Postpartum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pusat perawatan postpartum di Johor, Malaysia.

Postpartum adalah masa nifas yang dimulai sejak bayi lahir dan plasenta bayi dilahirkan hingga keadaan kandungan kembali seperti saat sebelum hamil. masa ini pada umumnya terjadi sekitar 6 minggu.

Tahapan[sunting | sunting sumber]

Postpartum memiliki empat tahap, pertama adalah Immediatiate postpartum yang biasanya sering terjadi perdarahan karena berada pada fase kritis dan harus dilakukan pemantauan lebih lanjut. Kedua, Early postpartum yaitu keadaan involusi uteri sudah dalam tahap normal. Ketiga, Late postpartum merupakan tahap di mana ibu sudah bisa mencoba untuk melakukan program KB (Kelurga Berencana). Keempat Remote postpartum yaitu jangka waktu yang dibutuhkan ibu setelah melahirkan yang memiliki permasalahan atau komplikasi[1]

Komplikasi[sunting | sunting sumber]

Komplikasi yang bisa terjadi pada postpartum di antaranya adalah perdarahan pada vagina yang melebihi 1500 ml, muncul aroma dari vagina yang menyengat, adanya rasa nyeri pada daerah perineum, nyeri pada kepala yang berkepanjangan, terjadi perubahan pada payudara seperti; kemerahan, bengkak, dan ditemukannya benjolan, kedua kaki dan tangan membengkak dan terasa nyeri, serta pengilhatan buram.[2]

Perawatan[sunting | sunting sumber]

Perawatan yang pada ibu postpartum paling penting dan bisa dilakukan mandiri adalah perawatan payudara. Perawatan payudara bertujuan untuk mempercepat dan memperlancar pengeluaran ASI (Air Susu Ibu) juga merawat payudara agar tetap sehat dan menghindari komplikasi yang kemungkinan bisa terjadi. Salah satu perawatan payudara yang bisa dilakukan antara lain dengan menjaga kebersihan pada payudara, menggunakan bra yang longgar dan berbahan katun, melakukan beberapa pemijatan dan pengurutan pada payudara dengan menggunakan kompres hangat setiap pagi atau sore hari, dan selalu mengosongkan ASI setelah menyusui bayi agar ASi tidak mengendap di dalam payudara karena bisa menyebabkan mastitis.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Fauziah, Siti (2015). Keperawatan Maternitas VOL. 2 Persalinan. Jakarta: PT Aditya Andrebina Agung. 
  2. ^ Wahyuningsih, Heni Puji (2018). Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Jakarta: Kemenkes RI BPPSDMK & PPSDMK.