Dinamika sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dinamika sosial adalah perubahan sosial yang terjadi akibat adanya interaksi dalam dua atau lebih individu dalam suatu masyarakat yang memiliki hubungan psikologis secara jelas dalam situasi yang dialami. Dalam dinamika masyarakat dapat terjadi interaksi sosial, kelompok sosial dan kelas sosial.[1] Setiap masyarakat perdesaan maupun masyarakat perkotaan akan mengalami dinamika sosial. Hubungan yang saling mempengaruhi akan terjadi selama interaksi antarmanusia dan antarkelompok, sehingga menimbulkan dinamika sosial. Bentuk dinamika sosial berupa perubahan-perubahan nilai sosial, norma sosial, pola perilaku individu dan organisasi, struktur sosial, kelas sosial dan sistem pemerintahan dalam suatu masyarakat.[2] Dinamika sosial dapat ditelaah melalui proses sosial yang terjadi dalam masyarakat dan kebudayaan yaitu internalisasi, sosialisasi, enkulturasi, difusi, akulturasi, asimilasi, pembaruan, dan penemuan baru.[3] Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor utama terjadinya dinamika sosial.[4] Dampak yang ditimbulkan oleh dinamika sosial dapat bersifat positif maupun negatif bagi masyarakat.[5] Wujud konkret dari dinamika sosial antara lain perubahan jumlah penduduk, perubahan kualitas penduduk, perubahan struktur pemerintahan, perubahan mata pencaharian, perubahan komposisi penduduk, dan lain-lain.[6]

Komponen[sunting | sunting sumber]

Dinamika sosial dapat terjadi jika ada interaksi sosial, kelompok sosial, dan kelas sosial dalam suatu masyarakat. Interaksi sosial terjadi karena dorongan imitasi, sugesti, identifikasi, dan empati. Unsur-unsur yang menyusun interaksi sosial yaitu dua atau lebih individu, komunikasi melalui simbol atau lambang, dan adanya tujuan yang akan dicapai. Interaksi inilah yang menjadi dasar pembentukan pola keteraturan dan dinamika sosial budaya. Dalam masyarakat umumnya terdapat kelompok-kelompok yang disebut kelompok sosial. Bentuk kelompok sosial yang dapat terjadi di antaranya adalah kelompok internal dan eksternal, kelompok primer dan sekunder, paguyuban dan patembayan, kelompok formal dan informal, serta kelompok keanggotaan dan penunjukan. Kelompok sosial ini kemudian membentuk kelas sosial berdasarkan kriteria ekonomi. Tolok ukurnya adalah kekayaan, kekuasaan, kewenangan, ilmu pengetahuan, dan kehormatan.[1]

Lingkup kajian[sunting | sunting sumber]

Pengendalian sosial[sunting | sunting sumber]

Pengendalian sosial merupakan cara dan proses yang diterapkan oleh sekelompok orang atau masyarakat agar anggotanya berperilaku sesuai dengan keinginan masyarakat.[7] Anggota masyarakat dikendalikan agar mengikuti nilai sosial dan norma sosial yang berlaku. Pengendaliannya dapat dilakukan melalui bujukan atau paksaan.[8]

Mobilitas sosial[sunting | sunting sumber]

Mobilitas sosial merupakan perpindahan kelas sosial seseorang atau kelompok dalam suatu strata sosial. Perpindahan ini kemudian mengubah status sosial dari seseorang atau kelompok tersebut. Mobilitas sosial dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu penurunan kelas sosial atau penaikan kelas sosial.[3]

Penyimpangan sosial[sunting | sunting sumber]

Penyimpangan sosial merupakan pelanggaran terhadap norma sosial dalam suatu masyarakat.[9] Sosialisasi yang tidak sempurna menjadi penyebab utama terjadinya penyimpangan sosial.[10] Adanya pembaharuan dalam suatu masyarakat juga dapat menjadi sebab terjadinya penyimpangan sosial.[11]

Perubahan sosial[sunting | sunting sumber]

Perubahan sosial terjadi akibat berubahnya perilaku individu-individu dalam masyarakat yang kemudian mengubah masyarakat itu sendiri. Perubahan yang timbul umumnya berkaitan dengan nilai sosial yang dijadikan sebagai pedoman dalam lembaga kemasyarakatan.[12]

Proses[sunting | sunting sumber]

Difusi[sunting | sunting sumber]

Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur budaya dari satu kelompok ke kelompok lainnya secara timbal balik. Penyebaran ini dapat terjadi di dalam suatu masyarakat maupun antarmasyarakat. Pada kenyataannya, unsur budaya tradisional menerima lebih banyak pengaruh dari unsur budaya yang lebih maju.[13]

Akulturasi[sunting | sunting sumber]

Akulturasi merupakan proses peleburan kebudayaan dua masyarakat tanpa menghilangkan kepribadian inividu dalam masyarakat tersebut. Hanya unsur-unsur kebudayaan asing yang melebur ke dalam kebudayaan asli.[14] Akulturasi dapat terjadi akibat amalgamasi, toleransi, keterbukaan dan pemerataan di bidang ekonomi dan budaya, rasa saling menghargai dan adanya musuh bersama dari luar.[15]

Asimilasi[sunting | sunting sumber]

