Mortalitas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kematian pada negara-negara di dunia.

Mortalitas adalah ukuran kematian rata-rata dari penduduk dalam suatu daerah atau wilayah tertentu. Secara sederhana, mortalitas merupakan jumlah kematian akibat penyakit tertentu maupun kematian alami.[1] Mortalitas merupakan salah satu komponen penting dalam kependudukan.[2] Pertumbuhan penduduk ditentukan salah satunya oleh mortalitas.[3] Objek mortalitas ialah semua manusia di segala jenis umur di manapun dan kapanpun. Mortalitas merupakan informasi penting bagi pihak pemerintah dan swasta dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Permasalahan mortalitas melingkupi bidang ekonomi, sosial, adat, maupun kesehatan lingkungan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat diketahui melalui indikator kematian.[4] Perpaduan informasi berupa angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian anak, serta prevalensi gizi buruk dan usia harapan hidup, menjadi perwakilan dari tingkat kesejahteraan penduduk.[5] Selain itu, besarnya mortalitas menentukan arah pembangunan sebuah negara.[6] Penghitungan mortalitas terdiri atas beberapa jenis, seperti: angka kematian bayi, angka kematian kasar, dan angka kematian menurut kelompok umur.[7] Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individu yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu.[8] Mortalitas secara rinci diartikan sebagai jumlah kematian spesifik pada suatu populasi dengan skala besar suatu populasi tiap dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian tiap 1000 individu tiap tahun.

Konsep[sunting | sunting sumber]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Kematian dibuat sebagai konsep yang mandiri guna mendapatkan pengertian yang benar. Kemajuan ilmu kedokteran membuat keadaan mati dan hidup sulit untuk dibedakan secara klinik. Karenanya, kematian dikonsepkan agar tidak terjadi perbedaan penafsiran antara berbagai orang tentang kondisi yang dapat dinyatakan sebagai mati.[8] Kematian diartikan sebagai peristiwa hilangnya segala tanda-tanda kehidupan. Tanda-tanda tersebut hilang secara permanen. Kematian dapat terjadi sesaat setelah kelahiran hidup.[9]

Konsep kematian di dalam mortalitas umumnya dibedakan menjadi kematian baru lahir, kematian janin, kematian lepas baru lahir dan kematian bayi. Kematian baru lahir merupakan kematian yang terjadi pada bayi. Usia bayi belum mencapai satu bulan. Kematian janin atau lahir mati adalah kematian janin sebelum keluar secara utuh dari rahim ibunya saat proses melahirkan. Lama janin berada di dalam rahim tidak diperhitungkan. Kematian lepas baru lahir terjadi pada bayi. Usia bayi telah melebihi satu bulan namun belum mencapai usia satu tahun. Sedangkan kematian bayi ialah kematian pada bayi yang hampir mencapai usia satu tahun.[10]

Data mortalitas[sunting | sunting sumber]

Data mortalitas adalah data yang memberikan informasi mengenai penyebab kematian.[11]

Ekonomi mortalitas[sunting | sunting sumber]

Mortalitas merupakan salah satu subjek dari ekonomi kependudukan. Dalam ilmu ekonomi, mortalitas dipandang secara khusus sebagai suatu aset positif dalam pembangunan. Namun, kajian ekonomi terhadap mortalitas tidak berkembang jika dibandingkan dengan fertilitas. Pola mortalitas juga berubah dan berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia, tetapi kematian dianggap bukan merupakan suatu pilihan. Ekonomi mortalitas lebih mengutamakan pilihan selain mati, yaitu sakit atau sehat. Analisis ekonomi mortalitas lebih berkembang ke arah ekonomi kesehatan.[12]

Ukuran[sunting | sunting sumber]

Ukuran kematian atau indikator mortalitas merupakan angka atau indeks yang digunakan sebagai landasan dalam menentukan tingkatan kematian pada suatu penduduk. Jenis ukuran kematian beragam, mulai dari rumusan yang sederhana hingga perhitungan yang rumit. Keadaan kematian penduduk umumnya tidak terwakili dengan ukuran kematian tunggal, sehingga biasanya digunakan beberapa ukuran kematian sekaligus. Tiap jenis ukuran kematian juga dapat mewakili keadaan yang berkaitan dengan mortalitas seperti fertilitas dan morbiditas pada periode waktu tertentu.[13]

Angka kematian kasar[sunting | sunting sumber]

