Abdullah Ahmad Badawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Abdullah Ahmad Badawi
عبدالله أحمد بداوي
01 Badawi in Maldives (cropped-1).jpg
Perdana Menteri Malaysia ke-5
Masa jabatan
31 Oktober 2003 – 3 April 2009
Penguasa monarki
WakilNajib Razak
PendahuluMahathir Mohamad
PenggantiNajib Razak
Wakil Perdana Menteri Malaysia ke-8
Masa jabatan
8 Januari 1999 – 31 Oktober 2003
Penguasa monarki
Perdana MenteriMahathir Mohamad
PendahuluAnwar Ibrahim
PenggantiNajib Razak
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok ke-22
Masa jabatan
31 Oktober 2003 – 16 September 2006
PendahuluMahathir Mohamad
PenggantiFidel Castro
Informasi pribadi
Lahir
Abdullah bin Ahmad

26 November 1939 (umur 82)
Kampung Perlis, Bayan Lepas, Pulau Pinang, Negeri-Negeri Selat, Malaya Britania
Partai politikOrganisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (1964–sekarang)
Afiliasi politik
lainnya
Perikatan (1964–1973)
Barisan Nasional (1973–sekarang)
Muafakat Nasional (2019–sekarang)
Perikatan Nasional (2020) (afiliasi politik: 2020–sekarang)
Tinggi badan165 m (541 ft 4 in)
Suami/istri
(m. 1965; wafat 2005)

(m. 2007)
HubunganKhairy Jamaluddin (menantu)
Tempat tinggalBait Badawi, Kampung Sungai Penchala
Alma materUniversitas Malaya

Tun Haji Abdullah bin Haji Ahmad Badawi (Jawi: عبدالله بن أحمد بداوي; lahir 26 November 1939) adalah seorang politisi berkebangsaan Malaysia.[1] Dia memimpin pemerintahan sebagai Perdana Menteri Malaysia kelima dari 2003 sampai 2009, kemudian posisinya digantikan oleh Najib Tun Razak.[2] Sosok ini dikenal dengan sebutan Pak Lah dan memiliki julukan "Bapak Pembangunan Modal Manusia" yang mencetuskan konsep Islam Hadhari ketika menjabat perdana menteri.

Ia juga Ketua Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Abdullah terlahir kepada sebuah keluarga penting di Kepala Batas, Penang. Dia menerima gelar Sarjana Seni dalam Kajian Islam dari Universitas Malaya pada 1964. Setelah lulus, dia bergabung dengan Korps Pemerintahan dan Diplomatik Malaysia (nama resmi untuk pegawai negeri).

Abdullah secara tak resmi dipanggil dengan sebutan Pak Lah. Pemerintah Malaysia telah mengeluarkan pernyataan bahwa sang perdana menteri tidak boleh dirujuk dengan panggilan ini dalam artikel-artikel resmi dan media massa, namun nama panggilan tersebut masih digunakan secara tak resmi. Abdullah juga adalah ketua umum Gerakan Non-Blok, dan telah memegang jabatan tersebut sejak dia menjabat sebagai perdana menteri.

Keputusan pemerintah pimpinannya atas penghentian beberapa proyek mega-infrastruktur, termasuk sebuah jembatan ke Singapura membuat Mahathir Mohammad jengkel. Ini mengejutkan masyarakat Malaysia dan menciptakan sebuah perasaan khawatir mengingat kedudukan Mahathir yang mendapat gelar "Tun" setelah tidak lagi menjabat perdana menteri. Mencermati langkah demikian, pada 19 Juni 2006, dewan tertinggi partai UMNO menyatakan secara bulat mendukung penuh langkah Abdullah Badawi sebagai perdana menteri.

Koran Harakah pada Januari 2007 menampilkan fotonya bersentuhan tangan dengan Michelle Yeoh dalam sebuah jamuan makan malam pada lomba perahu layar di Terengganu bulan Desember 2006. Aparat pemerintah menyita koran oposisi Partai Islam Se-Malaysia itu dari lapak-lapak. Namun, aparat menyatakan bahwa penyitaan dilakukan karena koran tersebut seharusnya hanya beredar di kalangan anggota partainya saja.

