Achmad Djajadiningrat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Achmad Djajadiningrat
COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Adipati Ario Achmad Djajadiningrat TMnr 10018777.jpg
Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat
Lahir(1877-08-16)16 Agustus 1877
Bendera Belanda Desa Kabayan, Pandeglang, Pandeglang, Hindia Belanda
Meninggal22 Desember 1943(1943-12-22) (umur 66)
Bendera Jepang Purwakarta, Pendudukan Jepang di Indonesia
Suami/istri
  • Raden Ajeng Lenggang Kencana (k. 1901–10)
  • Raden Ajeng Suwitaningrat Sastradipura (k. 1910–43)
AnakErna Djajadiningrat
Idrus Nasir Djajadiningrat
KerabatHussein Jayadiningrat (adik)

Achmad Djajadiningrat atau Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (lahir di Desa Kabayan, Pandeglang, Pandeglang, 16 Agustus 1877 – meninggal di Purwakarta, 22 Desember 1943 pada umur 66 tahun) adalah tokoh Pandeglang yang pernah menjadi bupati Serang, bupati Batavia, dan anggota Volksraad.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Achmad Djajadiningrat lahir dari pasangan Raden Bagus Djajawinata (anak dari Raden Adipati Aria Natadiningrat - bupati Pandeglang), wedana di Kramatwatu yang kemudian menjadi bupati Serang yang berpikiran maju, dan Ratu Salehah yang berasal Cipete Serang. Dari nama keluarga Djajadiningrat ini kemudian muncul beberapa orang berpengaruh pada awal pergerakan nasional. Seorang menjadi doktor Indologi di Negeri Belanda, seorang menjadi tokoh berpengaruh gerakan Sarekat Islam di Banten, dan yang tertua - Achmad - mengikuti jejak ayahnya, menjadi bupati di kemudian hari. Achmad Djajadiningrat adalah kakak kandung tertua dari Hussein Jayadiningrat.

Sekitar tahun 1880an, ketika masih kecil, Achmad dimasukkan ayahnya ke pesantren di Karundang, di mana ia harus mengalami transisi pertama, berpisah dari ibunya. Banyak hal yang ditemui Achmad di pesantren, di antaranya para santri lain mengolok kaum priyayi dan pegawai kolonial lainnya, mungkin saja karena dia satu-satunya anak priyayi disitu. Kondisi pesantren dan rumah ayahnya yang berbeda, setidaknya, membuat Achmad tertekan. Saat itu, di Banten yang religius, gaji dari pemerintah kolonial adalah haram. Di pesantren, yang kala itu masih anak wedana, memperoleh dera atas apa yang dikerjakan orang tuanya - sebagai pegawai kolonial yang umumnya dibenci kaum santri. Tidak menutup kemungkinan, kondisi yang dialaminya ketika kecil mempengaruhi langkah-langkah politis dan pembelaannya terhadap kaum miskin kota ketika dirinya menjadi Bupati Batavia. Studinya di pesantren kemudian harus terhenti seperti dituliskannya sebagai berikut:

"Kitab yang terakhir kupelajari di pesantren itu adalah kitab al-Ajurrumiyyah... tetapi sebelum kitab itu selesai, saya terpaksa pulang karena sakit. Pada mulanya saya enggan meninggalkan pesantren itu karena hati amat melekat kepada ilmu yang sedang dipelajari. Belum juga sempat duduk di rumah [di Kramat Watu], tiba-tiba ayahku menerima surat dari saudaranya yang sulung, Raden Adipati Soetadiningrat, yang pada masa itu menjadi Bupati di Pandeglang. Ia menulis bahwa masa untuk sekolah bagiku sudah tiba. Oleh sebab itu saya selekas-lekasnya disuruh ke Pandeglang untuk mengunjungi sekolah yang akan dibukanya."[1]

Bagaimana beratnya perasaan seorang putra ningrat Banten ini meninggalkan pelajaran-pelajaran pesantren yang dicintainya, terefleksi dengan baik dalam ungkapan berikut: "Sesungguhnya amat berat bagiku untuk memutuskan ilmu yang sedang kutuntut, karena besar keinginanku untuk menjadi ulama besar yang terkenal. Tetapi apa boleh buat, akhirnya saya tunduk kepada perintah ayah ibu. Pakaianku diganti pula. Pakaian di pesantren diberikan kepada seorang santri buta. Sebagai penggantinya, saya diberi pakaian seperti anak Eropa dengan kopiah Beludru hitam."

