Lompat ke isi

Volksraad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dewan Rakyat

Volksraad
Coat of arms or logo
Jenis
Jenis
Sejarah
Dibentuk18 Mei 1918 (1918-05-18)
Dibubarkan1942
Digantikan oleh
Pimpinan
Anggota
  • 38 anggota (1917)
  • 48 anggota (1924)
  • 60 anggota (1939)
Tempat bersidang
Volksraadgebouw (1918)
L B
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Pembukaan Volksraad oleh gubernur-jendral Van Limburg Stirum tanggal 18 Mei 1918
Anggota Volksraad pada tahun 1918 : D. Birnie (ditunjuk), Kan Hok Hoei (ditunjuk), R. Sastro Widjono (dipilih) dan Mas Ngabehi Dwidjo Sewojo (ditunjuk)
Gedung Volksraad pada tahun 1925, sekarang menjadi Gedung Pancasila.

Volksraad (Dewan Rakyat) adalah lembaga penasihat, dan kemudian semi-legislatif untuk Hindia Belanda, yang diatur oleh undang-undang pada tahun 1916 tetapi baru didirikan dengan pembentukan Dewan tersebut pada tahun 1918. Ini merupakan upaya yang ragu-ragu dan lambat dalam mendemokratisasi Hindia Belanda sebagai bagian dari "kebijakan etis" yang diadopsi oleh pemerintah Belanda. Kekuasaan Volksraad terbatas karena hanya memiliki wewenang penasihat. Meskipun sebagian anggota dewan dipilih, hanya sebagian kecil penduduk yang memiliki hak pilih.[1]

Awalnya, Volksraad memiliki 39 anggota, yang kemudian bertambah menjadi 60. Organisasi ini dibentuk ulang setiap empat tahun. Anggota-anggotanya sebagian dipilih melalui pemilihan, dan sebagian lagi ditunjuk oleh administrasi kolonial.[1]

Bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad

[sunting | sunting sumber]

Dominasi kolonial pada masa itu hampir mencakup semua aspek, sampai pada forum-forum resmi harus menggunakan Bahasa Belanda, padahal sejak Kongres Pemuda II (1928) bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa persatuan yang menjadi salah satu alat perjuangan kalangan pro-kemerdekaan. Untuk itulah Mohammad Hoesni Thamrin mengecam pedas tindakan-tindakan yang dianggap mengecilkan arti bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dalam sidang-sidang Volksraad diperbolehkan sejak Juli 1938.

Moeharam Wiranatakoesoemah

Tahun 1923, Bupati Bandung, Moeharam Wiranatakoesoemah diangkat menjadi anggota Volksraad. Di hadapan dewan persidangan, ia berpidato dengan panjang lebar, dan menekankan dua permasalahan yang akan dihadapinya.

Pertama, mengenai politik di tanah jajahan. Kedua, tentang pergerakan rakyat kaum Pribumi.

Dalam soal pajak ia menyatakan, bukan hanya dirinya yang terlalu keberatan, kewajiban membayar pajak membebani pula kaum pribumi yang penghasilannya relatif kecil. Apalagi, iuran pajak tersebut terus mengalami kenaikkan. Baik pajak bumi, maupun pajak-pajak lainnya yang berpengaruh pada kelonjakan harga bahan makanan.

Untuk mengetahui berapa besaran pajak yang dibayar oleh kelompok petani itu harus disesuaikan dengan kapasitas garapan yang mereka kerjakan agar tidak terlalu memberatkan (Kaoem Moeda 20 Juli 1923).

Raden Otto Iskandar di Nata

Otto Iskandar di Nata (Otista) menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) untuk periode 1931-1934, 1935-1938, dan 1939-1942.

Pada pembukaan sidang Volksraad/Dewan Rakyat tahun 1931-1932, Otto berpidato dengan keras :

"Tetapi saya percaya, bahwa Indonesia yang sekarang dijajah pasti akan merdeka. Bangsa Belanda terkenal sebagai bangsa yang berkepala dingin, hendaknya tuan-tuan bangsa Belanda memilih di antara dua kemungkinan: menarik diri dengan sukarela tetapi terhormat, atau tuan-tuan kami usir dengan kekerasan."

Karena pidatonya itu, Otto dipersilahkan oleh ketua Volksraad turun dari mimbar. Otto tak kapok memperjuangkan nasib bangsanya. Dalam sidang lain, Otto kembali menyampaikan pidatonya bahwa Indonesia akan merdeka.

"Banyak orang yang mengatakan, bahwa tanpa adanya paksaan, tidak mungkin Nederland mau melepaskan Indonesia, karena memiliki Indonesia itu besar sekali manfaatnya bagi Nederland. Tetapi, biarpun banyak sekali yang mengatakan demikian, saya percaya bahwa suatu waktu bila sudah tiba waktunya, negeri Belanda tentu akan melepaskan Indonesia dengan ikhlas demi keselamatannya."

Jahja Datoek Kajo

[sunting | sunting sumber]

Perkecualian berbahasa Indonesia diperoleh Jahja Datoek Kajo, yang menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927. Sejak 16 Juni 1927, dalam semua pidato-pidatonya di Volksraad, Jahja selalu menggunakan bahasa Indonesia. Jahja meminta kepada para hadirin yang mau menyela pembicaraannya agar menggunakan bahasa Indonesia. Dia berterus terang bahwa di dalam sidang majelis Volksraad lebih suka dengan bahasa Indonesia karena merasa seorang Indonesier. Pidatonya yang berapi-api dengan bahasa Indonesia di Volksraad membuat wakil-wakil Belanda marah. Atas keberaniannya itu, koran-koran pribumi memberinya gelar "Jago Bahasa Indonesia di Volksraad".[2]

Tokoh-tokoh yang dikenal aktif di Volksraad antara lain

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • G. M. Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia. Cornell University Press, 1952.
  1. 1 2 Benda & van der Wal 1965.
  2. kelah sang demang Jahja Datoek Kajo, Azizah Etek, Mursyid AM, Arfan BR, LKiS, pg 14 - Profil Jahja Datoek Kayo