Bahasa di Maluku Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Penutur Bahasa Daerah di Provinsi Maluku Utara, menurut Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebanyak 19 bahasa daerah, yaitu Bahasa Bacan, Bajo, Buli, Galela, Gane, Gorab, Ibu, Kadai, Makian Dalam, Makian Luar, Melayu, Modole, Patani, Sahu Sawai, Sula, Taliabu, Ternate, dan Tobelo. ada satu bahasa yang luput dari catatan buku ini yaitu bahasa Loloda/odaraka, meski memiliki kemiripan dengan bahasa serumpun namun pada struktur dan logika memiliki ciri berbeda.

Bahasa Bacan[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bacan dituturkan oleh masyarakat di Desa Amasing Kota, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Pulau Bacan, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, selain di Desa Amasing Kota, bahasa Bacan dituturkan juga di sebelah timur, barat, dan utara Desa Amasing Kota. Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, isolek Bacanmerupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Gane.[1][1]

Bahasa Bajo[sunting | sunting sumber]

Bahasa Bajo dituturkan oleh masyarakat di Desa Bajo, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Desa Bajo di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sula di Desa Mangega dan di sebelah selatan juga berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sula di Desa Pohea. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bajo dikatakan sebagai sebuah bahasa yang berbeda, karena memiliki persentase perbedaan yang tinggi dengan bahasa lainnya di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Galela, Sula, Buli, dan Tobelo.[1]

Isolek Bajo yang terdapat di Provinsi Maluku Utara dibandingkan dengan isolek Bajo yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan, termasuk satu bahasa dengan persentase perbedaan adalah 27,06% sehingga merupakan anggota dari satu bahasa yang sama atau subdialek dari suatu bahasa (perbedaan wicara).[1]

Bahasa Buli[sunting | sunting sumber]

Bahasa Buli dituturkan oleh masyarakat di Desa Buli Asal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Buli berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Patani dialek Maba di sebelah utara dan selatan. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Buli merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Modole dan Makian Dalam.[1]

Bahasa Galela[sunting | sunting sumber]

Bahasa Galela dituturkan oleh masyarakat di Desa Wangeotek, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara; Desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara; Desa Kira, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara; Desa Kedi, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat; Desa Laba Besar, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat; dan Desa Goal, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Bahasa ini terdiri atas enam dialek, yaitu(1) dialekPagu, (2) dialek Kao, (3) dialek Galela Kira, (4) dialek Loloda, (5) dialek Laba, dan (6) dialek Tobaru. Persentase perbedaan keenam dialek tersebut berkisar 63%—79,75%.[1]

   Dialek Pagu dituturkan oleh masyarakat Desa Wangeotek, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Galela dialek Pagu berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Makian di sebelah timur, barat, utara, dan selatan.[1]

   Dialek Kao dituturkan oleh masyarakat Desa Kao, Kecamatan Kao, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Galela dialek Kao berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah timur dan utara, wilayah tutur bahasa Galela dialek Pagu dan bahasa Malpan di sebelah barat, serta wilayah tutur bahasa Galela dialek Pagu dan bahasa Makian di sebelah selatan.[1]

Dialek Galela Kira dituturkan oleh masyarakat Desa Kira, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Galela dialek Galela Kira dituturkan juga di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Desa Kira.[1]

Dialek Loloda dituturkan oleh masyarakat Desa Kedi, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Galela dialek Loloda dituturkan juga oleh masyarakat di sebelah timur, utara, dan selatan Desa Kedi. Wilayah tutur bahasa Galela dialek Loloda berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah timur dan wilayah tutur bahasa Ternate di sebelah barat.[1]

Dialek Laba dituturkan oleh masyarakat di Desa Laba Besar, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Galela dialek Laba berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Galela dialek Loloda di sebelah barat dan selatan, dan wilayah tutur bahasa Melayu dialek Gorap di sebelah utara.[1]

Dialek Tobaru dituturkan oleh masyarakat Desa Goal, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo dan Galela di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Sahu dialek Sahu Taraudu di sebelah barat, wilayah tutur bahasa Sahu dialek Wayoli dan bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah utara, serta wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru dan bahasa Ternate di sebelah selatan. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Galela merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Sahu dan Ternate.[1]

Bahasa Gane[sunting | sunting sumber]

Bahasa Gane dituturkan oleh masyarakat di Desa Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Gane dituturkan juga di sebelah barat Desa Gane Luar. Wilayah tutur bahasa Gane berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah utara dan wilayah tutur bahasa Makian di sebelah selatan. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Gane merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Makian dan Tobelo.[1]

Bahasa Gorab[sunting | sunting sumber]

Bahasa  Gorap dituturkan oleh masyarakat di Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara dan Desa Bobaneigo, Kecamatan Jailolo Timur, Kabupaten Halmahera Barat. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Gorap berasal dari bahasa kreol atau pijin yang merupakan campuran antara bahasa Melayu setempat dan bahasa pendatang dari Sulawesi Tenggara. Wilayah tutur dialek Gorap sebelah timur dan selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo, sebelah barat dengan wilayah tutur bahasa Ternate, dan sebelah utara dengan wilayah tutur bahasa Makian.Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Gorap merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya dengan dengan bahasa Buli, bahasa Ibu, bahasa Tobelo, dan Bahasa Melayu (Melayu Ternate).[1]

Bahasa Ibu[sunting | sunting sumber]

Bahasa Ibu (Ibo) dituturkan oleh masyarakat di Desa Gamlamo, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Ibu (Ibo) berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ternate di sebelah timur dan selatan dan wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah barat dan utara. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ibu (Ibo) merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Galela dan Sahu.