Tentu saja tidak hanya Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang belajar di sekolah swasta Belanda, salah seorang sepupunya, anak dari adik ayahnya, Jasien bin Aboe Bakar Djajadiningrat, seorang penerjemah untuk konsul Belanda di Jeddah juga belajar di sekolah swasta tingkat rendah untuk orang Belanda di Serang.

Tekanan Achmad nyaris tanpa akhir pada masa pertumbuhannya pada masa kanak-kanak. Lepas dari pesantren, lepas dari olokan anak dusun sebangsanya, Achmad yang memmulai pendidikan sekulernya harus berhadapan dengan anak-anak Eropa yang lebih jago mengejek. Lepas dari perang kelas di pesantren, Achmad harus ditekan bocah-bocah rasis di sekolahnya, saat sekolah di Europeesche Lagere School - SD paling elit sebelum dan sesudah ada Hollandsch-Inlandsche School di tanah Hindia.

Selanjutnya Pangeran Aria Achmad Djajadingrat meneruskan pendidikan menengahnya di HBS Koning Willem III School te Batavia. Di sini Achmad memakai nama Willem van Banten, agar terkesan "Belanda" di mata murid-murid lain yang rasis dan memiliki rasa sentimen pada orang-orang pribumi - walaupun orang pribumi itu adalah dari golongan ningrat. Setelah lulus dari HBS Batavia, Achmad bekerja sebagai pegawai kolonial. Kariernya itu dimulai dengan magang pada tahun 1889. Karier Achmad terus meningkat hingga menjadi bupati menggantikan ayahnya. Achmad pernah bertugas di Bodjonegoro sebagai asisten wedana (27 Juli 1900-4 Juli 1901). Setelah itu, sejak 1901, dia menjadi bupati Serang menggantikan ayahnya. Achmad pernah ditunjuk menjadi bupati Batavia — jabatan yang disandangnya sejak 1924 sampai 1929.[2]

Achmad yang pertama kali mendukung perubahan di tanah Banten yang beranjak modern. Gerakan Sarekat Islam masuk di Banten bahkan diberi ruang yang cukup berarti oleh Achmad, walau Achmad tidak aktif dalam organisasi pergerakan itu. Achmad justru aktif dalam organisasi lain yang mengantarkannya sebagai anggota Volksraad. Sebagai bupati dan anggota Volksraad-lah Achmad memainkan peran-nya dalam peregerakan.[2] Hal ini sungguh berbeda dengan daerah lain, dimana para pejabat pribumi agak takut dengan perubahan yang akan dibawa oleh SI di daerah mereka. Adik Achmad, Hasan Djajadiningrat, kemudian juga menjadi tokoh SI yang cukup berpengaruh di Banten sampai akhir hayatnya.

Sejak didirikannya Volksraad tahun 1918, Achmad Djajadiningrat tergolong anggota yang aktif berpolitik, di mana ia duduk di Volksraad mewakili NIVB (Nederlandsche Indische Vrijzennige Bond) organisasi yang berdiri tahun 1916 yang mewakili orang-orang konservatif.

Karya[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1936 ia menulis buku memoarnya yang berjudul Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat berisikan pengalamannya selama 37 tahun dalam pelayanan publik, antara lain sebagai bupati Serang (1901-1927), kemudian bupati Batavia, anggota Volksraad, anggota Raad van Indië, wakil Hindia Belanda sebagai delegasi Belanda di Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]