Angka kematian kasar adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian yang terjadi tiap 1000 penduduk.[14] Dalam kasus umum, kematian lebih sering terjadi di usia tua dibandingkan pada usia muda. Indikasi yang digunakan dalam angka kematian kasar sangat sederhana karena tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk. Angka kematian kasar digunakan pada suatu wilayah sebagai ukuran tingkat kesejahteraan penduduk. Angka kematian berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan penduduk. Semakin besar angka kematian kasar menandakan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk semakin rendah.[15] Angka kematian kasar dapat digolongkan menjadi 3 tingkat dengan standar angkanya masing-masing, yaitu tingkat rendah (9–13), tingkat sedang (13–18), dan tingkat tinggi (> 18).[16]

Angka kematian kasar meningkat seiring terjadinya bencana, wabah penyakit, peperangan, dan kecelakaan lalu-lintas. Selain itu, gizi buruk dan rendahnya kualitas pelayanan pada fasilitas pelayanan kesehatan juga meningkatkan angka kematian kasar.[15] Sebaliknya, angka kematian kasar menurun seiring peningkatan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan makanan bergizi serta lingkungan yang bersih dan teratur. Kemajuan pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan juga menjadikan angka kematian kasar menurun. Selain itu, larangan pembunuhan oleh agama turut menurunkan angka kematian kasar.[17]

Perhitungan angka kematian kasar menggunakan rumus berikut:[18]

CDR = D/P × k, dengan

CDR = Angka kematian kasar

D = Jumlah kematian dalam 1 tahun,

P = Jumlah pendudukan pada pertengahan tahun

k = Konstanta (1000)

Angka kematian menurut kelompok umur[sunting | sunting sumber]

Angka kematian menurut kelompok umur adalah jumlah kematian penduduk yang terjadi pada kelompok umur tertentu. Nama lainnya ialah angka kematian khusus.[14] Ketelitian hasil perhitungan pada angka kematian menurut umur lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian kasar.[19] Tiap angka mewakili kematian tiap 1000 penduduk pada suatu periode tertentu berdasarkan kelompok umur. Rumusnya sebagai berikut:[18]

ASDR = Di/Pi × k, dengan,

ASDR = Angka kematian menurut kelompok umur

Di = Jumlah kematian dalam 1 tahun menurut kelompok umur,

Pi = Jumlah pendudukan pada pertengahan tahun menurut kelompok umur

k = Konstanta (1000)

Angka kematian menurut penyebabnya[sunting | sunting sumber]

Setiap kematian memiliki penyebab. Penanggulangan kematian dilakukan dengan mencatat penyebab kematian. Angka kematian menurut penyebabnya juga diperlukan untuk pengambilan data statistik. Angka kematian menurut penyebabnya dinyatakan dengan jumlah kematian karenan sebab terntu tiap 100.000 penduduk. Rumusnya yaitu:[20]

× konstanta (100.000)

Angka kematian bayi[sunting | sunting sumber]

Angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi dalam satu periode tertentu tiap 1000 kelahiran. Angka ini dapat dijadikan sebagai indikator tingkat kesehatan suatu wilayah.[7] Informasi yang diperoleh dari angka kematian bayi bersifat sosial ekonomi dan demografis, yaitu fasilitas medis dan taraf hidup penduduk.[21] Dalam kenyataannya, sulit untuk melakukan perhitungan karena ketidaktersediaan data. Angka kematian bayi umumnya hanya dihitung dengan metode tidak langsung.[22] Angka kematian bayi dapat digolongkan menjadi 4 tingkatan dengan nilainya masing-masing, yaitu tingkat rendah (< 35), tingkat sedang (35-75), tingka tinggi (75-125), dan tingkat sangat tinggi ( > 125). Rumus yang digunakan ialah:[20]

× konstanta (1.000)

Angka kematian baru lahir[sunting | sunting sumber]

Angka kematian baru lahir didasarkan pada jumlah kelahiran bayi berusia kurang dari satu bulan pada tahun tertentu.[23] Angka kematian baru lahir hanya memperhitungkan kematian yang terjadi pada periode tertentu sebelum bayi berumur 1 bulan atau 28 hari tiap 1000 kelahiran. Rumusnya sebagai berikut:[24]

× konstanta (1.000)

Angka kematian lepas baru lahir[sunting | sunting sumber]