Bahasa Kadai[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kadai dituturkan oleh masyarakat di Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Timur Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Kadai berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sula Buton di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Taliabu Buton di sebelah barat, dan wilayah tutur bahasa Taliabu Bajo di sebelah utara. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kadai merupakan sebuah bahasa karena dengan persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya bahasa Buru, Bacan, dan Sula.[1]

Bahasa Makian Dalam[sunting | sunting sumber]

Bahasa Makian Dalam dituturkan oleh masyarakat di Desa Matentengin, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Pulau Makian, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, bahasa Makian Dalam disebut juga sebagai bahasa Makian Timur atau Taba. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Makian Dalam merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 90%—100%, seperti dengan bahasa Buli 90,75%; bahasa Maba 91,25%; dan bahasa Bacan 95%.[1]

Bahasa Makian Luar[sunting | sunting sumber]

Bahasa Makian Luar dituturkan oleh masyarakat Desa Sebelei, Talapon, Mateketen, Tegono, Bobawae, Ombawa, Malapat yang berada di wilayah Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Pulau Makian, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Makian Luar berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Makian Dalam di sebelah timur dan dengan wilayah tutur bahasa Makian di sebelah barat Desa Sebelei. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Makian Luar merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 94%—98%, seperti dengan bahasa Makian Dalam 94%; bahasa Buli 97,5%; dan bahasa Bacan 95%.[1]

Bahasa Melayu[sunting | sunting sumber]

Bahasa Melayu dituturkan di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate dan Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Bahasa Melayu di Provinsi Maluku Utara terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Melayu Ternate dan dialek Gorap dengan persentase perbedaan antardialek sebesar 70%. Sementara itu, dialek Melayu Ternate dan Gorap termasuk dialek bahasa Melayu Riau yang diduga sebagai tanah asal bahasa Melayu dengan persentase perbedaan berkisar 63,52—70%.[1]

Dialek Melayu Ternate dituturkan di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate. Adapun dialek Gorap dituturkan di Desa Bobaneigo, Kecamatan Kao Teluk, Kabupaten Halmahera Utara. Dialek Gorap berasal dari bahasa kreol atau pijin yang merupakan campuran antara bahasa Melayu setempat dengan bahasa pendatang dari Sulawesi Tenggara. Wilayah tutur dialek Gorap sebelah timur dan utara berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo, sebelah barat dengan wilayah tutur bahasa Ternate, dan sebelah selatan dengan wilayah tutur bahasa Makian.[1]

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku dan isolek Melayu yang terdapat di Provinsi Maluku Utara termasuk satu bahasa dengan persentase perbedaan di bawah 80%. Begitu pula jika dibandingkan dengan bahasa Melayu di Provinsi Kepulauan Riau. Semuanya termasuk satu bahasa dengan persentase di bawah 80%.[1]

Bahasa Modole[sunting | sunting sumber]

Bahasa Modole dituturkan oleh masyarakat di Desa Pitago, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Modole berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah timur dan selatan Desa Pitago serta wilayah tutur bahasa Galela dialek Kao dan bahasa Tobelo di sebelah utara Desa Pitago.[1]

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Modole merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan lain di Maluku Utara sebesar 98%, seperti dengan bahasa Maba 98%; bahasa Patani 98,25%; bahasa Bacan 98,75%; dan bahasa Gane 98,5%.[1]

Bahasa Patani[sunting | sunting sumber]

Bahasa Patani dituturkan oleh masyarakat di Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah dan Desa Soa Sangaji, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur,Provinsi Maluku Utara. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitudialek Patani Tepeleo dan dialek Maba. Persentase perbedaan antardua dialek tersebut sebesar 75,25%.[1]

Dialek Patani Tepeleo itu dituturkan oleh masyarakat Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Patani Tepelo berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Patani di sebelah timur, barat, dan selatan Desa Tepeleo.[1]

Sementara itu, dialek Maba dituturkan di Desa Soa Sangaji, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Maba berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Buli di sebelah utara dan selatan Desa Soa Sangaji.Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Patani merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa di sekitarnya berkisar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Buli, Sawai, dan Gane.[1]

Bahasa Sahu[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sahu dituturkan oleh masyarakat di Desa Tosoa, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat dan Desa Taraudu, Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Wayoli dan (2) dialek Sahu Taraudu. Persentase perbedaan antardua dialek tersebut sebesar 69,5%.[1]

