Tempat tinggal

Tempat tinggal atau hunian adalah suatu ruang yang digunakan sebagai tempat bermukim tetap atau semi-permanen bagi satu atau lebih manusia, dan terkadang juga bagi berbagai hewan pendamping. Hunian menyediakan ruang-ruang yang terlindung, seperti ruangan di mana berbagai kegiatan domestik dapat dilakukan, misalnya tidur, menyiapkan makanan, makan, serta menjaga kebersihan diri, serta menyediakan ruang untuk bekerja dan bersantai, seperti bekerja jarak jauh, belajar, atau bermain.
Bentuk fisik hunian dapat bersifat statis, seperti rumah atau apartemen; dapat pula bersifat bergerak, seperti kapal rumah, trailer, atau yurt; bahkan dapat bersifat digital, seperti ruang virtual.[1] Aspek "tempat tinggal" dapat dipahami dalam berbagai skala: dari skala mikro yang menyoroti ruang-ruang paling intim dalam tempat tinggal individu beserta lingkungan terdekatnya, hingga skala makro yang mencakup kawasan geografis seperti kota, desa, negara, bahkan planet.
Konsep "hunian" telah menjadi objek kajian dan teori lintas disiplin, meliputi topik-topik seperti makna tempat tinggal, interior, psikologi, ruang ambang (liminal space), ruang yang diperebutkan (sengketa), hingga isu gender dan politik.[2] Gagasan tentang hunian melampaui pengertian sebagai sekadar tempat tinggal, sebab gaya hidup kontemporer dan kemajuan teknologi terus mendefinisikan ulang cara hidup dan bekerja masyarakat global. Pengalaman tentang hunian juga mencakup dimensi-dimensi seperti pengasingan, kerinduan, rasa memiliki, kerinduan akan rumah (homesickness), dan bahkan kehilangan tempat tinggal (gelandangan).[3]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Prasejarah
[sunting | sunting sumber]
Tempat tinggal manusia paling awal kemungkinan besar berupa bentukan alami seperti gua. Terdapat banyak bukti bahwa spesies manusia purba telah menghuni gua sejak sedikitnya satu juta tahun silam, di antaranya Homo erectus di Tiongkok pada situs Zhoukoudian, Homo rhodesiensis di Afrika Selatan di Cave of Hearths (Makapansgat), Homo neanderthalensis dan Homo heidelbergensis di Eropa pada Situs Arkeologi Atapuerca, Homo floresiensis di Indonesia, serta kelompok Denisovan di Siberia bagian selatan.
Di Afrika Selatan, manusia modern awal diketahui telah menggunakan gua-gua laut sebagai tempat berlindung sejak sekitar 180.000 tahun yang lalu, masa ketika mereka pertama kali belajar memanfaatkan sumber daya laut.[4] Situs tertua yang diketahui adalah PP13B di Pinnacle Point. Pemanfaatan gua laut ini mungkin menjadi salah satu faktor yang memungkinkan manusia dengan cepat menyebar keluar dari Afrika dan menjajah berbagai wilayah dunia seperti Australia sekitar 60–50.000 tahun yang lalu.