Angka kematian lepas baru lahir memperhitungkan kematian yang terjadi pada periode tertentu setelah bayi berumur 1 bulan hingga 1 tahun tiap 1000 kelahiran. Rumusnya sebagai berikut:[24]

× konstanta (1.000)

Angka kematian balita[sunting | sunting sumber]

Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal pada usia balita dan dilahirkan pada tahun tertentu. Indikasi yang digunakan ialah kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Angka kematian balita dinyatakan sebagai jumlah kematian tiap 1000 kelahiran hidup. Indikator ini berhubungan dengan kelangsungan hidup anak dan memberikan gambaran mengenai kondisi sosial ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak beserta pemeliharaan kesehatannya. Data indikator ini dapat diperoleh secara umum dari hasil sensus penduduk.[25] Kematian balita dapat terjadi akibat kelainan bawaan yang disertai gizi buruk yang tidak segera dipulihkan.[26]

Angka kematian balita biasanya disamakan dengan angka kematian anak dengan rentang usia kelahiran antara 1 hingga 4 tahun. Perhitungan angka kematian anak dilakukan dalam pembagian antara jumlah kematian balita dalam periode setahun yang dibagi dengan 1.000 anak pada usia yang sama di pertengahan tahun. Dalam perhitungan angka kematian balita, angka kematian bayi tidak dihitung. [21]

Angka kematian ibu[sunting | sunting sumber]

Angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang mengalami kematian akibat gangguan kehamilan atau gangguan penanganannya. Kasus kecelakaan lain tidak diperhitungkan dalam angka kematian ibu. Angka ini hanya dihitung selama masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Lama masa nifas adalah 42 hari.[27] Perhitungan angka kematian ibu tidak memperhitungkan lama waktu kehamilan. Nilai satuannya ditetapkan tiap 100.000 kelahiran hidup tiap tahun.[28] Pengukuran angka kematian ibu lebih sederhana dibandingkan angka fertilitas karena seorang wanita dapat melahirkan lebih dari seorang bayi, tetapi hanya mampu meninggal sekali.[29] Rumusnya sebagai berikut:[24]

× konstanta (100.000)

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa tingginya angka kematian ibu disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu infeksi, perdarahan, dan penyulit persalinan. Sedangkan perdarahan postpartum, demam pueperal, gugur kandungan, eklampsia, dan persalinan terhambat menjadi penyebab utama kematian ibu.[30] Kematian ibu juga disebabkan oleh penyebab tidak langsung berupa penyakit dan bukan karena kehamilan dan persalinannya. Jenis penyakit ini umumnya ialah tuberkulosis, anemia, malaria, kencing nanah, HIV dan AIDS. Penyakit-penyakit ini memperberat kehamilan dan meningkatkan risiko terjadinya kesakitan dan kematian.[31]

Risiko kematian maternal yang tinggi juga dipengaruhi oleh faktor reproduksi ibu. Peningkatan kematian ibu juga berbanding lurus dengan jumlah paritas satu dan paritas di atas tiga serta umur ibu saat melahirkan. Risiko kematian maternal meningkat di usia muda yaitu < 20 tahun dan usia tua ≥ 35 tahun pada saat melahirkan. Sedangkan jarak antara 3-4 tahun pada tiap kehamilan dianggap cukup aman. Faktor kematian maternal ini kemudian diidentifikasi sebagai 4 Terlalu (4T) yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat jarak kehamilan dan terlalu banyak. Risiko kematian maternal juga dipengaruhi oleh faktor bukan medis yaitu kondisi sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kedudukan dan peran wanita, kondisi geografis, dan transportasi. Faktor-faktor ini dikategorikan sebagai 3 Terlambat (3T). Angka kematian ibu dapat dikurangi dengan pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi.[30] Selain faktor-faktor tersebut, mortalitas janin yang disengaja maupun tidak disengaja menjadi faktor penyebab lain dari gangguan kehamilan pada ibu.[32]

Teori[sunting | sunting sumber]

Teori transisi demografis[sunting | sunting sumber]

Teori transisi demografis dikemukakan oleh Warren Thompson pada tahun 1929. Dasar pemikirannya berawal dari fenomena melambatnya pertumbuhan penduduk selama abad ke-20 setelah Perang Dunia I berakhir.[33] Teori ini dikemukakan setelah Thompson melakukan serangkaian pengamatan yang menunjukkan adanya 4 tahap pertumbuhan penduduk. Tiap tahap didasarkan pada angka kematian dengan rumus berikut:[34]

  1. Angka pertumbuhan nol terjadi jika angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran yang tinggi.
  2. Angka perrtumbuhan positif dan meningkat jika angka kematian menurun dan angka kelahiran tidak menurun.
  3. Angka pertumbuhan positif tapi menurun jika angka kematian menurun dan angka kelahiran juga menurun.
  4. Angka pertumbuhan negatif dan menuju nol jika angka kematian dan angka kelahiran rendah.