Transisi kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Abdullah didesak untuk mengundurkan diri oleh mayoritas anggota Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu, termasuk mantan perdana menteri, Mahathir Mohamad dengan memohon secara terbuka kepadanya untuk bertanggung jawab penuh atas kegagalan Barisan Nasional dalam mempertahankan kursi legislatif yang diambil alih oleh Pakatan Rakyat pimpinan Wan Azizah Wan Ismail pada pemilihan umum 2008. Pada tanggal 10 Juli 2008, Abdullah mengumumkan bahwa dirinya akan mengundurkan diri sebagai Presiden UMNO, Ketua Umum Barisan Nasional, sekaligus perdana menteri pada pertengahan tahun 2009. Ia menunjuk wakilnya, Najib Razak sebagai penggantinya dalam Perhimpunan Agung UMNO pada 1 April 2009.

Pada 2 April 2009, Abdullah menyerahkan surat permohonan pengunduran dirinya kepada Yang di-Pertuan Agong dan pada keesokan harinya, dia digantikan oleh Najib sebagai perdana menteri.[3] Pasca menjabat perdana menteri, ia dianugerahi gelar "Tun" oleh Mizan Zainal Abidin atas jasa dan pengabdiannya kepada negara.[4][5]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Setelah gerakan untuk menuduh orang-orang prominen seperti Eric Chia dan Isa Abdul Samad dengan korupsi, usaha pemerintahan Abdullah untuk memberantas korupsi dikatakan menjadi kurang transparen. Ia adalah didebatkan sama ada Abdullah masih terus melawan korupsi secara diam-diam ataupun dia telah sengaja melambatkan usaha dalam menghapuskan korupsi. Walaupun Abdullah mengatakan bahwa dia mengalu-alukan komentar atau kritis yang membantu memperbaiki pemerintahannya, dia telah memberi amaran kepada Mukhriz Mahathir yang mengkritis kebijakan ekonomisnya pada rapat agung UMNO 2006. [1] Diarsipkan 2008-02-25 di Wayback Machine. Dia juga coba mengawal sumber-sumber “bawah tanah” seperti situs web, forum dan blog, menganggap mereka yang mengkritisnya melalui media ini sebagai “orang tanpa kredibilitas”. [2] Diarsipkan 2007-09-29 di Wayback Machine.

Kontroversi mengenai Mahathir[sunting | sunting sumber]

Pada 2005, ia telah dikatakan bahwa di bawah pemerintahan Abdullah, terdapat suatu peningkatan yang signifikan dalam kes-kes kronism mengenai pemberian permit import (AP) untuk mobil buatan luar Malaysia. Bekas Pemerintah Mahathir telah menyahut investigasi ke dalam isu tersebut. Kemudian, Mahathir mengkritis Abdullah karena membatalkan banyak projek pembangunan yang dimulakan oleh Mahathir, contohnya pembangunan jembatan untuk menggantikan kosway yang menghubungi Malaysia dan Singapura. [3] Diarsipkan 2007-12-16 di Wayback Machine. Mahathir juga mengatakan bahwa Abdullah telah asalnya memberi kelulusan kepada Republic of Singapore Air Force untuk terbang ke kawasan Malaysia dan menjual pasir kepada Singapura sebagai pertukaran bagi perjanjian untuk pembangunan jembatan. Mahathir melihat ini sebagai suatu tindakan yang “menjual” keluruhan Malaysia.

Pada 2006, Mahathir meneruskan kritisnya terhadap Abdullah, menuduh bahwa kebebasan Media di bawah Abdullah telahpun berkurangan. Mahathir juga menambah bahawa media enggan menyiarkan komen Mahathir. Mahathir telah menyalahkan Abdullah karena memecahkan janji yang dibuat oleh Abdullah terhadap berkenaan kebijakan kerajaan dan dalam kritisnya yang paling kuat setakat ini, mengatakan bahwa Abdullah telah mengkhianati kepercayaannya. Mahathir kesal karena memilih Abdullah sebagai penggantinya dan mengatakan bahawa dia pada asalnya inginkan timbalan Abdullah, Najib Tun Razak untuk menggantikannya. Najib yang ketika itu pada suatu kunjungan resmi ke India, segera menyatakan sokongan tidak terhingga kepada Abdullah. [4] Diarsipkan 2008-01-05 di Wayback Machine. [5] Diarsipkan 2007-12-16 di Wayback Machine.