Di berbagai wilayah Afrika Selatan, Australia, dan Eropa, manusia modern awal juga memanfaatkan gua dan ceruk batu sebagai tempat berkarya seni cadas, sebagaimana terlihat di Giants Castle. Di Tiongkok, gua-gua seperti yaodong digunakan sebagai tempat tinggal; sementara gua-gua lain dijadikan tempat pemakaman (misalnya makam batu), atau situs keagamaan (seperti gua-gua Buddha). Beberapa gua suci yang terkenal antara lain Gua Seribu Buddha di Tiongkok[5] serta gua-gua suci Kreta. Seiring berkembangnya teknologi, manusia dan kerabatnya mulai membangun tempat tinggal buatan sendiri. Bangunan seperti gubuk dan rumah panjang telah digunakan sebagai hunian sejak akhir masa Neolitikum.[6]
Kuno
[sunting | sunting sumber]Menjelang Zaman Perunggu (± 3500–1200 SM), komunitas di Mesopotamia mulai membangun hunian permanen dari bata lumpur; penggalian di Uruk dan Ubaid memperlihatkan rumah-rumah satu hingga beberapa ruangan yang tersusun di sekitar halaman kecil, dibangun menggunakan bata seragam dengan perekat bitumen.[7] Rumah-rumah perkotaan awal ini sering berjajar di sepanjang jalan lurus dan berbagi sumur serta tungku bersama.[8]
Di Mesir Kuno, sejak masa Kerajaan Lama (± 2686–2181 SM), tata kota di Amarna dan Deir el-Medina memperlihatkan rumah-rumah dari bata lumpur beratap datar yang tersusun rapat di sepanjang lorong sempit; rumah khas terdiri atas ruang penerima tamu, kamar pribadi, serta halaman kecil yang digunakan untuk memasak dan bekerja.[9]
Peradaban Lembah Indus (± 2600–1900 SM) menampilkan penggunaan bata bakar yang seragam dan perencanaan kota yang canggih di kota-kota seperti Mohenjo-daro dan Harappa, dengan rumah dua tingkat yang dilengkapi sumur pribadi, kamar mandi dalam dengan saluran pembuangan, serta halaman menghadap selatan yang dirancang untuk sirkulasi udara di iklim panas.[10]
Di Kreta pada masa Zaman Perunggu, istana Minoa di Knossos menggabungkan area hunian dengan sumur cahaya dan kolam pemurnian, mencerminkan pentingnya cahaya alami dan kemurnian ritual dalam ruang domestik.[11] Permukiman di sekitarnya mengadopsi denah rumah berbentuk persegi panjang yang berpusat pada ruang penyimpanan dan halaman komunal.
Menjelang abad ke-1 SM di Romawi Kuno, kalangan kaya tinggal di domus, rumah perkotaan bertingkat dengan banyak ruang yang berpusat pada atrium dan taman peristil, sementara mayoritas penduduk tinggal di blok apartemen bertingkat yang disebut insulae, yang umumnya sempit dan rentan terhadap kebakaran.[12]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Definition: Home". Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 October 2020. Diakses tanggal 29 October 2020.
- ↑ Briganti and Mezei, Chiara and Kathy (2012). The Domestic Space Reader. Canada: University of Toronto Press. ISBN 978-0-8020-9968-6.
- ↑ Briganti, Chiara; Mezei, Kathy, ed. (2012). The Domestic Space Reader. University of Toronto Press. hlm. 6. ISBN 978-0-8020-9664-7. JSTOR 10.3138/j.ctt2ttqbw.
- ↑ Marean, C.W.; Bar-Matthews, M.; Bernatchez, J.; Fisher, E.; Goldberg, P.; Herries, A.I.; Jacobs, Z.; Jerardino, A.; Karkanas, P.; Minichillo, T.; Nilssen, P.J.; Thompson, E.; Watts, I.; Williams, H.M. (2007). "Early human use of marine resources and pigment in South Africa during the Middle Pleistocene". Nature. 449 (7164): 905–908. Bibcode:2007Natur.449..905M. doi:10.1038/nature06204. PMID 17943129. S2CID 4387442. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 22 September 2018.
- ↑ Olsen, Brad (2004). Sacred Places Around the World: 108 Destinations. CCC Publishing. hlm. 16. ISBN 978-1-888729-16-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 May 2021. Diakses tanggal 2 December 2020.
- ↑ "Skara Brae". Orkneyjar. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2012. Diakses tanggal 8 December 2012.
- ↑ "Daily Life in Ancient Mesopotamia". The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 2025-05-02.
- ↑ Algaze, Gilbert (1993). "Early Urbanization in Mesopotamia". Journal of Archaeological Research. 1 (1): 1–38. doi:10.1007/BF02292781 (tidak aktif 1 July 2025). Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- ↑ Cartwright, Mark (31 May 2018). "Domestic Architecture in Ancient Egypt". World History Encyclopedia. Diakses tanggal 2025-05-02.
- ↑ "Ancient Indus Valley Civilization". Harappa.com. Diakses tanggal 2025-05-02.
- ↑ Manning, Sturt W. (2010). A History of Ancient Greece: From Prehistoric to Hellenistic Times. Oxford University Press. hlm. 35–40.
- ↑ "Housing in Ancient Rome". World History Encyclopedia. Diakses tanggal 2025-05-02.