Bahasa Kutai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bahasa Kutai
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
EtnisSuku Kutai
Penutur
(300.000 per 1981)[1]
Aspek ketatabahasaan
Tipologi
Kode bahasa
ISO 639-3Mencakup:
vkt – Kutai Tenggarong
mqg – Kutai Kota Bangun
Glottologkota1275  (Kota Bangun)[2]
teng1267  (Tenggarong)[3]
Lokasi penuturan
Peta
Perkiraan penuturan bahasa Kutai di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur.
Unduh garis tepi peta ini
 Portal Bahasa
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B • PW
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Pemberitahuan
Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek.

Apa tujuan penilaian artikel?

Sistem penilaian memungkinkan ProyekWiki memantau kualitas artikel dalam bidang subjeknya, dan memprioritaskan pengerjaan artikel ini

Siapa yang dapat menilai artikel?

Secara umum, siapa pun dapat menambah atau mengubah peringkat artikel. Namun, menilai sebuah artikel sebagai "Kelas-A" umumnya membutuhkan persetujuan dari setidaknya dua penyunting, dan label "AB" dan "AP" hanya boleh digunakan pada artikel yang telah diulas dan saat ini ditetapkan sebagai artikel bagus atau artikel pilihan.
12.24, Jumat, 1 Maret, 2024 (UTC) • hapus singgahan

Bahasa Kutai merupakan sebuah bahasa dalam rumpun Melayik yang dituturkan oleh Suku Kutai yang mendiami alur sepanjang Sungai Mahakam, dan populasinya terbesar di wilayah bekas Kabupaten Kutai (kabupaten induk dari Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kota Balikpapan dan Kota Samarinda sekarang ini) di Kalimantan Timur.

Bahasa Kutai umumnya hidup dan berkembang dalam bentuk penuturan (percakapan), serta sastra dalam bentuk puisi (pantun). Sangat sedikit bukti-bukti tertulis yang dihasilkan dalam bahasa Kutai, terlebih lagi yang dihasilkan pada periode pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kutai merupakan bahasa dalam rumpun Melayik yang sendirinya merupakan cabang turunan dari Melayu-Polinesia, sebuah rumpun dalam rumpun Austronesia. Bahasavini berkerabat dekat akan tetapi juga berbeda dari bahasa Melayik di pulau Kalimantan lainnya (misalnya bahasa Banjar di Kalimantan Selatan, bahasa Berau, dan juga dengan bahasa Melayu Brunei). Bahasa Kutai juga memiliki keberlanjutan (kontinuum) dialekal dengan yang membuat dua dialek utamanya memiliki kesinambungan fonologi dan kosakata. Berdasarkan Ethnologue, rumpun bahasa Kutai terbagi menjadi dua bahasa, yaitu:

Keterkaitan[sunting | sunting sumber]

Perubahan Bahasa Banjar dari vokal a menjadi e pepet dalam Bahasa Kutai. Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Banjar Bahasa Kutai Tenggarong Bahasa Kutai Kota Bangun
Sore Kamarian Merian Kemerian
Terkenang Kaganangan Kegenangan Kegenangan
Nanti Kaina Kendia Kela
Nestapa Marista Merista Merista
Cuci Tapas Tepas Tapas
Putus Pagat Pegat Paget
Potong Tatak Tetak Tatak
Rebus Jarang Jerang Jerang
Kaki Batis Betis Betis
Zaman dahulu Bahari Behari Beheri
Omong kosong Karadau Keradau Keradau
Negeri/kampung halaman Banua Benua Benua
Air kencing Kamih Keméh Kameh
Sendawa Mariga Merega Berege

Perubahan Bahasa Banjar pada suku kata kedua dari vokal u menjadi vokal o dalam Bahasa Kutai. Contoh:

Bahasa Indonesia Bahasa Banjar Bahasa Kutai Tenggarong Bahasa Kutai Kota Bangun
Jauh Jauh Jaoh Jeuh
Keruh Karuh Keroh Karoh
Kucing kurus Kucing kurus Kocéng koros Koceng koros
Perut Parut Perot Parut
Belunjur Bahunjur Behonjor Behonjor
Celana Salawar Seloar Selawar
Bikin Ulah Olah/Polah Molah/Polah

.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kutai Tenggarong di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
    Kutai Kota Bangun di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  2. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Kota Bangun Kutai". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  3. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Tenggarong Kutai". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. 
  4. ^ (Indonesia) Suryadikara, Fudiat (1979). Bahasa Kutai. 27. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]