Daftar Sultan Banten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sultan Banten
Bekas Kerajaan
Banten Sultanate Emblem, 2016.png
Lambang Kerajaan Banten
Syarif Muhammad ash-Shafiuddin of Banten.png
Syarif Muhammad ash-Shafiuddin, sultan Banten sekarang (sejak 11 Desember 2016)
Monarka pertama Sultan Maulana Hasanuddin
Monarka terakhir Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin
Gelar Sultan
Kediaman resmi Keraton Surasowan (dulu)
Penunjuk Turun-temurun (dari Keluarga Kesultanan Banten)
Pendirian 1552
Pembubaran 1813
Penuntut takhta Sultan Syarif Muhammad ash-Shafiuddin

Sultan Banten adalah penguasa Kesultanan Banten di provinsi Banten, Indonesia, yang pernah berjaya di ujung barat Pulau Jawa.[1]

Lukisan Maulana Hasanuddin, raja pertama Kesultanan Banten

Kesultanan Banten kini[sunting | sunting sumber]

Setelah Kesultanan Banten dianeksasi dan dihapuskan status kesultanannya oleh Kerajaan Inggris pada tahun 1813[2], pada tahun 2016 Kesultanan Banten kembali dihidupkan dengan diangkatnya Sultan Syarif Muhammad ash-Shafiuddin sebagai Sultan Banten ke-18[3] dengan dasar Ketetapan Pengadilan Agama Serang nomor 0316/PDT.P/2016/PA.SRG tanggal 22 September 2016 tentang Penetapan Ahli Waris.[4]

Sultan Banten terakhir[sunting | sunting sumber]

Pada saat terjadi peralihan kekuasaan di Nusantara dari Belanda kepada Inggris tahun 1813, Thomas Stamford Raffles dari pemerintahan Inggris membagi wilayah Banten menjadi 4 Kabupaten, yakni Banten Lor (Banten Utara, yang kelak menjadi Kabupaten Serang), Banten Kulon (Banten Barat, kelak menjadi Kabupaten Caringin yang pada tahun 1907 masuk kedalam Kabupaten Pandeglang), Banten Tengah (Kelak menjadi Kabupaten Pandeglang) dan Banten Kidul (Banten Selatan, yang kelak menjadi Kabupaten Lebak)[5]. Pada tahun yang sama, Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles[2] yang kemudian berakhir dengan dihapuskannya status Kesultanan Banten oleh pemerintah kolonial Inggris[6]. Setelah status kesultanan dihapuskan, kemudian diangkatlah Rafiuddin sebagai Sultan Bupati atau Sultan Tituler di wilayah Banten[7], atau di sebagian penulisan sejarah, Rafiuddin diangkat menjadi Bupati di wilayah Banten Hilir (Wilayah Kabupaten Pandeglang), sedangkan Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin kemudian diangkat menjadi Bupati Banten Hulu (wilayah Kabupaten Serang)[5].

Rafiuddin (yang bernama asli Joyo Miharjo[7]) bukan merupakan warga Banten, ia adalah seorang dari Rembang yang kemudian diberi kedudukan di wilayah Banten oleh pemerintah kolonial. Hubungan darah antara keduanya terbentuk karena Rafiuddin menikah dengan adik Ratu Asyiah (Ibunda Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin). Dengan begitu, gelar resmi Sultan Banten terakhir dari trah Kesultanan Banten yang semestinya adalah pada Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin (yang berkuasa dari tahun 1809 - 1813), bukan pada nama Rafiuddin dari Rembang (1813 - 1820) yang sekadar sebagai Sultan Bupati atau Sultan Tituler dan bukan dari keturunan para Sultan Banten, karena setelah dinobatkannya Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin sebagai Sultan Banten pada tahun 1809, tidak ada lagi penobatan gelar Sultan di wilayah Banten kecuali dinobatkannya Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja sebagai Sultan Banten ke-18 pata tahun 2016[5].