Baru-baru ini (waktu Oktober 2006), Mahathir menyalahkan Abdullah karena telah mengamalkan suatu tabiat menipu. [6] Diarsipkan 2007-12-01 di Wayback Machine. Ia bermula ketika Abdullah telah dilaporkan mempunyai masalah dengan membuat keputusan yang efektif. Oleh itu, dia selalu menghadapi masalah apabila keputusannya menimbulkan kontroversi di kalangan orang Malaysia. Satu contohnya adalah keputusannya untuk membatalkan pembangunan jembatan yang sepatutnya menggantikan Kosway Singapura-Johor. Dalam pengumumannya, dia senantiasa menggunakan perkataan “rakyat”, dengan menganggap bahawa semua rakyat menyokong kesemua keputusannya tanpa ragu.

Pengkritis telah membandingkan pemerintahan Abdullah dengan pemerintahan Mahathir, mencadang bahawa Mahathir adalah lebih berjaya dalam mengekalkan keharmonian di kalangan etnis-etnis Malaysia. [7] Diarsipkan 2011-06-23 di Wayback Machine.

Abdullah juga sering dikritik oleh blogger Malaysia dan media luar negara karena sentiasa mendiamkan diri dengan kritis terhadapnya. Dia telah bersumpah untuk menindak keras ke atas protester yang pro-demokrasi dan memberi sokongannya kepada polisi untuk menghapuskan protes dan menangkap peserta dalam protes. [8] Ia telah diikuti oleh suatu seri larangan media berkenaan beberapa perhimpunan pro-demokrasi aman seperti Perhimpunan Bersih 2007 yang diadakan pada 10 November 2007. Media tempatan yang dikawal oleh kerajaan Malaysia tidak menyiarkan hal itu (dengan penuh) sedangkan ia telah diperihalkan oleh media luar negara seperti Al-Jazeera, Reuters, BBC dan CNN. Abdullah kemudian menyatakan bahwa dia pantang dicabar. [9] Diarsipkan 2012-01-22 di Wayback Machine.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Internasional[sunting | sunting sumber]

Akademik[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
Sulaiman Daud
Menteri Pendidikan
1984–1986
Diteruskan oleh:
Anwar Ibrahim
Didahului oleh:
Mahathir Mohamad
Menteri Pertahanan
1986–1987
Diteruskan oleh:
Najib Razak
Didahului oleh:
Abu Hassan Omar
Menteri Luar Negeri
1991–1999
Diteruskan oleh:
Syed Hamid Albar
Didahului oleh:
Mahathir Mohamad
Menteri Dalam Negeri
1999–2004
Diteruskan oleh:
Azmi Khalid
Menteri Keuangan
2003–2008
Diteruskan oleh:
Najib Razak
Didahului oleh:
Najib Razak
Menteri Pertahanan
2008–2009
Diteruskan oleh:
Ahmad Zahid Hamidi
Didahului oleh:
Anwar Ibrahim
Wakil Perdana Menteri Malaysia
1999–2003
Diteruskan oleh:
Najib Razak
Didahului oleh:
Mahathir Mohamad
Perdana Menteri Malaysia
2003–2009
Jabatan partai politik
Didahului oleh:
Anwar Ibrahim
Wakil Presiden Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu
1999–2003
Diteruskan oleh:
Najib Razak
Didahului oleh:
Mahathir Mohamad
Presiden Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu
2003–2009
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Mahathir Mohamad
Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok
2003–2006
Diteruskan oleh:
Fidel Castro
Didahului oleh:
Khamtai Siphandon
Ketua Konferensi Tingkat Tinggi Perbara
2005
Diteruskan oleh:
Gloria Macapagal Arroyo