Teori transisi epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Mortalitas merupakan salah satu komponen yang diperlukan dalam analisis teori transisi epidemiologis bersama dengan morbiditas dan pembangunan. Bahasan utama di dalam teori transisi epidemiologi terpusat pada perubahan-perubahan kompleks dalam masyarakat khususnya pada pola-pola kesehatan dan penyakit. Teori ini juga membahas faktor-faktor yang menentukannya dan akibat keadaan kependudukan terhadap dan sosial-ekonomi di masyarakat.[35]

Teori transisi epidemiologi tersusun dari lima dalil. Dalil pertama menyatakan bahwa faktor yang mendasar dinamika sosial ialah kematian. Dalil kedua menyatakan bahwa perbuahan pola kematian dan penyakit terjadi selama transisi epidemiologi dalam jangka waktu yang lama. Pada awalnya, infeksi menjadi penyebab kesakitan dan kematian. Namun kemudian digantikan oleh penyakit degeneratif dan penyakit buatan manusia secara berangsur-angsur.[35] Dalil ketiga menyatakan bahwa keompok penduduk muda lebih diuntungkan daripada kelompok orang tua dalam transisi epidemiologi. Keuntungan yang sama diperoleh oleh kelompok penduduk wanita bila dibandingkan kelompok penduduk laki-laki. Dalil keempat menyatakan adanya perbedaan sifat transisi epideomologi sebelum abad ke-20 Masehi dan selama abad 20 Masehi. Sebelum abad ke-20 M, pergantian pola kesehatan dan penyakit selalu berkaitan erat dengan membaiknya standar kehidupan dan keadaan gizi bila dibandingkan dengan kemajuan di bidang kedokteran. Kondisi ini umumnya dialami oleh negara-negara maju. Sebaliknya, kemajuan di bidang kedokteran, pelayanan kesehatan, dan program pengendalian penyakit menjadi awal transisi epidemiologi pada negara-negara berkembang selama abad ke-20 M. Dalil kelima menyatakan bahwa transisi epidemiologi memiliki 4 variasi dalam hal pola, laju, faktor-faktor penentu dan akibat perubahan kependudukan. Variasi ini dibedakan menjadi model dan varian yang saling berkaitan satu sama lain. Variasi pertama adalah model klasik atau Barat yang kemudian membentuk variasi kedua yaitu varian yang dipercepat dari model klasik. Variasi ketiga adalah model tertunda yang kemudian menghasilkan variasi keempat yaitu varian transisi dari model tertunda.[36]

Faktor-Faktor[sunting | sunting sumber]

Secara umum, mortalitas dipengaruhi oleh dua jenis faktor, yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung merupakan faktor yang dimiliki atau disebabkan langsung oleh orang yang mengalami kematian. Faktor langsung bersifat alami. Macam faktor ini ialah umur, jenis kelamin, penyakit, kekerasan, kecelakaan dan bunuh diri. Sedangkan faktor tidak langsung merupakan faktor yang berasal dari luar diri seseorang yang mengalami kematian. Faktor tidak langsung terbagi beradasarkan kondisi psikologi, kesehatan, dan lingkungan. Dalam lingkup psikologi, kematian disebabkan oleh stres fisik dan stres psikologis, status pernikahan dan status sosial-ekonomi dan pendidikan. Dari lingkup kesehatan, kematian dipengaruhi oleh fasilitas kesehatan dan kemampuan mencegah penyakit. Sedangkan dari faktor llingkungan, kematian dipengaruhi oleh pekerjaan, kondisi politik, tempat tinggal, bencana alam dan pencemaran lingkungan.[10]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan berpengaruh terhadap pola pikir ibu yang hamil dan akan melahirkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang diperolehnya, maka kesadaran akan pentingnya kesehatan sebelum dan setelah melahirkan akan meningkat. Kesadaran ini kemudian mengurangi risiko kematian karena ia akan memeriksakan dirinya di rumah sakit dengan pelayanan dari ahli kesehatan.[37]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Kondisi ekonomi yang tidak memadai menjadi salah satu penyebab kematian ibu dan anak sebelum, selama dan setelah persalinan. Keuangan yang tidak mencukupi membuat masyarakat memilih tidak memeriksakan kesehatannya di rumah sakit, terutama ibu hamil hingga ibu yang telah melahirkan. Kondisi ini membuat banyak ibu yang meninggal karena memiliki penyakit yang tidak diketahui.[38]