Daftar Sultan Banten[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah daftar sultan Banten[1][8][5]:

Kesultanan Banten sebagai Negara Berdaulat[sunting | sunting sumber]

No. Masa/Tahun Nama Sultan Nama Lain Keterangan
Sultan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Sultan ke-2 Kesultanan Cirebon
1 1552 - 1570 Maulana Hasanuddin Pangeran Sabakinking 8 Oktober 1526 M (1 Muharam 933 H) - 1552 M[9], status Kesultanan Banten sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Cirebon[10]
2 1570 - 1585 Maulana Yusuf Pangeran Pasareyan
3 1585 - 1596 Maulana Muhammad
  • Pangeran Sedangrana
  • Prabu Seda ing Palembang
4 1596 - 1647 Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqadir
  • Pangeran Ratu
  • Sultan Agung
5 1647 - 1651 Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad
  • Pangeran Anom
  • Sultan Kilen
6 1651 - 1683 Sultan Ageng Tirtayasa
  • Abu al-Fath Abdulfattah
  • Pangeran Dipati
  • Pangeran Surya
(Catatan) 1
7 1683 - 1687 Sultan Abu Nashar Abdulqahar
  • Sultan Haji
  • Pangeran Dakar
(Catatan) 2
8 1687 - 1690 Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya
9 1690 - 1733 Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin
  • Pangeran Adipadi
  • Kang Sinihun ing Nagari Banten
10 1733 - 1750 Sultan Muhammad Syifa Zainularifin Pangeran Abdullah
1750 - 1752 Sultan Syarifuddin Ratu Wakil3 Pangeran Syarifuddin dalam pengaruh Ratu Syarifah Fatima[5][11]
11 1752 - 1753 Sultan Muhammad Wasi Zainulalimin Pangeran Arya Adisantika
12 1753 - 1773 Sultan Muhammad Arif Zainulasyiqin Pangeran Gusti
13 1773 - 1799 Sultan Aliyuddin I Abu al-Mafakhir Muhammad Aliyuddin
14 1799 - 1801 Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin
15 1801 - 1802 Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin
1802 - 1803 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya
16 1803 - 1808 Sultan Aliyuddin II Abu al-Mafakhir Muhammad Aqiluddin
1808 - 1809 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala
17 1809 - 1813 Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin
Catatan:

1. Sejak masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, gelar-gelar kebangsawanan Banten ditertibkan: Sultan untuk raja, Pangeran Ratu untuk putra mahkota atau pewaris takhta pertama, Pangeran Adipati untuk pewaris takhta kedua atau adik Pangeeran Ratu[12].

2. Penobatan ini disertai beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 dan meminimalkan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC[13].

3. Ketika Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin dibuang ke Ambon, istrinya yang bernama Ratu Syarifah Fatima berhasil membujuk Gustaaf Willem baron van Imhoff selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menobatkan putranya dari suami terdahulu sebagai Sultan Banten[14]. Pangeran Syarifuddin naik takhta dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil, tetapi pada kenyataannya yang berkuasa adalah Ratu Syarifah Fatima[1]. Hal tersebut yang menyebabkan tidak diakuinya Sultan Syarifuddin Ratu Wakil maupun Ratu Syarifah Fatima sebagai Sultan Banten ke-11.[15]

Pewaris Kesultanan setelah dihapuskan Belanda[sunting | sunting sumber]

No. Masa Nama Keterangan
1 1832 - 1888 Pangeran Surya Kumala (Catatan) 1
2 1888 - 1916 Pangeran Timoer Soerjaatmadja (Catatan) 1 & 2
3 1916 - 1986 Ratu Bagus Aryo Marjono Soerjaatmadja (Catatan) 3
4 1968 - 1956 Ratu Bagus Abdul Mughni Soerjaatmadja (Catatan) 4
5 1956 - 2016 Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja (Catatan) 5
Catatan[5]:

1. Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin yang dibuang ke Surabaya merasa kecewa terhadap perlakuan pihak penjajah sehingga melarang keturunannya untuk menikah dengan kalangan Eropa, hal ini dilanggar oleh Pangeran Surya Kumala, sehingga hak pewarisan tahta Kesultanan Banten dialihkan kepada Pangeran Timur Soerjaatmadja.

2. Pada masa Kevakuman Kesultanan Banten, rakyat Banten di bawah pimpinan para Ulama secara seporadis kerap melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda. Banyak perjuangan yang menyuarakan spirit kesultanan Banten dan keislaman, yang paling menonjol adalah peristiwa Geger Cilegon tahun 1888.

3. Pada masa awal Kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1947[16], di Yogyakarta terjadi pertemuan antara pewaris takhta Kesultanan Banten (Ratu Bagus Aryo Marjono Soerjaatmadja), Presiden Indonesia (Soekarno), Sultan Yogyakarta (Hamengkubuwono IV), dan Residen Banten (K.H. Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani). Pada pertemuan tersebut, Soekarno mempersilakan pewaris takhta Kesultanan Banten untuk memimpin wilayah Banten kembali, namun pewaris takhta dikarenakan tanggung jawabnya sebagi Direktur BRI (kini setingkat Gubernur Bank Indonesia) menitipkan kepemimpinan Banten termasuk penjagaan dan pengurusan aset keluarga besar Kesultanan Banten kepada K.H. Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani selaku Residen Banten sampai saat bilamana anak atau cucu Marjono kembali ke Banten[16].

