sebagian besar kosakata Sunda-Madura serta Bali-Sasak pada tingkat ngoko ini masih murni dan dianggap mewakili keaslian bahasa-bahasa tersebut.

Gray, et. al. (2008)[sunting | sunting sumber]

Gray (2008) memiliki klasifikasi yang sedikit berbeda, yakni pengelompokan sebagai berikut:

Bahasa Enggano dan Mentawai tidak dipertimbangkan.

Cukup sulit menentukan klasifikasi seperti ini, sebab banyak sekali persamaan-persamaan yang membingungkan, misal kosakata bahasa Madura dan Bali dengan bahasa Melayu, yang berbeda dengan bahasa Sunda, sebagai contoh kata "ada", dalam bahasa Sunda, "aya", namun justru dalam bahasa Madura dan Bali "ada".

www.ethnologue.com[sunting | sunting sumber]

Ethnologue membagi rumpun bahasa Melayu-Sumbawa dalam 3 kelompok berikut :

  • Madura (2 bahasa),
  • Kelompok Utara dan Timur (67 bahasa), yang pada gilirannya dibagi dalam :
    • Bali-Sasak-Sumbawa (3 bahasa),
    • Chamik (11 bahasa),
    • Melayik (53 bahasa), dan
  • Sunda (2 bahasa).

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Adelaar, Alexander. 2005. Malayo-Sumbawan. Oceanic Linguistics, Vol. 44, No. 2 (Dec., 2005), pp. 357-388.

Sumber[sunting | sunting sumber]