Adat[sunting | sunting sumber]

Adat khusunya berpengaruh terhadap peningkatan angka kematian ibu selama proses persalinan. Kematian ini umumnya disebabkan adanya pendarahan yang tidak dapat diatasi. Sebagian besar masyarakat desa lebih memilih melahirkan di rumah dengan bantuan dukun, dibandingkan ke rumah sakit untuk menerima bantuan persalinan dari bidan. Beberapa suku tertentu juga memiliki kebiasaan menempatkan ibu yang sedang nifas pada tempat-tempat khusus yang kurang higienis.[39] Beberapa masyarakat tradisional juga memberikan status sosial yang lebih rendah kepada wanita dibandingkan dengan laki-laki. Kondisi ini membuat wanita sering mengalami malnutrisi sehingga meningkatkan angka kematian bayi.[40]

Lingkungan[sunting | sunting sumber]

Tidak semua penyakit dan kematian dapat dihubungkan secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan tempat tinggal dan tempat kelahiran anak-anak. Namun penyakit dan kecatatan selalu disebabkan oleh agen-agen lingkungan. Secara tidak langsung, lingkungan mempengaruhi mortalitas maupun morbiditas.[41] Kematian janin dapat terjadi sebelum usia kehamilan 18 pekan akibat terpapar radiasi.[42] Sedangkan peningkatan mortalitas bayi disebabkan oleh suhu tubuh yang lebih rendah dari batas normal akibat radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi lingkungan sekitarnya atau terjadinya hipotermia dan hipertermia.[43] Selama masa bayi baru lahir (2 pekan pertama), bayi masih sangat lemah untuk menyesuaikan fisiologi dirinya secara radikal agar dapat bertahan hidup. Bayi baru lahir yang lemah akan gagal menyesuaikan diri dan mengalami kematian.[44] Mortalitas bayi baru lahir dapat diturunkan melalui transportasi dengan program STABLE setelah proses resusitasi neonatus. Program ini telah dimulai sejak tahun 1996 M.[45] Pada anak, risiko kematian dikurangi dengan melakukan pemberian imunisasi yang meningkatkan ketahanan terhadap penyakit-penyakit mematikan.[46]

Model perubahan penduduk[sunting | sunting sumber]

Interaksi mortalitas dan fertilitas akan menghasilkan model-model perpindahan penduduk jika dipadukan dengan pola perubahan penduduk. Model yang dapat dihasilkan sebanyak 12 model. Model-model ini berdapak pada bertambahnya jumlah penduduk (T), berkurangnya jumlah penduduk (K), atau stabilnya jumlah penduduk (S). Model-model tersebut sebagai berikut:[47]

Model-Model Migrasi Neto
Kondisi MIgrasi neto positif MIgrasi neto negatif Migrasi neto nol
Mortalitas lebih besar dari fertilitas T, K, S K K
Mortalitas lebih kecil dari fertilitas T T, K, S T
Mortalitas sama dengan fertilitas T K S

Pertambahan jumlah penduduk[sunting | sunting sumber]

Mortalitas dapat menghasilkan penduduk dengan kondisi berikut:[48]

  1. Mortalitas leblh tinggi dibandingkan fertilitas dengan migrasi neto bernilai positif mengatasi selisih kekurangan fertilitas.
  2. Mortalitas lebih rendah dari fertilitas walaupun migrasi neto bernilai positif.
  3. Migrasi neto tidak terjadi.
  4. Migrasi neto negatif terjadi, tetapi tidak mampu mengimbangi kelebihan fertilitas.
  5. Mortalitas sama dengan fertilitas dengan migrasi neto positif.