Asimilasi yaitu proses percampuran dua buah kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan baru. Kebudayaan yang mengalami asimilasi akan lenyap secara perlahan dan digantikan oleh unsur-unsur kebudayaan luar berupa teknologi baru, ide, gagasan, pemikiran, dan gaya hidup.[16] Proses asimilasi terjadi antara dua masyarakat dengan dua kebudayaan yang berbeda dalam jangka waktu lama. Masyarakat akan memandang kebudayaan lama dan kebudayaan baru sebagai sesuatu yang serupa dan tidak perlu dibanding-bandingkan. Perbedaan yang ada dalam dua kebudayaan sebelum terjadinya asimilasi akan berkurang, sehingga individu akan menyesuaikan diri untuk mencapai tujuan kelompok.[17]

Inovasi[sunting | sunting sumber]

Inovasi merupakan suatu proses pembaruan dengan memanfaatkan sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal yang tersedia. Pengelolaan tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru menghasilkan sistem produksi yang kemudian mampu membuat produk-produk baru. Inovasi merupakan pembaruan kebudayaan yang berkaitan dengan bidang ekonomi dan teknologi.[18]

Internalisasi[sunting | sunting sumber]

Internalisasi merupakan proses belajar yang dimulai sejak seorang individu dilahirkan hingga akhir hayatnya. Pengetahuan yang diperoleh berkaitan dengan kepribadian dan segala hawa nafsu serta emosi yang diperlukannya sepanjang hidup.[7]

Sosialisasi[sunting | sunting sumber]

Sosialisasi merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri sesuai dengan perkembangan pergaulan di masyarakat. Masanya dimulai sejak kanak-kanak hingga masa tua.[19] Proses sosialisasi berkaitan dengan kepribadian dan kebudayaan serta interaksi sosial.[20] Terciptanya kelompok sosial merupakan wujud langsung dari proses sosialisasi.[21]

Enkulturasi[sunting | sunting sumber]

Enkulturasi merupakan proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap oleh individu terhadap adat istiadat, sistem norma dal peraturan-peraturan dalam suatu kebudayaan pada masyarakat. Proses ini dimulai sejak usia dini dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun teman sebaya. Kegiatan utama dalam enkulturasi adalah meniru tindakan orang lain dan menjadikannya sebagai suatu budaya yang dilestarikan.[18]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Dinamika sosial menghasilkan perubahan nilai sosial dalam masyarakat. Perubahan ini merupakan akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan politik dan ekonomi pada suatu masyarakat.[22] Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi telah mengembangkan industrialisasi dan menghasilkan dinamika sosial berupa urbanisasi. Dampak positif yang ditimbulkan adalah penyerapan tenaga kerja dari pedesaan untuk mengembangkan perkotaan. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan adalah munculnya masalah-masalah sosial akibat disorganisasi dan perilaku menyimpang.[23]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Akhmad, Nurul (2010). Ensiklopedia Dinamika Masyarakat. Jakarta: CV. Pamularsih. hlm. 1-10. ISBN 9789790531192. 
  2. ^ Sudarmi dan Indriyanto 2009, hlm. 55.
  3. ^ a b Waluya 2009, hlm. 14.
  4. ^ Widianti 2009, hlm. 8.
  5. ^ Sudarmi dan Indriyanto 2009, hlm. 56.
  6. ^ Dwi Laning, Vina (2009). Sosiologi untuk kelas X SMA/MA (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 54. ISBN 978-979-068-210-8. 
  7. ^ a b Ruswanto 2009, hlm. 25.
  8. ^ Budiati 2009, hlm. 108.
  9. ^ Elisanti dan Rostini 2009, hlm. 92.
  10. ^ Waluya 2009, hlm. 100.
  11. ^ Widianti 2009, hlm. 80.
  12. ^ Sukardi dan Rohman 2009, hlm. 76.
  13. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 59.
  14. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 83.
  15. ^ Elisanti dan Rostini 2009, hlm. 61.
  16. ^ Sukardi dan Rohman 2009, hlm. 85.
  17. ^ Suhardi dan Sunarti 2009, hlm. 82.
  18. ^ a b Waluya 2009, hlm. 15.
  19. ^ Elisanti dan Rostini 2009, hlm. 74.
  20. ^ Ruswanto 2009, hlm. 84.
  21. ^ Ruswanto 2009, hlm. 85.
  22. ^ Widianti 2009, hlm. 41.
  23. ^ Widianti 2009, hlm. 19.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Budiati, A. C. (2009). Sosiologi Kontekstual: Untuk SMA dan MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-219-1. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-22. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  2. Elisanti dan Rostini, T. (2009). Sosiologi 1: untuk SMA / MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-744-8. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-22. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  3. Ruswanto (2009). Sosiologi: SMA / MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-746-2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-11-07. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  4. Sudarmi, S., dan Indriyanto, W. (2009). Sosiologi 1: Untuk Kelas X SMA dan MA (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-209-2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-22. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  5. Suhardi dan Sunarti, S. (2009). Sosiologi 1: Untuk SMA/MA Kelas X Program IPS (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-208-5. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-09-30. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  6. Sukardi, J.S., dan Rohman, A. (2009). Sosiologi: Kelas X untuk SMA / MA (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-747-9. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-11-05. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  7. Waluya, B. (2009). Sosiologi 1: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-738-7. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-11-27. Diakses tanggal 2020-11-07. 
  8. Widianti, W. (2009). Sosiologi 1 : untuk SMA dan MA Kelas X (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-068-745-5. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2021-01-23. Diakses tanggal 2020-11-07.