4. Ratu Bagus Abdul Mughni memiliki dua orang kakak laki-laki, dua kakak perempuan, dan dua belas adik. Kedua kakak laki-lakinya (Ratu Bagus Abimanyu Soerjaatmadja (1915 -1917) dan Ratu Bagus Alioedin Soerjaatmadja (1919 - 1943) ) meninggal mendahului ayahnya, Ratu Bagus Marjono Soerjaatmadja (1888 - 1968), sehingga hak kepewarisan Kesultanan Banten jatuh kepada Ratu Bagus Abdul Mughni (1920 - 1956) selaku putera tertua yang masih hidup[17].

5. Pada 11 Desember 2016, Ratu Bagus Bambang dinobatkan menjadi Sultan Banten ke-18 dengan gelar Sultan Syarif Muhammad ash-Shafiuddin[3].

Sultan Banten di Bawah Provinsi Banten[sunting | sunting sumber]

No. Masa/Tahun Nama Sultan Nama Lain Keterangan
18 2016 - Sekarang Sultan Syarif Muhammad ash-Shafiuddin Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja[18] Di bawah pemerintah Provinsi Banten, Indonesia

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Pudjiastuti, Titik (2007). Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-650-5. 
  2. ^ a b Anshoriy Ch, M. Nasruddin (2008). Bangsa Gagal: Mencari Identitas Kebangsaan. Yogyakarta: LKiS. p. 67. ISBN 9789791283656. 
  3. ^ a b Kabar5 Com (2016-12-14), Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja Dinobatkan Menjadi Sultan Banten ke-18, diakses tanggal 2017-04-14 
  4. ^ Redaksi (2017-01-11). "“Saya Sultan Banten ke-18 Yang Sah”, Kata Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja". Banten Headline. Diakses tanggal 2017-04-14. 
  5. ^ a b c d e f Azmatkhan, Tubagus Nurfadhil (2016-12-06). "Sejarah Kesultanan Banten dari Masa ke Masa". Website Resmi Kesultanan Banten (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-04-14. 
  6. ^ R.B., Cribb; Kahin, Audrey (2004). Historical Dictionary of Indonesia (dalam bahasa Inggris) (2nd ed.). Lanham, Maryland: Scarecrow Press. ISBN 0-8108-4935-6. 
  7. ^ a b "Siapakah Sultan Banten Terakhir?". bantenologi.org. 2009-10-11. Diakses tanggal 2017-06-14. 
  8. ^ Hatmadji, Tri (2005). Ragam Pusaka Budaya Banten. Serang: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. p. 81. ISBN 979-99324-0-8. 
  9. ^ Lubis, Nina Herlina (2004). Banten dalam Pergumulan Sejarah: Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta: LP3ES. ISBN 9793330120. 
  10. ^ Wildan, Dadan (2003). Sunan Gunung Jati Antara Fiksi dan Fakta: Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Bandung: Humaniora. ISBN 9799231663. 
  11. ^ redaksi. "Ingin Kuasai Banten, Ratu Syarifah Fatimah Malah Dibuang ke Pulau Edam". Timika Satu. Diakses tanggal 2017-04-14. 
  12. ^ Djajadiningrat, Hoesein (1983). Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten. Jakarta: Djambatan. p. 209 - 10. 
  13. ^ Tjandrasasmita, Uka (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. p. 128. ISBN 9789799102126. 
  14. ^ "Jejak Kyai Tapa: Awal Konflik Internal Banten: Penyusupan Agen Wanita VOC ke Jantung Keraton". Sportourism.id. Diakses tanggal 2017-04-14. 
  15. ^ Purwadi, Didi (2012-01-08). "Ratu yang Dibenci Rakyat Banten | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2017-04-14. 
  16. ^ a b Profil Sultan Banten Ke 18, hlm. 88-89.
  17. ^ Profil Sultan Banten Ke 18, hlm. 86-88.
  18. ^ hauna. "Pewaris Kesultanan Banten Terima Mandat". bantenraya.com (dalam bahasa in-id). Diakses tanggal 2017-06-15. 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]