Penurunan jumlah penduduk[sunting | sunting sumber]

Mortalitas dapat menyebabkan penurunan jumlah penduduk dengan kondisi berikut:[49]

  1. Mortalitas lebih tinggi dubandingkan fertilitas dengan migrasi neto bernilai negatif.
  2. Migrasi neto tidak terjadi.
  3. Mortalitas yang lebih tinggi tidak mampu diatasi dengan migrasi neto bernilai positif.
  4. Moralitas leblh rendah dibandingkan fertilitas dengan migrasi neto negatif cukup besar.
  5. Mortalitas dan fertilitas sama dengan migrasi neto bernilai negatif.

Jumlah penduduk tidak berubah[sunting | sunting sumber]

Mortalitas dapat menyebabkan jumlah penduduk tidak berubah dengan kondisi berikut:[49]

  1. Mortalitas lebih tinggi dibandingkan fertilitas dengan migrasi neto bernilai positif
  2. Mortalitas lebih rendah dari fertilitas dengan migrasi neto bernilai negatif
  3. Mortalitas sama dengan fertilitas dan migrasi neto tidak terjadi.

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Menentukan laju pertumbuhan populasi[sunting | sunting sumber]

Pertumbuhan jumlah penduduk suatu populasi yang diakibatkan oleh migrasi hanya dapat dinilai positif jika diisi oleh kelahiran. Perhitungan kelahiran selalu dihubungkan dengan mortalitas yang juga terjadi secara bersamaan. Keseluruhan proses disebut laju pertumbuhan populasi.[50]

Indikator kematian umum[sunting | sunting sumber]

Indikator kematian umum dapat ditampilkan dalam bentuk mortalitas rata-rata. Nilai rata-rata dapat memberikan informasi mengenai permasalahan secara luas, tetapi tidak menunjukkan keterhubungan antarmasalah.[51] Mortalitas juga dapat digunakan untuk menentukan efek kesehatan. Pada penyakit perinatal, mortalitas dijadikan sebagai indikator umum. Jika analisis efek kesehatan dilakukan secara spesifik, mortalitas tidak digunakan.[52]

Mengukur kesejahteraan penduduk[sunting | sunting sumber]

Ukuran kesejahteraan penduduk dapat diketahui melalui perhitungan pertumbuhan penduduk secara alamiah dengan konsep mortalitas. Perhitungan ini diperoleh melalui angka kematian kasar dan angka kelahiran kasar secara bersamaan. Kesejahteraan penduduk juga dapat diukur dengan angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. Perhitungannya dilandaskan pada permasalahan kesehatan, fisiologi, permasalahan sosial, ekonomi, adat istiadat maupun masalah lingkungan. Mortalitas berguna untuk mengawasi kinerja pemerintah pusat maupun pemerintah lokal dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Angka kematian bayi yang meningkat menjadi penanda adanya gizi buruk dan penyakit menular, khususnya pada anak-anak.[17]

Menentukan kondisi ketenagakerjaan[sunting | sunting sumber]

Indikator mortalitas berupa angka kelahiran dan angka kematian akan mempengaruhi kondisi kependudukan di suatu negara dalam kaitannya dengan migrasi. Angka kematian, angka kelahiran dan migrasi mempengaruhi bidang ketenagakerjaan suatu negara secara umum maupun khusus.[53] Penurunan tingkat kematian melalui program peningkatan status gizi akan meningkatkan partisipasi angkatan kerja dan meningkatkan hari kerja bagi penduduk yang berstatus bekerja. Pada saat yang bersamaan, penurunan tingkat kematian juga akan meningkatkan pertumbuhan penduduk yang berdampak negatif pada pertumbuhan produk domestik bruto.[54]

Perencanaan pembangunan[sunting | sunting sumber]

Data kematian diperlukan dalam perencanaan pembangunan yang memerlukan perkiraan penduduk di masa depan. Pembangunan ini berkaitan dengan pengadaan fasilitas perumahan, fasilitas pendidikan dan pelayanan umum bagi masyarakat. Selain itu, data kematian juga penting bagi kegiatan evaluasi terhadap kebijakan publik.[4] Perkiraan penduduk di suatu wilayah pada masa depan sangat mudah diketahui dengan mengamati kecenderungan mortalitas di masa lampau dan masa sekarang dari wilayah tersebut.[55]

Analisa migrasi[sunting | sunting sumber]