Dialek Wayoli dituturkan di Desa Tosoa, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Wayoli berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Galela dialek Kao di sebelah timur, wilayah tutur bahasa Sahu dialek Wayoli di sebelah barat, wilayah tutur bahasa Sahu dialek Wayoli, bahasa Ternate dialek Gamkonora, dan bahasa Galela dialek Tobaru di sebelah utara Desa Tosoa, dan wilayah tutur dialek bahasa Galele dialek Tobaru dan bahasa Sahu di sebelah selatan Desa Tosoa.[1]

Sementara itu, dialek Sahu Taraudu dituturkan di Desa Taraudu, Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Sahu Taraudu berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sahu di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Desa Taraudu. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sahu merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara sebesar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Ibu (Ibo), Galela, dan Ternate.[1]

Bahasa Sawai[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sawai dituturkan oleh masyarakat di Desa Lililef Sawai, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Sawai berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sawai di sebelah barat dan selatan Desa Lililef Sawai.Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sawai merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 84%—98%, seperti dengan bahasa Maba 84,75%; bahasa Patani 86,75%; bahasa Bacan 98%; dan bahasa Gane 90,25%.[1]

Bahasa Sula[sunting | sunting sumber]

Bahasa Sula dituturkan oleh masyarakat di Desa Fatcei, Kecamatan Sanana dan Desa Malbufa, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Sula Fatce dan dialek Mangole. Dialek Sula Fatcei dituturkan di Desa Fatcei, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Pulau Sulabesi, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, dialek Sula Fatcei dituturkan juga di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Desa Fatcei.[1]

Sementara itu, dialek Mangole dituturkan di Desa Malbufa, Kecamatan Sanana Utara, Kabupaten Kepulauan Sula, Pulau Sulabesi, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur dialek Mangole di sebelah timur Desa Malbufa berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Fagudu; di sebelah barat, utara, dan selatan Desa Malbufa berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Fagudu dan bahasa Sula. Persentase perbedaan antara dialek Sula Fatcei dan dialek Mangole sebesar 70,5%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sula merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara sebesar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Tobelo, Galela, dan Buru.[1]

Bahasa Taliabu[sunting | sunting sumber]

Bahasa Taliabu dituturkan oleh masyarakat di Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Timur Selatan, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Taliabu berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Sula dan Buton di sebelah timur; wilayah tutur bahasa Taliabu dan Buton sebelah barat; wilayah tutur bahasa Taliabu dan Bajo di sebelah utara Desa Kawadang. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Taliabu merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 86,75%—97,75%, seperti dengan bahasa Sula 97%; bahasa Gane 97,75%; dan bahasa Mangole 86,75%.[1]

Bahasa Ternate[sunting | sunting sumber]

Bahasa Ternate dituturkan oleh masyarakat di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate; Kelurahan Ome, Kecamatan Tidore Utara, Kabupaten Kota Tidore Kepulauan; dan Desa Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat,Provinsi Maluku Utara. Bahasa Ternate terdiri atas tiga dialek, yaitudialek Ternate Togafo,Tidore, dan Gamkonora. Persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 59,5%—76,25%.

Dialek Ternate Togafo dituturkan di Kelurahan Togafo, Kecamatan Pulau Ternate, Kabupaten Kota Ternate, Pulau Ternate, Provinsi Maluku Utara. Wilayah tutur dialek Ternate Togafo berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Ternate dan bahasa Melayu dialek Melayu Ternate di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Desa Togafo.[1]

Dialek Tidore dituturkan di Kelurahan Ome, Kecamatan Tidore Utara, Kabupaten Kota Tidore Kepulauan, Pulau Tidore, Provinsi Maluku Utara. Wilayah tutur dialek Tidore berbatasan juga dengan wilayah tutur bahasa Ternate dialek Tidore di sebelah timur, barat, utara, dan selatan Kelurahan Ome.[1]

Dialek Gamkonora dituturkan di Desa Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Wilayah tutur dialek Gamkonora berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Galela dialek Tobaru dan bahasa Sahu dialek Wayoli di sebelah timur dan utara Desa Gamkonora dan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah selatan desa Gamkonora.  Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Ternate merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Sahu, Buli, dan Sawai.[1]

Bahasa Tobelo[sunting | sunting sumber]

Bahasa Tobelo dituturkan oleh masyarakat di Desa Pale, Kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara dan Desa Tayawi, Kecamatan Oba Utara, Kabupaten Kota Tidore Kepulauan,Provinsi Maluku Utara. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, yaitudialek Tobelo Pale dan Tugutil. Persentase perbedaan antarkedua dialek tersebut sebesar 63,5%.[1]

Dialek Tobelo Pale dituturkan di Desa Pale, Kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Wilayah tutur dialek Tobelo Pale berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo di sebelah timur, barat, dan selatan Desa Pale dan dengan wilayah tutur bahasa Tobelo dan Melayu di sebelah utara Desa Pale. Dialek Tugutil dituturkan di Desa Tayawi, Kecamatan Oba Utara, Kabupaten Kota Tidore Kepulauan, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara.Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Tobelo merupakan sebuah bahasa karena persentase perbedaannya dengan bahasa lain di Maluku Utara berkisar 81%—100%, misalnya dengan bahasa Galela, Ibu (Ibo), dan Buli.[1]


  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj "Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia". Diakses tanggal 22 December 2019.