Mortalitas dapat menyebabkan perpindahan penduduk secara migrasi. Pengaruh mortalitas umumnya hanya pada analisis migrasi di wilayah yang lebih kecil dari negara. Analisis hanya dilakukan pada mortalitas antarnegara bagian, antarwilayah, atau antardaerah yang berdekatan. Pada analisis khusus, mortalitas hanya diterapkan pada imigrasi.[56] Mortalitas menjadi sangat penting pada analisis sistem kependudukan dunia atau sosiodemografis dengan wilayah yang sempit. Ini dikarenakan proses imigrasi dan emigrasi tidak berlangsung. Analisis sepenuhnya ditentukan oleh mortalitas dan fertilitas saja. Proses pengamatan di dalam analisisnya lebih memperhatikan proses biologis dari kelahiran dan kematian. Kedua proses ini dapat dianalisis dengan pasti karena bersifat universal.[57]

Audit mortalitas[sunting | sunting sumber]

Audit mortalitas merupakan catatan medis yang berhubungan dengan semua kondisi pasien sebelum kematian. Isi catatan ini adalah keadaan pasien saat memasuki rumah sakit, kepulangannya hingga kematiannya. Audit kematian merupakan arsip penting dalam kedokteran. Data yang ada di dalam memuat informasi tentang berat badan, umur, jenis kelamin, tanggal masuk, tanggal pulang, atau tanggal dan penyebab kematian. Audit kematian berguna dalam evaluasi perawatan pada pasien selanjutnya.[58] Formulir, keterangan waktu dan penyebab kematian pada tiap negara dapat berbeda-beda sesuai dengan peraturan yang berlaku.[59]

Perubahan norma sosial dalam keluarga[sunting | sunting sumber]

Tingat mortalitas dan struktur sosial ekonomi yang ada di masyarakat akan menentukan norma sosial yang berlaku di dalam keluarga. Norma sosial ini kemudian menentukan tingkat fertilitas di dalam masyarakat beserta variabel yang mempengaruhinya.[60]

Statistik[sunting | sunting sumber]

Sepuluh negara dengan tingkat mortalitas terbesar adalah:

  1. Angola 192.50
  2. Afganistan 165.96
  3. Sierra Leone 145.24
  4. Mozambik 137.08
  5. Liberia 295.00
  6. Niger 122.66
  7. Somalia 118.52
  8. Mali 117.99
  9. Tajikistan 112.10
  10. Guinea-Bissau 108.72

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ K., Basri (2013). Integrasi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup dalam Pembelajaran (PDF). Kupang: PTK Press. hlm. 159. 
  2. ^ Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 1.
  3. ^ Jamaludin 2017, hlm. 179.
  4. ^ a b Bidarti 2020, hlm. 92.
  5. ^ Prihatin, Daryanti dan Pramadha, ed. (2019). Aplikasi Teori Perencanaan: Dari Konsep ke Realita (PDF). Sleman: CV. Buana Grafika. hlm. 229. ISBN 978-623-7358-33-6. 
  6. ^ Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 3.
  7. ^ a b D D Reidpath, P Allotey (2003). "Infant Mortality Rate As An Indicator of Population Health". Journal of Epidemiology & Community Health. 57: 344-346. ISSN 1470-2738. 
  8. ^ a b Suwito 2020, hlm. 72.
  9. ^ Bidarti 2020, hlm. 94.
  10. ^ a b Bidarti 2020, hlm. 95.
  11. ^ Hardiyanti 2009, hlm. 59.
  12. ^ Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 78.
  13. ^ Bidarti 2020, hlm. 100.
  14. ^ a b Jeoungbin Choi, et.al (2019). "Health Indicators Relate to Disease, Death, and Reproduction". Journal of Preventive Medicine and Public Health. 52 (1): 17. ISSN 2233-4521. 
  15. ^ a b Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 4.
  16. ^ Bidarti 2020, hlm. 101.
  17. ^ a b Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 5.
  18. ^ a b Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 79.
  19. ^ Suwito 2020, hlm. 76.
  20. ^ a b Suwito 2020, hlm. 78.
  21. ^ a b Bidarti 2020, hlm. 102.
  22. ^ Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 80-81.
  23. ^ Said, dkk. 2016, hlm. 48.
  24. ^ a b c Suwito 2020, hlm. 77.
  25. ^ Said, dkk. 2016, hlm. 47.
  26. ^ Rahayu, dkk. (2018). Buku Ajar Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (PDF). Bantul: CV. Mine. hlm. 194. ISBN 978-602-52209-9-9. 
  27. ^ Bustami, dkk. (2017). Buku Ajar Kebidanan Komunitas (PDF). Padang: Penerbit Erka. hlm. 13. ISBN 978-602-6506-68-9. 
  28. ^ Said, dkk. 2016, hlm. 45.
  29. ^ Suwito 2020, hlm. 52.
  30. ^ a b Hidayati, Elli (2017). Buku Ajar Kesehatan Perempuan dan Perencanaan Keluarga. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. hlm. 9. ISBN 978-602-6708-11-3. 
  31. ^ Muchtar, dkk. (2015). Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak (PDF) (edisi ke-2). Jakarta Selatan: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan. hlm. 4. ISBN 978-602-235-808-4. 
  32. ^ Suwito 2020, hlm. 54-55.
  33. ^ Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 10.
  34. ^ Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 10-11.
  35. ^ a b Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 82.
  36. ^ Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 83.
  37. ^ Bidarti 2020, hlm. 97.
  38. ^ Bidarti 2020, hlm. 98.
  39. ^ Bidarti 2020, hlm. 99.
  40. ^ Sinta B., dkk. 2019, hlm. 75.
  41. ^ Hardiyanti 2009, hlm. 9.
  42. ^ Sinta B., dkk. 2019, hlm. 73.
  43. ^ Oswari, dkk. 2015, hlm. 39.
  44. ^ Ajhuri, Kayyis Fithri (2019). Psikologi Perkembangan: Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (PDF). Bantul: Penebar Media Pustaka. hlm. 88. ISBN 978-623-7135-48-7. 
  45. ^ Oswari, dkk. 2015, hlm. 38.
  46. ^ Sinta B., dkk. 2019, hlm. 74.
  47. ^ Jamaludin 2017, hlm. 184.
  48. ^ Jamaludin 2017, hlm. 184-185.
  49. ^ a b Jamaludin 2017, hlm. 185.
  50. ^ Utina, R., dan Baderan, D.W.K. (2009). Ekologi dan Lingkungan Hidup (PDF). Gorontalo: UNG Press. hlm. 19. ISBN 978-979-1340-13-7. 
  51. ^ Hardiyanti 2009, hlm. 77.
  52. ^ Hardiyanti 2009, hlm. 38.
  53. ^ Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah 2017, hlm. 6.
  54. ^ Junaidi dan Hardiani 2009, hlm. 88.
  55. ^ Suwito 2020, hlm. 71-72.
  56. ^ Jamaludin 2017, hlm. 182.
  57. ^ Jamaludin 2017, hlm. 183.
  58. ^ Tim Adaptasi Indonesia (2009). Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota (PDF). Jakarta: World Health Organization Indonesia. hlm. 219. ISBN 978-979-19477-0-1. 
  59. ^ Karyuni, P.E., dan Meiliya, E., ed. (2007). Buku Saku Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir: Panduan untuk Dokter, Perawat dan Bidan (PDF). Jakarta: EGC. hlm. 341. ISBN 979-448-835-6. 
  60. ^ Suwito 2020, hlm. 55.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Bidarti, Agustina (2020). Teori Kependudukan (PDF). Bogor: Lindan Bestari. ISBN 978-623-94601-0-5. 
  2. Hardiyanti, Erita Agustin, ed. (2009). Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak (PDF). Jakarta: EGC. ISBN 978-979-448-986-4. 
  3. Jamaludin, Adon Nasrullah (2017). Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan Problematikanya (PDF) (edisi ke-2). Bandung: CV. Pustaka Setia. ISBN 978-979-076-518-4. 
  4. Junaidi dan Hardiani (2009). Dasar-Dasar Teori Ekonomi Kependudukan (PDF). Jakarta: Hamada Prima. ISBN 978-979-19971-2-6. 
  5. Mafruhah, Mulyani dan Istiqomah (2017). Migrasi dan Permasalahan Sebuah Over View Kondisi di Indonesia (PDF). Surakarta: CV. Djiwa Amarta Press. ISBN 978-602-60585-6-0. 
  6. Oswari, dkk. (ed.). Menuju Diagnosis: Pemeriksaan Apa yang Perlu Dilakukan?. Jakarta Pusat: Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. FKUI dan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo. ISBN 978-979-8271-52-6. 
  7. Said, dkk. (2016). Potret Awal Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) di Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. ISBN 978-602-438-071-7. 
  8. Sinta B., dkk. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Neonatus, Bayi dan Balita (PDF). Sidoarjo: Indomedia Pustaka. 
  9. Suwito (2020). Pengantar Demografi (PDF). Malang: Ediide Infografika. ISBN 978-623-90310-6-0. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]